cerita blog!!!

kemasan panjang…

Penasaran Membawa Nikmat —

Kisahku kali ini terjadi belum lama ini di suatu Sabtu pagi. Ketika itu aku yang sedang sendirian di rumah dan tidak ada kegiatan, memulai hari dengan memanjakan diri di sofa ruang keluarga untuk melihat acara TV. Setelah aku pindah-pindah saluran TV ternyata tidak ada acara yang menarik, akhirnya aku memutuskan untuk tidur-tiduran saja di dalam kamarku. Rumah ini terasa sangat sepi pada saat-saat seperti ini. Maklum saja, biasanya rumahku selalu ramai oleh kedua orangtua maupun adik-adikku.

Sebagai seorang wanita, tentu aku selalu berusaha untuk merawat tubuh, baik dengan cara luluran di salon maupun di rumah. Apalagi pacarku sekarang menginginkan agar kulitku dapat lebih putih. Teman-temanku sering memuji wajahku yang awet muda dan tubuhku yang mungil tetapi proporsional.

Namun yang cukup membuatku risih adalah saat aku sedang memakai pakaian bebas, anak-anak SMU seringkali menggoda aku. Mungkin mereka mengira aku masih seusia dengan mereka atau setidaknya duduk di bangku kuliah. Tempat tinggalku saat ini terletak di daerah Cibubur yang menurutku masih memiliki suasana asri. Halaman rumahku memang tidak luas, namun di luar rumah banyak ditumbuhi pepohanan. Kamar tidurku mempunyai jendela yang berhadapan langsung dengan halaman luar.

Setelah beberapa menit merebahkan tubuhku, ternyata mata ini tidak mau terpejam. Selain aku memang tidak terbiasa tidur selain pada malam hari, udara pagi itu terasa cukup panas. Akhirnya aku memutuskan untuk SMS-an dengan pacarku saja. Baru beberapa kali SMS, terdengar suara berisik dari halaman depan rumahku. Aku bangkit dan melihat keluar. Kulihat dua anak berseragam SD sedang berusaha untuk memetik buah jambu di depan rumahku. Tentu saja aku sebagai pemilik rumah tidak senang perilaku mereka tersebut.

Sambil bertolak pinggang aku berteriak ke arah anak-anak itu “Hayooo…!! Kalian lagi pada ngapain?”

Tentu saja mereka berdua terkejut dan ketakutan karena tidak menyangka kalau ada orang yang melihat perbuatan mereka. Kedua anak itu menundukkan wajahnya karena menyesal. Aku yang tadi hendak marah akhirnya merasa iba.

“Nggak apa-apa kok Dik… Cuma harusnya kalian bilang dulu ke Kakak kalo mau minta jambu…” aku merendahkan nada bicaraku.

“Ma-maaf ya Kak… So-soalnya kami haus banget…” kata salah satu anak sambil mendekat ke arahku.

“Kami nyasar pas lagi nyari rumah temen kami Kak… Emmmm… Boleh nggak kami minta minum dulu sama Kakak?” sambungnya dengan nada memelas ketika sudah berada di depan pintu gerbangku.

“Aduh… Kasihan banget sih… Ayo masuk…!” jawabku mengiyakan.

Beberapa saat setelah aku membolehkan untuk memberinya minum, anak itu melambaikan tangannya ke arah temannya yang masih berdiri di dekat pohon jambu milikku. Dia mengajaknya untuk segera datang mendekati kami. Setelah beberapa langkah temannya berjalan mendekati kami berdua, aku mengajak kedua anak itu untuk masuk ke dalam dan mempersilakan mereka untuk duduk di ruang tamu.

Dari obrolanku dengan mereka, ternyata usia keduanya masih 11 tahun, dan mereka baru saja duduk di kelas 5 SD. Aku menanyakan nama mereka berdua, anak yang tadi meminta minum kepadaku, berkulit hitam dan berambut keriting mengaku bernama Gani. Sedangkan yang berkulit sawo matang dan berambut cepak bernama Edo. Keduanya memiliki badan yang kecil dan kurus. Mungkin tinggi badan mereka hanya sekitar 140 cm saja.

“Kok Adik-adik nggak sekolah hari ini?” tanyaku di sela obrolan dengan mereka.

“Udah pulang kok…” sahut Edo.

Aku kemudian melirik ke arah jam di HP-ku yang sudah menunjukkan pukul 11.00 siang.

“Oh udah pulang ya? Ya udah… Kakak mau siapin minuman dulu buat kalian yah…” kataku berpamitan.

“Iya Kak…” jawab mereka hampir bersamaan.

Kemudian aku tinggal mereka sebentar mereka ke dapur untuk mengambilkan minuman. Lumayan juga pikirku, aku jadi ada teman untuk ngobrol.

Belum juga aku sampai di dapur, terdengar suara Edo bertanya kepada temannya “Eh Gan… Emang elo ngomong apaan ke Kakak itu sampe ditawarin mimum?”

“Gue bilang aja ke Kakak itu kalo kita lagi nyari rumah temen. Terus kita nyasar deh…” jawab Gani yang disambut Edo dengan tertawa.

Tentu saja karena aku masih belum cukup jauh dari ruang tamu, maka aku dapat mendengar pembicaraan mereka berdua dengan sangat jelas. Apalagi ditambah suasana sekitar yang waktu itu sangat sepi.

“Huuuh… Dasar anak jaman sekarang… Masih kecil kok udah pada pinter bohong…!” umpatku kesal ketika mendengar percakapan mereka.

“Tapi nggak apa-apa lah… Namanya juga anak-anak…” aku menghibur diri lalu segera membuatkan mereka minuman.

Tidak lama kemudian aku kembali menuju ruang tamu dengan membawa sirup segar untuk mereka.

“Ada apa kok ribut-ribut sih? Kelamaan ya minumannya?” tanyaku pura-pura tidak tahu.

“Nggak apa-apa kok Kak…” jawab Edo berbohong sambil tersenyum tertahan.

“Oh iya… Kakak belum ngenalin diri… Panggil aja aku Kak Tita ya…” kataku memperkenalkan diri sambil menaruh minuman di meja.

Kaos longgar yang aku kenakan saat itu memiliki belahan dada yang rendah sehingga di saat aku membungkuk ketika menyajikan gelas kepada mereka semua. Anak-anak itu terlihat melongok-longokkan kepalanya untuk dapat melihat isi yang tersembunyi dibalik kaosku saat itu.

“Ini Kak Tita buatin kalian sirup rasa jeruk yang dingin supaya segar…” jelasku tanpa memperdulikan tingkah mereka.

“Makasih banyak ya Kak Tita! Pasti enak banget deh sirup bikinan Kakak…” jawab Gani.

“Sama-sama Gan. Aduh, ngomong-ngomong hari ini kok panas banget yah?” lanjutku.

“Iya Kak! Edo juga kegerahan nih. Untung Kak Tita baik banget mau ngasih minum ke kami…” jawab Edo.

Saat aku selesai menyajikan minuman, aku kembali berdiri tegak. Tanpa terasa keringat pun mengucur dari dahiku. Saat aku menyeka keringat di dahi, dengan tidak sadar tanganku terangkat tinggi. Tanpa sengaja, payudaraku sedikit terlihat dari lengan kaosku. Tentu saja kesempatan ini tidak disia-siakan oleh anak-anak itu yang terkesima melihat pemandangan indah tersebut.

Saat itu juga aku tersadarkan kalau dibalik pakaianku telah basah oleh keringat. Lebih memikat perhatian mereka lagi saat mereka tahu kalau aku tidak mengenakan bra pada saat itu. Kedua buah putingku tercetak di kaos putihku, apalagi karena basah oleh keringatku yang membuatnya semakin terlihat begitu jelas. Aku sendiri tidak ingin ambil pusing dengan tatapan nakal anak-anak ini.

Setelah aku mengambil posisi duduk di depan mereka, kami melanjutkan obrolan yang tadi sempat terhenti.

“Jadi kalian nyasar pas mau main ke rumah temen ya?” kataku memancing.

“Eeeh… I-ya Kak…” jawab Gani gugup.

“Emangnya kalian nggak punya alamat lengkapnya?” lanjutku lagi.

“Ng-nggak Kak… Cu-cuma tahu daerahnya aja…” kali ini Edo yang menjawab.

“Oh gitu…” kataku yang tidak berusaha menanyakan lebih jauh lagi tentang rumah ‘teman’ mereka dan mengalihkan ke topik lain.

Ketika ngobrol aku tahu mata-mata mereka sering mencuri pandang ke bagian dadaku. Aku berpikir, biar masih kecil yang namanya laki-laki itu sama saja. Semula aku tidak suka dengan perilaku mereka, namun akhirnya ada perasaan lain sehingga aku biarkan mata mereka menikmati keindahan putingku dari luar. Aku menjadi menikmati tingkah laku mereka kepada diriku.

Bahkan aku mempunyai pikiran yang lebih gila lagi untuk menggoda mereka, aku sengaja meregangkan tanganku ke belakang sehingga putingku pasti terlihat semakin jelas.

“Lagi pada ngeliatin apaan sih?” tanyaku berpura-pura.

Tentu saja pertanyaanku tadi membuat mereka menjadi semakin salah tingkah.

“Ng-nggak kok Kak Tita…” Gani membela diri.

“Ya udah Kalian habisin minumannya dulu ya. Kakak mau ganti baju dulu…” aku menahan diri untuk menggoda mereka lebih jauh.

“I-iya Kak…” jawab Gani lega.

Sambil tersenyum puas karena berhasil membuat mereka gugup, aku menuju ke arah kamar tidurku yang cukup dekat jaraknya dari ruang tamu. Di dalam kamar aku mengganti kaos longgarku dengan kaos ketat warna coklat tanpa memakai bra, sehingga putingku pasti semakin terlihat jelas dari luar. Kemudian celana selutut milikku, aku ganti dengan celana pendek warna hitam yang memperlihatkan paha mulusku.

Selang beberapa menit kemudian, aku sudah muncul kembali untuk menemui mereka. Namun satu hal yang membuat wajah polos mereka terkejut adalah melihat pakaianku yang minim, apalagi untuk ukuran anak seumuran mereka. Pemandangan ini pasti menyilaukan pandangan jiwa muda mereka berdua. Aku mengacuhkan saja pandangan mata-mata liar yang sibuk menatapi puting dan pahaku.

“Gimana sirupnya? Udah diminum belum?” tanyaku mengalihkan perhatian mereka.

“U-udah Kak…” jawab Gani pendek.

Kedua mata Gani tetap saja menatap tajam kearah pahaku yang pasti terlihat sangat menggiurkan baginya.

“Enak nggak sirup bikinan Kakak? Pasti bikin ketagihan kan?” candaku.

“Seger banget Kak! Tapi jujur aja kalo Gani lebih suka susu dibandingin sirup…” sahut Gani.

“Gitu yah? Sayang Kakak nggak ada persediaan susu di rumah…” jawabku tanpa ada prasangka buruk dari perkataan Gani.

“Kalau kata orang susu yang terbaik itu ASI ya Kak?” lanjutnya lagi.

“Betul Gan… Dibanding sama susu sapi… ASI itu jauh lebih bergizi…” tambahku penuh keyakinan.

“Ibu Gani juga suka bikinin susu setiap pagi Kak…” kata Gani menjelaskan.

“Oh ya? Bagus dong…” jawabku seadanya.

“Tapi susu yang saya minum setiap hari susu sapi Kak!” sambung Gani lagi.

“ASI tetap jauh lebih bagus daripada susu sapi Gan…” kataku.

“Wah… Pasti ASI rasanya enak tuh!” sela Edo cepat.

Aku hanya tersenyum simpul. Gani terus menyerocos tentang keinginannya sesekali mencoba ASI. Edo hanya tegang mendengarkan ocehan Gani, di terlihat takut sekali aku marah mendengarkan ocehan temannya yang mulai terasa kurang ajar itu.

Tiba-tiba entah mendapat ide gila dari mana Edo berkata ”Coba ya kami berdua bisa nyicipin ASI! Duh pasti asyik ya?” timpal Edo.

Namun belum lagi selesai kalimat yang diucapkannya, aku kembali menimpali “Dulu Gani sama Edo pasti udah sering minum ASI punya ibu kalian kan?”

“Tapi sekarang kami kan sudah nggak nyusu lagi sama Ibu. Lagipula kami juga udah lupa gimana rasanya minum ASI…” kata Edo yang terus berusaha menjelaskan.

“Hmmm… Gini aja… Kalo kalian punya adik yang masih minum ASI, pas ibu kalian lagi nyusuin minta tolong aja biar ASI-nya di peras terus masukin deh ke dalam gelas…” jawabku yang semakin mengerti arah pembicaraan mereka.

“Bukan itu maksud Edo Kak…” Edo menggelengkan kepalanya.

“Terus maksud kamu gimana Do?” pancingku.

“Edo pengen banget minum ASI punya Kakak…” kata Edo terus terang.

“Kakak kan belum punya anak… Jadi belum bisa punya ASI…” jelasku.

“Emang kenapa kalo belum punya ASI Kak?” tanya Edo lagi.

“Ya percuma aja dong… Kalian kan pengennya ngerasain ASI…” jawabku sambil menggosok-gosok rambut Edo dengan lembut.

“Nggak apa-apa Kak… Boleh kan?” pinta Gani sambil menatap wajahku.

“Yeeee…!! Bilang aja pengen lihat payudara Kakak…! Nggak mau ah…!” aku menolak permintaan mereka.

“Yaaa Kakak…! Kami cuma penasaran doang…” bujuk Edo.

“Aduuuh… Kakak nggak mau Edooo…!” kataku tetap bersikeras.

Namun setelah cukup lama mereka terus membujuk supaya dapat merasakan payudaraku dengan alasan penasaran, aku akhirnya menyerah juga.

“Ya udah deh Kakak mau. Tapi janji ya kalian nggak minta macam-macam lagi…” jawabku menyanggupi permintaan kedua anak yang sedang dilanda rasa penasaran ini.

“Pa-pasti Kak…!” kata mereka hampir bersamaan.

Terus terang saja pembicaraan kami tadi membuat gairahku semakin tinggi, sehingga aku semakin kehilangan kendali bahwa yang ada di depanku adalah anak-anak di bawah umur. Apalagi setelah melihat mata mereka yang tampak sangat menginginkan untuk menghisap payudaraku.

“Biar bagaimanapun kalian kan laki-laki dan berdua pula. Kakak takut juga sendirian di rumah dalam keadaan kosong seperti ini. Kalau tiba-tiba kalian minta lebih dari ini gimana?” kataku serius.

“Nggak Kak! Kami janji nggak akan minta yang macem-macem lagi deh…!” sambil berkata begitu mata mereka berdua tidak lepas dari payudaraku sambil menelan ludah berkali-kali.

Aku sadar tentunya mereka akan berkata apapun agar keinginan mereka terpenuhi saat itu. Mereka sudah tidak sabar menanti pemandangan indah itu sebentar lagi. Aku yang menyadari hal itu tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah mereka berdua.

“Kalian sudah siap?” tanyaku menggoda.

“S-siap Kak!” jawab mereka serempak.

Jawaban mereka membuat aku semakin bergairah dan terangsang. Aku berpikiran hari ini aku akan mendapatkan sensasi dari anak-anak ini. Aku memang sudah pernah merasakan nikmat dari melakukan seks dengan anak di bawah umur, namun tentu saja anak-anak di depanku ini masih sangat muda.

Aku mulai mendekati mereka, kemudian dengan agak tergesa aku melepaskan kaos bagian atasku sehingga pemandangan yang mereka tunggu-tunggu pun datang sudah. Namun aku masih berusaha menutup payudara bagian kananku dengan tangan. Aku masih sangat penasaran apa yang akan dilakukan oleh kedua bocah bau kencur ini terhadap diriku.

Saat ini tubuhku hanya tertutup celana pendek ketat yang pasti membuatku tampak seksi sekali. Jantungku berdetak kencang sekali. Karena mereka adalah korban godaanku yang paling muda. Bagaimana tidak, mereka baru berumur 11 tahun. Jadi bisa dipastikan mereka masih anak-anak sekali. Kini payudara sebelah kiriku benar-benar terpampang di hadapan mereka tanpa terhalang apapun lagi.

“Dua-duanya dong Kak…!!” protes mereka berdua.

“Iiih buat apa? Hayoo kalian mulai nakal ya! Kalian sebenernya cuma mau lihat payudara Kakak aja kan? Dasar anak nakal…!” kataku dengan nada manja.

“Nggak kok Kak! Cuma kan kami ada dua orang, nanti kalo cuma satu yang dibuka gak akan cukup untuk kami…” kilah Gani.

“Kamu pinter banget berdebat sih! Iya deh, tapi janji kalian jangan pada liar ngeliat Kakak telanjang dada yah…” sambil berkata demikian aku menuruti kemauan mereka dengan membuka tangan yang menutupi payudara sebelah kanan.

“Tuh Kakak kasih liat…” jawabku sambil tersenyum manis.

Mereka berdua hanya diam tanpa melakukan apa-apa. Mata mereka melotot memandangi payudaraku. Tampaknya mereka masih bingung apa yang harus mereka lakukan.

“Kok malah bengong sih?” tanyaku dengan cuek.

“A-abisnya kami takut Kak…” jawab Edo dengan nada gemetar.

“Ayo dimulai dong Adik-adik…” aku menyadarkan mereka.

Mendengar kata-kata yang keluar dari mulutku tadi, Gani dan Edo yang memang sudah tidak sabar langsung meremas payudaraku. Tangan-tangan mereka menggerayangi payudaraku dengan tidak terkendali. Aku menjadi geli sendiri melihat tingkah mereka berdua.

“Jangan rebutan dong! Aaaaah… Gani yang ki… ri… Edo yang ka-kanan…” perintahku.

Nafsuku semakin meningkat akibat remasan tangan mereka. Sekarang Gani mulai mendekatkan bibirnya ke putingku lalu dengan cepat melumat payudaraku. Bahkan kini dia menghisap benda mungil tersebut dengan sangat keras sehingga membuatku semakin menikmatinya.

“Mmmmmhh… I-isepiin jugaaa dong Do biaaar Kakaak ngerasaaa enaaaak… Aaaaah…” bisikku kepada Edo ketika sedang memilin-milin putingku yang sudah menonjol karena terangsang.

Karena mendengar permintaan dariku serta menyaksikan temannya yang sudah lebih dulu menghisap payudaraku, Edo akhirnya juga ikut menikmati puting payudaraku dengan mulutnya. Mereka kini bagaikan dua orang bayi yang sedang kehausan, begitu cepat dan kuat melahap putingku.

Betapa seakan perasaanku sedang melayang ke awan, apalagi ketika mereka berdua menghisap secara bersamaan yang membuat nafasku menjadi tersengal-sengal. Aku juga baru sadar kalau ternyata selain mereka sibuk mengenyoti kedua payudaraku, tangan mereka pun ikut bergerilya mengelusi tubuhku yang mulus. Tadinya aku mau mengingatkan pada janji mereka sebelumnya agar tidak melakukan macam-macam lagi selain memegang atau pun menghisap payudaraku saja.

‘Sleeerrrpp… Sleeerrpp…’ terdengar suara payudaraku disedot-sedot dengan rakus oleh kedua anak ini.

Tanganku membelai, kadang agak sedikit menjambak sambil menekan kepala mereka berdua agar lebih dalam lagi menghisap payudaraku. Mereka semakin menikmati ‘mainan’ mereka, sedangkan aku semakin terhanyut dibuatnya. Aku sadar kalau ingin lebih dari sekedar ini. Aku semakin lupa diri bahwa mereka adalah anak-anak yang masih polos dan belum seharusnya melakukan perbuatan ini.

Ketika sedang nikmat-nikmatnya, tiba-tiba Edo melepaskan hisapannya sambil berkata “Biar tetek Kak Tita nggak keluar air susunya tapi rasanya tetep enak!!”

“Eeehhhmm… Hisaaapaaan kamuuu jugaaa enaaaakk Do! Aaaaaaaaah…” aku mendesah merasakan nikmat yang melanda payudaraku.

Tanpa menggubris perkataan temannya, Gani terlihat semakin lahap menikmati payudaraku. Seperti anak bayi yang sedang menyusu pada ibunya, mereka berdua melumat payudara itu dengan hisapan dan gigitan-gigitan ringan tapi sangat mengusik birahiku. Hal itu menyebabkan aku menggeliat-geliat dan mengeluarkan desahan. Perasaanku terombang-ambing dalam kenikmatan yang tidak bisa aku bendung lagi.

“Emmmmmpphh… Aaaaaaahhh…” aku terus mengerang sambil meremas kedua rambut anak-anak itu.

Hisapan kedua anak kecil ini pada putingku semakin menaikkan libidoku, walaupun di dalam hati aku tau ini memang belum sepantasnya dilakukan oleh mereka. Namun aku hanya bisa pasrah saja, tanganku meremas-remas rambut Edo dan Gani karena rasa geli akibat hisapan dan remasan tangan mereka pada payudaraku. Aku melihat jari-jari mereka menggesek-gesek putingku yang memanaskan birahiku.

“Mmmmhh… Remas pelan-pelan… Aaaaaaah…” kataku sambil memejamkan mata.

Tubuhku mulai melemas merasakan sensasi berbeda dari yang pernah aku lakukan sebelumnya. Akibat dirangsang seperti itu terus-menerus, akhirnya aku menginginkan mereka tidak hanya sekedar menghisap payudaraku saja.

“Gani… Edo.. Ber-berhenti dulu…” pintaku.

“Ada apa Kak?” Gani bertanya.

“Kita terusin di kamar aja yah. Di sini posisinya nggak enak…” jawabku.

Sebenarnya aku juga punya alasan lain, yaitu takut kalau tetanggaku bisa mendengar desahan maupun teriakan kami dari ruangan ini. Aku lalu berdiri menuju ke kamarku. Tentu saja mata mereka menatap penuh nafsu tubuhku yang hanya tinggal tertutup oleh celana pendek ketatku.

“Ayo ikut Kakak…” aku mengajak mereka berdua untuk masuk ke dalam kamar.

Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, mereka mengikuti diriku. Sampai di dalam kamar aku duduk di sisi ranjang.

“Gani, Edo. Kalian udah pernah ciuman belum?” tanyaku yang hanya dijawab mereka dengan gelengan kepala.

Tanpa perlu menunggu terlalu lama lagi, aku pun memberikan pengalaman ciuman pertama untuk anak-anak tersebut. Tidak tanggung-tanggung, ciuman yang kuberikan bukanlah sekedar kecupan singkat, melainkan penuh dengan nafsu. Dengan bergantian, lidahku bertemu dengan lidah Gani dan Edo.

“Gani… Edo… Lepasin seragam kalian deh…” pintaku sambil tersenyum ke arah kedua bocah tersebut.

“Tapi Kak…” Edo tampak masih agak ragu.

“Sudahlah turutin aja. Kakak janji kalian akan merasakan nikmat…” aku menyahut.

Dengan malu-malu mereka mulai melepas baju dan celana mereka satu persatu. Tampaklah penis dari anak-anak itu yang sudah tampak tegang. Rambut kemaluan mereka belum tampak tumbuh sama sekali, sedangkan batang penisnya masih agak kecil, mungkin hanya sekitar 9-10 cm saja. Namun entah kenapa, melihat pemandangan seperti ini libidoku naik semakin tinggi.

“Hihihi… Kok punya kalian udah tegang banget sih?” godaku sehingga membuat wajah mereka memerah karena malu.

“Kak Tita curang…!!” kata Edo tiba-tiba.

“Curang bagaimana maksud kamu Do?” tanyaku.

“Kami berdua udah telanjang. Masa Kak Tita nggak ikutan telanjang sih?” Edo menjawab dengan wajah lugunya.

Aku hanya tersenyum mendengar perkataan polos dari Edo tadi. Namun setelah aku pikir, ternyata benar juga apa yang dikatakan olehnya. Aku kemudian bangkit dari dudukku, lalu celana pendek berikut celana dalam aku lepaskan. Sekarang kami bertiga sudah dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benang pun.

“Sekarang Kak Tita udah gak curang lagi kan?” aku bertanya kepada Edo.

“I-iya Kak…” jawab Edo singkat.

Sekarang tatapan mereka tertuju pada benda yang ada dibawah pusarku. Perasaanku campur aduk saat melihat mata anak-anak ini berbinar-binar takjub melihat vaginaku. Aku pun bisa mendengar suara mereka sedang menelan ludah. Pasti ini adalah pengalaman pertama bagi mereka dapat melihat vagina seorang wanita yang lebih dewasa.

Mereka berdua tampak gugup sekaligus senang melihatnya. Sementara jantungku berdegup kencang sekali saat mengingat bahwa yang sedang mengamati vaginaku dengan seksama ini adalah anak-anak kecil. Vaginaku yang masih rapat dan dalam keadaan tanpa bulu sedikit pun, sangat menarik perhatian mereka. Kemudian aku duduk kembali di ranjang lalu menaikkan kakiku dan mengangkangkannya. Vaginaku sekarang dalam keadaan terbuka lebar dan tentu saja semakin terlihat bagian dalamnya. Mereka mendekat ke arahku dan memperhatikan vaginaku dengan wajah penasaran.

“Ini namanya vagina, lain dengan punya kalian…” aku menerangkan ke mereka layaknya seorang guru biologi.

“Ooo… Ini yah yang namanya vagina…” kata Edo sambil manggut-manggut.

“Iya… Kalian berdua lahir dari sini…” lanjutku.

“Kok wangi banget sih Kak?” tanya Gani sambil mengendus kemaluanku walaupun masih dari jarak yang cukup jauh.

“Biar bersih harus dirawat terus… Tiap perempuan yang udah dewasa juga pasti ngerawat vaginanya kok…” aku terus berusaha membuat kedua anak ini lebih mengerti lagi mengenai bagian dari tubuh wanita.

Tanpa perlu aku suruh tangan mereka kini mulai mengelus-elus bagian di sekitar kemaluanku. Sentuhan mereka ini terasa nikmat sekali. Jari-jari kecil milik Gani sudah masuk ke lobang vaginaku dan bermain-main di dalamnya. Tentu saja hal ini membuat cairan vaginaku mulai tampak membanjiri bibir luarnya.

“Sssssshhh…” mulutku mulai mengeluarkan suara desisan ketika jari Gani menyentuh daging kecil di dalam vaginaku.

Selanjutnya seperti layaknya seorang pria yang sudah berpengalaman, Gani membenamkan wajahnya pada vaginaku lalu dengan rakus menjilatinya. Lidah kecil itu menyapu bibir vaginaku sampai aku menggeliat-geliat dan mendesah nikmat. Gani kelihatan sangat menikmati cairan kewanitaan yang terus keluar dari vaginaku itu.

“Aaaahhh… Gaaann!! Teruuuusss…” aku mendesah menikmati saat lidah Gani menelusuri gundukan bukit kemaluanku.

Tanpa disadari kakiku semakin melebar sehingga memberi ruang lebih luas bagi Gani untuk menjilati vaginaku. Tubuhku seperti terkena aliran listrik ketika lidah Gani yang hangat membelah bibir kemaluanku dan memasuki liangnya serta menari-nari di dalamnya.

“Aaaaahhh… Ooooohh…” desahku dengan tubuh bergetar merasakan lidah Gani memainkan klitorisku.

Sementara Edo kelihatannya lebih tertarik dengan kemulusan kakiku yang memang sangat terawat.

“Paha Kak Tita mulus banget deh!! Mana putih lagi…” celoteh Edo sambil memegang pahaku.

“Dielus dong Do…” ucapku setengah mendesah.

Tentu saja mendengar kalimatku barusan tangan Edo mulai berani untuk mengelus-elus pahaku. Tidak lama kemudian paha tersebut mulai dia jilati dengan penuh nafsu, sementara tangannya juga ikut aktif mengelusi bagian dalamnya. Aku hanya bisa pasrah membiarkan kenikmatan ini berlangsung. Aku merinding merasakan sapuan lidah dan dengusan nafas Edo pada kulit pahaku.

“Aa-aduh… Eee.. nak.. banget! Terr.. us… Aaaahh…” aku terus merintih menikmati perlakuan anak-anak ini.

Sungguh mereka memberiku kenikmatan yang hebat. Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku tanpa bisa berkata-kata hanya rintihan dan nafas yang tersengal-sengal. Setelah agak lama mereka memainkan vagina beserta pahaku, akhirnya aku mendorong mereka lalu bangkit dan menghampiri mereka yang berdiri di tepi ranjang.

Aku berjongkok dihadapan mereka sambil kedua tanganku memegang diiringi dengan remasan-remasan kecil pada penis mereka. Aku mendekatkan wajahku pada penis Gani, kemudian aku kulum dan jilati kepala penis muda ini. Karena penis Gani ukurannya termasuk kecil, maka aku dapat memasukkan seluruh batang penis itu ke dalam mulutku lalu menghisapnya dengan gerakan maju mundur. Mungkin karena Gani sangat menikmatinya, tanpa sadar tangannya mencengkeram erat kepalaku. Sementara itu, tanganku yang satu mengocok-kocok penis Edo.

“Kak Titaaa… Akuuu… Ma-mau… Kenciiiing…” Gani merintih.

Tampaknya anak ini akan mencapai orgasme. Namun tentu saja aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi karena aku masih ingin permainan ini berlanjut lebih lama. Kemudian aku beralih pada penis Edo. Tampak penis ini sedikit lebih besar dari kepunyaan Gani. Aku mulai menjilati penisnya dari pangkal sampai pada ujungnya, lidahku menari di kepala penis Edo. Aku jilat-jilat pelan lubang kencing Edo kemudian aku masukkan seluruh batang penisnya. Sama seperti Gani, Edo juga menjambak rambutku dengan kencang ketika aku semakin mempercepat kulumanku.

“Kaaaaakkk… A-aku… Ju… ga… Mauuu… kencing niiiih!” Edo berteriak kencang.

Aku menghentikan kulumanku pada penis mereka berdua, kemudian aku bergerak naik ke atas ranjang lalu mengangkangkan kakiku dengan lebar sehingga membuat vaginaku terlihat jelas oleh mereka.

“Siapa duluan yang mau tititnya dimasukin ke sini?” aku berkata sambil tanganku menunjuk ke lubang vaginaku yang sudah nampak basah oleh cairanku sendiri.

Mereka saling berpandangan lalu mulai berdiskusi. Akhirnya Gani duluan yang akan menusukku. Gani naik ke atas ranjang dan mengangkangi kakiku lebih lebar. Tampak penisnya yang sudah tegang dan mengkilat siap menusuk lubang vagina wanita yang lebih pantas menjadi kakaknya. Aku menuntun penis Gani untuk masuk ke lubang kenikmatanku. Aku membiarkan pria muda ini melepas keperjakaannya oleh vaginaku. Dan ‘bleeess’, batang penis Gani pun amblas seluruhnya ke dalam vaginaku.

“Aaaaaaaah Ganiii…” aku mendesis.

“Masukin… Le-lebih… Dalam lagi!!” perintahku.

“I-iyaaaa Kak!!” jawab Gani.

Yang dapat aku lakukan sekarang hanya mendesah sambil menggigit bibir bagian bawahku. Tampaknya Gani cepat memahami perkataanku, dia memompa vaginaku dengan seksama. Genjotannya semakin lama semakin cepat. Edo yang menunggu giliran hanya tertegun dengan permainan kami. Genjotan Gani kian cepat aku imbangi dengan goyanganku.

“Aaaaaaahh… Lebiiiih cepeeettt Gan!! Aaaaaaah… Aaaaaaahhhhh…” erangku.

Setelah sekitar 10 menit dalam posisi yang sama, Gani semakin mendesah dan menjerit dengan kuat, karena kali ini penisnya benar-benar aku jepit dengan kuat sehingga pasti memberikan dampak yang sangat nikmat.

“Rasanyaa enaaaak bangeeeettt Kaaak…!!” Gani terus mendesah.

“Aaaaaaahhh… Aaaahhh… Teruuusss Gaaan…!!” aku juga mendesah lebih kuat lagi dari sebelumnya karena merasakan penis Gani semakin cepat dan kuat menusukku.

Tampaknya hal ini membuat Gani tidak kuat lagi menahan sperma yang akan keluar. Beberapa saat kemudian tubuh Gani mulai mengejang hebat dan seluruh badannya bergetar.

“Aduh Kak… E-enaaaak…!! Ssssshhh… Tapi Gani udaaah nggak tahan pengeeen kenciiiiing…” desahnya.

“Aaaaaah… Keluariiiin di dalam ajaaaa Gaaan…!” kataku yang mengerti maksud perkataan Gani.

Kakiku aku lipat menahan pantat Gani karena tidak ingin penisnya keluar dari vaginaku sedikitpun. Tidak lama dia merangkul erat tubuhku dan ‘creeeet… creeeet…’ cairan hangat membanjiri liang kewanitaanku. Gani terkulai lemas diatas tubuhku, butiran-butiran keringat keluar dari sekujur tubuhnya.

“Gimana Gan? Enak gak barusan?” tanyaku begitu Gani mencabut penisnya yang sudah agak mengempis dan terkapar lemas disampingku.

“Enaaaak bangeettt Kak….!! Gani baru pernah ngerasain yang kayak ginian…” Gani berkata dengan penuh kepuasan.

“Itu tadi namanya orgasme. Kalau udah sampai di puncak kenikmatan ya kayak gitu rasanya” aku berusaha menjelaskan.

“Oohh… Jadi waktu orgasme Gani ngeluarin air kencing kayak tadi itu ya Kak?” tanyanya polos.

“Gani, Edo. Yang tadi keluar itu bukan air kencing, melainkan sperma. Itu adalah cairan yang keluar ketika laki-laki mencapai orgasme…” aku berusaha menerangkan dengan kata-kata yang mudah dicerna oleh anak seusia mereka.

Mereka berdua hanya diam saja sambil mengangguk-anggukan kepala. Mungkin mereka bingung mau bertanya apa lagi kepadaku.

“Ya udah. Sekarang giliran kamu yah Do…” aku berkata kepada Edo.

“Sekarang kamu tusuk vagina Kakak dari belakang yah…” aku memberi arahan kepadanya.

Kemudian aku mengambil posisi menungging sehingga vaginaku pada posisi yang menantang. Edo naik ke atas ranjang dan bersiap menusuk dari belakang. Dan penis Edo mulai memasuki lubang kenikmatanku yang seharusnya belum boleh dia rasakan.

Tampaknya Edo sudah bisa menggerakkan tubuhnya dengan benar, mungkin dia belajar dari melihat permainan Gani denganku sebelumnya. Edo menggerakkan maju mundur pantatnya. Aku sambut gerakannya dengan ikut menggoyang pinggulku. Semakin lama gerakan Edo semakin cepat dan tampaknya puncak kenikmatan akan segera diraih oleh anak ini.

“Edo udah mau keluaaaar Kaaak…!!” tanya Edo sambil terus menggenjot vaginaku.

“Ahhhhhhhhhh… Kakak juga mau keluaaaar Do…!! Kita keluariiiin samaaaa-samaaa yaaaahh…” teriakku kencang.

“Enaaaaaaaak bangeeet Kaaak…!!!” Edo berteriak nikmat sambil memeluk erat tubuhku dari belakang ketika spermanya menyemprot deras vaginaku.

“Kakaaaaak jugaaaa… Aaaaaaaaaaahhhhh… Sssssshhhhhhhhhh…” desahan nikmat keluar dari mulutku saat mencapai orgasme untuk pertama kalinya.

Lubang vaginaku terasa hangat setelah diisi sperma kedua anak ini. Edo kemudian terkapar disampingku. Aku hanya dapat menatap kedua anak itu dengan perasaan setengah tidak percaya bahwa aku baru saja bersetubuh dengan mereka. Walaupun aku hanya mendapatkan orgasme sekali saja, namun sensasi yang aku dapatkan membuat aku sangat puas. Aku bangkit dan berjalan ke dapur tanpa berpakaian untuk membuatkan sirup dingin, agar tenaga mereka pulih. Setelah berpakaian dan selesai minum mereka minta ijin untuk pulang.

“Gani, Edo. Kalian jangan cerita kepada siapa-siapa tentang semua ini yah. Kalian boleh minta lagi sama Kakak kapan saja, asalkan waktu dan tempatnya memungkinkan…” aku berkata sambil mencium pipi kedua anak itu.

“Iya Kak…!” sahut mereka hampir bersamaan.

Setelah mereka berdua pergi, satu sisi diriku bertanya-tanya, mengapa aku bisa bertindak seperti ini. Namun sisi lain diriku merasa puas karena berhasil menggoda dua orang anak yang masih polos. Aku juga sangat menikmati menggunakan tubuhku untuk merangsang dan menguasai kedua anak tersebut. Aku juga senang bisa membuat keduanya lepas kendali dan jatuh dalam pelukan birahiku.

Walaupun sampai saat ini aku tidak pernah melihat keberadaan mereka lagi, namun aku tidak akan dapat melupakan kedua anak yang sudah memberikan kepuasan serta sensasi yang berbeda kepada diriku.


Gadis gadis kecil —

Aku mempunyai tetengga belakang rumahku yang bernama Ita dan Anggi.Ita orangnya manis,tinggi,dan bongsor mirip anak yang berumur 16 tahun.Dia masih kelas 6 SD sedangkan Anggi adik Ita yang sedang kelas 4 SD.Dia juga bongsor sama dengan Ita tetepi bedanya dia agak pendek dan juga Anggi lebih putih,cantik serta lincah juga.Ita anaknya montok dan yang membikin aku tidak tahan adalah pentilnya yang besar itu berukuran 32B.Dia suka memakai celana pendek dan atasannya hanya memekai kaos tipis dalamnya memakai kaos dalam yang longgar tanpa Bh atau Bh saja sehingga pentilnya yang berwarna coklat muda kelihatan sedikit membayang bila memakai kaos dalam saja.Kalau Anggi orangnya suka memakai rok mini yang minim banget atau sebatas pertengahan paha sehingga paha mulus Anggi kelihatan dan atasannya memakai kaos tipis tanpa memakai pakaian dalam sama sekali sehingga pentilnya yang berukuran 32A kelihatan tercetak jelas.Dia juga senang menggodaku dengan memakai celana ketat sepangkal paha milik Ita tanpa celana dalam dan atasannya memakai tengtop tanpa miniset(dia suka memakai miniset) bila aku bermain kerumahnya kalau tidak ada orang tuanya sehingga semua tubuhnya terbayang jelas dibalik pakaiannya yang serba tipis membuat aku tak tahan.Dan bila dia sudah begitu aku langsung mendekatinya dan memeluk serta meraba raba pentil dan tempiknya yang membukit dibalik celana ketatnya.

Kalau Ita suka menggoda aku bila bermain kerumahnya dengan memakai rok Anggi yang mini didalamnya tanpa celana dalam dan atasanya hanya memakai kaos dalem putih/coklat tipis banget hingga pentilnya seperti dia pamerkan kepadaku.

Aku menyetubuhinya pertama kali saat aku,Ita,dan Anggi berenag dikolam renang rumah Ita.Ceritanya begini:

Saat itu hari Minggu(12 Februari 2003)aku main kerumah Ita dan Anggi yang kelihatannya lagi sepi.Saat aku tanya ke Anggi papa dan mamanya lagi kemana dia mengatakan kalau papa dan mamanya lagi keSemarang dan pulangnya lusa dan dirumah hanya ada mereka berdua dan pembantu perempuan yang berumur 22tahun bernama mbak Asih.Lalu aku mengajaknya berenang dirumahnya yang ada kolam renangnya dibelakang rumahnya.Anggi langsung senang dan mengajak Ita kakaknya.Ita langsung keluar dan saat itu dia hanya memakai kimono tidur dan kelihatanya dia tidak memakai apa apa didalamnya dia mengiyakan ajakan adiknya.Aku langsung masuk kerumahnya yang sedang sepi itu dan mencuri curi pandang kearah tempik dan paha Ita yang kelihatan saat Ita duduk didepan ruang keluarga.Saat itu aku memakai celana ¾ yang dari bahan parasut atasanya kaos junkies.Aku meminjam celana Ita agar bajuku tidak basah.

“Ita aku pinjam dong celana kamu biar bajuku tidak basah”kataku

“Sebentar yah aku ambilin”katanya dan dia meminjamiku celana yang ketat tapi bisa mengembang berwarna kuning

“Bentar yah aku ganti baju dulu”katanya dan masuk kekamar Anggi.Aku langsung mengganti bajuku dengan celana Ita didepan Tv karena Anggi dan Ita sedang berganti baju dikamar Ita.Saat itu aku sedang telanjang tanpa memakai apapun dan Anggi keluar tanpa aku sadari karena posisiku didepanya membelakanginya.Ita dari tadi memperhatikanku dari belakang.Tau tau dia sudah memegang kontolku yang sedikit ngaceng karena melihat paha dan tempik Ita.

“Eh kok menganggu angguk ini apa sih,ada rambutnya lagi?”tanyanya sambil memegang kontolku

“Eh Anggi kamu sudah ganti baju”tanyaku gugup tapi tanpa menepis tangan Anggi yang memegangi kontolku karena Anggi meremas remasnya sehingga kontolku geli geli nikmat rasanya.

“Ya sudah dong”katanya sambil tetap meremas kontolku.Dia memakai baju renang yang sangat sexy banget bawahnya celana dalam nilon tipis berwarna pink terusanya seperti tengtop tipis banget dari kaos berwarna kuning sehingga semua bentuk tubuh Anggi kelihatan sekali menambah ketegangan kontolku apalagi ditambah remasan Anggi.

“Lepasin dong kan sakit tititku”kataku pura pura tapi didalam hati aku berkata nanti aja kalau kita udah berenang.Dia melepaskan kontolku aku langsung memakai celana Ita.Kontolku membayang jelas dibalik celana nilon tipis Ita mirip ulat yang melintang keatas.Lalu aku ikutan duduk dan memeluk Anggi yang sedang duduk dikursi ruang keluarga itu.Aku memeluknya dari belakang karena Anggi duduknya membelakangiku.Tanganku langsung hinggap dipentil Anggi dan meremasnya pelan pelan.

“Ah geli,eh…tapi kok enak yah”katanya sambil memegang tanganku tanpa menariknya.

“Enakkan,tadi tititku juga keenakan kayak gini”kataku sambil berusaha memasukan tanganku kedalam pakaian renang Anggi dan menarik tali pakaian renangnya yang berbentuk tengtop itu hingga terlepas sedikit tapi sudah memperlihatkan pentil Anggi yang sebesar tutup teko itu.

“Nggi balik sini dong”kataku sambil menariknya agar menghadap ke aku.Dia langsung berbalik dan saat itu juga pentil indah milik gadis kecil terlihat jelas dihadapanku.Pentil cewek kecil dengan puting merah muda menggemaskan

“Eh diliatin terus”katanya sambil menarik kembali tali bajunya keatas dan aku hanya senyum saja.Saat itu Ita keluar.Pakaian Ita tak kalah sexynya dengan adiknya.Dia memakai tengtop dengan terusan rok sebatas lutut dari bahan nilon berwarna hitam dan kelihatanya dia tak memakai apa apa didalamnya karena pentilnya jelas tercetak dibalik tengtopnya yang tipis.

“Wah kamu cantik banget lho Ta”kataku.Pandangan Ita kebawah bagian kontolku.

“Ih lucu apaan tuh yang panjang”katanya menunjuk kontolku

Dasar anak anak kataku dalam hati.”Ini namanya titit”kataku sambil ngeluarin kontolku yang sejak tadi ngaceng.

“Ta aku nggak pakai ini aja deh,kesempitan”kataku sambil melepas celana Ita memperlihatkan kontolku yang berjembut lebat lalu mengembalikanya.Aku sengaja melepasnya karena aku ingin Anggi dan Ita melihat kontolku dan supaya kontolku bebas bergerak.

“Ya udah sini aku kembaliin”katanya sambil meraba kontolku.Seeerrrr tangan halusnya menyentuh kontolku yang mengangguk angguk ngaceng.

Lalu kami keluar dan kekolam renang dibelakang rumah dan tak lupa menutup pintu depan rumah Ita agar tak ada tamu yang datang.Aku berenang dengan mereka dengan telanjang bulat tanpa malu malu karena mereka belum mengerti apa apa.Saat aku tidak berenang dan tiduran di pinggir kolam sambil mengelus elus kontolku yang aku biarkan tegang Ita mendekatiku lalu disusul Anggi dibelakangnya.

“Eh lucu kayak burung”kata Ita sambil memegang dan meremas kuat kontolku karena gemes.Aku yang diremes jadi sedikit kesakitan

“Ukhh sakit Ta jangan diremes tapi diginiin”kataku sambil menaik turunkan kontolku.Lalu Ita memegangnya dan menaik turunkan kontolku.

“Begini”katanya

“Shhhh….ahhhh Taa mmhhh”kataku sambil memegangi pundaknya.

“Kenapa sakit ya tititnya”tanyanya menghentikan kocokanya

“Nggak kok terusshhh enak kok”kataku lalu tanganku memegang pentil Ita yang basah tercetak dipakaiannya.

“Jangan pegang basah nih”katanya sambil terus mengocokku.Aku tak peduli dan terus meremas pentilnya malah menurunkan tali tengtop yang ada di bahunya hingga pentilnya yang putih mulus dengan puting coklat muda kelihatan menggiurkan.

“Shhhh terusss”kata Ita mulai merasa keenakan pentilnya aku remas remas.

“Kak ikutan dong Anggi dari belakang lalu duduk menghadapku.

“Stop,berhenti dulu aku ajarin yang enak mau nggak?”tanyaku

“Apaan sih”kata Ita

“Iya,apaan”sahut Anggi

Wah kebetulan nih pikirku.

“Kita main ibu dan bapak”kataku

“Gimana?”tanya keduanya hampir bersamaan

“Gini,biar aku buka pakaian renang kalian lalu kita main”kataku sambil berusaha melepas pakaian Ita

“Iya deh”jawab Ita.Lalu aku melepas tengtop Ita hingga Ita telanjang dan pakaian atas Anggi lalu cawet nilon Anggi dan membuang semua itu sembarangan.

“Nah sekarang Anggi dulu”kataku mendekati Anggi dan menidurkan Anggi dikursi pantai panjang yang didekat kolam renang.

“Kamu tiduran ya terus nikmati aja”kataku sambil membelai belai pentil Anggi yang putih mulus dan putingnya yang berwarna merah muda itu.Lalu aku mencium bibir Anggi dan melumat bibirnya.Mulanya dia hanya diam tapi lama lama dia membalasnya dan lidahku masuk kedalam mulutnya.Emhhhh…manisnya ludah milik Anggi.Kami berciuman lama sambil tanganku meremasi pentil serta memelintir putingnya.Ita hanya memperhatikan kami.

“Eh seperti yang difilm yang ditonton papa sama mama”katanya.Aku terus saja melanjutkan permainanku dengan Anggi hingga ciumanku turun kedaerah pentil.Disana mulut dan lidahku mengulum dan menciumi pentil Anggi yang kiri dan tanganku yang kiri meremas pentilnya yang kanan.

“Shhh akhhh…kak Ita enak kak,Anggi sukaaa”katanya diiringi rintihan keenakan.Lalu ciumanku turun keperut dan kebawah terus hingga sampai didaerah tempiknya yang belum ada bulunya sama sekali.Tempiknya putih banget dengan bukit melintang indah kebawah serta ada sesuatu seperti mengintip sebesar kacang.Aku hirup aroma tempiknya dalam dalam…mhhh haruuuum banget melebihi semua madu.Lalu aku menciumnya dan memainkan bibirku di tempiknya yang basah terus lama lama lidahku sudah menyusuri tempiknya.

“Kakhhh Ita gawukku diapain kok enak sihhh”teriaknya

Ita hanya mnonton karena juga tidak mengerti.Lalu aku memasukkan lidahku kedalam tempik Anggi hingga masuk dan menjilati tempiknya yang sudah basah cairan kenikmatannya sampai kedaerah itilnya.

“sluuup sruupp sllluuuupp amhhh”suara lidahku memainkan tempik Anggi

“Shhhh miaahhhhh kak Itaaa Nikmat sekali kak,Anggi nggak tahan”katanya sambil tangannya meremas rambutku hingga acak acakan.Kedua tanganku bermain di pentilnya yang terbebas.Hingga tiba tiba Anggi berteriak.

“Kak,Anggi mau pipis kak…akhhhhh…serrr…sserrrr…sseerrr..seeerrrr”4 kali tempiknya mengeluarkan cairan pejuh.Aku langsung menghabiskan cairan itu hingga habis karena rasanya sangat enak,gurih,manis.Dia kelihatan lemes banget dengan nafas memburu.

“Kok enak banget,Anggi keenakan sekali”katanya

“Sekarang aku ajarin ngulumin tititku ya”katak

“Sekarang kamu gantian diatas terus masukin tititku kemulutmu dan emutin Nggi”kataku sambil membaringkan tubuhku dikursi.Lalu Anggi memegang kontolku dan meremasnya lalu menjilat helmku yang berwarna merah tegang sekali.

“Ayo Nggi emut seperti kamu ngemut es”kataku sambil mendorong kepala Anggi kebawah kontolku.Lalu Anggi mengulum kontolku tapi hanya 1/4nya saja karena kontolku besar(panjang 17 cm dan berdiameter 5 cm).Dia mengulumnya dengan kasar maklum baru pertama sampai kena giginya.Rasanya sakit sakit,geli,nikmat,enak bercampur jadi satu.Kontolku kena gigi tapi justru itu yang menambah nikmat bagiku.

“Sluurrrppp…slurrpp….nyot..nyoot”bunyi kulumannya pada kontolku.

“Shhh…yahhhh terus Anggi,kamu pintar banget”kataku

“Ita kamu sini dong deket aku biar kamu enak juga”kataku agar Ita mendekat.Setelah Ita mendekat tanganku langsung menyambar pentilnya dan meremas remasnya

“Ehhh…shhhhh tetekku sakit tau”katanya tapi tak berusaha menyingkirkan tanganku.Jadinya kontolku dikulumin cewek kecil dan tanganku meremasi pentil cewek cantik juga,sungguh pas dan nikmat sekali.Hingga aku akan segera akan keluar.

“Ssshhhhh mhhhh…croottt…crrooottt…crrooott”3 kali panjang panjang aku menembakkan air pejuhku kemulut Anggi

“kamu pipis kok nggak bilang sih”kata Anggi sambil mengelap pejuh yang meleleh keluar sampai dipipinya

“Tapi kok enak yah rasanya”katanya lagi

“Nggi kamu tiduran lagi dong biar aku ajaring yang lain”kataku.Lalu aku bangun digantikan Anggi yang ganti tiduran dikursi.

“Apa lagi sih”tanya Ita

“Enak deh liat aja”kataku brsiap siap naik kekursi lagi lalu aku menyuruh Ita kockin kontolku yang mengecil.

“Ta kocokin dong biar ngaceng lagi nih”kataku sambil memegangi kontolku.Lalu Ita memgang dan mengocoknya hingga ngaceng kembali.Setelah ngaceng aku siap siap akan memasukkan kontolku kedalam tempiknya Anggi.Aku menggenggam kontolku dan mengarahkan kelobang tempik Anggi.

“Nggi tahan dikit yah aku mau masukin kontolku”kataku sambil memegangi kontolku

“Masukin aja aku pingin rasain kaya papa sama mama main ginian”katanya sambil jarinya menyentuh helmku

“Ita kamu bantuin aku dong,tarik gawuknya Anggi biar agak lebar Ta”kataku lalu Ita menarik tempik Anggi kekiri dan kekanan dan aku lalu mendorong kontolku.

Susah banget masuknya dan baru 3 kali sodokan helmku mulai masuk…bleeeshhh…

“Kaaakhhh Ita sakit kak”teriak Anggi

“Tahan sedikit Nggi”kataku lalu mendorong kontolku hingga ½ masuk kontolku sudah menabrak selaput dara Anggi.Aku berhenti sebentar lalu menaik turunkan kontolku hingga Anggi kembali mendesah desah tanda dia merasa keenakan lagi.Lalu tiba tiba…bleessss…prett kontolku merobek selaput daranya dan masuk semua hingga amblas ketempik Anggi yang sempit.Kontolku seperti diremes remes dengan karet hingga sakit sakit tapi enak.

“Aaaaakkkhhhhh kak Ita,gawukku perih”teriak Anggi dan aku terus diatas Anggi.Saat Anggi sudah sedikit tenang aku kembali menggerakkan pantatku naik turun.Pertama Anggi meringis ringis.

“Shhhh sakiiit…udah dong gawukku sakit”rintihnya tapi aku tak peduli karena aku sudah gatel banget.Tapi lama lama rintihanya berubah jadi erangan dan desahan kenikmatan.

“Shhh…ahhhhh aakkhhhh….yaahhhh kak Ita kok enak ya kak sakit tapi nikmat”katanya tak beraturan

“Anggi gawukmu nikmat banget Nggi aku suka banget deh shhhh…aakhhhh”kataku keenakan juga sambil bergerak turun naik diatas tubuh mulus Anggi

Gerakanku makin lama makin cepat hingga akhirnya.

“Kak Ita Anggi pipis lagi kakhh…shhh..aaahhhhh….ssshhhhhh..aahhh”teriakanya membuatku makincepat menggenjot tempiknya hingga akhirnya

“Akhhh sseeerrr…sseerrr.sseeerr…seerr”kali ini lebih banyak pejuh yang keluar dari tempik Anggi lalu aku mencabut kontolku yang belum keluar dan belum puas.Lalu aku menjilati tempik Anggi.Kulihat ditempiknya ada cairan putih dan ada darah yang meleleh tanda dia sudah tidak perawan lagi.Lalu aku menjilatinya sampai semua darah dan pejuh habis bersih dan aku telan semua.Rasanya enak,asin,gurih,amis darah bercampur jadi satu.

Kontolku masih kokoh tegang dan basah mengkilap oleh pejuh dan sedikit darah Anggi.

“Nggi sekarang kamu istirahat aja deh lihat giliran kak Ita”kataku

“Iya deh,Anggi juga lemes kok dan gawukku sedikit sakit”katanya sambil membelai tempiknya yang bentuknya berubah menjadi tebal dan tembem menggelembung karena sudah kumasukin kontol.Bentuknya jadi sedikit keluar bibir tempiknya.

“Sakit ya,tapi nikmat kan?”tanyaku

“Iya sakit tapi enak kaya gimana gitu”katanya sambil tersenyum.

Aku lalu mendekati Ita yang merabai tempiknya karena kegatalan sepertinya

“Ta sekarang giliran kamu”kataku sambil menelakupkan telapakku kepentil Ita lalu meremasnya.

“Sakit nggak sih nanti”tanyanya takut sakit

“Nggak deh,malah enaaak sekali”kataku

“Tuh tititku sudah tegang ingin dimasukin kegawukmu itu”kataku sambil meremas tempiknya.Ita lalu menutupkan pahanya agar aku tidak menggodanya lagi.

“Iya tapi pelan pelan aja yah”katanya

“Iya deh nikmatin aja kamu bakalan ketagihan”kataku lalu aku mendekati Ita dan menyodorkan kontolku kearahnya.

“Ta remasin,kocok dan kulumin dong tititku biar lebih ngaceng”kataku sambil memegang tangan Ita.Ita lalu memegang dan meremas kontolku yang sudah ngaceng basah.

“Teruushhh…Ta kocokin Taaa,enaaakhhhh”kataku menikmati remasan dan kocokan Ita pada kontolku.

“Taaa emutin dong kaya Anggi tadi”kataku sambil menarik kepala Ita kearah kontolku.Ita lalu membuka mulutnya dan menjilati lubang kontolku yang kemerah merahan.Rasanya seperti digesekin kekondom(kalau aku ml sama Siska pacarku yang ada dalam cerita Senandung Masa puber aku kadang memakai kondom biar aman,kadang Siska ngocokin kontolku yang mesih berkondom….Enaaaknya si Siska).Sekarang Ita ngulumin kontolku.Hanya 1/4nya kontolku yang masuk karena panjangnya kontolku.Mhhhh….slluuuuupp…cleeep suaranya bikin aku melayang.

“Taaaa nikamatnya,kamu lebih enakan dari Anggi emutan kamu”kataku melirik Anggi yang sedang merabai tempiknya yang membengkak merah dia meringis aja.Tiba tiba ada yang akan keluar dari kontolku.

“Shhh akhh teruushhh ttaaaa”kataku lalu…croot croot crot crot pejuhku menyembur dalam mulut Ita.

Ita menelan semua pejuhku karena dia tau kalau rasanya enak.Aku lalu bangun dari kursi dan menidurkan Ita kekursi.

“Ta sekarang kamu gantian yang rasain”kataku lalu aku mencium tempiknya lalu aku jilat bibir tempiknya(tempiknya putih bersih belum ada bulunya sama sekali dan berbau sedap cairan kewanitaanya).Aku menjilat,mencium,melumat sampai cairan Ita jadi habis semua.

“Akhhh shhhh…mhhhhh…shhhh…akhhh”rintihan Ita semakin indah.Setelah beberapa saat akhirnya dia sampai juga.

“Aaahhhh…aku pipis enakhhhh sekali…ssuuuurrr…suurrr..ssuuurrrrr”Ita menyemburkan pejuh panjang panjang sampai mengenai mukaku lalu aku menjilatinya sampai bersih serta meratakan pejuhnya dimukaku.

“Ukhhh enak sekali aku sampai lemas”katanya sambil berbaring terlentang.

“Gimana enakan?,sekarang kamu rasain kaya Anggi tadi yah”kataku sambil memegangi pentilnya yang mengeras dan mencuat tegang puting coklatnya.Lalu aku menaikin tubuh Ita yang telentang siap.

“Ta tahan dikit yah kalau perih”kataku sambil memegangi kontolku kerah tempiknya Ita

“Nggi bukain dong gawuk kak Ita”kataku pada Anggi lalu Anggi menarik tempik Ita kekanan dan kekiri membukanya.Terlihat bagian dalam tempik perawan Ita basah,merah muda dan berkedut kedut.Aku mendorong kontolku berkali kali tapi susah dan baru yang kelima kalinya aku berhasil,sepertinya tempi Ita malah lebih sempit dari punya Anggi.Sleeep….kepala kontolku baru masuk tapi Ita sudah teriak kesakitan.

“Ukhhh…periiihh…sakiiit banget”katanya sambil tangannya mencengkeram pinggangku agar tidak masuk lagi.Setelah Ita agak tenang aku kembali menekan kontolku masuk lagi…sleeep..”Akhhhh”teriak Ita.Setelah ½ lebih kontolku seperti menyentuh selaput tipisnya.

“Kamu muncul lagi yah,ntar kamu aku robek”kataku dalam hati alu aku dengan tiba tiba menekan kontolku sekuat tenaga.

“Slup…Brett akhhhh sakiiit”teriak ita mencengkeram pinggangku kuat kuat.Aku diam aja sambil menikmati jepitan dinding tempik ita yang kuat seperti mau menghancurkan kontol tegangku.Setelah nafas Ita agak teratur aku kembali menaik turunkan kontolku mengobok obok tempik perawan Ita.

“Akhhh shhhh sakiiit pelan pelan dong periiih nih”teriaknya tapi aku tidak peduli.

“Aku kenthu kamu Ta biar tempikmu perih”kataku dalam hati kegemesan

“Sleep…sleep…cleep…cleeep”genjotanku naik turun makin lama makin cepat

“Akhhh…shhhh….akhhhh sakiit”teriak Ita kesakitan tapi pinggangnya malah bergerak kekanan dan kekiri.Lama lama teriakannya berubah menjadi desahan nikmat.

“Shhh..akhhhh…skhhh…akhhh enak bangethh siih kalau gini terus Ita mau dong”katanya sambil menekan pinggulku.

“Akhhh taaa gawukmu sempit nikmat banget taaa”kataku sambil menggenjot tempiknya yang lama lama menjadi lancar nggak seret lagi dan basah oleh cairan kenikmatannya.

“Sleep…sleepp..cluup…cluup”irama kanthuku membuat Anggi masturbasi dengan memasukkan dua jari mungilnya ketempiknya yang sekarang telah membesar itu

“Kak Ita,Anggi gateeel”kata Anggi sambil mengeluar masukkan jarinya secara cepat

Aku agak bosan dengan posisi itu lalu mencabut kontolku dari tempik Ita.

“Kenapa dicabut sih gatel nih”kata Ita sambil menarik kontolku agar masuk kembali

“Bentar Ta kita ganti posisi”kataku lalu menunggingkan Ita

“Nah kamu terus gini aja ntar kamu lebih enak lagi”kataku sambil mendorong kontolku ketempiknya.Ternyata kontolku masih saja kesulitan masuknya karena tempiknya memeng sempit sekali.Bleeeeeesss….kontolku masuk pelan pelan.

“Akhhhh teruushh masukin dong lagi”katanya.Aku lalu memaju mundurkan pantatku secepatnya biar Ita kesakitan(tujuanku agar aku mendapat variasi “Sleep…sleep.sleep…sleep…cplok…cplok…cplok”suara selakanganku menabrak pantat bulat Ita

“Akhhh…shhhh….akhhh terus dong enak nih”katanya.Lama lama aku sudah merasakan akan keluar sesuatu dari kontolku dan Ita sepertinya juga begitu

“Akhh aku mau pipis lagi”katanya

“Aku juga Ta kita sama sama yuuuk”ajakku lalu aku memeluknya erat erat karena biar semua pejuhku masuk dalam rahim Ita

“Crott…croot…croot..suurrr…surr..suurr”kami sama sama memuntahkan pejuh kami.Aku memeluk Ita erat sekali hingga kontolku mengecil dalam tempiknya.Rasanya enaak sekali melebihi Siska dulu pertama aku kenthu.

Kami sama sama lelah,karena udah panas udaranya kami segera masuk kerumah Ita.Ita dan Anggi hanya membawa pakaian renangnya dan tidak memakainya karena malas.Kami masuk kedalam dan saat sampai di dapur kami kepergok mbak Asih yang lagi duduk membaca majalah Aneka.

“Ehh kalian sedang renang ya”katanya sambil memandangi kontolku yang bebas terlihat olehnya

“Iya mbak(aku kalau memanggilnya mbak)kami berenang dikolam tadi”kataku

“kok pakaian renang dik Ita dan dik Anggi dilepas”katanya lagi

“Kami tadi main ayah dan ibu”kata Ita menyahut

“Ooooo kalian main ginian yah”kata Bi Asih sambil mengeluar masukkan jarinya kedalam ibu jari dan telunjuknya yang dikaitkannya.

“Iya mbak Ehhh…kami”kataku gugup

“Kenapa sih mbak nggak diajak,mbak kan mau ikutan”kata mbak Asih sambil mendekatiku dan merabai kontolku otomatis kontolku ngaceng lagi

“Tadi enak nggak dik?”tanya mbak Asih

“Enaak banget mbak”kata Anggi

“Tapi kok periih banget ya mbak?”kata Ita

“Tapi enak kan”kataku membiarkan tangan mbak Asih bermain dikontolku yang sudah ngaceng lagi

“mbak kalau mau ikutan dikamar Ita aja tapi berdua aja yah kami kecapaian”kata Ita lalu kami masuk kekamar Ita.Saat itu mbak Asih memakai rok kolor hitam atas lutut atasannya memakai kaos oblong ketat tipis menampakkan Bhnya yang berukuran 36C berwarna pink(aku tau ukurannya setelah aku kenthu dengan bi Asih,bahkan aku menyimpannya untuk kenang kenangan bila aku ingin kenthu dengannya atau bila aku ngocok sendiri).

Setelah dikamar Ita aku mengunci kamar hingga didalam kamar hanya ada aku dan mbak Asih sedang Ita dan Anggi nggak ikut karena kecapaian katanya.

“uh besarnya kontolmu Ndra mbak jadi ingin rasain”katanya sambil menggerakkannya naik turun.

“Shhhh mbak enak mbak kocokanmu”kataku sambil merabai pentil mbak Asih yang masih memakai pakaiannya.Lalu aku mengangkat kaos mbak Asih keatas dan melapasnya hingga terlihatlah Bh pink mbak Asih yang kelihatan sexy.

“Mbak Bhnya lepasin ya,Indra pingin lihat susumu ini”kataku sambil meraba susunya yang kencang montok dan menantang.Aku memang sudah lama ingin mengenthu mbak Asih tetapi aku nggak enak mengajak dan baru sekarang

“Iya Ndra susuku juga ingin kamu lumatin”katanya tetap remesin kontolku.Bhnya aku epas dan aku taruh diranjangnya Ita.Sekarang Bhnya lepas dan mbak Asih telanjang dada.

Pentilnya besar,montok dan putingnya merah mencuat keatas membuat mataku melotot tak puas memandang

“Mbak indah banget mbak”kataku lalu meremasnya kegemasan

“Mhhh akhhh terus remes Ndra susu mbak As gatel”katanya lalu aku mencium bibirnya dan mbak Asih membalas ciumanku serta melumat bibirku lalu kami bermain lidah(ludah mbak Asih rasanya manis banget nggak kalah sama Ita dan Anggi)sambil tetep remasin susunya.Setelah puas ciuman aku menurunkan ciumanku kelehernya dan menggigiti lehernya sampai memerah lalu turun sampai kepentilnya.Disana aku melumat susunya lalu lama lama aku melumat putingnya yang mencuat indah.

“Mhhh yahh Ndra teruus sayang”katanya sambil meremas belakang kepalaku

Aku melumat pentil mbak Asih kiri kanan gantian,bila aku lumat kiri tanganku meremas yang kanan tapi bila aku lumat yang kanan tanganku meremas yang kiri.

Aku lalu menarik rok kolor mbak Asih kebawah sampai lepas hingga tempik mbak Asih telihat bebas.Ternyata mbak Asih nggak pakai celana dalam pantesan tadi duduknya didapur kakinya ditutupin handuk.Tempik mbak Asih menggunduk tebal dengan jembut lebat menghiasi bukit tempiknya.

Aku langsung memandang keindahan hutan mbak Asih tak berkedip.Mbak Asih yang masih muda(boleh dibilang remaja)mirip cewek cina karena putihnya mbak Asih,susunya putih montok dengan puting merah mencuat sedangkan tempiknya tebal membukit dengan bulu jembut yang rimbun idah pasti semua cowok akan langsung onani bila melihatnya telanjang.

“Udah Ndra kok dipandang terus”katanya mengaitkan pahanya dan duduk ditepi ranjang.Aku hanya senyum saja lalu mendorong mbak Asih telentang lalu menjilat tempiknya yang sudah sangat basah dan berbau enak.Jilatanku naik turun terus melumat lumat hingga mbak Asih kelojotan keenakan.

“Akhh Ndraa kamu nakal sayang,teruuusshhhh”katanya sambil meremas remas bantal.Aku terus saja mengerjai tempiknya sampai mbak Asih mengangkat kepalaku dan berkata

“Udah Ndra masukin aja kontol kamu itu aku sudah ingin rasain”katanya sambil mengangkangkan paha mulusnya lalu aku menaiki tubtuhnya dan mengarahkan kontolku ketempik rimbunnya.Ternyata susah banget hingga 4 kali usaha bru masuk.Slleep kepala kontolku baru masuk.

“Akshhh pelan pelan yah Ndra”kata mbak Asih lalu aku menekan lagi pantatku masuk hingga 3/4nya kontolku seperti menekan sesuatu selaput.

Ternyata mbak Asih masih perawan.

“Mbak asih perawan ya?”tanyaku

“Iya,mbak baru main ini”katanya

“Nggak apa apa mbak aku mengambil perawan mbak?”kataku

“Nggak apa apa kok,malah mbak senang bisa ngasih kepada orang yang mbak cintai”ternyata mbak asih suka padaku.Lalu aku menekan lagi pantatku hingga Bless….preet sleput itu telah sobek.

“Akh sakit Ndra terusin aja kok mbak nggak apa apa”katanya.Aku lalu mendiamkan kontolku didalam tempik mbak asih menikmati pijatan sexynya

“Shhh mbak makasih yah enak sekali,aku kapan kapan mau lagi”kataku meremasi pentilnya yang sudah keras.

“Iya sayang”katanya membelai bibirku sambil menitikka air matanya.Ternyata mbak Asih benar benar mencintaiku.Lalu aku menaik turunkan pantatku pelan pelan makin lama makin cepat.Dari seret sampai lancr keluar masuknya

“Sleep..sleepp..cleep..cleep….akhhhh….shhh…akhhh.. mbaakkk….enak…Indraa aku sayang kamu”teriakan kami sungguh indah.Kami tetap pada posisi itu hingga akhirnya mbak Asih mendorong tubuhku hingga kontolku terlepas dari tempiknya dan menyuruhku dibawah.

“Sayang kamu dibawah yah biar aku rasain diatas”katanya lalu dia menduduki kontolku yang basah mengkilat.Sleeeeepp kontolku masuk pelahan lahan.

“Aahh…”desahannya memulai gerakannya naik turun.Slee…cleep…cleep..seeepp irama kenthu kami yang indah.

Kami tak hentinya bergerak,mbak Asih naik turun sedang aku meremas remas pentilnya yang bergerak naik turun seirama gerakan pinggul sexynya hingga akhirnya…

“Mbak aku sampai…”kataku

“Ahhh aku juga sayang kita keluarin sama sama yuuukkkhhhh”teriaknya

Sleep..cleep..cleepp…akhhh…shhh..akhhh ..shhh lalu serrrr…serrrr…serrrrr kami sampai hampir bersama sama tapi aku hanya mengeluarkan pejuh sedikit banget karena sudah terkuras tadi.Mbak Asih lalu rebah diatas tubuhku kelelahan dan kontolku masih didalam tempiknya sampai mengecil lagi.

“Indra aku cinta kamu Ndra”katanya sambil menitikan air matanya diatas tubuhku

“Tapi aku sudah menjadi pacar Siska”kataku sambil menghapus air matanya

“Aku nggak peduli asal kamu juga sayang aku,kamu mau kan menyayangiku?”katanya lagi

“Iya sayang aku akan mencintai kamu walau kamu yang kedua”kataku memeluknya keharuan

“Ohh…Ndra aku sayang kamu dan aku nggak peduli walau kamu milik Siska yang penting aku memiliki kamu”kata cintanya tulus padaku

“Aku cinta kamu yang”sambil mencium bibirnya dari bawah tubuhnya aku berkata.Aku sungguh terharu sampai aku ikutan menangis(aku orangnya romantis dan sangat sentimen).Aku menurunkan tubuh indah sayangku yang kedua setelah aku kehabisan nafas keberatan.Lalu kami tertidur kelelahan dan aku memeluknya penuh kasih sayang karena aku diam diam juga menyayanginya.

Sejak saat itu aku resmi jadi pacarnya walau dia rela menjadi yang kedua setelah Siskaku.Aku juga sering menemui Ita dan Anggi sampai saat ini bila aku lagi gatel ingin kenthu atau ingin rasain air pejuhnya.Saat dia pulang sekolah sekolah dengan jalan aku membolos sekolah karena aku ingin kenthu dengannya dialam terbuka(aku suka berexperimen dengan sex).

Cerianya begini:

Saat aku tau kalau jam 11 siang Ita pulang dari SDnya aku langsung menunggunya digardu ronda dekat sekolahnya karena aku tau jalan itu satu satunya jalan bila dia pulang sekolah.saat dia sampai digardu aku langsung memanggilnya dan kebetulan dia jalan sendirian tidak sama temennya.

Dia kupanggil langsung saja kearahku karena tau aku yang memanggil.

“Ada apa sih,kamu bolos yah”katanya sambil senyum

“Iya nih kangen sama kamu yang”kataku

“Yuk jalan kesana yuk”kataku mengajaknya kearah persawahan(sekolahan Ita dekat persawahan yang luas)

“Yuk deh”katanya menggandeng tanganku mesra.

“Ita aku kangen kamu sama permainan kita”kataku memeluk pundaknya dari samping setelah mendapatkan tempat yang agak terlindung dan sepi.

“Yang bener aja deh”katanya memegang tanganku yang dipundaknya.

“Iya,sampe sampe aku bolos begini”kataku lalu tanganku yang satunya meraba kakinya hingga terus sampai kepahanya.

“Kamu nakal deh”katanya membiarka aku menyingkap rok merah seragamnya

“Kita main yuk”kataku lalu aku menciumnya dan dia membalas lumatanku pada mulutnya karena dia sudah terbiasa aku lumatin.Tanganku meremas pentilnya setelah aku menidurkannya dirumput yang tempatnya terhalang semak rimbun.Kami ciuman lama banget sampai mulutku basah oleh ludahnya.

lalu aku membuka kancing seragam putih SDnya dan melepasnya serta meletakakn disamping kami.Ita memakai kaos dalam putih dan aku segera mengangkatnya keatas hingga terlepas dan dia hanya tersenyum kepadaku tanganya mengelusi kontol tegangku yang sudah tadi dia keluarin dari celana panjangku(aku sengaja nggak pakai celana dalam karena aku sudah ada rencana) hingga tampak miniset putih yang masih menghalangi pentilnya.

“Kok kamu pakai miniset sih kmau nggak sexy dong”kataku menggodanya

“Aku malu kok teteku udah gede nih”katanya menutupi pentilnya yang terhalang miniset kecil putih.Aku lalu menaikkan minisetnya danmelepasnya dari tubuh kecilnya.

“Ta kamu pakai lagi dong kaos dalemu sama seragammu”kataku menyodorkan baju seragamnya

“Kok di pakai lagi?”katanya

“Pokoknya kamu pakai aja deh”kataku lalu dia memakai semuanya tanpa miniset putihnya.Setelah selesai aku melepaskan celana panjangku,mendekatinya dan memangkunya sehingga dia diatasku.Aku menyingkapkan rok merahnya keatas dan dia hanya diam saja meremasin kontolku yang mengacung keatas.Kusingkap roknya hingga terbuka sampai pangkal pahanya,terlihatlah celana dalam hijau ada bunga bunga kecil miliknya.

“Ta aku lepasin yah”kataku sambil menarik cawet hijaunya kebawah dan Ita hanya mengangguk.Setelah lepas tangan kananku meraba raba tempiknya yang masih gundul itu naik turun sedang tangan kiriku masuk kedalam kaos dan seragam putihnya meremas susunya yang berukuran 32B itu

“Ahhhh kamu”desahnya mulai keenakan sambil mengocok kontol itemku.Kami bermain pegang pegangan hingga kami puas lalu aku menyuruhnya tidur dan aku menindihnya terbalik(posisi 69)lalu aku menjilati,mengulum serta mengerjai tempiknya hingga basah cairan kenikmatan dan dia mengemut kontolku hingga kami sama sama mengeluarkan pejuh.Setelah keluar aku menyruhnya bangun dan berdiri menungging.

Aku lalu menyingkap rok merahnya keatas sampai pantat dan tempiknya mengintip serta mendekatkan konotlku siap aku masukkan.Sleeeeeeppp kontolku masuk dengan mudah karena Ita sudah sering aku kenthuin.

“Ta enak nggak?”kataku mendiamkan kontolku didalam tempiknya dan memegangi pinggang rampingnya

“Ahhhh Ndra kontolmu nakal sekali”katanya sambil nungging dan pegangan pada pohon kelapa.Aku lalu mulai memaju mundurkan pantatku agar kontolku keluar masuk tempik Ita.Gerakanku mulanya lambat tapi lama lama mulai cepat dan lebih cepat.

“Shhhh….akkhhhh…mhhhh akhhhh…akhhhh nikmaaat”teriak Ita

“Taa enak,nikmat taaa”teriakku tertahan.Clep..clep…sleep…sleep irama monoton kenthu kami tapi indah.

Aku mulai bosan dengan posisi nungging lalu aku mencabut kontolku dari tempiknya.

“Ta sini aku gendong”kataku lalu menaikkan tubuh Ita dan mengarahkan kontolku lagi kedalam tempiknya.Sleeepp kontolku masuk dengan mantap

Aku berdiri telanjang dan Ita diatasku lalu bergoyang naik turun semakin lama semakin cepat sampai rok dan seragamnya kusut.Aku memeluknya dan bibirku berciuman dengannya saling melumat dan menjilat.

Hingga akhirnya aku akan sampai

“Taa aku pipis Taaa”teriaku lagi

“Ndraa aku juga Akhhhh…”desahnya tertahan lalu Serrr…serrrr.serrr….croottt…croottt…crroooottt kami sampai hampir bersamaan dan saling memeluk erat erat.Aku menyandarkan tubuhnya dipohon kelapa sampai beberapa saat kontolku juga didalam tempiknya.Air pejuh kami kebanyakan sampai meleleh keluar membasahi rok seragam Ita.Sungguh nikmat kenthu sambil sembunyi ditempat terbuka seperti ini.

Aku menurunkan Ita saat nafas kami kembali teratur dan mencabut kontolku dari tempiknya

“Uhhhh..ta nikmat ya tadi”kataku membelai rambut Ita yang kusut serta merapikannya

“Iya lain kali lagi yah Ndra”katanya.Aku memekai lagi celanaku dan mengambil miniset dan celana dalam hijau Ita serta menyimpannya

“Ta buat aku yah cawet dan Bh minimu”kataku sambil mengantongi pakaian dalamnya

“Buat apa?”tanyanya lalu tertawa kegelian

“Buat kenang kenangan aja”kataku

“Terus aku gimana nih”katanya sambil menyingkap roknya keatas memperlihatkan tempiknya yang tidak pakai celana dalam

“Nggak usah pakai dulu hingga kamu sampai rumah baru kamu ganti terus tetekmu itu kan agak tertutup,nggak kelihatan kok tetekmu”kataku membela belai pentilnya yang tertutup seregam dan kaos dalam.Kami lalu pulang dan berpisah dijalan karena aku pulang jam 2 siang dan saat itu baru jam setengah satu jadi aku tadi kenthu sama Ita selama 1 ½ jam lebih.Aku dijalan sepi menciumi celana dalam Ita dan minisetnya yang berbau tubuh serta keringatnya.Baunya kecut kecut segar tapi aku bener benar suka malah bila aku sedang terangsang dan tidak ada penyaluran aku lalu menjilat serta menyedot aroma wangi pakaian itu sambil mengocok kontolku sampai puas.

Aku juga pernah menemui Anggi secara sembunyi ketika Anggi membeli sesuatu diwarung sebelah rumahku.Saat itu Anggi membeli rokok yang disuruh oleh papanya dan aku menemuinya serta menyuruhnya kembali menemuiku setelah dia mengembalikan rokok papanya.Setelah dia mengembalikan rokok papanya dia menemuiku lagi dan langsung aku ajak dia pergi kesawah deket rumahku yang tempatnya sepi.

“Kenapa ajak aku kemari sih?”tanyanya sambil tangannya menggandeng tananku

“Nggak kok,aku pingin main aja dengan kamu”kataku lalau aku memeluk pundaknya dan telapak tanganku langsung meraba susu kanannya karena posisiku ada dikirinya.Dia malah semakin memelukku erat karena dia memang suka aku remesin susu mininya

“Eh,remasin dong teteku…kan lama nggak kamu remesin”katanya centil lalu aku memasukkan tanganku kekaos dan kaos dalamnya yang longgar lalu mencari susu mini yang aku sukai.Aku meremas remas dengan lembut karena Anggi suka diremesin lembut.

Terasa sekali susu Anggi belum keras dan lembut karena belum ada rangsangan.

“Enak terusin yah”katanya lalu kami berjalan beriringan kegubuk yang agak tersembunyi.Setelah sampai aku segera mendudukan Anggi di tikar lusuh yang ada digubuk itu lalu aku membuka kancing kaosnya karena kaos Anggi memakai kancing didadanya.

“Nggi main lagi yuk,tititku gatel nih Nggi”kataku sambil menidurkannya dan menindih tubuh kecil Anggi setelah membuka kancing kaos Anggi

“Iya yuk aku juga sudah lama nggak main lagi sama kamu”katanya lalu tangan Anggi meraba kontolku yang mulai ngaceng sejak sampai digubuk tadi.Lalu aku melumat bibir Anggi dan dia membalasnya tak kalah ganas karena sudah sering aku lumatun bibir merahnya.Tanganku langsung meremas susunya yang mulai mengeras dan pentilnya mencuat tegang.Saat kami sedang ciuman aku menaikkan kaosnya sampai terlepas lalu kaos dalamnya sekalian hingga Anggi telanjang dada terlihat susunya mengeras dengan pentil coklat muda tegak mengacung menantang.Aku lalu melepaskan lumatanku pada bibir mungil Anggi dan mulai melumati pentil kirinya yang tegang mengacung sambil tangan kiriku meremas susu kanannya yang bebas.

“Aaahhh….ssshhhhh enaaak teruuss ya…”katanya sambil merabai kontolku yang ngaceng.Setelah agak lama aku mengerjai susunya secara bergantian lalu tanganku mulai melorotkan celana selutut ketat hitam Anggi hingga Anggi telanjang bulat karena Anggi tidak memakai celana dalam(biasanya Anggi memakai celana ketat itu sebagai ganti celana dalam).Tanganku segera menggosok gosok tempiknya yang mulai membasah pertanda Anggi sudah terangsang.Tempik Anggi sekarang kelihatan tebal dan dikanan kiri bibir tempiknya ada daging yang menyelaput tapi daging itu justru membuat enak jika disetubuhi.2 Jari tanganku aku masukkan kedalam lubang tempiknya lalu mengeluar masukkannya secara cepat seperti menyetubuhinya.

“Aahhh…shhhhh sakiiit jangan pakai jari dong”katanya sambil tangannya memegangi lenganku kesakitan.Aku tak peduli hingga tempiknya berdarah menganai jariku.Setelah sadar tempik Anggi berdarah aku menghentikan jariku dan melihat Anggi menangis sambil tiduran.

Aku segera saja naik ketubuh Anggi dan mengarahkan kontolku yang tegak mengacung acung kearah tempiknya yang merah merekah segar sekali kelihatannya.Sleeeepp..kontolku masuk perlahan lahan

“Ukhhh pelan pelan aja yah”katanya lalu aku mulai menggerakan pantatku maju mundur memompa tempiknya.

Terasa nikmat,licin,geli bercampur jadi satu menjadi sensasi setubuh anak anak yang membuat kami ketagihan.Kami bertahan pada posisi itu sampai kami sama sama melepaskan pejuh kami.

“Akhhh…Anggi samapi nih..serr…serr..serrrr…seerr”teiakan Anggi nyaring dan kurasa ada aliran hangat melumuri kontolku.Lalu aku merasa kontolku semakin mengeras dan ingin memuncratkan air surga.

“Nggiiiii….emut kontolku aku mau pipis sayang”kataku lalu mencabut kontolku dari tempiknya.Crroootttt….crrootttt….croottt lalu Anggi melumat ½ kontolku hingga pejuhku habis keluar.

“mhhh enak sekali pejuhmu”katanya sambil mengocok ngocok kontolku mencari sisa air pejuhku.

“Udah dong Nggi”kataku lalu memasukkan lagi kontolku ketempiknya dan memangku Anggi ditikar gubuk duduk berpangkuan karena kontolku belum juga melemas.

“Belum lemes ya”katanya lalu mengambil kaosnya menutupi daerah kemaluan kami yang masih menyatu.

“Kenapa ditutup,kan nggak ada orang”kataku memakaikan kaosku ketubuhnya.

“Biar nggak saru”katanya kegenitan.Kami tetap menyatukan kelamin kami hingga Anggi tertidur dalam pelukanku tapi kontolku nggak mau lemes juga akhirnya aku diam menikmati remesan remesan lembut tempik Anggi pada kontolku.

Kami juga sering main bersama,berdua atau bertiga.Kadang dirumah Ita kadang dirumahku kadang dirumah Siska pacar kesatuku.

Aku dan Siska juga sering main seks diluar ruangan karena kami juga menyukai petualangan yang seru.Kami main di sekolahan juga pernah.

Dulu Siska dan aku bolos jam pelajaran berdua lalu kami sembunyi dikamar mandi yang letaknya memang agak tersembunyi dan tertutup.Pada saat dikamar mandi aku memeluk Siska dari belakang dan memasukkan tanganku kebaju seragamnya lalu meremas remas susunya dari luar kaos dalamnya dan diluar Bh mini Siska setelah puas aku membuka 3 kancing atas baju seragam Siska lalu aku mengangkat kaos Siska dan membuka kancing Bhnya lalu talinya aku tarik kekanan dan kekiri melewati bahu dan tangannya kemudian melepasnya singkatnya susu Siska tertutup tetapi hanya seragam dan kaos dalamnya.Lalu tanyanku menurunkan semua celanaku hingga celana dalamku sekalian menampakkan kontolku yang tegang mengangguk angguk minta dimasukin.Kemudian aku menurunkan celana dalam merah Siska tanpa melepas rok Siska.

Kemudian aku mendekati Siska dari belakang dan mengarahkan kontolku dari belakang(kami sudah sama sama nafsu).Sleeeepp…blesss aku langsung memasukkan kontolku terburu buru karena sempit waktu membuat kesakitan Siska.

“Aduuh pelan pelan dong Ndra,Siska sakit nih”katanya agak merintih

“Sorry Sayang aku terlalu nafsu nih”kataku lalu tanganku menyambar susunya yang menggelantung indah dibalik seragam dan kaos dalamnya.

Lalu aku mulai memaju mundurkan pantatku sambil tanganku berpegangan pada susunya dan meremasnya.

“Shhhh…ahhhh…shhhh…Ndraaaa aku sayang kamuuuu”kata Siska setengah merintih kenikmatan

“Siskaaaa aku juga,tempikmu sempiitt…nikmat Kaaaa”teriaku mengiringi kenikmatanku pada kemaluan kami.Sleeep…bleess…cplok..cplok…cplok irama persetubuhan kami sungguh indah hingga aku ketagihan.Kami melakukan posisi nungging itu lama sekali hingga kami sama sama sampai hampir bersamaan.

“Shhh…ahhh Ndra Siska sampai nih”katanya sambil kepalanya mendongak kebelakang.

“Iya Siska sayang aku juga sampai nih,didalam yah yaaaang”kataku lalu menghunjamkan kontolku dalam dalam ditempik Siska.

Seerr…serr..serr…croot…croot…croot kami keluar hampir bersamaan lalu aku mencabut kontolku dari tempik Siska.

Kontolku terlihat basah dari air mani kami dan air kenikmatan Siska.

“Ugh…Ndra enaak banget ya”katanya sambil membenahi bajunya tetapi Siska tidak memakai kembali Bh dan celana dalamnya tetapi dia menyuruhku menyimpanya lalu aku menyimpanya disaku celanaku.

“Iya yang aku sampai ketagihan,omong omong kamu kok nggak pakai kembali celana dalammu dan Bhmu yang”kataku sambil memakai celanaku kembali.

“Nggak ah panas nih yang lagi pula aku malas lepas seragamku”katanya

Lalu kami duduk beristirahat ditepian sisi kamar mandi sambil menunggu jam pelajaran selesai sambil saling membelai kemaluan kami menikmati sisa kenikmatan yang tadi kami lalui.Setelah bel pelajaran kami masuk kekelas berdua kembali mengikuti pelajaran seperti biasa.Siska tidak banyak bergerak dari tempat duduknya karena dia tidak pakai celana dalam dan Bh dan aku segera menyimpan pakaian dalam Siska ketasku takut ketahuan.

Itulah petualangan seksku dengan cewek cewek kecil nan cantik yang membuatku ketagian.Dan kegiatan kami ini terus berlanjut sampai sekarang.


Guru yang Beruntung —

Theo terkejut ketika membaca dua kalimat singkat pada sepotong kertas yang terselip di antara hasil test murid-muridnya…
“Saya ingin punya cowok yang seperti Bapak, jantan! Apalagi kumis Bapak yang tebal itu, menggemaskan”.

Setelah membacanya, ia menarik nafas panjang beberapa kali. Ia menduga bahwa potongan kertas itu terselip di kertas test muridnya yang nakal, Debby. Lalu ia memutuskan untuk merobek kertas itu menjadi beberapa potongan kecil. Ia tak ingin istrinya menemukan dan membaca kertas itu.

Tanpa disadarinya, pikiran Theo menerawang ke beberapa ‘peristiwa menyenangkan’ ketika ia mengajarkan matematika di kelas 2B. Kelas itu menjadi berbeda daripada kelas-kelas lainnya karena di kelas itu ada Debby yang cantik, berhidung bangir, berkulit kuning bersih, dan selalu duduk di kursi barisan paling depan. Kursi itu berjarak kira-kira 3 meter dari meja guru dan persis berhadap-hadapan.

Debby menjadi murid yang ‘istimewa’ karena bila sedang latihan mengerjakan soal, lututnya selalu agak renggang. Dari mejanya, Theo dapat memandang celah di antara kedua lutut itu. Dan karena murid-murid lainnya sedang sibuk mengerjakan soal masing-masing dengan kepala tertunduk, maka Theo merasa bebas menatap pemandangan indah di depannya.

Pertama kali, Theo merasa bahwa hal itu hanya sebuah ketidaksengajaan. Murid yang istimewa itu mungkin terlalu asyik dan serius mengerjakan soal latihan sehingga tidak menyadari posisi duduknya yang menggairahkan birahi lelaki. Sesekali kedua lutut itu dirapatkan, tapi tak lama kemudian terbuka kembali.

Ia jadi terlena menatap keindahan paha dan kecantikan wajah gadis remaja yang duduk di depannya. Dan tak sengaja, ia melihat senyum kecil di sudut bibir gadis itu ketika memergoki arah tatapan matanya. Saat itu, ia langsung mengalihkan pandangan ke sekeliling ruang kelas. Tapi tak lama kemudian, seperti dihipnotis, pandangannya beralih kembali ke tempat semula. Ternyata kedua lutut itu terbuka semakin renggang hingga ia dapat melihat kemulusan paha bagian dalamnya.

Theo tak mampu mengalihkan matanya ketika muridnya itu kembali mengangkat wajahnya. Sesaat, tatapan mata mereka berbenturan. Lalu keduanya tersenyum. Tak lama kemudian, kedua lutut itu semakin direnggangkan hingga ia terpana menatap segaris celana dalam berwarna putih. Barulah disadarinya bahwa paha itu memang sengaja direnggangkan agar ia dapat memandang keindahan yang tersembunyi di balik rok seragam berwarna abu-abu itu.

Pada kesempatan lain, Theo hanyut ke dalam fantasinya sendiri. Seandainya mungkin, ia ingin menghampiri dan melihat keindahan itu lebih dekat lagi. Ia ingin mengusap kemulusan paha itu dan mengecup pori-porinya berulang kali. Ia ingin mencicipi kehalusan kulit paha itu dengan ujung lidahnya. Lalu ia akan mengecup dan sesekali menjilat, mulai dari lutut hingga ke pangkal paha. Ia juga ingin menyusupkan telapak tangannya ke bawah rok gadis remaja itu agar dapat meremas bongkah pinggul yang pasti masih kenyal.

Dan yang paling penting, ia ingin menyibak secarik kain tipis penutup pangkal paha gadis itu agar ia dapat menghirup aroma semerbak yang tersembunyi di situ. Aroma seorang gadis belia pasti sangat segar, katanya dalam hati. Aroma yang membius! Aroma yang membuat ia tak berdaya! Lalu ia akan menghirup aroma itu dalam-dalam. Setelah aroma itu memenuhi rongga dadanya, ia akan mencium dan menjilat-jilat kelembutan bibir vagina yang segar itu.
Lidahnya akan menari-nari dengan liar agar kedua belah paha mulus itu ‘menggunting’ lehernya sehingga lidahnya terperangkap dalam liang vagina yang basah. Setelah melipat lidahnya seperti bentuk sekop, akan dihisapnya semua lendir yang tersembunyi di bibir dalam dan dinding vagina itu. Akhirnya, ia akan meremas-remas bongkahan pinggul kenyal itu sambil membiarkan lidahnya merasakan denyutan-denyutan vagina seorang gadis remaja yang sedang mencapai puncak orgasmenya.

Kira-kira seminggu setelah menyuguhi pemandangan indah di pangkal pahanya, tiba-tiba Debby berjalan menghampiri Theo. Saat itu bel jam istirahat telah berbunyi. Gadis itu sengaja keluar paling akhir dari ruang kelas.
“Ini untuk Bapak!” katanya sambil meletakkan sepotong kertas di atas meja, lalu melangkah terburu-buru meninggalkan ruang kelas.

Theo membaca tulisan di kertas itu, ‘Coba tebak, besok Debby pakai CD warna apa?’. Dan di bawah tulisan itu ada nomor HP. Setelah merenung sejenak, Theo memasukkan nomor
HP itu ke dalam memory HP-nya. Sejenak ia ragu mengirimkan SMS untuk menjawab pertanyaan itu. Tapi ada bisikan di lubuk hatinya, ‘Ini hanya sebuah game, tak salah untuk dicoba.’ Dan kemudian ia menuliskan satu kata, ‘Pink.’

Kira-kira semenit kemudian, HP Theo berbunyi. Ia membaca SMS yang masuk, ‘Salah.’ Lalu dibalasnya, ‘Biru muda.’ Tak lama kemudian, masuk jawaban, ‘Salah!’. Dibalasnya lagi dengan, ‘Putih!’. Jawabannya, ‘Masih salah!’. Setelah merenung sejenak, Theo membalas, ‘Hitam.’ Lalu ia menerima balasan, ‘Ayo, itu CD siapa? Debby nggak punya CD warna hitam!’.

Theo tersipu. Lalu ia menulis SMS yang agak panjang, ‘Nyerah deh. Yg pernah aku lihat hanya: putih, pink, dan biru muda. 2 hr y.l aku nggak bisa melihatnya krn pahamu kurang terbuka!’ Dan ia pun menerima jawaban yang agak panjang, ‘Jadi Bpk ingin bsk Debby pakai warna apa?’ Merasa game yang mereka mainkan telah meningkat panas dan mesra, dengan berani Theo menulis, ‘Jgn pakai!!’ Dan setelah SMS itu dikirimkan, hingga menjelang tidur malam harinya ia tidak mendapat balasan. Mungkin ia marah dan tersinggung, pikir Theo.

Keesokan harinya, jantung Theo berdebar-debar ketika berada di ruang kelas. Setelah menjelaskan beberapa contoh soal, ia melangkah berkeliling di antara kursi murid-muridnya. Ia berbuat demikian agar tak sempat bertatap mata dengan gadis remaja yang nakal itu. Tapi ketika sedang melangkah di sebelah kiri kursi Debby, gadis itu sengaja menjatuhkan pensilnya ke lantai persis di depan kursinya.

Tanpa sadar, dengan refleks ia berhenti lalu menunduk memungut pensil itu. Dan ketika menengadah, tiba-tiba wajahnya merona merah. Walau hanya sesaat, dilihatnya gadis itu sengaja mengangkangkan kedua pahanya lebar-lebar, lalu dengan cepat dirapatkan kembali. Memang hanya dalam hitungan detik, tetapi ia sempat melihat pangkal paha itu dari jarak yang sangat dekat. Di pangkal paha itu ada setumpuk kecil bulu-bulu ikal berwarna hitam.
Bukan hitam pekat, tetapi hitam kecokelat-cokelatan karena bercampur dengan bulu-bulu halus, lurus, dan masih pendek. Bulu-bulu yang baru tumbuh!

Setelah berdiri kembali dan berhasil menguasai dirinya, Theo menatap ke sekeliling ruang kelas. Tak terlihat ada tanda-tanda bahwa murid-murid lainnya mengetahui peristiwa itu. Lalu dengan suara tegas berwibawa, ia berkata..
“Kerjakan latihan soal nomor 1 dan 2.”

Sore itu, ketika baru saja menutup pintu mobilnya, HP Theo berbunyi. Ia terpana ketika membaca nama yang muncul, Debby.

“Ya, ada apa Debby?”
“Bapak marah ya?! Kenapa setelah mengambil pensil Debby dari lantai Bapak tidak duduk kembali di kursi Bapak. Padahal hari ini Debby sengaja tidak pakai CD agar Bapak bisa memandanginya!”

Lidah Theo tiba-tiba terasa kelu. Gila, katanya dalam hati. Si Debby ini bicara to the point. Berkesan vulgar. Menantang. Gadis itu seolah tak peduli, atau memang tak mau peduli efek dari kalimat-kalimat nakal yang diucapkannya.
“Aku tidak marah! Aku sedang memikirkan apakah aku masih akan mendapatkan kesempatan memandang pangkal pahamu dari jarak sedekat itu.” kata Theo setelah memutuskan untuk
‘masuk’ ke game yang lebih dalam lagi.

Hanya orang bodoh yang menolakmu, katanya dalam hati. Bahkan kamu bisa membuat semua lelaki menjadi bodoh dan tak berani membantah keinginanmu. Lelaki mana yang berani menolak keinginan seorang gadis remaja yang cantik dan seksi seperti kamu? Lelaki mana yang akan membantahmu bila kau janjikan akan mendapatkan hadiah berupa sepasang paha ramping dan panjang yang akan membelit pinggangnya?

“Bapak suka?”
“Suka banget! Apalagi kalau boleh dicium!”
“Bapak mau mencium paha Debby?”
“Mau! Paha dan pangkalnya ya!”
“Ha?!”
“Apa vagina Debby belum pernah dicium?”

Sejenak tak ada jawaban. Theo pun sempat ragu-ragu untuk melanjutkan. Apakah mungkin si Debby yang vulgar dan nakal itu masih virgin? Belum pernah merasakan lidah lelaki menjilat-jilat bibir vaginanya, mengisap-isap klitorisnya? Apakah mungkin ia belum pernah menggosok-gosokkan dan menghentak-hentakkan celah vagina di bibir dan hidung seorang lelaki? Kalau belum, mengapa ia mengatakan suka pada kumisku?, tanya Theo dalam hati.

Rasa penasaran membangkitkan gairah kejantanannya. Bagian bawah pusarnya mulai tegang ketika membayangkan keindahan bulu-bulu di sekitar vagina itu. Bulu-bulu yang dapat ia tatap sepuas hatinya. Tidak hanya pandangan sekilas seperti ketika ia memungut pensil dari depan kursi gadis belia itu. Bulu-bulu halus yang masih pendek, yang membuat ia gemas ingin menarikinya dengan bibirnya. Menggelitiknya dengan kumisnya yang kasar. Gelitikan yang membuat pinggul itu mengelinjang. Lalu ia akan menjilatnya. Dan karena tak sabar, gadis itu akhirnya menarik kepalanya agar ia mencium dan menjilati bibir vagina yang mungil itu. Ini kesempatan emas yang mungkin terjadi hanya sekali seumur hidup, atau tidak akan pernah terjadi sama sekali! Take it or leave it, katanya dalam hati.

“Hallo Debby!”
“Kalau dicium di situ belum pernah. Kalau dahi dan pipi sering, dicium Papa.”
“Terserah Debby deh. Aku akan menurut saja. Kalau hanya boleh memandang saja, aku suka. Kalu diijinkan mencium, aku pun suka. Dilarang, aku pun akan patuh.”
“Kalau suka, Debby akan mengijinkan Bapak memandangnya lagi dari jarak dekat!”
“Kapan?”
“Mau sekarang?”
“Hah?!”
“Debby sekarang ada di Mall Arion. Bapak jemput Debby ya. Jangan parkir. Masuk ke halaman mall dan melewati pintu depan. Debby sekarang berdiri di situ, buruan ya!”
“OK!”

Theo tersenyum sambil melirik Debby yang duduk di sebelahnya. Secara material, walau hanya seorang guru matematika, ia tidak kekurangan. Ia berasal dari keluarga yang berkecukupan. Ia memiliki rumah dan mobil sedan yang baik pemberian orangtuanya. Ia mencintai matematika dan ingin mengajarkannya kepada orang lain. Cita-citanya hanya ingin membuat matematika menjadi sebuah ilmu yang mudah untuk dimengerti. Sikapnya yang sabar ketika mengajar membuat ia disukai murid-muridnya. Ia memang tidak ingin diarahkan orangtuanya menjadi seorang pengusaha seperti yang dialami adiknya.

“Kita ke mana?” tanya Theo memecah keheningan.
“Ke rumah Debby saja. Di rumah Debby hanya ada pembantu. Papa dan Mama sedang ke Singapore.”
“Karena sekarang tidak sedang di kelas, sebaiknya panggil langsung nama, jangan pakai Pak.”
“Benar? Nggak marah?”
“Benar! Walau perbedaan usia di antara kita mencolok, bukan berarti kita harus membuat sekat pemisah. Sekat seperti itu sangat membatasi ruang dan gerak. Secara formal, kadang-kadang sekat seperti itu memang diperlukan untuk menjaga jarak karena kita terikat pada norma dan etika. Kalau informal, sekat-sekat itu tak diperlukan karena akan membatasi seseorang dalam mengekspresikan dirinya. Setuju?” Debby tertawa kecil mendengar uraian Theo.
“Kayak menjelaskan rumus matematika saja!” komentarnya.

Ternyata gadis remaja itu tinggal di sebuah rumah besar dan mewah. Debby menggandeng tangan Theo menuju ruang keluarga yang terletak di bagian tengah, lalu menghilang di balik salah satu pintu setelah aku menghempaskan pantat di atas sebuah sofa besar dan empuk. Tak lama kemudian, seorang pembantu datang meletakkan segelas minuman ringan di hadapanku dan kemudian dengan terburu-buru menghilang kembali ke arah belakang.

Sambil menunggu, Theo melayangkan pandangan ke sekeliling ruangan. Semua furniture di ruangan itu tertata rapi dan bersih. Pada sebuah dinding, tergantung lukisan berukuran kira-kira 1 x 1 meter. Lukisan seorang anak perempuan kira-kira berumur 7 tahun yang berdiri diapit oleh ayah dan ibunya. Anak itu sedang tersenyum lugu. Rambutnya berponi. Lucu. Itu pasti Debby dan kedua orangtuanya, kata Theo dalam hati.

Kurang lebih 15 menit kemudian, Theo terhenyak. Gadis remaja itu berdiri di hadapannya dengan gaun tipis berwarna putih yang ujung bagian bawahnya tergantung kira-kira sejengkal di atas lutut. Gaun tanpa lengan. Hanya dua utas tali di bahu kiri dan kanan yang mengikat gaun itu agar tetap tergantung menutupi tubuh pemiliknya. Cantik. Seksi. Mempesona. Rambutnya lurus sebahu. Tingginya yang kira-kira 165 cm membuat ia tampak anggun. Tonjolan dadanya proporsional. Gaun tipis itu seolah menebarkan sejuta misteri yang memaksa mata lelaki menatap tak berkedip untuk mengungkap rahasia lekuk-lekuk tubuh yang tersembunyi di baliknya. Bagian bawah gaunnya yang lebar dan berenda seolah menjanjikan telaga birahi yang akan menyeret lelaki menyelam dalam sejuta fantasi.

“Debby, kau cantik sekali,” kata Theo memuji. Pujian jujur yang keluar dari lubuk hatinya.
Debby tersenyum. Selama ini belum pernah ada lelaki yang memujinya seperti itu. Ia senang mendengar pujian itu. Ia pun sangat senang karena sebelumnya tak pernah melihat guru matematikanya itu terpesona menatapnya. Ia pun belum pernah melihat tajamnya sorot mata lelaki yang terpesona menatap. Dengan sikap feminin, ia duduk di sebelah kiri Theo.

“Debby, mengapa kamu memakai gaun seperti itu?”
“Karena Debby suka pada Bapak. Juga karena Bapak tampan dan jan..”
“Ehh, ehh! Tidak pakai sebutan Bapak!”
“Lupa..! Juga karena Theo tampan dan jantan, itu jawabannya!”
“Alasan lain?”
“Debby nggak punya saudara. Debby anak tunggal. Sering kesepian di rumah karena sering ditinggal Papa dan Mama. Nggak punya sahabat karena banyak teman-teman perempuan yang iri sama Debby. Nggak punya pacar karena cowok yang seusia Debby rata-rata egois. Obsesinya mereka selalu tentang sex. Padahal Debby belum tentu suka. Jelas Bapak guru?”

Theo tertawa karena kata ‘bapak guru’ itu diucapkan dengan cara yang lucu. Dan sebelum tawanya berakhir, tangannya meraih bahu gadis itu. Dirangkulnya dengan ketat. Tak ada perlawanan. Sisa sabun beraroma lavender yang memancar dari tubuh gadis itu terasa menyegarkan ketika aromanya menyengat hidung Theo. Dengan gemas, di kecupnya pipi gadis itu. Kiri dan kanan. “Seperti Papa,” kata Debby sambil tertawa kecil.

Lalu ia bangkit dan berjalan ke arah pintu penghubung yang membatasi ruang keluarga dengan bagian belakang rumah. Setelah mendengar ‘klik’, ia melangkah kembali menghampiri
Theo dan duduk rapat persis di sebelah lelaki itu.

Theo menggamit dagu gadis itu agar menoleh ke arahnya, kemudian dengan cepat bibirnya memagut bibir mungil gadis itu. Bibir yang terlihat basah walau tanpa lipstik. Sejenak tak ada reaksi. Diulangnya mengulum sambil menjulurkan lidahnya untuk mengait-ngait. Tapi lidah gadis itu masih tetap diam bersembunyi di rongga mulutnya. Sejenak, Theo melepaskan pagutan bibirnya. Ditatapnya wajah yang cantik itu sambil menggerakkan jari tangannya untuk menyibak beberapa helai rambut yang terjatuh di kening gadis itu. Dan ketika kembali mengulang ciumannya, ia merasakan ujung lidah yang menyusup di antara bibirnya.

Segera dipagutnya lidah itu. Dihisapnya dengan lembut agar menyusup lebih dalam ke rongga mulutnya. Kedua telapak tangannya turun ke bahu. Setelah mengusapkan jari-jarinya berulang kali, telapak tangannya meluncur ke punggung. Lalu dibelai-belainya punggung itu dengan ujung-ujung jarinya sambil mempermainkan lidah gadis itu dengan ujung lidahnya. Tak lama kemudian, ia merasakan dua buah lengan melingkari lehernya. Semakin lama lengan itu merangkul semakin ketat. Kemudian ia mulai merasakan lidah gadis itu bergerak-gerak. Tidak hanya pasrah menyusup, tetapi mulai bergerak membelit dan balas mengisap.

Theo melepaskan pagutan bibirnya. Sejenak mereka saling menatap. Terlihat bias-bias birahi di kedua bola mata mereka. Lalu dikecupnya dahi gadis itu dengan mesra. Kemudian bibirnya berpindah mengecup bahu. Mengecup berulang kali. Dari bahu bibirnya merayap ke leher. Sesekali lidahnya dijulurkan untuk menjilat.

Debby menggelinjang karena geli, seolah sekujur tubuhnya sedang digelitiki oleh jari-jari yang nakal dan menggemaskan. Ia menyukai hal itu, menyukai kecupan dan jilatan yang merambat di sekeliling lehernya. Apalagi ketika ia merasakan lidah itu menjilat-jilat kerongkongannya disertai telapak tangan yang meremas buah dadanya. Sesaat, ia menahan nafas ketika telapak tangan itu hanya menekan buah dadanya, tetapi tak lama kemudian, ia menghembuskan nafas lega merasakan telapak tangan itu meremas dengan lembut.

“Aahh, Theo,” desahnya sambil menghembuskan nafas panjang.

Bibir Theo kembali merayap ke bahu. Sambil sesekali mengecup, ia menggunakan giginya untuk melepaskan tali yang mengikat gaun itu. Lidah dan hembusan nafasnya membuat gadis itu menggelinjangkan bahunya.

Debby baru menyadari bahwa tali pengikat gaunnya telah terlepas setelah ia merasakan bibir lelaki itu menyusur menciumi belahan atas buah dadanya. Bulu roma di sekujur tubuhnya meremang. Belum pernah ada lelaki yang melakukan hal itu. Ia ingin menolak, ingin mendorong kepala yang semakin mendekati buah dadanya, tetapi tangannya terasa lemah tak bertenaga. Ada rasa geli dan nikmat yang menjalar di pori-pori sekujur tubuhnya. Rasa yang membuat ia tak berdaya menolak. Apalagi setelah merasakan lidah itu menjilat-jilat dadanya. Jilatan-jilatan basah yang membuat jari-jari tangannya menekan kepala lelaki itu ke dadanya.

Ia menarik nafas lega, merasa beruntung karena tidak mengenakan bra di balik gaunnya. Bibirnya sesekali mendesis-desis seperti kepedasan ketika ia merasakan jilatan-jilatan itu semakin liar menjelajahi buah dadanya yang baru mekar. Dan ketika puting buah dadanya terperangkap dalam jepitan bibir lelaki itu, ia merintih sambil menghentakkan telapak kakinya di atas karpet..

“Aarrgghh.. Theo, enaak! Aduuhh..!”.

Sekujur tubuhnya merinding ketika merasakan puting dadanya dijentik-jentik dengan ujung lidah. Lalu digigit dengan lembut. Dilepaskan. Digigit kembali. Dilepas. Dan tiba-tiba ia merasakan buah dadanya dihisap agak keras, seolah ingin ditelan!

Debby mendesah ketika merasakan jari-jari tangan Theo mengelus-elus bagian dalam pahanya. Ia mendesah dalam kenikmatan sambil menghempaskan lehernya di sandaran sofa. Secara naluriah, direnggangkannya kedua belah pahanya agar jari-jari dan telapak tangan itu dapat merayap lebih dalam. Ia ingin segera merasakan jari-jari tangan itu mengelus-elus pangkal pahanya.

Isyarat itu dimanfaatkan Theo dengan baik. Dengan sebuah tarikan kecil, ia menyingkap gaun gadis remaja itu. Tak ada kesulitan ketika menyingkap gaun itu. Bagian bawahnya yang lebar membuat gaun itu tersangkut dengan mudah di bawah pusar. Ia terpaksa menghentikan aktivitas bibirnya karena ia ingin menunduk agar dapat memandang pangkal paha itu lebih jelas.

“Aku akan menciumnya,” kata Theo sambil bangkit dari sofa, kemudian duduk di atas karpet persis di antara kedua lutut Debby.
“Jangan dicium, Theo. Debby takut.”
“OK, tapi kasih pemandangan yang paling indah ya,” kata Theo sambil mengangkat kaki kanan gadis itu.

Lalu diletakkannya telapak kaki kanan itu di atas sofa. Tak lama kemudian, bola matanya terbelalak menatap pesona yang terpampang di hadapannya! Sebelah paha tergeletak di atas sofa, sedangkan paha yang sebelah lagi tertekuk, telapaknya menginjak pinggir sofa. Dengan sebuah dorongan kecil menggunakan jari, paha yang tertekuk di atas sofa itu terbuka lebar-lebarnya.

“Indah sekali!” sambung Theo sambil menengadah menatap wajah gadis remaja yang cantik itu. Debby tersenyum malu. Ia ingin menutup pahanya, tapi gerakannya tertahan oleh tekanan jari di lututnya.
“Debby malu, Theo!” katanya dengan manja. Tapi di dasar hatinya, ada perasaan senang dan bangga melihat guru matematikanya berlutut di hadapannya, persis di antara kedua belah pahanya. Perasaan yang membuat dirinya merasa sangat dimanja dan dihargai.

Theo terbelalak menatap kemulusan paha dan celana dalam mini dari satin di hadapannya. Urat darah di batang kemaluannya meronta menatap pemandangan indah itu. Bagian depan celananya terasa sempit. Apalagi ketika ia menatap segaris bagian basah yang tercetak di permukaan vagina gadis itu. Bagian basah itu memperjelas bayangan bibir vagina yang tersembunyi di baliknya. Dan karena celana dalam satin itu sangat tipis, ia bahkan dapat melihat bayangan bulu-bulu yang tumbuh di sekitar bibir vaginanya.

Keindahan itu sangat mempesona sehingga ia terpaksa melepaskan ikat pinggang dan ritsleting celananya agar batang kemaluannya terbebas dari penderitaan. Lalu diciumnya paha bagian dalam yang tertekuk di atas sofa itu. Diciumnya berulang kali seolah tak puas merasakan kehalusan kulit paha itu di bibirnya. Setelah itu ciumannya berpindah ke paha sebelahnya. Sambil terus mencium dan sesekali menjilat, dielus-elusnya pula paha bagian luar. Semakin lama ciumannya semakin mendekati pangkal paha. Lalu ia berhenti sejenak untuk menghirup aroma semerbak yang semakin tajam menusuk hidungnya. Fantasinya di depan kelas telah menjadi kenyataan. Dengan gemas, dibenamkannya hidungnya persis di antara bibir vagina gadis remaja itu. Sesekali diselingi dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Theoo..! Aauuw!” pekik Debby karena terkejut sambil menggelinjangkan pinggulnya.

Tapi beberapa detik kemudian, ketika ia merasakan lidah lelaki itu menjilat-jilat bagian luar celana dalamnya, ia merintih-rintih. Ia merasa nikmat setiap kali lidah itu menjilat dari bawah ke atas. Jilatan yang lahap! Basah. Berliur. Jilatan yang membuat ia terpaksa memejamkan mata meresapi kenikmatan yang mengalir di sekujur tubuhnya. Jilatan yang membuat ia menjadi liar, yang membuat ia menghentak-hentakkan kakinya karena beberapa kumis kasar lelaki itu terasa seolah menyusup menembus celana dalamnya yang tipis. Di sela-sela kenikmatan yang mendera, kumis itu terasa menggelitiki vaginanya, membuat ia menggeliatkan pinggulnya berulang kali.

Celana dalam mini gadis itu semakin basah. Belahan bibir vaginanya semakin jelas terlihat. Lendir semakin banyak bermuara di vaginanya. Lendir itu bercampur dengan air liur. Karena tak tahan lagi menerima kenikmatan yang mendera vaginanya, sebelah tangannya menjambak rambut Theo, dan yang sebelah lagi menekan bagian belakang kepala.

“Theoo, aarrgghh! Debby seperti ingin pipis..!” kata gadis itu di sela-sela rintihannya.
Theo menghentikan jilatan lidahnya. Ia menengadah dan melihat mata gadis itu sedang terpejam.
“Debby ingin pipis, Sayang?” tanyanya sambil menyisipkan jari telunjuk ke balik celana dalam yang menutupi bibir vagina gadis itu, lalu ditariknya ke samping.

Terpampanglah di hadapannya vagina seorang gadis remaja yang sedang dilanda birahi. Masih kuncup tetapi menebarkan janji untuk segera merekah dihisap serangga yang menghinggapinya. Dengan jari telunjuk, dibukanya sedikit bibir luar vagina berlendir itu. Lipatan yang sedikit terbuka hingga memperlihatkan vagina yang bersih, segar dan berwarna pink. Melihat hal itu, ia memutuskan untuk memberikan cumbuan terbaik. Cumbuan yang sulit untuk dilupakan, yang akan membuat gadis itu menjadi jinak. Ia merasa mampu untuk melakukan hal itu. Dan sebagai balasannya, mungkin ia akan mendapatkan perlakuan yang sama. Mempertimbangkan hal itu, ia menenggelamkan dan menggosok-gosokkan hidungnya ke belahan bibir vagina gadis itu. Semakin ditekan hidungnya, semakin semerbak aroma yang memenuhi rongga paru-parunya.

Debby membuka kelopak matanya. Bola matanya seolah ditutupi kabut basah dan terlihat mengkilat ketika ia menunduk menatap wajah gurunya yang terselip di pangkal pahanya. Ia tak dapat mengucapkan kata-kata. Bibirnya terasa kelu. Kaku. Nafasnya terengah-engah. Mulutnya setengah terbuka megap-megap menghirup udara. Ia terpaksa menggeliatkan pinggulnya untuk menahan cairan yang terasa ingin mengalir keluar dari vaginanya. Ia tidak tega ‘mempipisi’ mulut guru matematikanya itu.

Dicobanya mendorong kepala itu agar terlepas dari vaginanya. Tapi kepala itu malah sengaja semakin ditekan ke pangkal pahanya. Dicobanya untuk menarik pinggulnya. Tapi kedua lengan guru yang sangat disayanginya itu semakin kuat merangkul pinggulnya. Walau telah mencoba meronta, mulut yang memberinya kenikmatan itu tetap menghisap-hisap vaginanya. Semakin meronta, semakin keras remasan tangan di kedua bongkahan pantatnya. Dan semakin keras pula tarikan di bongkahan pantatnya agar vaginanya tak lepas dari hisapan dan jilatan mulut itu.

Akhirnya ia menyimpulkan bahwa mulut itu memang ingin ‘dipipisinya’. Mulut itu memang sengaja ingin memanjakan vaginanya. Kesimpulan itu membuat ia melayang semakin tinggi dalam kenikmatan, membuat lendir semakin banyak mengalir ke lubang vaginanya. Sedikit pun ia tak merasa ragu ketika mengangkat kakinya yang terjuntai di atas karpet, dan melilitkan betisnya di leher lelaki itu. Ia sudah tak ingin kepala itu lepas dari pangkal pahanya. Bahkan ia mempererat tekanan betisnya di leher lelaki yang sedang memanjakannya itu. Selain menggunakan betis dan paha, ia pun menggunakan kedua lengannya untuk menjambak rambut dan menekan bagian belakang kepala lelaki itu lebih keras. Ia ingin membantu agar mulut itu terbenam di dalam vaginanya ketika ia mengeluarkan ‘pipisnya’.

Lidah Theo telah merasakan bibir dan dinding vagina itu berdenyut-denyut. Ia pun dapat merasakan hisapan lembut di lidahnya, seolah vagina itu ingin menarik lidahnya lebih dalam. Sejenak, ia mengeluarkan lidahnya untuk menjilat dan menghisap bibir vagina mungil itu. Dikulumnya berulang kali. Bibir vagina itu terasa hangat dan sangat halus di lidahnya. Ia menyelipkan lidahnya kembali ketika menyadari bahwa tak ada lagi cairan lendir yang tersisa di bibir luar. Dijilatinya kembali dinding dan bibir dalam vagina gadis remaja itu.

“Theo, Theoo.., Debby nggak tahan lagi. Debby ingin pipiis!”

Theo semakin bersemangat menjilat dan menghisap-hisap. Lidahnya yang rakus seolah belum terpuaskan oleh lendir yang telah dihisapnya. Kumisnya sesekali menyapu bibir uar vagina yang segar itu, membuat pinggul gadis itu terhentak-hentak di atas sofa. Walaupun kepalanya terperangkap dalam jepitan paha dan betis, tetapi ia dapat merasakan setiap kali pinggul gadis itu terangkat dan terhempas. Berulang kali hal itu terjadi. Terangkat dan terhempas kembali. Sesekali pinggul itu menggeliat menyebabkan kumisnya menjadi basah.

Ia dapat memastikan bahwa dalam hitungan detik sejumput lendir orgasme akan mengalir ke kerongkongannya. Dan ketika merasakan rambutnya dijambak semakin keras diiringi dengan pinggul yang terangkat menghantam wajahnya, ia segera mengulum klitoris gadis itu. Dikulumnya dengan lembut seolah klitoris itu adalah sebuah permen cokelat yang hanya mencair bila dilumuri air ludah. Sesekali dihisapnya disertai tarikan lembut hingga klitoris itu hampir terlepas dari bibirnya. Ketika merasakan pinggul gadis itu agak berputar, dijepitnya klitoris itu dengan kedua bibirnya agar tak lepas dari hisapannya.

“Debby pipis, Theoo! Aargh.. Aarrgghh..!”

Theo menjulurkan lidah sedalam-dalamnya. Bahkan ditekannya lidah dan kedua bibirnya agar terperangkap dalam jepitan bibir vagina itu. Ia tak ingin kehilangan kesempatan mereguk cairan orgasme langsung dari vagina seorang gadis remaja yang cantik dan seksi. Cairan orgasme yang belum tentu ia dapatkan dari murid lainnya. Setelah mencicipi rasa di ujung lidahnya, dihisapnya cairan itu sekeras-kerasnya. Direguknya lendir itu dengan lahap. Lalu dibenamkannya kembali hidungnya di antara celah bibir vagina yang berdenyut-denyut itu.

Ia ingin menghirup aroma paling pribadi yang dimiliki seorang gadis belia. Dengan gemas, ia menghirup aroma itu dalam-dalam. Dan ketika merasakan pinggul gadis itu terhempas kembali ke atas sofa, Theo menjilati vaginanya. Setetes lendir pun tak ia sisakan! Bahkan lendir yang membasahi bulu-bulu ikal dan bulu-bulu halus di sekitar vagina gadis itu pun dijilatinya. Bulu-bulu itu jadi merunduk rapi seperti baru selesai disisir!

“Theo.., ooh, aarrgghh.., Theo! Enak banget, Theoo..! Aargh.., pipis Debby kok diminum?” desah gadis itu terbata-bata sambil mengusap-usap rambut Theo. Setelah menjilati vagina Debby hingga bersih, Theo menengadah.
“Pipis Debby enak banget! Kecut. Agak asin. Tapi ada manisnya!” jawabnya.
“Suka ya minum pipis, Debby?”
“Suka banget! Mau pipis lagi?”
“Hmm..” kata gadis itu dengan manja. Merajuk.
“Benar suka?” sambungnya.
“Suka! Ini tanda sayang dan suka,” kata Theo sambil menunduk dan mengulum sebelah bibir luar vagina gadis itu.

Debby tertawa kecil. Senang. Bangga. Merasa dimanjakan. Tersanjung karena telah merasakan nikmatnya menjepit kepala guru matematikanya di pangkal pahanya. Nikmat yang baru pertama kali ia rasakan. Tapi tiba-tiba bola matanya terbuka lebar ketika melihat Theo membungkuk melepaskan celana sekaligus celana dalamnya dengan sekali tarikan.
Dalam hitungan detik, celana itu teronggok di atas karpet. Dan ia bergidik melihat batang kemaluan gurunya. Batang kemaluan berwarna cokelat. Panjangnya kira-kira 15 cm.
Batang kemaluan itu hanya berjarak setengah meter dari matanya. Dan karena baru pertama kali melihat kemaluan lelaki, gadis remaja itu terkesima. Kelopak bola matanya terbuka lebar ketika ia mengamati urat-urat berwarna biru kehijauan yang terlihat menghiasi kulit batang kemaluan itu.

Theo menarik pinggul Debby hingga sedikit melewati pinggir sofa. Lalu ia mengarahkan batang kemaluannya ke vagina gadis itu. Debby tekejut. Dengan refleks ia menarik pinggulnya.

“Debby masih virgin, Theo,” katanya setengah berbisik. Nadanya memelas.

Theo terpana mendengarnya. Sejak awal mencumbuinya, ia memang sudah menduga bahwa gadis itu masih perawan. Terutama karena ia merasakan celah yang sangat sempit ketika menyusupkan lidahnya di antara bibir vagina gadis itu. Tapi bila mengingat keberaniannya menggoda dengan cara merenggangkan kedua lututnya, ia menjadi ragu-ragu. Apalagi karena muridnya itu berani bersekolah tanpa celana dalam. Setelah menarik nafas panjang, diraihnya lengan kanan gadis itu.

“Aku tak akan melakukan hal-hal yang tidak Debby sukai. Aku pun tak akan menyakitimu,” katanya dengan raut wajah tulus.
“Tapi adik kecil ini sedang menderita, Debby,” sambungnya sambil menunjuk batang kemaluannya yang terangguk-angguk.
“Debby elus-elus ya. Kalau dibiarin, kasihan..!”

Lalu diletakkannya telapak tangan gadis itu di batang kemaluannya. Debby terkejut merasakan panas yang mengalir dari batang kemaluan itu ke telapak tangannya. Sejenak ia terlihat ragu. Ia menarik lengannya, tetapi Theo meraih dan meletakkannya kembali ke batang kemaluannya. Akhirnya batang kemaluan itu digenggamnya sambil menengadah menatap wajah lelaki yang disayanginya itu. Tak lama kemudian, ia menunduk kembali untuk mengamati batang kemaluan dalam genggamannya.

“Sesekali agak diremas seperti begini,” kata Theo mengajari.
“Dan sesekali dimaju-mundurkan seperti ini,” sambungnya sambil menggerakkan tangan gadis itu maju-mundur.

Debby mulai mengelus-elus. Ada sensasi yang menggelitik dirinya ketika merasakan kehangatan batang kemaluan itu di ujung jari-jari tangannya. Ia mendekatkan wajahnya untuk mengamati urat-urat berwarna kehijauan yang semakin menggelembung di ujung jarinya. Lalu ia mulai menggenggam dan memaju-mundurkan telapak tangannya. Dan ketika mendengar lelaki itu menarik nafas panjang, ia menengadah.

“Kenapa? Sakit?”
“Enak!”
“Enak?!”
“Enak banget! Apalagi kalau pakai dua tangan.”
“Begini?” tanya gadis itu sambil menggenggamkan kedua telapak tangannya.
“Ya, ya, begitu, oohh!”

Debby menjadi bersemangat. Ia merasa senang karena dapat memberikan sesuatu yang menyenangkan kepada gurunya itu. Ia ingin membalas kenikmatan yang telah ia dapatkan. Apalagi sikap lelaki itu penuh pengertian. Tak ada sikap memaksa ketika ia mengatakan bahwa ia masih virgin. Ia hanya diminta untuk mengelus-elus dan sesekali meremas batang kemaluan itu. Oleh karena itu, tangannya mulai digerakkan maju dan mundur, dari leher batang kemaluan hingga ke pangkalnya. Wajahnya semakin mendekat karena ia ingin mengamati cendawan yang menghiasi batang kemaluan itu. Cendawan yang semakin lama semakin berwarna merah tua. Dielus-elusnya pula cendawan itu dengan ujung jari jempolnya.

“Ooh.., nikmat, Sayang!”
“Kalau diremas seperti ini, nikmat nggak?” tanya gadis itu sambil meremas biji kemaluan Theo.
“Ooh, ya, ya!” sahut Theo sambil meletakkan kedua belah telapak tangannya di atas kepala gadis itu.

Lalu dengan tarikan yang sangat lembut, ia menarik kepala itu agar semakin mendekat ke batang kemaluannya. Debby tidak menolak tarikan lembut di kepalanya karena batang kemaluan itu terlihat sangat indah dan menarik. Ia pun dapat merasakan batang kemaluan itu berdenyut di telapak tangannya, seperti bernafas. Ada sensasi yang mulai menggelitiki saraf-saraf birahi di sekujur tubuhnya ketika ia mengamati batang kemaluan itu. Sensasi itu membuat ia tak menyadari bahwa batang kemaluan yang digenggamnya hanya tinggal berjarak kira-kira 20 cm dari mulutnya.

“Theo, ada sedikit pipis di lubang ini.”
“Bukan pipis sayang. Itu lendir enak.”
“Enak?”
“Ya, enak!” jawab Theo sambil memegang jari jempol yang baru saja mengusap-usap lubang kemaluannya.
“Coba deh dicicipi,” sambungnya.
“Hmm..” gumam Debby ketika menjilat ujung jarinya.
“Enak ‘kan?!”
“Enak!”
“Cicipi lagi! Jangan pakai jari. Langsung pakai lidah!”

Debby menengadah. Ia sangat ingin menyenangkan hati gurunya itu, tetapi ragu-ragu untuk melaksanakannya. Sesaat, ia manatap bola mata lelaki yang disayanginya itu. Dilihatnya binar-binar ketulusan cinta. Tak ada tersirat niat untuk menyakiti. Lalu ia menunduk dan mendekatkan bibirnya ke bagian tengah cendawan itu. Lidahnya terjulur dan ujungnya mengoles sisa lendir yang masih tersisa. Sambil memejamkan mata, ia mencicipinya.

“Enak ‘kan?!” Debby menengadah kembali. Ia mengangguk sambil tersenyum malu.
“Sekarang dicium dan dijilat-jilat biar lendirnya keluar lagi! Dan jangan terkejut kalau nanti tiba-tiba ada segumpal lendir yang muncrat ya, Sayang.”

Debby menunduk kembali, dan tanpa keraguan lagi dikulumnya cendawan itu. Leher kemaluan itu dijepitnya dengan bibirnya sambil mengoles-oleskan lidahnya.

Theo mendesah. Setelah menghirup udara yang memenuhi rongga dadanya, ia menunduk. Matanya berbinar menatap takjub. Nafasnya tertahan menatap seorang gadis belia yang cantik dan seksi sedang berjongkok sambil menghisap-hisap dan mengulum kepala batang kemaluannya. Darahnya mendidih menatap gadis yang berjongkok dengan gaun bagian atas dan bawah bertumpuk terlipat-lipat di pinggangnya yang ramping. Matanya nanar menatap buah dada yang belum sepenuhnya mekar. Sejuta pesona ia rasakan melihat seorang gadis yang sedang berjongkok di hadapannya dengan paha terkangkang. Indah sekali!

“Argh.., aduuhh..!” desah Theo sambil menekan bagian belakang kepala gadis itu lebih keras. Setengah batang kemaluan telah masuk ke dalam mulut mungil itu.

Debby menengadah karena mendengar desahan itu. Ia merasa khawatir karena giginya menggesek kulit kemaluan yang sedang dikulumnya. Tapi lelaki yang telah memberinya kenikmatan itu ternyata hanya meringis. Ia masih menengadah ketika merasakan lagi tekanan di bagian belakang kepalanya, tekanan yang membuat ia menelan batang kemaluan itu lebih dalam.

Theo mengusap-usap rambut gadis remaja itu. Perlahan-lahan, ditariknya kemaluannya hingga hanya cendawan kemaluannya yang masih tersisa. Dan dengan perlahan-lahan pula, didorongnya kembali batang kemaluannya. Diulangnya gerakan itu beberapa kali sambil mengamati bibir mungil yang melingkari batang kemaluannya. Setelah yakin bahwa gadis itu telah terbiasa dengan gerakan batang kemaluannya, tiba-tiba didorongnya lagi dengan keras hingga bibir mungil itu menyentuh bulu-bulu di pangkal kemaluannya.

Debby terkejut. Nafasnya terhenti sesaat. Ia tersendat karena ujung batang kemaluan itu menyentuh kerongkongannya. Sebelum ia sempat meronta, dengan cepat batang kemaluan itu telah bergerak mundur kembali.

“Nggak apa-apa ‘kan sayang,” kata Theo membujuk sambil mengusap-usap pipi gadis remaja itu.

Debby ingin mengatakan ‘jangan ulangi’, tapi kata-kata itu tak terucapkan karena cendawan itu masih tersisa di bibirnya. Ia menengadah. Sejenak mereka saling tatap. Dan ia melihat sorot mata yang memancarkan kenikmatan birahi, seolah memohon untuk dipuaskan.

Karena merasa tak tega untuk menolak, kembali cendawan itu dihisapnya. Mungkin karena aku belum terbiasa, katanya dalam hati. Akhirnya ia memutuskan untuk memberi kenikmatan total. Kenikmatan sebesar kenikmatan yang telah ia dapatkan. Bila mungkin, ia akan memberi melebihi dari apa yang telah ia nikmati. Percintaan yang membara adalah percintaan yang pasrah dalam memberi, bisik hatinya. Percintaan yang lebih mementingkan kenikmatan pasangannya dari pada kenikmatan dirinya sendiri. Dan ia akan pasrah memberi agar guru yang disayanginya itu dapat pula meraih puncak kenikmatannya.

Lalu batang kemaluan itu dikeluarkannya dari mulutnya. Ia ingin totalitas. Oleh karena itu, beberapa detik kemudian, ia mulai menjilati batang kemaluan itu hingga ke pangkalnya. Bahkan ujung lidahnya beberapa kali menyentuh biji kemaluan itu. Semakin sering lidahnya menyentuh, semakin keras pula didengarnya dengusan nafas lelaki yang disayanginya itu. Ketika merasakan jambakan lembut di kepalanya, tanpa ragu, dihisap-hisapnya biji kemaluan itu.

Ia semakin bersemangat karena merasakan erotisme yang luar biasa ketika batang kemaluan itu menggesek-gesek ujung hidungnya. Ada sensasi yang membakar pori-pori di sekujur tubuhnya ketika bulu-bulu di biji kemaluan itu bergesekan dengan lidahnya! Gesekan itu merangsang lidahnya melata ke arah bawah untuk mengecup dan menjilat-jilat celah sempit antara biji kemaluan dan lubang dubur.

“Aarrgghh..!” desah Theo ketika merasakan lidah muridnya itu menjilat-jilat semakin liar.

Bahkan ia mulai merasakan bibir gadis itu mulai mengisap-isap celah di dekat lubang duburnya. Sangat dekat dengan lubang duburnya! Dan sesaat ia berhenti bernafas ketika merasakan ujung lidah gadis itu akhirnya menyentuh lubang duburnya. Ia menggigil merasakan nikmat yang mengalir dari ujung lidah itu. Nikmat yang bahkan tidak pernah ia dapatkan dari isterinya.

Sebelumnya ia tidak pernah merasakan lidah menyentuh lubang duburnya. Apalagi lidah seorang gadis remaja yang cantik dan seksi. Matanya terbeliak ketika merasakan tangan gadis itu membuka lipatan daging di antara bongkah pantatnya. Hanya bagian putih di bola matanya yang terlihat ketika ia meresapi nikmatnya lidah gadis itu saat menyentuh lubang duburnya.

“Oorgh.., aarrgghh.. Nikmat, Sayang!” desah Theo sambil menggerakkan pinggulnya menghindari jilatan-jilatan di duburnya.

Ia sudah tak kuat menahan kenikmatan yang mendera tubuhnya. Cendawan batang kemaluannya sudah membengkak. Lalu ia mengarahkan batang kemaluannya ke mulut gadis itu.

“Aku sudah tak tahan, Debby!!” sambungnya sambil menghunjamkan batang kemaluannya sedalam-dalamnya.

Debby tersendat kembali ketika merasakan cendawan itu menyumbat kerongkongannya. Tapi sudah tidak menyebabkan rasa mual seperti ketika pertama kali tersendat. Dan ketika batang kemaluan itu bergerak mundur, ia mengisap cendawannya dengan keras hingga terdengar bunyi ‘slurp’. Kedua telapak tangannya mengusap-usap bagian belakang paha lelaki itu.

Lalu ia kembali menengadah. Mereka saling tatap ketika batang kemaluan itu kembali menghunjam rongga mulutnya. Telapak tangannya ikut menekan bagian belakang paha lelaki itu. Kepalanya ikut maju setiap kali batang kemaluan itu menghunjam mulutnya. Ia merinding setiap kali ujung cendawan itu menyentuh kerongkongannya.

“Aarrgghh.., Debby, aku sudah mau keluar. Mau pipis, aarrgghh..! Telan sayang. Telan lendir enaknya ya!”
“Hmm..” sahut gadis itu sambil mengangguk.

Theo semakin tegang setelah melihat anggukan itu. Sendi-sendi tungkai kakinya menjadi kaku. Nafasnya mengebu-gebu seperti seorang pelari marathon. Sebelah tangannya menggenggam kepala gadis itu, dan yang sebelah lagi menjambak. Pinggulnya bergerak seirama dengan tarikan dan dorongan lengannya di kepala gadis itu. Hentakan-hentakan pinggulnya membuat gadis itu terpaksa memejamkan matanya.

Batang kemaluannya sudah menggembung. Lendir berwarna putih susu terasa bergerak dengan cepat dari kantung biji kemaluannya. Ia berusaha untuk menahannya. Tapi semakin ia berusaha, semakin besar tekanan yang menerobos saluran di kemaluannya. Akhirnya ia meraung sambil menghunjamkan batang kemaluannya sedalam-dalamnya. Berulang kali.
Ditariknya, dan secepatnya dihunjamkan kembali.

“Aarrgghh.., aduuh! Aarrgghh..!” raung Theo sekeras-kerasnya ketika ia merasakan air maninya muncrat ‘menembak’ kerongkongan gadis itu.

Sesaat ia merasa kejang. Dibiarkannya batang kemaluannya terbenam. Tangannya mencengkeram kepala gadis itu dengan keras karena tak ingin kepala itu meronta. Ia tak ingin kepala itu terlepas ketika ia sedang berada pada puncak kenikmatannya. Keinginan itu ternyata menjadi kenikmatan ekstra, yaitu kenikmatan karena ‘tembakannya’ langsung masuk ke kerongkongan gadis itu. ‘Tembakan’ itu akan membuat kerongkongan itu agak tersendat sehingga air maninya akan langsung tertelan. Setelah ‘tembakan’ pertama, ia masih merasakan adanya tekanan air mani di saluran lubang kemaluannya. Maka dengan cepat ia menarik batang kemaluannya, dan menghunjamkannya kembali sambil ‘menembak’ untuk yang kedua kalinya.

“Hisap sayang, aarrgghh..! Aarrgghh..!”

Ditariknya kembali batang kemaluannya. Tapi sebelum kembali menghunjamkannya, ia merasakan gigitan di leher batang kemaluannya. Ia pun berkelojotan ketika merasakan gigitan itu disertai kuluman lidah. ‘Tembakan’ kecil masih terjadi beberapa kali ketika lidah gadis itu mengoles-oles lubang kemaluannya.

“Ooh.., nikmatnya!” gumam Theo sambil membelai-belai kedua belah pipi gadis itu. Belaian mesra yang mengalir dari lubuk hatinya yang paling dalam. Belaian ungkapan kasih sayang dan tanda terima kasih!

Sambil menengadah dan membuka kelopak matanya, Debby terus mengulum dan menjilat-jilat. Tak ada lendir berwarna susu yang mengalir dari sudut bibirnya. Tak ada setetes pun yang menempel di dagunya. Dan tak ada pula lendir yang tersisa di cendawan kemaluan Theo! Bersih. Semua ditelan! Gadis belia itu ‘membayar’ tuntas kenikmatan yang ia dapatkan sebelumnya!

Tak lama kemudian, Theo menghempaskan pinggulnya ke atas karpet. Ia merasa sangat lemas. Lunglai. Ia tak mampu berdiri lebih lama lagi. Debby tersenyum puas. Ia pun bangkit dari sofa, dan kemudian duduk di pangkuan Theo. Kedua belah kakinya melingkari pinggang lelaki yang masih terengah-engah itu. Posisi duduknya menyebabkan vaginanya persentuhan dengan batang kemaluan yang mulai mengkerut. Terasa hangat dan mesra.

“Puas?” tanya gadis itu.
“Puas banget!” jawab Theo.
“Enak lendirku?” sambungnya.
“Enak banget!”
“Mau lagi?”
“Ha?!” jawab Debby sambil mencubit pipi Theo dengan manja.
“Kapan-kapan ya, kita nabung dulu.”
“Nabung apaan?”
“Nabung pipis!”

Dan mereka serentak tertawa. Renyah. Lalu saling berangkulan dengan mesra. Pipi mereka saling bersinggungan. Kedua belah tangan membelai-belai punggung pasangannya. Kemudian masing-masing berbisik langsung ke telinga pasangannya.

“Theo suka pipis Debby!”
“Debby suka pipis Theo!”

Villa itu terletak di bagian tengah sebidang tanah perbukitan yang luasnya hampir 2 hektar. Dari jauh, villa itu terlihat asri karena dinding luarnya dihiasi dengan batu-batu pualam dan marmer serta beberapa ornamen kayu jati. Di bagian depan dan belakang, berbatasan dengan villa-villa di sekitarnya, tumbuh beberapa pohon pinus yang lebat. Tingginya mencapai 4 hingga 5 meter. Halaman di sekelilingnya terlihat hijau karena ditumbuhi oleh rumput yang terpangkas rapi. Beberapa batu alam berwarna abu-abu dan cokelat tua dengan berbagai bentuk dan ukuran tergeletak menghiasi halaman yang luas itu. Di pojok belakang sebelah barat terdapat sebuah rumah kecil yang dihuni oleh penjaga villa.

Bangunan villa itu tidak terlalu besar. Di lantai 1 hanya ada sebuah kamar tidur utama serta sebuah ruang keluarga dan dapur. Sedangkan di lantai 2 ada dua buah kamar tidur dan ruang kosong yang tembus hingga ke lantai 1. Tak banyak furniture yang melengkapi villa mungil dan mewah itu. Dan hampir semuanya terbuat dari kayu jati berukir. Berbagai bentuk ukiran terasa mendominasi isi villa. Termasuk bingkai cermin berukuran besar yang menempel pada dinding kamar tidur utama. Nuansa artistik terasa sangat menonjol di dalam dan luar villa.

Debby baru saja tiba di villa itu kira-kira 10 menit yang lalu. Setelah meletakkan tasnya di teras dan memberi beberapa instruksi kepada lelaki tua penjaga villa, ia segera melangkah ke kamar tidur depan di lantai 2. Ditanggalkannya celana jeans dan t-shirt yang dipakainya sejak dari Jakarta. Sambil berdiri di depan cermin, dikenakannya sebuah kimono. Sejenak, ia ragu melilitkan tali kimono itu di pinggangnya. Tapi akhirnya, sambil ditanggalkan pula. Ia tersenyum ketika mengikat tali kimono itu. Senyum yang menyimpan sebuah rencana, dan sekaligus senyum untuk dirinya sendiri karena tak ada lagi yang tersembunyi di balik kimono itu.

Debby berdiri di balkon depan yang menghadap ke timur. Sejak kecil ia suka menghabiskan waktunya di balkon itu. Terutama bila sore hari, ia suka menatap embun tipis yang perlahan-lahan turun dari atas dan mulai bertebaran di halaman. Embun itu kadang-kadang sirna tertiup angin tetapi kadang-kadang angin bertiup mendorong segerombol embun yang sebagian di antaranya tersangkut di daun-daun pohon pinus. Kira-kira satu jam kemudian, ketika sore berubah menjadi senja, embun tipis berwarna putih itu mulai menyelimuti pucuk-pucuk pinus. Diam tak beranjak. Hanya beberapa gerombol di atas rumput yang terlihat masih bergerak tertiup angin. Dan ketika senja sirna, lampu-lampu taman yang bertebaran di halaman pun tak berdaya mengusir embun yang menyelimuti villa dan sekelilingnya.

Debby melirik jam tangannya. Hm, kurang lebih setengah jam lagi Theo akan tiba, katanya dalam hati. Setiap kali menyebut nama lelaki itu jantungnya terasa berdebar. Walau lelaki itu 15 tahun lebih tua dari usianya, tetapi ia merasa sangat nyaman bila berada di dekatnya. Lelaki yang selalu memanjakannya, yang berani membantah tetapi bila terus didesak akhirnya akan menuruti kemauannya. Ia tersenyum dikulum, ‘Theo memang selalu memperlakukanku seolah aku adalah satu-satunya benda berharga baginya’ gumam gadis remaja itu. Kemudian ia teringat beberapa peristiwa ‘nakal’ yang membuatnya merasa sangat dimanjakan.

Saat itu mereka sedang menikmati santap malam di sebuah restoran yang terkenal dengan sajian ‘rib roast’-nya. Mereka duduk berdampingan pada sebuah meja yang posisinya di sudut dan menghadap ke bagian tengah restoran. Sesekali mereka terpaksa berbisik untuk mengalahkan suara musik dan lagu-lagu merdu Frank Sinatra. Ketika ia menggigit rib yang terakhir, setetes kecap jatuh ke lututnya. Ia memang sengaja tidak menggunakan serbet untuk menutupi pahanya. Sejak merasakan nikmatnya lidah Theo saat menjilati paha dalam dan pangkal pahanya, ia selalu menggunakan rok mini yang bagian bawahnya lebar. Ia selalu ingin memperlihatkan sepasang pahanya yang mulus. Bila duduk, rok mini itu semakin tertarik sehingga hanya kira-kira 10 cm saja yang menutupi pahanya. Ia tidak khawatir akan ‘ditonton’ tamu-tamu lainnya karena ada taplak meja yang menghalangi, taplak yang menjuntai hingga hampir menyentuh lantai.

“Theo, jangan dilap pakai tissue,” katanya ketika melihat Theo menjumput selembar tissue.
“Jadi pakai apa, Sayang.”
“Pakai lidah yang suka ‘mimik’ pipis Debby!”, bisiknya manja.

Theo tertegun. Ditatapnya mata gadis belia itu seolah sedang mencari ketegasan atas kalimat yang baru saja didengarnya. Ia pun terkesima mendengar kata ‘mimik’. Kata yang lebih mesra sebagai pengganti kata ‘minum’. Selintas ia teringat ketika pertama kali mencumbui vagina gadis itu. Sangat sulit dilupakannya kehangatan yang mengalir dari bibir vagina gadis itu ketika menjepit lidahnya. Jepitan yang disertai enyutan-denyutan vagina yang hampir mencapai orgasmenya. Denyutan-denyutan yang membuat ia semakin rakus menghisap-hisap lendir di vagina itu. Dan tak lama kemudian, ia merasakan segumpal lendir orgasme mengalir membasahi kerongkongannya. Dan setelah menjilati bibir luar vagina gadis itu hingga bersih, ia mendengar gadis belia itu bertanya dengan polos.

“Kok pipis debby diminum?”
“Kok bengong, Theo. Nggak mau ya?”
“Kamu memang nakal dan kadang-kadang keterlaluan.”
“Udah nggak sayang sama Debby, ya!”
“Sayangnya tetap selangit. Tapi ini di restoran. Di tempat umum!”
“Biarin!” kata gadis itu setengah merajuk.
“Entar dilihat orang lain. Malu ‘kan kalau ketahuan.”
“Biarin!”
“Biarin?”
“Paling juga mereka jadi iri. Yang laki-laki ingin jadi Theo, yang perempuan ingin jadi Debby!” jawab gadis itu sambil tertawa kecil. Tawa yang menggemaskan!

Sekilas, Theo memandang ke sekeliling ruangan. Tak ada tamu yang sedang memandang ke arah mereka. Pelayan-pelayan restoran pun terlihat sibuk melayani tamu-tamu. Dadanya berdebar-debar. Hatinya terpancing untuk mencoba. Lalu dengan cepat ia menunduk dan menjilat. Dan dengan cepat pula ia mengangkat kepalanya kembali. Jantungnya masih berdebar-debar ketika pandangannya menyapu sekeliling ruangan. Tak ada perubahan. Tak ada seorang pun yang memandangnya!

Debby tertawa kecil. Dicubitnya pinggang guru matematikanya itu dengan manja. Sejenak mereka saling tatap, kemudian serentak tertawa renyah. Tak lama kemudian, gadis belia itu sengaja mengerak-gerakkan kakinya. Sesekali sebelah kakinya agak diangkat hingga roknya yang mini semakin tersingkap. Ia semakin bersemangat menggerak-gerakkan kakinya ketika memergoki Theo tertegun menatap keindahan pahanya. Gerakannya baru berhenti setelah ujung roknya tersangkut di pangkal paha. Ia merasa yakin bahwa G-string yang dipakainya telah terlihat mengintip dari pangkal pahanya.

“Kelihatan nggak?”
“Sedikit!”
“Warna apa?”
“Pink!”
“Suka?”
“Suka banget!”
“Cium dong!”
“Ha?! Di sini?”
“Hmm!!”

Jantung Theo kembali berdebar-debar. Tantangan, katanya dalam hati. Tantangan dari seorang gadis belia yang cantik, seksi, masih perawan, dan sekaligus nakal! Itulah salah satu sebab yang membuat ia selalu ingin memanjakan gadis itu. Ide-idenya yang nakal kadang-kadang menciptakan sensasi. Menciptakan gairah untuk menaklukkan tantangan yang disodorkannya. Ia memang belum pernah melakukan hal itu. Dan ia pun yakin bahwa gadis itu -dalam keramaian publik- belum pernah mendapat ciuman di pangkal pahanya. Ia menarik nafas panjang dan berusaha menenteramkan debar-debar jantungnya. Sekilas, ia kembali memandang tamu-tamu di sekelilingnya. Setelah yakin tak ada yang memperhatikan, ia menunduk dan mengecup G-string dari sutera itu. Kecupan yang persis di belahan bibir vagina!

Debby menggelinjangkan pinggulnya. Ia hampir memekik. Tapi karena jari-jari tangannya segera menutupi mulutnya, pekikan itu hanya terdengar lemah. Suara pekikan itu tersangkut di lehernya.

“Suka?” tanya Theo sambil mengangkat kepalanya.
“Suka banget! Nikmat dan mendebarkan!”
“Mau lagi?”
“Entar ketahuan.”
“Biarin!” jawab Theo sambil tersenyum.
“Benar?”
“Hmm!”
“Tapi mata Theo harus tertutup. Dan setelah dikecup, dijilat ya,” bisik gadis itu.
Theo terdiam sejenak, lalu bertanya..
“Kok harus menutup mata?”
“Tentu ada alasannya.”
“Kalau hanya mengecup dan menjilat, aku pasti mau.”
“Kalau matanya nggak tertutup, Debby yang nggak mau!” kata gadis itu merajuk manja. Theo terdiam kembali. Tapi tak lama kemudian ia menjawab..
“OK,” katanya sambil mengangguk.
Gadis itu tersenyum manis.
“Lihat ke Debby dan tutup matanya. Biar Debby yang mengawasi mereka,” katanya sambil menolehkan kepalanya ke arah tamu-tamu di restoran itu.”Nanti kalau Debby bilang ‘cium’ baru menunduk ya.” sambungnya sambil membuka kedua lututnya lebih lebar. Lutut sebelah kirinya agak diangkat agar pangkal pahanya cukup terbuka untuk menampung sebuah kepala.
“OK.” jawab Theo sambil memejamkan matanya. Tak lama kemudian, ia mendengar bisikan di telinganya..
“Sekarang cium, Theo!”

Dengan cepat Theo menunduk. Ia merasakan jari-jari tangan gadis itu menekan bagian belakang kepalanya, menuntun agar bibirnya mendarat di tempat yang tepat. Dan.., sejenak ia terkesima setelah bibirnya mendarat di pangkal paha gadis itu. Aroma yang sudah sangat dikenalnya tiba-tiba terasa langsung menyergap lubang hidungnya. Tapi karena khawatir bila harus menunduk terlalu lama di balik meja, ia segera mencium pangkal paha gadis itu. Ia sangat terkejut karena bibirnya bersentuhan langsung dengan bibir vagina yang lembut. Vagina yang hangat dan sedikit lembab.

Secara bergantian, dengan cepat, dikulumnya kedua bibir luar vagina itu. Lalu dijulurkannya lidah untuk menjilat celah sempit di antara ke dua bibir itu. Lidahnya segera tenggelam dalam kehangatan yang licin. Jilatannya tajam seperti mata pisau yang mengiris mentega. Dan.., seolah ada alarm berbunyi di telinganya ketika ia merasakan tarikan rambut di bagian belakang kepalanya. Ia segera mengangkat wajahnya sambil membuka mata. Sebelum kepalanya benar-benar tegak, ia masih sempat melihat jari telunjuk gadis itu melepaskan tarikan tepi G-stringnya agar vaginanya tertutup kembali.

Sejenak mereka saling tatap. Di bola mata mereka tersirat binar-binar birahi. Dan sambil tertawa kecil, keduanya berangkulan dengan mesra!

Debby masih berdiri di balkon. Tatapannya menerawang jauh dan terbentur pada lampu-lampu villa-villa di sekitar villanya. Ia menarik nafas panjang. Udara segar yang bertiup di sekitar Puncak Pass terasa sejuk memenuhi rongga dadanya. Hembusan udara mulai terasa dingin di kulitnya. Tapi ia menyukai dinginnya udara itu, terutama ketika berhembus menerpa bagian bawah pusarnya. Pangkal pahanya terasa sejuk. Dinginnya udara meredakan letupan-letupan gairah yang sempat memanas ketika ia teringat pada ciuman dan jilatan Theo di restoran rib roast itu.

Debby kembali melihat jam tangannya. Tak lama lagi Theo akan tiba, katanya dalam hati. Semakin dekat waktu yang telah mereka sepakati, semakin gelisah ia menunggu. Ia merasa lebih gelisah daripada biasanya karena ia sudah memutuskan bahwa malam itu ia akan mengucapkan “selamat tinggal masa remaja!” Dan itu akan ia ucapkan tepat ketika ia berusia 17 tahun. Usia untuk menjadi seorang wanita! Masih terbayang dalam ingatannya raut wajah Theo yang terlihat bingung ketika menerima denah jalan menuju villa. Raut wajah itu semakin bingung ketika ia mengatakan, “Nanti malam, di villa, Debby akan memberikan sebuah hadiah yang sangat istimewa.”

Sebenarnya ia telah membuat keputusan itu beberapa hari yang lalu. Bahkan ingin memberikannya pada saat itu juga. Tapi karena hari ulang tahunnya yang ke-17 tinggal beberapa hari lagi, ia memutuskan untuk menundanya. Ia tahu bahwa Theo akan merasa sangat berbahagia menerima hadiah itu. Ia sadar bahwa lelaki yang selalu memanjakannya itulah orang yang paling tepat dan berhak untuk mendapatkan hadiah itu. Lelaki yang dengan kedua bibirnya dapat membuatnya menderita dalam rintihan nikmat. Lelaki yang telah memberikan arti nikmatnya sebuah cumbuan di pangkal pahanya. Lelaki yang lidahnya menari-nari pertama kali di vaginanya kira-kira sebulan yang lalu, yang kemudian secara rutin seminggu dua kali selalu ‘mimik’ pipis enak dari pangkal pahanya. Lelaki yang selama sebulan telah bersabar mencumbu dan dicumbu hanya dengan bibir dan lidah.

‘Theo memang lelaki yang sabar dan penuh perhatian’, gumamnya ketika teringat pada cendawan di ujung batang kemaluan Theo. Seolah masih terasa lembutnya cendawan itu menyusup ke dalam rongga mulutnya. Cendawan yang terasa mengalirkan kehangatan ketika menyentuh kerongkongannya, yang membuat ia tersendat dalam nikmat, yang membuat rasa dahaganya sirna setelah mendapatkan ‘mimik’ pipis enak dari batang kemaluan itu, dan yang membuatnya terpejam ketika segumpal lendir panas tiba-tiba ‘menembak’ kerongkongannya.

Gadis remaja itu tersenyum manis ketika melihat cahaya lampu mobil yang mendekati villanya. Tergopoh-gopoh ia menuruni tangga ke lantai 1 dan setengah berlari menuju halaman. Langkahnya yang cepat membuat pahanya yang berwarna kuning gading sesekali menyembul dari belahan kimono yang pakainya. Segera dipeluknya pinggang lelaki itu. Pelukannya yang sangat ketat seolah menunjukkan kerinduan yang mendalam. Padahal mereka baru berpisah beberapa jam yang lalu.

Theo menggamit dagu gadis remaja itu, membuat wajahnya yang cantik menengadah. Lalu ia menunduk dan menggosok-gosokkan hidungnya ke ujung hidung gadis itu. Dalam keremangan cahaya lampu neon di teras, bibirnya memagut bibir gadis itu. Dikulumnya bibir mungil itu dengan penuh perasaan. Ia ingin menunjukkan rasa cintanya yang dalam. Dan ketika lidah gadis itu menjulur, lidah itu segera dipilinnya dengan lidahnya sambil dihisapnya dengan lembut.

“Kangen nggak?”
“Kangen banget, Sayang!” jawab Theo sambil mengecup leher jenjang gadis itu.
“Geli, Theo!”
“Oh ya. Kalau yang ini..?” tanya Theo sebelum mengecup dan menjentikkan ujung lidahnya persis di bawah dagu.
“Enak..!”

Jawaban itu membuat Theo lebih bersemangat menciumi leher gadis itu. Sesekali lidahnya menjulur menjilat hingga membuat gadis itu beberapa kali mendongakkan kepalanya. Lalu ia merasakan kedua belah lengan yang merangkul pinggangnya berpindah ke lehernya, membuat buah dada gadis itu menempel ketat ke dadanya. Karena senang dan gemas, kedua telapak tangannya segera meremas bongkah pantat gadis itu. Bongkah pantat itu terasa kenyal karena belum sepenuhnya mengembang. Diremasnya berulang kali. Bahkan sambil meremas, bongkah pantat itu agak ditariknya ke atas agar ia tak perlu terlalu menunduk ketika menciumi leher.

Debby menyukai tarikan di bongkah pantatnya walau hal menyebabkan ia harus berjinjit. Tak lama kemudian, karena jari-jari kakinya mulai terasa kelu, ia menggantung di leher agar dapat melingkarkan kedua belah kakinya di pinggang lelaki itu. Tumitnya terpaksa menekan pinggul Theo ketika ia merasakan ciuman-ciuman basah merayap menuju buah dadanya. Ciuman yang membuat ia beberapa kali melengkungkan punggungnya ke belakang, memberi ruang yang lebih luas kepada lelaki itu untuk menciumi buah dadanya. Beberapa menit kemudian, tumitnya menekan lebih keras karena ia ingin mengangkat badannya lebih tinggi agar ciuman-ciuman itu segera mendarat di buah dadanya.

Theo menarik bongkah pantat gadis itu lebih tinggi setelah menyadari bahwa di balik kimono itu tidak ada bra yang menghalangi. Walau kimono itu belum sepenuhnya terbuka, bibirnya sudah tidak sabar untuk segera mengecup celah di antara kedua buah dada yang baru mekar itu. Lidahnya pun mulai merayap dari lekukan bawah hingga ke putingnya yang kecil. Semakin lama lidah itu bergerak semakin cepat. Menjilati bergantian. Buah dada kiri dan kanan. Dan ketika merasakan air liurnya telah membasahi kedua buah dada itu, ia segera mengulum putingnya yang kemerahan.

“Ooh..! Ooh.., Theo! Aarrgghh..!” desah Debby ketika merasakan puting dadanya digigit dengan lembut. Dan ketika bibir lelaki itu berpindah ke buah dada sebelahnya, lalu mengulum dan menjentik-jentikkan ujung lidah di putingnya, ia mengerang..
“Theoo..! Aargh.., enak!!” Tapi beberapa detik kemudian, ia mendorong kepala lelaki itu.
“Gendong ke atas dong, Theo,” katanya sambil menunjuk ke arah balkon.

Debby tahu bahwa setelah menciumi buah dadanya, guru matematikanya yang tampan itu akan menciumi betis, lalu paha, dan pangkal pahanya. Dari beberapa cumbuan oral yang mereka lakukan sejak sebulan yang lalu, ia pun tahu bahwa kedua betisnya akan mendapat ciuman-ciuman basah bila cumbuan itu dilakukan di atas tempat tidur. Tapi kali ini ia menginginkan cumbuan yang agak berbeda. Sesuatu yang berbeda akan menciptakan sensasi yang berbeda pula, yang akan membuat tubuhnya menderita dalam kenikmatan berkepanjangan. Ia menginginkan ciuman dan jilatan basah merayap dari kedua betis hingga ke bibir vaginanya dilakukan ketika ia sedang berdiri di balkon villa! Walaupun sesungguhnya ia tak dapat memastikan apakah hangatnya jilatan-jilatan rakus di vaginanya akan mampu melawan dinginnya embun dan tiupan angin malam yang menerpa tubuhnya.

Ia merinding membayangkan kenikmatan akibat sensasi yang luar biasa itu. Merinding karena ia ingin mengalami orgasme dalam terpaan embun putih dan dinginnya angin malam! Suasana seperti itulah yang diinginkannya. Di satu sisi ia ingin merasakan dinginnya tiupan angin malam di sekujur tubuh, dan di sisi lain ia ingin merasakan hangatnya lidah yang terselip di bibir vaginanya. Sensasi yang luar biasa itu akan membuat tubuhnya kejang pada saat segumpal lendir orgasmenya akan langsung dihisap oleh lelaki yang dicintainya itu dengan rakus. Lendir orgasme yang tumpah ketika ia berdiri menggigil kedinginan dalam selimut embun malam!

Gadis itu merasa melayang ketika Theo menggendongnya menuju balkon. Vaginanya mulai terasa basah ketika lelaki itu menurunkan tubuhnya dengan hati-hati. Karena tali kimono yang melilit pinggangnya sudah kendur, angin malam yang dingin terasa langsung menerpa bagian depan tubuhnya. Ia mulai menggigil.

“Di sini?”
“Hmm!”

Debby menyandarkan punggungnya ke kusen pintu, lalu memandang ke sekelilingnya. Putih berkabut. Ia menoleh ke arah rumah penjaga villa di sudut barat, juga putih berkabut. Walaupun lampu neon di balkon tidak dimatikan, ia merasa yakin tidak ada orang yang dapat melihat mereka. Sambil tersenyum, diangkatnya kaki kirinya lalu meletakkan telapak kakinya di sandaran lengan kursi di sebelahnya. Bagian tengah kimononya, dari pinggang ke bawah menjadi terbelah dua.

“Di sini, Theo. Puaskan Debby di sini! Sepuas-puasnya, Sayang. Debby ingin malam ini menjadi malam yang tak terlupakan. Debby ingin pipis enak di sini. ‘Mimik’ ya Sayang. Kalau udah puas ‘mimik’, baru kita pindah ke dalam. Debby akan beri hadiah istimewa untuk Theo di kamar!”

Theo tertegun. Posisi gadis belia yang disayanginya itu sangat menantang, membuat ia tak mampu menjawab. Matanya nanar menatap keindahan kaki yang keluar dari belahan tengah kimono, yang lututnya tertekuk karena telapaknya menginjak lengan kursi. Mulutnya setengah terbuka ketika matanya menatap pangkal paha gadis itu. Terkesima. Ia baru menyadari bahwa tak ada celana dalam mini atau G-string yang menutupi pangkal paha itu. Dalam keremangan, masih dapat dilihatnya bulu-bulu ikal halus dan tipis di bagian atas vagina yang segar itu.

“Mau ‘kan, Theo?”
“Akan kuturuti apa pun yang Debby inginkan,” kata Theo sambil berlutut di hadapan gadis itu.

Dengan posisi berlutut, betis indah itu berada persis di sebelah pipi Theo. Dan dengan lembut diusap-usapkannya telapak tangannya ke betis itu. Semenit kemudian, dibelai-belainya betis itu dengan pipinya. Ia ingin merasakan kehalusan pori-pori betis itu di pipinya! Lalu ia mengecupnya. Mula-mula ia mengecup bagian bawah, tetapi semakin lama semakin naik ke arah belakang lutut. Mula-mula kecupannya kering, tetapi semakin mendekati belakang lutut, kecupannya semakin basah. Ketika bibirnya telah terselip di belakang lutut yang tertekuk itu, ia mengecup sambil mempermainkan ujung lidahnya.

“Geli, Theo!” kata gadis ketika ia merasakan kumis Theo menggelitik belakang lututnya.

Kedua belah tangannya mendekap dada untuk mengurangi dinginnya terpaan angin sekaligus untuk menahan agar belahan tengah kimononya tetap tertutup. Sebaliknya, ia mulai merasakan kehangatan di pangkal pahanya.

Theo memindahkan kecupannya ke betis yang sebelah lagi. Betis itu terasa lebih kenyal karena berat badan Debby bertumpu pada sebelah kaki. Dengan sabar, Theo mengecup kembali. Mengulangnya berulangkali. Dan kemudian mulai menjilat ke arah bawah. Sesekali ia mengecup dengan gemas, setengah menggigit.

Debby menunduk dengan mata terbuka lebar. Ia merasa senang dan tersanjung menatap guru matematikanya itu berlutut di antara kedua belah kakinya. Jantungnya berdebar-debar melihat lelaki yang sabar itu harus membungkuk agar dapat mengecup betisnya. Ia merasa senang dan tersanjung. Perasaan itu seolah membongkah dan memberi kehangatan di rongga dadanya. Membuat dirinya seolah melambung tinggi ke dalam dinginnya embun malam. Ia pun sangat menikmati hembusan nafas yang terasa hangat di betisnya. Setiap kali lelaki itu mengecup, seolah tersisa kehangatan di bekas kecupannya.

Theo mulai menciumi lutut bagian dalam. Sambil mencium, matanya menatap bibir vagina gadis itu. Walau terlihat samar, tetapi cahaya lampu neon di langit-langit balkon membuat bibir vagina tampak mengkilap. Pasti sudah ada sedikit cairan lendir yang terselip di antara bibir itu, katanya dalam hati. Lalu dengan cepat diterkamnya vagina yang segar itu. Lidahnya segera membelah, dan bibirnya segera mengisap. Setelah itu, dengan cepat pula ia menarik kepalanya menjauhi vagina itu. Hanya sedikit cairan lendir yang terhisap.

Debby memekik karena terkejut. Ia tak menduga Theo akan ‘menerkam’ vaginanya secepat itu. Walau hanya sekejap, dalam keterkejutannya, terkaman itu ternyata mampu mengalirkan kehangatan di sekujur tubuhnya. Mungkin karena terkejut, sekejap ia lupa pada dinginnya terpaan angin malam.

“Theo jahat! Nggak sabar ya?”
“Ingat, tak ada setetes pun yang terbuang!”
“Paha dulu!” kata gadis itu sambil mendorong kepala Theo ke arah pahanya.

Theo menatap keindahan paha yang terpampang di depannya. Paha itu terbuka lebar dan karena telapaknya terletak di atas sandaran lengan kursi, dengan mudah ia menciumi dan sesekali menjilatnya karena paha itu persis setinggi kepalanya. Kulit paha itu terasa dingin di bibirnya. Lalu diusapkannya wajahnya beberapa kali ke permukaan paha dalam yang mulus itu. Ia suka merasakan kemulusan paha itu di wajah dan pipinya. Semakin sering mengusap-usapkan wajah dan menciuminya, kulit paha itu terasa semakin hangat. Kedua belah telapak tangannya pun giat bergerak menyalurkan kehangatan. Tangan kirinya mengusap-usap paha kanan bagian luar, sedangkan telapak kanannya digunakan untuk mengusap-usap betis kiri gadis itu.

Debby sangat menyukai usapan-usapan telapak tangan Theo. Usapan-sapan itu mengurangi dinginnya terpaan angin malam. Bahkan kehangatan pun mulai terasa menjalar di bagian bawah perutnya ketika ia merasakan lidah Theo merayap mendekati lipatan antara paha dalam dan vaginanya. Ia merintih ketika bibir lelaki yang suka ‘mimik’ pipisnya itu menariki bulu-bulu halus di sekitar bibir vaginanya. Bulu-bulu itu masih terlalu pendek, masih sepanjang bulu alis mata sehingga bibir itu selalu gagal menariknya. Hal itu malah membuat vaginanya semakin basah. Setelah mengencangkan lilitan kimono agar belahan di bagian dadanya tidak terbuka, kedua lengannya segera jatuh di atas kepala lelaki itu. Ia menginginkan lidah hangat itu membelah bibir vaginanya.

“Theo, mimik dulu dong lendirnya,” kata gadis itu sambil membuka bibir vaginanya dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. Sejenak, Theo menghentikan ciuman-ciumannya. Ia menengadah sambil tersenyum, tak lama kemudian, ia kembali menciumi paha kiri gadis itu. Sengaja tidak diturutinya keinginan gadis itu.

“Theo, jahat!” kata gadis itu sambil menarik kepala Theo ke arah pangkal pahanya. Kedua tangannya menahan agar kepala itu tetap berada di pangkal pahanya. Dan ketika ia merasakan kehangatan lidah menyusup ke dalam vaginanya, ia merintih..

“Ooh, ooh.., enak Theo! Aarrgghh..!”

Tarikan nafasnya pun mulai tak teratur ketika lidah itu menjilati dinding dan bibir dalam vaginanya. Ia mendorong pinggulnya agar lidah itu masuk semakin dalam. Ia mulai lupa dan tak merasakan dinginnya angin malam. Biasanya, keadaan seperti itu membuat pori-pori di sekujur tubuhnya terbuka. Berkeringat. Tapi saat ini, tak ada setetes pun keringat di kulitnya. Pori-porinya tetap tertutup. Kenikmatan dan kehangatan nafas yang mendengus-dengus di vaginanya hanya mampu memberi kehangatan tetapi tak mampu membuatnya berkeringat. Dan ia menyukai hal itu! Sebuah sensasi yang membuat vaginanya semakin basah berlendir. Apalagi ketika merasakan lelaki itu mengisap lendir yang terselip di bibir dalam baginanya, ia merintih berulang kali..

“Argh..! Argh..! Theo, Oh nikmatnya, sstt, sstt.., aarrgghh..!” Ia menjadi lupa pada paha kirinya yang belum cukup banyak mendapat cumbuan.

Malam itu Theo merasakan sebuah perbedaan. Aroma segar kemaluan gadis itu tidak setajam biasanya. Mungkin karena aroma itu langsung tertiup angin malam. Karena rindu akan aroma itu, Theo menekan hidungnya ke celah sempit di antara bibir vagina gadis itu. Ditekannya sedalam-dalamnya sambil menghirup aroma yang sangat dirindukannya itu.

Debby terkejut merasakan hidung lelaki itu tiba-tiba menusuk lubang vaginanya. Ia menggelinjangkan pinggulnya. Menggelinjang dalam kenikmatan. Geli dan nikmat tiba-tiba terasa menusuk hingga ke jantungnya. Ia merintih-rintih berkepanjangan akibat dengusan nafas di dalam lubang vaginanya.

“Aarrgghh..! Aarrghh..! Ampun, Theo..! Aarrgghh.., aarrgghh..!” rintihannya semakin keras ketika merasakan kumis lelaki itu menyapu klitorisnya.
“Ampun, ampun.. Theo! Aarrgghh..! Debby mau pipiis!”

Tapi ia tak berusaha menghindari hidung itu. Ia bahkan memutar pinggulnya sambil menekan bagian belakang kepala lelaki itu. Ia tak ingin hidung itu tak lepas dari jepitan bibir vaginanya. Hal itu tak berlangsung lama. Ia hanya mampu memutar-mutar pinggulnya beberapa kali! Tiba-tiba saja ia merasakan adanya dorongan lendir orgasme yang tak mampu ditahannya. Dorongan itu terasa sangat kuat. Jauh lebih kuat daripada dorongan yang biasanya ia rasakan ketika mendekati puncak orgasmenya.

“Theo, Theo.., Debby mau pipis! Aarrgghh.., mimik!”

Theo mendengar rintihan itu. Tapi ia tak ingin menarik hidungnya. Ia tak peduli walaupun merasakan dua lengan memukul-mukul kepalanya dengan gemas. Ia telah terbius oleh aroma, kehangatan, kelembutan, dan kehalusan dinding vagina gadis remaja itu. Bahkan semakin diremas dan ditariknya kedua bongkah pantat gadis itu agar hidungnya semakin tenggelam ke dalam liang vagina yang segar itu.

Remasannya di bongkah pantat itu sangat kuat, membuat gadis itu hanya dapat merintih dan meronta-ronta. Dan tak lama kemudian, ia merasakan lendir hangat membasahi ujung hidungnya. Ia sangat senang merasakan kehangatan lendir itu. Lendir yang membasahi hidungnya ternyata membuat batang kemaluannya semakin tegang. Bengkak. Mungkin karena merasakan nikmat yang berbeda dari biasanya. Selama sebulan, telah berkali-kali ia rasakan orgasme gadis itu di ujung lidahnya. Tapi kali ini berbeda, ia merasakannya di ujung hidungnya!

Walaupun terasa agak sesak, Theo menarik nafas. Ia menghirup aroma yang sangat pribadi itu langsung dari bagian yang sangat dalam dan tersembunyi! Ia pun merasa sangat puas karena baru kali ini ia mendengar gadis cantik itu merintih-rintih minta ampun!

“Aarrgghh.., ampun! Ampun.., Debby pipiis!” rintih gadis itu sambil berusaha menarik pinggulnya agar hidung lelaki itu terlepas.

Ia tak mampu mengendalikan rasa nikmat dan geli yang bercampur menjadi satu di lubang vaginanya. Tapi remasan telapak tangan di bongkah pantatnya lebih kuat daripada tarikan pinggulnya. Akhirnya ia hanya merintih-rintih melepaskan lendir orgasmenya ketika hidung itu mendengus-dengus. Seluruh sendi-sendi di sekujur tubuhnya menjadi lunglai. Membuat ia pasrah dan berusaha agar tak terjatuh ke lantai.

Theo menarik hidungnya setelah merasakan lendir orgasme itu berhenti mengalir. Ia menengadah sambil tersenyum puas. Ia dapat melihat kenikmatan yang baru saja usai mendera gadis itu. Hal itu terlihat dari bola mata yang menatap hampa dan kelopak mata yang setengah terpejam.

“Theo jaa.. haatt.., Theo jahat! ” kata Debby terengah-engah sambil meminjit hidung lelaki itu dengan jempol dan telunjuknya. Tapi jari itu terpeleset karena hidung itu masih dipenuhi lendir licin.
“Jahat!” ulangnya sambil memijit kembali.”Oh ya?” sahut Theo sambil menunduk. Lalu ia mulai menjilati vagina yang masih berlepotan lendir itu.

Debby menggeliat ketika merasakan kembali lidah yang menjilati bibir luar vaginanya. Ia merasa lelah tetapi ia pun tahu bahwa ia tak dapat menghindar dari lidah yang selalu rajin membersihkan sisa-sisa lendir orgasme di terasa pegal, terutama tungkai kakinya yang menginjak lengan kursi. Ia tidak akan mendorong kepala itu menjauhi vaginanya. Percuma. Ia tahu bahwa lelaki yang selalu memanjakannya itu tak akan berhenti menjilati sebelum vaginanya benar-benar bersih. Selain itu masih ada hal yang belum ia dapatkan. Malam itu ia belum merasakan nikmatnya ‘menumpahkan’ lendir orgasmenya langsung ke dalam mulut yang terjebak di dalam vaginanya. Terjebak di bagian yang paling dalam dan tersembunyi. Belum merasakan nikmatnya ‘menumpahkan’ lendir orgasme langsung ke dalam bibir dan lidah yang menghisap-hisap vaginanya ketika dinginnya angin malam menerpa tubuhnya.

Ia menunduk sambil mengusap-usap rambut lelaki tampan yang masih rajin menjilati vaginanya. Kelopak matanya kembali terbuka. Bola matanya berbinar-binar menikmati pemandangan erotis di pangkal pahanya. Menikmati indahnya lidah yang menjulur dan menghilang dalam belahan bibir vaginanya. Lidah yang basah mengkilap ketika keluar dari lubang vaginanya. Tanpa sadar ia mendesah ketika lidah itu mulai mencari-cari sisa lendir di balik sekumpulan urat saraf yang menutupi klitorisnya. Ia menggeliat. Dan menggeliat lagi ketika merasakan klitorisnya dijentik-jentik dengan ujung lidah. Lalu diturunkannya telapak kaki kirinya dari lengan kursi. Setelah memindahkan berat badannya ke kaki kirinya, diangkatnya kaki kanannya dan diletakkannya pahanya di pundak lelaki itu. Ia menarik nafas lega merasakan kehangatan di bagian dalam pahanya, bagian yang menempel dengan pipi Theo.

“Nggak apa-apa ‘kan, Sayang.” kata gadis itu sambil mempermainkan jari-jari tangannya di rambut lelaki itu.

Ia terpaksa bertanya karena sebelumnya tidak pernah melakukan hal seperti itu. Tidak pernah berdiri sambil menjepit kepala di pangkal pahanya.Theo menengadah, lalu mengangguk.

“Puaskan Debby ya, Sayang. Sebentar lagi, mimik lagi ya.” Theo mengangguk kembali sambil mengulum klitoris gadis remaja yang nakal itu.

Melihat anggukan kepala itu, Debby jadi lebih bersemangat untuk meraih puncak orgasmenya. Kedua tangannya segera menekan kepala lelaki itu agar semakin terdesak ke vaginanya. Satu tangan menekan bagian belakang kepala, dan yang sebelah lagi menjambak segenggam rambut. Posisi seperti itu membuatnya sangat bergairah. Kelopak matanya terbuka lebar menatap kepala yang pasrah di pangkal pahanya. Seolah kepala itu dipersembahkan sebagai alat untuk meraih puncak orgasmenya.

Walaupun vaginanya telah pernah beberapa kali dioral oleh guru matematikanya itu, tetapi ia belum pernah merasakan nikmatnya mengendalikan kepala itu di pangkal pahanya. Mengendalikan sesuka hatinya. Jantungnya berdebar-debar ketika ia mulai menggerak-gerakkan pinggulnya. Ia merasa lebih nikmat karena pinggulnya bebas bergerak sesuka hatinya. Ia pun merasa bebas untuk mengerak-gerakan kepala lelaki itu ke arah yang ia inginkan. Menekannya, mendorongnya, atau bahkan menariknya. Beberapa kali ia terpaksa menariknya sambil berjinjit karena kumis lelaki itu terasa menyentuh ujung atas belahan vaginanya.

“Argh..! Argh..!” rintihnya menahan nikmat yang mendera sekujur tubuhnya. Debby merasakan lendir yang semakin deras mengalir ke vaginanya.
“Mimik, Sayang,” katanya sambil menekan pundak Theo dengan paha belakangnya.

Ia ingin lidah itu menyusup ke dalam vaginanya, menarik lendir dan mengisapnya. Ia merasa bahwa sebentar lagi ia akan mencapai puncak orgasmenya. Ia ingin merasakan kelembutan dan kehangatan bibir itu ketika dinding vaginanya berdenyut-denyut. Sambil agak menekuk kedua lututnya, dihentakkannya pinggulnya agar lidah dan bibir lelaki itu masuk lebih dalam ke lubang vaginanya. Ia seolah mendapat sinyal ketika merasakan remasan di bongkah pantatnya, sinyal yang menyatakan bahwa lelaki itu menyukai hentakan pinggulnya. Tanpa ragu, ia kembali menghentakkan pinggulnya sambil menekan bagian belakang kepala lelaki itu. Dilakukannya berulang kali, seolah ingin menunjukkan bahwa vaginanya ingin menelan lidah dan mulut lelaki itu.

“Theoo.., aarrgghh..,” rintihnya sambil menekan dahi lelaki itu dengan ujung jarinya. Tekanan itu menyebabkan wajah Theo terdongak hingga mulutnya persis berada di bawah vaginanya.
“Mimik ‘pipis’ Debby, Sayaang,” rintihnya sambil menghentak-hentakkan pinggulnya dengan cepat.

Sekujur tubuhnya menggigil merasakan nikmatnya lidah yang tertanam di lubang vaginanya, lidah yang dapat ia perlakukan sesuka hatinya. Seolah ada ‘penis’ kecil tertanam di lubang kemaluannya. Ia menggigil merasakan sensasi nikmat yang luar biasa dalam terpaan dinginnya angin malam yang berembun. Bulu-bulu roma di sekujur tubuhnya merinding ketika merasakan lahapnya lidah dan mulut lelaki itu menghisap-hisap, menanti lendir orgasme yang akan tumpah dari vaginanya.

“Aarrgghh.., hasshh.., hasshh.., aarrgghh, aarrgghh, aarrgghh..!” rintihnya berkepanjangan ketika ‘menumpahkan’ orgasmenya.

Ia masih merintih-rintih bekepanjangan ketika merasakan liarnya lidah lelaki itu menjentik-jentik bibir dalam vaginanya. Lidah itu masih rajin bergerak seolah belum terpuaskan dengan segumpal lendir yang telah mengalir dari lubang vaginanya.

Theo masih menjilat-jilat. Sesekali mengulum bibir luar vagina gadis yang masih terengah-engah itu. Ia pun merasakan nikmat yang luar biasa ketika merasakan lendir orgasme gadis remaja itu mengalir ke kerongkongannya. Mungkin karena dinginnya terpaan angin, lendir orgasme yang ditelannya terasa lebih hangat dari biasanya. Paha yang menekan pipinya pun terasa lebih hangat. Dan.., hentakan-hentakan pinggul itu lebih liar dari biasanya!

“Ooh Theo, nikmatnya!” desah Debby sambil menatap bola mata lelaki yang masih dijepitnya di pangkal pahanya. Jari-jari tangannya mengusap-usap dahi dan rambut lelaki itu. Dibelai-belainya dengan mesra. Bibirnya tersenyum bahagia.
“Sekarang kita ke kamar yuk!” sambungnya sambil mengangkat pahanya dari pundak lelaki itu.

Di atas ‘king size bed’ tergeletak tubuh telanjang seorang gadis belia. Tubuh itu tergeletak dengan pose yang sangat menantang. Satu kaki terbujur lurus di atas kasur, dan yang sebelah lagi menekuk setengah terbuka mengangkang. Dan bibir gadis itu tersenyum manis. Merekah. Di cermin besar di dinding, bayangan tubuh indah itu terpantul seutuhnya. Seolah ada dua gadis belia yang sedang telanjang atas tempat tidur. Theo menaiki tempat tidur dan menjatuhkan dadanya di antara kedua belah paha gadis belia itu. Lalu dengan gemas, diciumnya pusar gadis itu.
“Theoo, geli!”

Theo tersenyum sambil mengangkat kepalanya. Tapi tak lama kemudian diulang-ulangnya mencium hingga membuat gadis belia itu menggelinjang beberapa kali. Lalu ia merasakan dua buah lengan yang menarik dagu dan rambutnya. Dengan menggunakan kedua siku dan lututnya, ia merangkak hingga wajahnya terbenam di antara kedua buah dada gadis itu. Dikecupnya lekukan buah dada yang putih itu. Lidahnya sedikit menjulur ketika mengecup. Kecupan basah. Ia tak merasa puas bila lidahnya tak merasakan kehalusan kulit buah dada gadis belia itu.

Tak lama kemudian, lidahnya melata menjilat buah dada yang sebelah kanan. Diulangnya beberapa kali hingga buah dada itu mulai basah tersapu air liurnya. Ia berhenti sejenak untuk menatap keindahan puting di pucuk buah dada itu. Lalu tangannya kirinya bergerak mengusap bagian bawah buah dada itu, kemudian bergerak ke arah atas sambil meremas dengan lembut. Sesaat ia menahan nafas menikmati kekenyalan buah dada itu di telapak tangannya. Remasannya membuat puting itu terlihat semakin tinggi. Menggemaskan. Dan dengan cepat dikecupnya puting buah dada yang masih kecil itu. Dikulumnya sambil mengusap-usapkan tangan kanannya di punggung gadis itu.

“Kau murid yang cantik sekali,” kata Theo sambil mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu.

Debby tersenyum. Ia senang mendengar pujian itu. Dirangkulnya leher guru matematika yang disayanginya itu dengan tangan kirinya, kemudian diciumnya bibir lelaki itu dengan mesra. Dihisapnya lidah yang menyusup ke bibirnya. Dihisapnya sambil mengait-ngaitkan ujung lidahnya. Tak lama kemudian, tangannya kanannya bergerak ke arah pangkal paha lelaki itu. Setelah mengusap-usap beberapa kali, digenggamnya batang kemaluan lelaki itu. Lalu diarahkannya cendawan batang kemaluan itu ke celah di antara bibir vaginanya yang mulai berlendir.

“Ambil hadiahnya, Theo,” bisik gadis itu sambil mengusap-usapkan cendawan itu ke bibir vaginanya.

Theo menarik nafas panjang merasakan kelembutan dan kehangatan di ujung batang kemaluannya. Untuk pertama kalinya lendir dari celah bibir vagina gadis belia itu mengolesi ujung cendawannya. Batang kemaluannya menjadi semakin keras. Urat-urat berwarna hijau di kulit batang kemaluannya semakin membengkak. Setelah menunjukkan kesabarannya selama sebulan, kesabaran mencumbui vagina gadis itu hanya dengan lidahnya, ternyata kesabarannya membuahkan hasil. Gadis itu akhirnya memberikan hadiah istimewa yang akan membawanya ke pintu surga dunia. Hadiah istimewa yang tak pernah diduganya akan diberikan oleh salah seorang muridnya.

Theo sedikit menekan pinggulnya agar cendawan itu terselip di bibir vagina yang berwarna pink itu. Ia menatap wajah gadis belia itu ketika merasakan pinggul yang ditindihnya menggeliat. Dengan tambahan tekanan yang lebih keras, cendawan batang kemaluannya akhirnya terselip. Ia menahan nafas ketika merasakan hangat dan sempitnya bibir vagina itu menjepit cendawan kemaluannya. Setelah sebulan bersabar, akhirnya vagina yang segar ini dapat kumiliki, katanya dalam hati. Lalu ia mulai menciumi leher gadis itu. Dadanya direndahkan hingga menekan kedua buah dada gadis itu. Ia sengaja melakukan hal itu karena ingin merasakan kekenyalan buah dada itu ketika menggeliat. Ia yakin gadis itu akan mengeliat-geliat ketika ia mendorong batang kemaluannya lebih dalam.

“Ohh.., Theo.” Theo menciumi telinga gadis itu.
“Belit pinggangku dengan kakimu, Sayang,” bisiknya di sela-sela ciumannya.

Tangan kirinya meremas buah dada gadis itu, sedangkan tangan kanannya mengelus-elus paha luar yang baru membelit pinggangnya. Lalu ia mendorong batang kemaluannya lebih dalam. Sesak! Perlahan-lahan ia menarik sedikit batang kemaluannya, kemudian mendorongnya. Hal itu dilakukannya beberapa kali hingga ia merasakan cairan lendir yang semakin banyak mengolesi cendawan kemaluannya.

Sambil menghembuskan nafas berat, didorongnya batang kemaluannya lebih dalam hingga ujung cendawannya menyentuh sesuatu. Ia menahan gerakan pinggulnya ketika melihat gadis belia itu meringis. Ia tak ingin menyakiti murid yang sangat disayanginya itu. Selain itu, tubuhnya sendiri pun bergetar merasakan sempitnya lubang vagina itu. Dadanya berdebar-debar ketika ia membiarkan ujung kemaluannya bersentuhan dengan selaput tipis yang sebentar lagi akan dirobeknya.

“Sakit, Theo!”
“Tahan sedikit ya, Sayang.”

Theo kembali menarik batang kemaluannya hingga hanya ujung cendawan kemaluannya yang terselip di bibir luar vagina sang gadis. Lalu didorongnya kembali perlahan-lahan. Diulangnya beberapa kali. Ia diam sejenak mengamati raut wajah yang cantik itu ketika ujung kemaluannya kembali menyentuh selaput tipis itu. Mata gadis itu setengah terpejam, tetapi bibirnya sudah tidak meringis.

“Debby, nanti dorong pinggulnya, ya,” katanya sambil menarik kembali batang kemaluannya.

Lalu diciumnya bibir gadis itu dengan lahap. Ia tak ingin mendengar gadis itu menjerit ketika ia mendorong kembali batang kemaluannya. puting buah dada gadis itu diremasnya dengan jempol dan jari telunjuknya. Dan ketika merasakan gadis itu mendorong pinggulnya, dengan cepat didorongnya pula batang kemaluannya.

“Hmm.., hhmm..!” gumam gadis itu sambil mengisap lidah Theo sekeras-kerasnya.

Ia hanya dapat bergumam ketika merasakan batang kemaluan Theo menghunjam ke dalam lubang vaginanya. Sekejap, tiba-tiba ia merasakan nyeri ketika batang kemaluan itu menembus selaput di lubang vaginanya. Ia menggeliat-geliat berusaha untuk melepaskan diri. Tapi semakin ia menggeliat, batang kemaluan itu masuk semakin dalam. Akhirnya ia pasrah, diam tak bergerak!

Theo menahan gerakan pinggulnya. Ia telah mendapatkan hadiah yang dijanjikan gadis itu. Tapi ia tidak ingin egois. Ia tidak ingin melihat gadis belia itu meringis kesakitan ketika memberikan hadiahnya. Ia akan membuat gadis itu bahagia dan turut menikmati memberiannya. Oleh karena itu, ia menghentikan gerakan pinggulnya. Sesaat, ia hanya membelai-belai rambut di dahi gadis itu. Lalu mengecup keningnya dengan mesra. Tak lama kemudian, bibir gadis itu dikecupnya dengan lembut. Dikulumnya dengan penuh perasaan. Ia baru menarik batang kemaluannya perlahan-lahan setelah merasakan lidah gadis itu menyusup ke dalam mulutnya.

Setelah menyadari tak ada perubahan di raut wajah gadis itu, Theo kembali membenamkan batang kemaluannya perlahan-lahan. Kali ini ia hanya mendengar gadis itu mendesis beberapa kali sambil merangkul lehernya erat-erat. Ia pun merasakan dua buah kaki yang semakin erat membelit pinggangnya. Ia masih tetap mendengar gadis itu mendesis ketika menarik batang kemaluannya.

Setelah menarik nafas panjang, dan tak sanggup lagi menahan kesabarannya, ia menghentakkan pinggulnya sedalam-dalamnya hingga pangkal pahanya bersentuhan dengan pangkal paha gadis itu. Ia mendesah beberapa kali ketika merasakan seluruh batang kemaluannya terbenam ke dalam vagina gadis itu. Bahkan ia merasakan ujung kemaluannya menyentuh mulut rahim gadis belia itu. Sejenak ia diam tak bergerak. Ia sengaja membiarkan batang kemaluannya menikmati sempitnya lubang vagina itu. Ia terpejam merasakan remasan lembut di batang kemaluannya ketika vagina itu berdenyut.

“Aarrgghh.., ooh, ohh..,” rintih debby ketika seluruh batang kemaluan lelaki yang disayanginya itu telah terbenam ke dalam lubang vaginanya.

Ia merasakan pedih dan nikmat di sekujur tubuhnya. Rasa yang membuat bulu-bulu roma di sekujur tubuhnya meremang, yang membuat ia terpaksa melengkungkan punggungnya.
Kuku-kuku jari tangannya menancap di punggung lelaki itu ketika ia merasakan biji kemaluan Theo memukul lubang duburnya. Ia semakin melengkungkan punggungnya menjauhi kasur ketika lelaki itu menarik batang kemaluannya. Ia tak mampu bernafas ketika merasakan nikmatnya saat bibir dalam vaginanya tertarik bersama batang kemaluan itu.

Tak ada lagi pedih yang tersisa. Hanya ada nikmat yang menjalar dari vaginanya, nikmat yang membuat punggungnya terhempas ke atas kasur ketika lelaki itu kembali menghunjamkan batang kemaluannya. Ia menggigit bibirnya meresapi kenikmatan yang mengalir dari klitorisnya. Klitoris yang tergesek ketika gurunya yang jantan itu menghunjamkan batang kemaluannya. Kenikmatan itu membuat ia terengah-engah karena hanya mendapatkan sedikit udara setiap kali ia menarik nafas.

Theo mendesah setiap kali mendorong batang kemaluannya. Seumur hidupnya, Ia tak pernah merasakan ada vagina yang menjepit batang kemaluannya sekeras itu. Vagina sempit yang membuat telapak tangannya harus menekan kasur sekeras-kerasnya ketika ia menarik batang kemaluannya. Akhirnya ia tertelungkup di dada gadis itu. Tangannya menyusup ke balik punggung dan menggenggam kedua bahu gadis itu. Ia terpaksa hanya mengandalkan lututnya untuk menekan kasur agar ia tetap dapat mengangkat dan mendorong pinggulnya. Ia hampir tak mampu membendung air maninya lebih lama lagi. Dipandangnya pangkal pahanya. Air mani di kantung biji kemaluannya terasa semakin meronta-ronta ketika ia melihat bibir luar vagina mungil itu ikut terbenam setiap kali ia mendorong batang kemaluannya.

“Aarrgghh.., Debbyy..!” desah Theo.

Nafasnya mendengus-dengus. Kelopak matanya terbeliak-beliak. Telinganya mendengar bunyi “plak” setiap kali ia menghunjamkan batang kemaluannya. Bunyi yang sangat mesra itu terdengar setiap kali pangkal pahanya beradu dengan pangkal paha gadis belia itu. Bunyi itu semakin keras terdengar setiap kali gadis itu mengangkat pinggulnya untuk menyongsong batang kemaluannya yang menghunjam.

“Aarrgghh.., Debby, aaku.. Aaku..”
“Theoo.., aarrgghh..!”

Theo tak mampu lagi mengendalikan air mani yang meronta-ronta. Tekanan air mani di kantung biji kemaluannya terasa sangat kuat. Ia masih mencoba bertahan. Tapi semakin lama vagina yang menelan kemaluannya terasa meremas semakin kuat. Remasan yang berdenyut-denyut, seolah ingin menghisap air mani yang tertahan di batang kemaluannya.

“Aarrgghh.., aarrgghh.., aku pipiiss..,” raung Theo ketika merasakan air maninya menerobos lubang saluran kemaluannya.

Ia menghunjamkan pinggulnya sekeras-kerasnya agar ujung cendawannya tertanam sedalam-dalamnya ketika air maninya menerobos ke luar dari kantung biji kemaluannya. Ia mencengkeram kedua bahu gadis itu dengan erat saat ia pun merasakan gigitan manja di bahu kanannya..

“Theoo, aarrgghh.., aarrgghh.., Debby pipiiss jugaa..!” rintih gadis belia itu ketika merasakan air mani yang sangat panas ‘menembak’ mulut rahimnya!

Akhirnya setelah sang gadis mempersembahkan hadiah istimewanya untuk sang kekasih, mereka tidur berpelukan.


Aku Jadi Pengantin Muridku —

Hai, perkenalkan namaku Erina. Usiaku sekarang 18 tahun. Teman-temanku sering memuji wajahku yang bulat dan manis dengan rambutku yang hitam sebahu yang menurut mereka amat serasi dengan bentuk wajahku. Tubuhku yang mungil dengan tinggi 152 cm, memberi kesan imut yang sering menjadi daya tarik tersendiri bagi teman-temanku. Aku merupakan seorang mahasiswi keturunan Chinese dari Medan yang bisa tergolong sebagai pendatang baru di Jakarta. Aku merantau ke Jakarta sendirian untuk melanjutkan pendidikanku di sebuah universitas swasta di Jakarta Barat. Sehari-harinya aku bekerja sebagai guru les privat yang mengajar anak-anak sekolah yang pada umumnya adalah anak-anak SMP atau SD. Aku melakukan ini untuk membiayai uang kuliah dan segala keperluanku. Maklumlah, sebagai pendatang baru di kota besar seperti Jakarta, aku harus bisa membiayai segala keperluanku sendiri. Apalagi keluargaku yang berasal dari daerah juga bukan tergolong keluarga yang cukup mampu untuk membiayaiku, maka aku memutuskan untuk mandiri sendiri di perantauanku. Suatu hari, aku mendapat panggilan dari sebuah keluarga yang ingin agar aku mengajar les anak tunggal mereka. Mereka menawarkan gaji yang bagiku amat tinggi dan kurasa cukup untuk membiayai kehidupanku di Jakarta. Tanpa pikir panjang lagi, segera kuterima tawaran keluarga itu, dan kami setuju bahwa aku akan mulai mengajar anak mereka besok sore harinya sepulang kuliah. Esok harinya, aku pun datang untuk mulai mengajar murid baruku itu. Sesampainya di rumah itu, aku tertegun melihat arsitektur rumah itu yang seperti sebuah istana yang dilengkapi taman hijau dan dikelilingi pagar terali yang tinggi. Dibandingkan dengan rumahku di daerah yang hanya ¼ luas rumah itu, apalagi tempat kosku yang kecil dan sumpek, tentu saja memiliki rumah seperti ini sudah menjadi impianku sejak kecil.

DING-DONG!! Kutekan bel pintu di sebelah pagar rumah itu.

“Siapa?” terdengar suara wanita di Interkom yang terletak di samping bel pintu itu.

“Saya Erina, guru les privat anak anda yang baru!” jawabku

“Oh, Erina! Ayo, silakan masuk!”

Tiba-tiba, gerbang terali rumah itu terbuka. Aku pun segera masuk kedalam. Pintu garasi itu terbuka dan keluarlah seorang wanita paruh baya, usianya sekitar 40-an tahun. Dari penampilannya yang necis seperti seorang business-woman, sudah jelas bahwa ia adalah pemilik rumah ini. Wanita itu segera menyambut kedatanganku.

“Halo, Erina! Bagaimana kabarnya?”

“Baik-baik saja bu. Anda Bu Diana? Ibu Rendy?” tanyaku dengan sopan.

“Ya, betul! Ayo masuk, kita bicara didalam!” ujarnya mempersilahkanku masuk

Sambil menuju ke ruang tamu, kami berbincang-bincang sejenak. Dari situ aku tahu bahwa bu Diana adalah pemilik Bridal Studio ternama di Jakarta sekaligus seorang desainer gaun pengantin yang sering pergi ke luar negeri untuk melihat pameran-pameran di luar negeri. Bahkan, di rumahnya banyak terpajang piala penghargaan bagi desainer di pameran luar negeri. Sementara suaminya adalah kepala cabang sebuah bank multinasional yang saat ini tinggal di Jerman. Maka ia hanya tinggal berdua saja dengan anaknya di rumah itu. Seringkali anaknya dititipkan ke kerabatnya apabila bu Diana hendak pergi ke luar negeri. Aku pun dipersilahkan untuk menunggu di ruang tamu sementara bu Diana mengambilkan minuman untukku. Aku hanya terpaku melihat hiasan-hiasan indah di rumah itu. Rasa-rasanya, harga salah satu hiasan patung ataupun lukisan itu cukup untuk membiayai uang kuliahku untuk satu semester.

“Hayo, kok malah melamun?” aku dikagetkan oleh suara bu Diana yang segera menyajikan segelas es sirop untukku.

“Eh.. tidak.. maaf, Bu!” aku tergagap salah tingkah, namun bu Diana hanya tersenyum melihatku. Bu Diana segera duduk di sofa ruang tamu di depanku.

“Nah, Erina. Kamu akan mengajar Rendy mulai hari ini. Ibu harap kamu bisa memperbaiki nilai-nilainya di sekolah.”

“Baik bu. Saya akan berusaha sebaik mungkin.”

“Saya senang melihat semangatmu. Tapi apa kamu tahan menghadapi anak-anak nakal?”

“Memangnya ada apa, bu?” tanyaku penasaran

“Rendy sekarang duduk di kelas 3 SMP, usianya tahun ini 16 tahun. Kamu tahu, itu masa yang rawan bagi anak remaja. Nilai Rendy terus menurun, ia lebih sering menghabiskan waktunya buat bermain atau menonton di kamarnya.” Bu Diana tampak menghela napas.

“Tenang saja, bu. Saya akan berusaha untuk membuatnya belajar. Saya yakin, nilai Rendy pasti akan segera membaik.”

“Bagus. Kinerjamu akan dinilai lewat nilai-nilai ujian semester mereka Juni ini.”

“Berarti, 5 bulan dari sekarang?”

“Benar. Tunggu sebentar ya, Erina? Ibu akan memanggil Rendy dulu.”

Rendy
Aku mengangguk menyetujui. Bu Diana lalu beranjak pergi ke lantai atas. Tak lama kemudian, Bu Diana turun beserta seorang anak laki-laki. Wajah anak itu tidak bisa dibilang tampan, menurutku. Tubuhnya kurus dan termasuk tinggi untuk anak seusianya, bahkan lebih tinggi dariku. Tapi mukanya yang tampak masam saat melihatku yang duduk di hadapannya, dari wajahnya sudah terlihat ia seorang yang nakal dan bermasalah.

“Ayo, beri salam ke Kak Erina! Mulai hari ini dia yang akan menjadi guru privatmu!”

“Rendy.” Anak itu tampak acuh dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman denganku.

“Erina, salam kenal!” Aku berusaha tersenyum sambil membalas uluran tangannya.

“Baiklah, ayo antar kak Erina ke kamarmu dan mulai belajar!” perintah bu Diana, yang hanya dijawab oleh gerutuan dari Rendy. Aku tersenyum dan mengikuti Rendy ke kamarnya. Sejak hari itu, aku mulai mengajari Rendy sebagai guru privatnya.

Hari demi hari berlalu. Tidak terasa, sudah 3 bulan berlalu sejak hari itu. Tiap hari Senin hingga Jumat sore, aku terus mengajari Rendy sebagai guru privatnya secara rutin. Lama-lama aku pun semakin mengenal Rendy. Rendy sering bergaul dengan teman-temannya, namun sayangnya Rendy salah memilih pergaulan. Ia bergaul dengan anak-anak nakal di sekolahnya. Aku pernah melihat teman-temannya yang nakal itu, mereka selalu saja mengajak Rendy untuk membolos saat aku mengajar, yang seringkali dituruti olehnya, belum lagi sikap mereka yang menurutku tidak sopan maupun cara mereka bergaul yang lebih condong ke arah pergaulan bebas. Aku selalu bersabar mengajari Rendy, tapi anak itu benar-benar bandel. Setiap kali aku mengajarinya, ia hanya mengacuhkanku ataupun bengong melamun. Semua tugas yang kuminta untuk dikerjakan tidak pernah disentuhnya sama sekali. Parahnya lagi, tidak jarang kulihat kepingan DVD porno yang disembunyikannya dibawah kasurnya. Aku tidak pernah menghiraukan hal itu, karena tugasku di sini adalah untuk mengajarinya bahan pelajaran, bukan untuk menceramahinya. Mungkin karena pengaruh DVD itu dan pergaulannya, dia juga sering menggodaku untuk menjadi pacarnya. Aku memang masih single, tapi pacaran dengan anak dibawah umur? Tak pernah sama sekali terlintas di benakku untuk melakukan hal itu, apalagi Rendy adalah muridku.

Sering aku nyaris kehilangan kesabaran karena ulah Rendy, namun aku selalu teringat akan janjiku pada bu Diana untuk memperbaiki nilai Rendy dan mengingat biaya yang dikeluarkan bu Diana untuk membayarku, sudah cukup untuk membuatku selalu tegar menghadapi kebandelan Rendy. Namun seberapapun aku berusaha menahan kesabaranku, rupanya kesabaran bu Diana mulai habis. Suatu hari, ia memanggilku saat aku mengajar Rendy.

“Erina, saya pikir kamu sudah tahu kalau nilai Rendy selama ini sama sekali tidak membaik.” Ujarnya agak keras

“Maaf, bu. Saya sudah berusaha, tapi Rendy..”

“Saya tidak mau mendengar alasan, Erina. Kamu tahu berapa gajimu setiap bulan bukan? Saya berharap pengeluaran itu setimpal dengan hasil yang kamu berikan. Tapi kalau begini hasilnya, saya benar-benar kecewa..” ujarnya dengan nada agak ketus

“Tapi..”

“Begini saja. Saya akan tetap berpegang pada janji saya untuk menilaimu lewat hasil Rendy pada semester ini. Kalau nilainya masih juga belum membaik, saya terpaksa mencari pembimbing yang lebih mampu.”

“Tapi bu..” aku berusaha memberi argumen dengan Bu Diana.

“Sudahlah Erina, saya harus pergi ke studio sekarang! Saya harap, kamu bisa memperbaiki nilai Rendy secepat mungkin!” tegas bu Diana sambil berlalu pergi keluar dari rumahnya.

Kata-kata bu Diana benar-benar membuatku mulai patah arang. Bagaimana cara menggerakkan anak sebandel itu untuk belajar? Yang kutahu ia hanya tertarik dengan game PlayStation dan koleksi film miliknya, baginya memegang buku pelajaran pasti lebih susah daripada berenang melintasi samudra! Rasa putus asa menyelimutiku saat aku membayangkan bagaimana membiayai kuliahku apabila bu Diana meberhentikanku. Dengan lesu, aku kembali ke kamar Rendy untuk mengajar. Namun, sesampainya di kamar, aku melihatnya tertawa terbahak-bahak saat aku memasuki kamarnya.

“Apa yang lucu?!” ketusku dengan muka masam.

“Mau dipecat ya, Kak? Kasihaan deeeh!” ejeknya sambil tertawa.

Mendengar ejekan Rendy sudah lebih dari cukup untuk membuat amarahku yang sudah lama terpendam, meledak seketika.

“Kamu maunya apa sih?! Kakak sudah memberimu penjelasan dan latihan-latihan, tapi sama sekali tak digubris!! Bagaimana nilaimu bisa bagus kalau kamu tidak pernah belajar!! Setiap hari yang kamu tahu cuma main game atau bengong saja!!” bentakku pada Rendy. Aku benar-benar merasa marah dan dipermainkan oleh anak itu. Tapi Rendy hanya tersenyum mendengar bentakanku itu.

“Oke deh, kalau Kakak maunya begitu. Rendy akan minta Mami untuk mencari guru baru. Kakak cari saja murid yang mau menurut!!” Ujarnya dengan sombong.

Seketika itu juga aku ambruk ke lantai, air mataku menetes karena putus asa. Aku sudah harus membayar biaya kuliahku bulan depan yang rencananya akan kubayar dengan gajiku bulan ini. Apabila aku diberhentikan sekarang, bagaimana caraku untuk membayar uang itu? Tidak mungkin meminta kiriman uang dari keluargaku, aku tidak memiliki kerabat di Jakarta dan lagipula mana mungkin teman-temanku mau meminjamkan uang untuk mahasiswi miskin sepertiku ini? Sebenarnya banyak mahasiswa yang tertarik padaku dan mau menjadi pacarku. Bisa saja aku meminjam uang dari mereka, namun aku tak mau kalau harus berhutang budi pada mereka, bisa saja itu menjadi alasan mereka untuk memaksaku menjadi pacar mereka. Pikiran bahwa aku harus berhenti kuliah membuatku galau dan putus asa. Aku pun menangis terisak di hadapan Rendy.

“Waah, malah nangis.. Dasar cengeng!” ejek Rendy saat melihatku menangis, namun itu tidak menghentikan isak tangisku.

“Oke, oke. Aku mau belajar, tapi kakak harus menuruti permintaanku, Oke?!” Rendy mulai membujukku.

“A..apa yang kamu mau?!” jawabku sambil terisak.

“Pertama, kakak berdiri dulu ya?” Rendy memegang tanganku dan membantuku berdiri. Aku pun segera beranjak bangun. Kulihat mata Rendy tampak menggerayangi lekuk tubuhku. Ia lalu berjalan berputar-putar mengelilingiku. Aku pun mulai risau melihat gelagat anak itu.

“Sudah! Jangan putar-putar melulu! Kepala kakak pusing tahu!! Kamu maunya apa sih?!” bentakku tidak sabaran.

“Kak, Rendy penasaran deh..” ungkap Rendy.

“Apanya?!”

“Kakak itu cewek kan?”

“Lalu kenapa? Bukannya sudah jelas kan?!” jawabku kesal.

“Kalau begitu, kakak punya memek juga doong..” balas Rendy dengan nada mengejek.

“Rendy penasaran nih.. Memek kakak mirip nggak ya, dengan memek cewek-cewek yang sering kulihat di film-film porno?” sambungnya dengan santai.

Oh, astaga! Bagai tersambar petir, aku benar-benar marah mendengar ucapan Rendy itu. Moral anak ini benar-benar sudah hancur sama sekali!! Bagaimana bisa dia menanyakan hal seperti itu didepan seorang gadis dengan santainya? Anak ini benar-benar sudah kelewat batas!

PLAAK.. Tanpa sadar kutampar pipi kiri Rendy hingga anak itu terjatuh ke lantai. Rendy pun merintih kesakitan.

“Aduh, sakiit..” rintihnya pelan.

Ya ampun! Apa yang telah kulakukan? Sesaat aku sontak tersadar, namun sudah terlambat. Tamparanku sudah keburu mendarat di pipi Rendy. Melihat Rendy yang terjatuh, aku pun merasa semakin panik. Segera kuhampiri Rendy yang masih merintih di lantai.

“Rendy, Rendy! Kamu nggak apa-apa kan?! Maaf ya, kakak tak sengaja. Maaf..” tanyaku cemas.

Aku berusaha menggenggam tangan Rendy, namun ia segera menepis tanganku.

“Pergi sana! Rendy akan laporkan kakak ke Mami!! Biar nanti kakak dituntut ke polisi!!” teriaknya.

“Rendy.. Kakak minta maaf ya? Kakak benar-benar tak sengaja..” aku benar-benar panik mendengar ancaman Rendy, yang sangat mungkin menjadi kenyataan mengingat keluarganya yang cukup terpandang.

“Nggak mau! Pergi sana!! Tunggu saja sampai Mami pulang, Kakak pasti kulaporkan!” ancam Rendy sekali lagi. Rendy segera beranjak, hendak keluar dari kamarnya.

Aku benar-benar putus asa dan kebingungan. Masalah yang datang menghampiriku silih berganti. Bagaimana ini? Sebelumnya, ancaman pemecatanku sudah diambang mata dan sekarang malah aku terancam dituntut oleh keluarga kaya ini. Pikiranku pun mulai buntu dan tanpa pikir panjang lagi, kutarik tangan Rendy untuk mencegahnya keluar kamar.

“Tunggu Rendy!! Kakak akan menuruti permintaan Rendy! Apapun! Tapi tolong jangan laporkan kakak ke bu Diana!” bujukku pada Rendy.

Langkah kaki Rendy terhenti sebentar. Rendy lalu melirik melihatku.

“Benar nih? Kakak nggak bohong kan?” tanyanya tidak percaya.

“Iya, iya! Kakak janji! Tapi cuma sekali ini saja ya!” jawabku putus asa.

“Oke deh kalau begitu. Rendy mau lihat memek kakak sekarang.” Perintahnya padaku.

“Tapi cuma lihat saja ya! Jangan macam-macam!”

“Iya, deeh..” jawab Rendy puas.

Aku lalu berdiri di depan Rendy, perlahan-lahan kunaikkan rok putihku yang selutut di hadapan anak itu. hingga akhirnya rokku mencapai pinggul, menampakkan pahaku dan celana dalam pink berendaku dengan jelas. Rendy tampak takjub saat melihat celana dalamku yang masih menutupi selangkanganku.

“Tunggu Kak! Jangan bergerak dulu!” perintah Rendy mendadak. Aku pun tak punya pilihan lain selain memamerkan celana dalamku di hadapan Rendy.

Perasaanku campur aduk saat melihat mata Rendy yang tampak berbinar-binar takjub melihat celana dalamku. Aku pun bisa mendengarnya menelan ludah. Pasti ini pengalaman pertamanya melihat celana dalam seorang gadis yang asli. Kurasa selama ini dia hanya melihat celana dalam wanita lewat film pornonya saja. Ia tampak gugup sekaligus senang melihat celana dalamku. Sementara jantungku berdegup kencang sekali saat mengingat seorang anak ABG sedang mengamati celana dalamku dengan seksama. Wajahku sekarang pasti sudah lebih merah dari buah tomat yang matang karena malu. Rendy menoleh sejenak ke belakang sambil menghela nafas. Kurasa ia juga amat gugup karena dari tadi mengamati celana dalamku tepat di depan wajahnya. Tapi, ia segera kembali menoleh melihat celana dalamku dan kali ini kulihat sorot matanya yang secara khusus mengamati bayangan vaginaku dibalik celana dalamku. Sorot matanya yang mengamati dengan seksama memberiku sensasi yang aneh. Belum pernah kulihat sorot matanya seserius itu.

Semakin lama, kepalanya semakin maju hingga memasuki rokku dan tampaknya ia benar-benar menikmati saat mengamati celana dalamku. Aku dapat merasakan dengan sangat jelas detak jantungku yang berdegup semakin kencang. Aku merasa bingung mengapa jantungku bisa berdetak sekencang itu hanya karena Rendy sedang mengamati celana dalamku? Aduuh.. andai saja aku tidak menamparnya tadi, sesalku dalam hati.

“Rendy, sudah ya.. Kakak sudah capek nih..” bujukku pada Rendy.

“Belum kak. Kakak masih belum menepati janji kakak!” protesnya padaku.

“Apa lagi, sih, Rendy?!”

“Aku mau melihat memek kakak! Bukannya tadi kakak berjanji untuk menuruti keinginanku? Ayo, buka celana dalamnya dong kak!” pintanya padaku.

“Tapi.. tapi..” aku berusaha mencari alasan untuk menolak permintaan Rendy, namun pikiranku buntu sama sekali. Memang benar tadi Rendy sempat berkata bahwa ia ingin melihat kewanitaanku. Tapi bagaimanapun, aku merasa amat keberatan kalau seorang anak kecil melihat vaginaku yang selalu kujaga baik-baik untuk suamiku di masa depan.

“Ayo, kak! Kalau tidak aku akan melaporkan kakak ke Mami lho!!” ancamnya sekali lagi. Aku sadar, aku tidak mungkin meloloskan diri dari permintaan Rendy.

“Iya deh! Tapi cuma sebentar saja ya!” gerutuku. Saat mendengar kata ‘melapor ke Mami’, aku sudah kalah telak tanpa bisa membantah atau menolak permintaan anak ini.

“Oke deh!!” serunya dengan riang setelah mendapat izin dariku.

Tanpa menunggu lama, ia segera melorotkan kedua sisi celana dalamku dan menurunkan celana dalamku hingga celana dalamku tergulung di pahaku. Sekarang, tanpa pelindung apapun, kewanitaanku terpampang jelas dihadapan Rendy yang kini mengalihkan perhatiannya ke vaginaku. Pikiran dalam hatiku berkecamuk. Apa yang sebenarnya kulakukan? Bukankah bu Diana membayarku untuk mengajar les privat anaknya? Namun kenyataannya sekarang, celana dalamku sudah ditarik turun oleh muridku sendiri yang kini sedang sibuk mengamati kewanitaanku. Kalau bu Diana mengetahui hal ini, aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya padaku. Paling tidak aku agak beruntung karena bu Diana tidak berada di rumah saat ini, jadi aku tidak perlu khawatir akan kepergok olehnya.

“Waah, beda sekali dengan memek cewek-cewek di film porno. Memek kakak bersih ya! Nggak ada rambut-rambutnya!” puji Rendy padaku.

Tentu saja! Aku paling menjaga dan merawat daerah kewanitaanku sebaik mungkin. Aku selalu teratur membersihkan vaginaku dan mencukur rambut kemaluanku. Mana mungkin vaginaku disamakan dengan vagina para perempuan di video porno yang pasti tidak dirawat dengan teratur! Pikirku kesal.

“Hei, Rendy. Sudah cukup ya?” pintaku pada Rendy.

“Sebentar lagi, ya. Kak!”

Ampuun! Aku benar-benar terjebak! Memamerkan kewanitaanku di depan anak SMP sudah lebih dari cukup untuk membuatku malu seumur hidup! Aku tak berani membayangkan kalau ada orang yang melihat hal ini. Badanku terasa panas dan keringatku mulai mengucur deras hanya karena kewanitaanku diamati oleh Rendy. Apalagi mengingat kalau aku seharusnya mengajarinya dalam pelajaran, bukan malah memberinya tontonan yang tidak pantas seperti ini.

“Waah.. kok memek kakak makin lama makin basah sih?!” tanya Rendy tiba-tiba.

“Ah.. Eh?!” mendadak aku tersadar dari lamunanku, saat itulah aku baru menyadari kalau jari telunjuk Rendy sudah menyentuh bibir vaginaku. Ujung jari Rendy sudah mulai masuk sedikit ke dalam liang vaginaku dan mulai menggosok-gosok bibir vaginaku yang sudah basah karena luapan cairan cintaku tanpa sadar.

“AAH!!! Hei!! Hentikan, Rendy!!!” aku benar-benar panik melihat jari Rendy di vaginaku itu. Aku takut kalau keperawananku malah terenggut oleh jari-jari Rendy. Namun Rendy tidak berhenti.

“Rendy! Sudah cukup, hei!! Bukannya kamu berjanji hanya melihat saja?!” protesku pada Rendy.

“Aargh! Berisik! Diam saja! Kalau tidak, kutusukkan jariku kedalam memek kakak dalam-dalam, mengerti?!” bentak Rendy padaku.

Aku benar-benar takut. Rendy memang memegang kendali saat ini, apalagi dengan jarinya yang masih sibuk memainkan bibir vaginaku, mudah saja baginya untuk memperawaniku dengan jarinya. Aku berpikir daripada aku diperawani jari-jari Rendy, mungkin lebih baik kalau aku menuruti kemauannya. Aku kembali menangis terisak, namun Rendy tidak menghiraukan tangisanku, ia malah menggosok-gosokkan jarinya di sela vaginaku dengan pelan. Saat itulah aku tersentak sesaat merasakan kenikmatan gosokan jari Rendy di vaginaku. Jujur saja, ini merupakan pengalaman pertama bagiku merasakan kenikmatan seperti itu karena aku tidak pernah beronani sebelumnya. Aku pun merasa tenagaku untuk berontak lenyap seketika.

“Ah.. ohh.. aakh..” tanpa sadar, aku mendesah nikmat karena gosokan jari Rendy.

“Ada apa, Kak?!” tanya Rendy padaku.

“Aahh.. hentikan.. Rendy.. jangan.. auuch..” Suaraku sudah mulai bercampur dengan lenguhanku.

“Lho, kok kakak mau berhenti? Bukannya rasanya enak Kak?” balasnya setengah mengejek.

“Eegh.. itu.. itu..” tanpa sadar, aku pun melepaskan rokku yang dari tadi kupegang, tapi Rendy segera menyibakkan rokku kembali.

Rendy terus mengamati wajahku untuk melihat reaksiku, aku berusaha tidak menatap wajahnya, walaupun sesekali dapat kulihat ia tersenyum dengan reaksiku. Badanku terasa limbung ke belakang, tempat meja belajar Rendy berada. Aku pun menyandarkan diri di meja belajar itu dan kedua tanganku memegang bibir meja itu agar aku tidak jatuh. Rendy sekarang memegangi rokku dan menekannya di perutku, sehingga rokku tersibak dan vaginaku terpampang semakin jelas.

“Nah, kita mulai sekarang ya, Kak?” ujarnya padaku dan ia mulai mempercepat gosokannya di bibir dan celah-celah vaginaku. Aku pun tidak lagi menolak. Lagipula, aku tidak ingin Rendy menghentikan aktivitasnya saat ini, aku sudah terlanjur dikuasai kenikmatan yang melanda tubuhku

“Ouchhh.. aahh.. aahhh..” desahku menahan kenikmatan di vaginaku, akal sehatku sudah lenyap dan aku sepenuhnya dikuasai oleh kenikmatan di kewanitaanku. Entah mengapa, fakta bahwa yang mengocok vaginaku adalah muridku sendiri yang masih SMP malah membuatku semakin bernafsu.

“Aduuh.. aw.. aw.. aww..” rintihan-rintihan kenikmatan keluar dari mulutku setelah 3 menit berlalu sejak bibir kewanitaanku dilayani oleh jari-jari Rendy. Aku pun sudah tidak tahan lagi, aku merasa akan segera mencapai orgasmeku untuk pertama kalinya. Namun, tiba-tiba terdengar suara decitan mobil di halaman rumah. Bu Diana telah pulang! Aku dan Rendy segera menghentikan aktifitas kami, dan aku segera merapikan celana dalam dan rokku kembali. Kami lalu bergegas kembali ke meja belajar untuk melanjutkan les. Walaupun aku merasa agak kecewa karena nyaris saja mencapai orgasme, namun aku tetap melanjutkan mengajari Rendy walaupun suasana hatiku amat galau saat itu. Akhirnya aku pun selesai mengajar Rendy hari itu. tapi harus kuakui, Rendy tampak lebih bersemangat menyimak penjelasanku sehabis kejadian itu. Hanya saja aku tampak kacau karena banyak hal yang terjadi hari itu. Tapi bagaimanapun aku juga masih bersyukur karena selaput daraku tidak sampai robek akibat ulah Rendy tadi.

Sebelum pulang, Rendy sempat meminjam Handphoneku. Alasannya, ia mau mengirimkan lagu-lagu baru untukku, aku pun hanya mengiyakan saja permintaan Rendy itu. Setelah Rendy mengembalikan Handphoneku, aku pun segera pamit kepada bu Diana dan kemudian pulang ke tempat kosku. Aku berharap semua kejadian hari ini hanyalah mimpi buruk semata.

Esok harinya, aku pun terbangun dalam keadaan galau. Semalaman aku mencoba tidur, namun di kepalaku selalu terbayang kejadian kemarin sore di rumah bu Diana. Akibatnya, bisa ditebak, aku benar-benar merasa amat letih dan lesu. Aku pun mencoba menyetel lagu yang kemarin diberikan Rendy padaku untuk mempercerah suasana. Aku lalu membuka handphoneku untuk mendengarkan lagu. Tapi aku tidak menemukan satupun file musik baru di handphoneku, malahan, lagu-lagu koleksiku banyak yang terhapus. Penasaran, aku pun memeriksa isi handphoneku. Sekarang, di bagian video, malah ada sebuah video yang berukuran ekstra besar. Penasaran dengan video di handphoneku, aku pun mulai memutar video itu. Astaga! Aku benar-benar terkejut setengah mati saat melihat diriku yang sedang memamerkan celana dalam di hadapan Rendy terekam di video itu dan bagaimana Rendy memainkan jari-jarinya di vaginaku juga terlihat dengan amat jelas dari arah samping. Saat itulah aku baru ingat bahwa saat aku memamerkan selangkanganku, sebuah handycam milik Rendy tergeletak di ranjangnya yang ada di samping meja belajarnya. Berarti, Rendy secara diam-diam berhasil merekam adegan mesumku! Tidak terbayang bagaimana perasaanku saat itu. Rasa letih d an lesu yang menyerangku dari pagi kini ditambah dengan perasaan cemas dan takut kalau video itu disebarluaskan, apalagi wajahku tampak jelas di video itu. Aku bingung, apa yang harus kulakukan? Bagaimana apabila video itu sudah disebarluaskan? Aku pasti diberhentikan dari universitas. Parahnya lagi, aku pasti akan dianggap sebagai perempuan rendahan oleh masyarakat. Bagaimana caraku menjelaskan pada keluargaku tentang video itu? Bayangan-bayangan itu terus berkecamuk didalam pikiranku selama seharian penuh. Walaupun begitu, sore harinya aku kembali berangkat menuju rumah bu Diana untuk mengajari Rendy. Saat aku datang, bu Diana masih belum pulang karena harus menyelesaikan proyek di studionya. Aku pun segera menemui Rendy untuk menyelesaikan masalah ini. Kebetulan, Rendy yang membukakan pintu untukku. Seolah ia sudah lama menunggu kedatanganku.

“Halo, Kak Erina. Bagaimana, video klip lagunya bagus tidak?” tanyanya dengan nada mengejek.

“Rendy, kenapa kamu sejahat itu dengan kakak?! Buat apa kamu merekam video beginian sih?! Belum cukup kamu mempermainkan kakak kemarin?!!” jawabku dengan perasaan kesal bercampur cemas.

“Waah, kenapa Rendy dibilang mempermainkan kakak? Bukannya kemarin kakak terlihat nyaman saat aku layani?” Mata Rendy tampak semakin merendahkanku.

“Sudahlah! Mana videonya? Cepat berikan ke kakak!!” perintahku.

“Tenang saja kak, videonya Rendy simpan dengan baik kok. Jadi kakak tenang saja!”

Aku mengepalkan tanganku, menahan berbagai macam emosi yang bergejolak di dalam hatiku. Nyaris aku kembali menangis karena rasa cemas yang semakin kuat mencengkeram diriku, namun aku berusaha mengendalikan diri. Aku sadar aku tidak bisa mengambil jalan kekerasan untuk menghadapi Rendy, karena malah akan membuat masalahku tambah runyam.

“Oh iya, Rendy juga belum memperlihatkan videonya ke orang lain. Waah, sayang sekali ya kak? Padahal videonya bagus kan?” lanjutnya.

Mendengar pernyataan Rendy itu, aku merasa melihat secercah cahaya dan harapanku sedikit pulih. Namun masih saja aku merasa tegang dan cemas. Aku pun berusaha membujuk Rendy untuk menyerahkan video itu padaku.

“Rendy, kakak mohon.. berikan video itu ke kakak, ya? Tolong jangan sakiti kakak lagi..” aku memohon meminta belas kasihan pada Rendy.

“Hmm.. kalau begitu, kakak harus mau menuruti perintahku lagi, aku berjanji akan memberikan videonya ke kakak.”

“Kakak mohon, Rendy.. Jangan lagi..” air mataku kembali mengucur saat mendengar syarat yang diajukan Rendy. Berarti aku harus kembali merendahkan diriku dihadapannya.

“Kakak mau atau tidak?! Kalau tidak, ya sudah! Kakak bisa melihat videonya di internet besok pagi.” Ketusnya tanpa menghiraukan perasaanku.

Aku pun tidak punya pilihan lain, selain menuruti kemauan Rendy. Tampaknya percuma saja aku berusaha meminta belas kasihan anak ini. Yang ada di pikirannya saat ini pasti hanyalah keinginan untuk mempermainkan diriku sekali lagi. Terpaksa aku harus melayani permintaannya lagi agar video itu kudapatkan.

“Baiklah, kakak mengerti.. Kakak akan menuruti perintahmu, tapi kamu harus berjanji akan memberikan video itu ke kakak!” jawabku memberi persetujuan.

“Beres, Kak!” Kali ini Rendy tampak girang sekali saat mendengar kalimat persetujuanku itu.

“Nah, sekarang apa yang kamu mau?!” Tanyaku tidak sabaran

“Tunggu sebentar dong Kak.. Jangan buru-buru! Kalau sekarang pasti cuma sebentar karena Mami sebentar lagi pulang.”

“Lalu, kamu maunya kapan?”

“Nah, kebetulan 2 hari lagi Mami akan berangkat ke luar negeri, soalnya Mami akan memperagakan busana pengantin buatannya di pameran.”

“Lalu kenapa?”

“Kebetulan minggu depan ada ulangan yang penting, jadi aku boleh tinggal di rumah ini sampai mami pulang. Selama itu, aku mau kakak untuk tinggal bersamaku di rumah, sambil mengajariku! Bagaimana? Kita bisa bersenang-senang sampai puas kan, Kak?”

“Memangnya sampai kapan bu Diana ada di luar negeri?” tanyaku kembali.

“Yaah, karena Mami juga mau ketemu Papi di Jerman, makanya Mami tinggal di sana selama 2 minggu.”

“Tapi apa bu Diana akan mengizinkan kakak untuk tinggal disini?”

“Tenang saja, kak! Biar nanti Rendy yang bicara dengan Mami.” Ujarnya meyakinkanku.

Aku menghela nafas sejenak sambil berpikir menimbang-nimbang permintaan Rendy. Sebenarnya aku tidak begitu rugi apabila aku menginap di rumah bu Diana. Aku bisa menghemat uang kosku selama setengah bulan kalau aku menginap di rumah bu Diana. Lagipula aku akan lebih bisa mengawasi Rendy untuk belajar menghadapi ujian semesternya yang kian mendekat, dengan begitu, aku bisa mendapat kesempatan untuk mengamankan pekerjaanku. Sebenarnya yang perlu kulakukan hanyalah memastikan kalau Rendy tidak “mengerjaiku” lebih parah dari kemarin.

“Baiklah, kakak setuju. Tapi kamu juga harus berjanji, kamu harus belajar yang rajin selama kakak tinggal di rumahmu.” Anggukku sambil memberinya penawaran.

“Berees, kak! Asal kakak mau menurutiku selama itu, aku pasti belajar!” jawabnya dengan bersemangat.

“Iya, iya..” balasku dengan perasaan agak lega.

Kami lalu segera beranjak ke kamar Rendy dan aku pun mulai mengajarinya. Tapi hari ini ada yang berbeda dari Rendy. Ia tampak lebih serius dan bersemangat dalam menyimak penjelasanku. Kurasa dia sudah cukup senang saat mendengar aku akan menginap di rumahnya 2 hari lagi. Tak lama kemudian, kudengar suara bu Diana di lantai bawah.

“Nah, Mami sudah pulang! Kakak tunggu sebentar ya! Aku mau bicara dulu dengan Mami!”

Rendy segera beranjak dari kursinya dan keluar dari kamarnya tanpa menghiraukanku. Sayup-sayup kudengar suara percakapan Rendy dengan bu Diana, namun aku tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan. Sambil menunggu Rendy, aku mempersiapkan soal-soal latihan yang akan kuberikan untuknya nanti. Sekitar 5 menit kemudian, Rendy kembali ke kamarnya bersama bu Diana.

“Halo, Erina. Rendy meminta saya untuk mengizinkanmu tinggal di rumah ini selama saya tidak di rumah.”

“Eh? I.. iya, bu Diana! Rendy memberitahu saya kalau ia ingin mendapat les tambahan dari saya selama bu Diana tidak dirumah.. Katanya.. untuk persiapan ujian semester..” ujarku dengan agak gugup.

“Wah, kebetulan sekali kalau begitu! Soalnya tante Rendy juga akan ikut ke Jerman. Makanya tadi saya sempat mengajak Rendy untuk ikut. Tapi karena ada ulangannya yang penting, Saya jadi ragu-ragu.”

“Jadi?” tanyaku

“Kalau kamu mau, Saya memperbolehkan kamu tinggal disini selama saya tidak dirumah. Tapi saya juga meminta kamu untuk mengurus Rendy selama itu. Sebagai gantinya, saya akan berikan tambahan bonus untukmu di akhir bulan ini. Bagaimana?” Jawab bu Diana memberikan tawaran.

“Baik, bu Diana. Saya setuju!” anggukku sambil tersenyum. Sekarang aku mendapat tambahan keuntungan dengan menerima tawaran Rendy. Dengan bonus yang disediakan bu Diana dan penghematan uang kosku selama setengah bulan, aku bisa menambah uang tabunganku sekaligus membiayai sebagian keperluanku bulan depan.

“Baguslah! Kalau begitu, Erina, tolong kamu siapkan barang-barangmu yang akan kamu bawa untuk tinggal disini. Lusa nanti saya akan menjemputmu sebelum kamu mengajar Rendy.” Ujar bu Diana.

“Iya, bu Diana!” aku mengiyakan permintaan bu Diana.

Setelah menyelesaikan tugasku hari itu, aku segera bergegas pulang untuk mulai mengemas barang-barangku. Untunglah aku tidak memiliki banyak barang selain pakaian dan perlengkapan-perlengkapan kecil milikku. Aku juga memberitahu pemilik rumah kosku bahwa aku akan pindah selama setengah bulan. Syukurlah mereka mau mengerti dan bersedia menyimpankan kamar bagiku apabila aku kembali.

2 hari kemudian, bu Diana dan Rendy pun datang menjemputku sebelum aku mengajar Rendy. Aku lalu diantar ke rumah mereka. Aku diizinkan untuk tidur di kamar tamu di lantai bawah. Malam harinya, aku diberitahu bu Diana tugas-tugasku di rumah itu selama bu Diana di luar negeri. Aku diminta untuk mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci dan membersihkan rumah. Aku sudah terbiasa memasak dan mencuci sendiri sejak kecil, maka tugas ini tidak lagi sesulit yang kubayangkan. Lagipula untuk keperluan sehari-hari, bu Diana sudah menyuruh anak buahnya untuk mengantar bahan makanan dan supir studio untuk mengantar-jemput kami. Apabila ada hal lainnya yang diperlukan, aku hanya perlu menelepon studio untuk meminta bantuan mereka. Esok harinya, bu Diana sudah berangkat saat aku pulang dari kuliah. Sehingga hanya ada aku dan Rendy sendiri di rumah. Aku segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Seusai mandi, aku benar-benar terkejut saat melihat semua pakaian milikku menghilang. Hanya ada satu pelaku yang dapat melakukan hal ini! Aku lalu menutupi tubuhku dengan selembar handuk yang untungnya, tidak sempat diambil oleh “pencuri” itu. Aku segera naik ke lantai atas untuk mengambil kembali pakaian milikku.

“Rendy! Reendyy!! Buka pintunya!” Seruku sambil menggedor kamar Rendy. Pintu kamar itu sedikit dibuka dan wajah Rendy muncul dari sela-sela pintu kamar itu.

“Ya, ada apa kak?!” tanyanya padaku. Namun matanya segera melirik tubuhku yang hanya berbalutkan sebuah handuk dan ia tersenyum cengengesan melihat keadaanku.

“Wah, waah.. Kakak sudah tidak sabaran ya?” tanyanya sambil tertawa kecil.

“Huuh! Dasar usiil!! Ayo, kembalikan baju kakak!!” gerutuku.

“Lhooo.. memangnya baju kakak kuambil? Apa ada buktinya?”

“Kalau bukan kamu siapa lagii? Sudah, ayo cepat kembalikan baju kakak!”

“Kak, kalau menuduh orang tanpa bukti itu tidak baik lho! Hukumannya, aku tidak mau memberitahu dimana kusembunyikan baju kakak, Hehehe..” Rendy tersenyum mengejekku dan menutup dan mengunci pintu kamarnya dihadapanku.

“Aah! Hei, Rendy! Tunggu duluu..” protesku, tapi Rendy sudah keburu menutup pintu kamarnya sambil mengejekku dibalik pintu.

Aku pun terpaksa menggigil kedinginan, suhu di rumah itu dingin sekali karena dipasangi AC, ditambah lagi aku baru saja mandi dan sekarang tubuhku hanya ditutupi oleh selembar handuk saja. Selama beberapa menit aku terus menggedor pintu kamar Rendy dan berusaha membujuknya, namun ia sama sekali tidak menggubrisku.

“HATSYII..!!!” Karena tidak biasa, aku pun bersin akibat pilek karena suhu dingin itu.

“Kak! Kakak pilek, ya?” tiba-tiba terdengar suara Rendy dari balik pintu.

“I.. iya.. Rendy, tolong… kembalikan pakaian kakak.. disini dingin sekali.. kakak tidak tahan..”

“Oke deh, tapi kakak harus mau memakai pakaian yang kuberikan ya!”

“Iya.. iya.. cepat doong… Kakak kedinginan disini..” pintaku pada Rendy

Rendy kembali keluar dari kamarnya. Ia melihat sekujur tubuhku yang menggigil kedinginan. Anehnya, raut wajahnya tampak berubah, ia tidak lagi tampak senang ataupun puas mengerjaiku. Kini ia tampak agak gelisah.

“Haa.. HATSYII!!!” kembali aku bersin dihadapannya. Kulihat raut wajahnya semakin cemas saja melihat keadaanku.

“Ayo Kak, ikut denganku!” pinta Rendy padaku yang segera kuturuti saja.

Rendy menuntunku ke ruang disebelah kamarnya. Pintu ruang itu dikunci, namun Rendy segera membuka pintu itu dengan sebuah kunci di tangannya. Begitu aku masuk, aku takjub melihat puluhan helai gaun pengantin putih dalam berbagai ukuran dan model yang tergantung rapi di kamar itu. Berbagai aksesoris pengantin wanita juga tertata rapi bersama gaun-gaun itu. Rupanya kamar itu adalah kamar desain bu Diana sekaligus tempatnya menyimpan hasil rancangannya yang belum dikirim ke studio.

“Kak, aku minta kakak memakai baju itu.” ujar Rendy seraya menunjuk ke arah sehelai gaun pengantin putih yang dipasang di sebuah mannequin.

“Apaa?! Kenapa kakak harus memakai baju seperti itu? Memangnya kakak mau menikah, apa?!” jawabku setengah tak percaya, setengah kebingungan.

“Ya, sudah! Kalau kakak tidak mau, kakak boleh memakai handuk itu saja kok!” balas Rendy.

“Iyaa! Dasar!! Kamu mintanya yang aneh-aneh saja!!” ujarku agak kesal. Terpaksa kuturuti permintaan Rendy, daripada pilekku semakin parah.

“Oh iya Kak!”

“Apa lagii?”

“Pakaiannya yang lengkap ya, Kak! Soalnya baju itu sudah 1 set dengan aksesorisnya!” pinta Rendy.

“Jangan lupa juga untuk merias diri dengan kosmetik Mami ya Kak! Sudah kusiapkan lhoo..” imbuhnya.

Aku menghela nafas sejenak sambil berpikir menimbang-nimbang permintaan Rendy. Sebenarnya aku tidak begitu rugi apabila aku menginap di rumah bu Diana. Aku bisa menghemat uang kosku selama setengah bulan kalau aku menginap di rumah bu Diana. Lagipula aku akan lebih bisa mengawasi Rendy untuk belajar menghadapi ujian semesternya yang kian mendekat, dengan begitu, aku bisa mendapat kesempatan untuk mengamankan pekerjaanku. Sebenarnya yang perlu kulakukan hanyalah memastikan kalau Rendy tidak “mengerjaiku” lebih parah dari kemarin.

“Baiklah, kakak setuju. Tapi kamu juga harus berjanji, kamu harus belajar yang rajin selama kakak tinggal di rumahmu.” Anggukku sambil memberinya penawaran.

“Berees, kak! Asal kakak mau menurutiku selama itu, aku pasti belajar!” jawabnya dengan bersemangat.

“Iya, iya..” balasku dengan perasaan agak lega.

Kami lalu segera beranjak ke kamar Rendy dan aku pun mulai mengajarinya. Tapi hari ini ada yang berbeda dari Rendy. Ia tampak lebih serius dan bersemangat dalam menyimak penjelasanku. Kurasa dia sudah cukup senang saat mendengar aku akan menginap di rumahnya 2 hari lagi. Tak lama kemudian, kudengar suara bu Diana di lantai bawah.

“Nah, Mami sudah pulang! Kakak tunggu sebentar ya! Aku mau bicara dulu dengan Mami!”

Rendy segera beranjak dari kursinya dan keluar dari kamarnya tanpa menghiraukanku. Sayup-sayup kudengar suara percakapan Rendy dengan bu Diana, namun aku tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan. Sambil menunggu Rendy, aku mempersiapkan soal-soal latihan yang akan kuberikan untuknya nanti. Sekitar 5 menit kemudian, Rendy kembali ke kamarnya bersama bu Diana.

“Halo, Erina. Rendy meminta saya untuk mengizinkanmu tinggal di rumah ini selama saya tidak di rumah.”

“Eh? I.. iya, bu Diana! Rendy memberitahu saya kalau ia ingin mendapat les tambahan dari saya selama bu Diana tidak dirumah.. Katanya.. untuk persiapan ujian semester..” ujarku dengan agak gugup.

“Wah, kebetulan sekali kalau begitu! Soalnya tante Rendy juga akan ikut ke Jerman. Makanya tadi saya sempat mengajak Rendy untuk ikut. Tapi karena ada ulangannya yang penting, Saya jadi ragu-ragu.”

“Jadi?” tanyaku

“Kalau kamu mau, Saya memperbolehkan kamu tinggal disini selama saya tidak dirumah. Tapi saya juga meminta kamu untuk mengurus Rendy selama itu. Sebagai gantinya, saya akan berikan tambahan bonus untukmu di akhir bulan ini. Bagaimana?” Jawab bu Diana memberikan tawaran.

“Baik, bu Diana. Saya setuju!” anggukku sambil tersenyum. Sekarang aku mendapat tambahan keuntungan dengan menerima tawaran Rendy. Dengan bonus yang disediakan bu Diana dan penghematan uang kosku selama setengah bulan, aku bisa menambah uang tabunganku sekaligus membiayai sebagian keperluanku bulan depan.

“Baguslah! Kalau begitu, Erina, tolong kamu siapkan barang-barangmu yang akan kamu bawa untuk tinggal disini. Lusa nanti saya akan menjemputmu sebelum kamu mengajar Rendy.” Ujar bu Diana.

“Iya, bu Diana!” aku mengiyakan permintaan bu Diana.

Setelah menyelesaikan tugasku hari itu, aku segera bergegas pulang untuk mulai mengemas barang-barangku. Untunglah aku tidak memiliki banyak barang selain pakaian dan perlengkapan-perlengkapan kecil milikku. Aku juga memberitahu pemilik rumah kosku bahwa aku akan pindah selama setengah bulan. Syukurlah mereka mau mengerti dan bersedia menyimpankan kamar bagiku apabila aku kembali.

2 hari kemudian, bu Diana dan Rendy pun datang menjemputku sebelum aku mengajar Rendy. Aku lalu diantar ke rumah mereka. Aku diizinkan untuk tidur di kamar tamu di lantai bawah. Malam harinya, aku diberitahu bu Diana tugas-tugasku di rumah itu selama bu Diana di luar negeri. Aku diminta untuk mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci dan membersihkan rumah. Aku sudah terbiasa memasak dan mencuci sendiri sejak kecil, maka tugas ini tidak lagi sesulit yang kubayangkan. Lagipula untuk keperluan sehari-hari, bu Diana sudah menyuruh anak buahnya untuk mengantar bahan makanan dan supir studio untuk mengantar-jemput kami. Apabila ada hal lainnya yang diperlukan, aku hanya perlu menelepon studio untuk meminta bantuan mereka. Esok harinya, bu Diana sudah berangkat saat aku pulang dari kuliah. Sehingga hanya ada aku dan Rendy sendiri di rumah. Aku segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Seusai mandi, aku benar-benar terkejut saat melihat semua pakaian milikku menghilang. Hanya ada satu pelaku yang dapat melakukan hal ini! Aku lalu menutupi tubuhku dengan selembar handuk yang untungnya, tidak sempat diambil oleh “pencuri” itu. Aku segera naik ke lantai atas untuk mengambil kembali pakaian milikku.

“Rendy! Reendyy!! Buka pintunya!” Seruku sambil menggedor kamar Rendy. Pintu kamar itu sedikit dibuka dan wajah Rendy muncul dari sela-sela pintu kamar itu.

“Ya, ada apa kak?!” tanyanya padaku. Namun matanya segera melirik tubuhku yang hanya berbalutkan sebuah handuk dan ia tersenyum cengengesan melihat keadaanku.

“Wah, waah.. Kakak sudah tidak sabaran ya?” tanyanya sambil tertawa kecil.

“Huuh! Dasar usiil!! Ayo, kembalikan baju kakak!!” gerutuku.

“Lhooo.. memangnya baju kakak kuambil? Apa ada buktinya?”

“Kalau bukan kamu siapa lagii? Sudah, ayo cepat kembalikan baju kakak!”

“Kak, kalau menuduh orang tanpa bukti itu tidak baik lho! Hukumannya, aku tidak mau memberitahu dimana kusembunyikan baju kakak, Hehehe..” Rendy tersenyum mengejekku dan menutup dan mengunci pintu kamarnya dihadapanku.

“Aah! Hei, Rendy! Tunggu duluu..” protesku, tapi Rendy sudah keburu menutup pintu kamarnya sambil mengejekku dibalik pintu.

Aku pun terpaksa menggigil kedinginan, suhu di rumah itu dingin sekali karena dipasangi AC, ditambah lagi aku baru saja mandi dan sekarang tubuhku hanya ditutupi oleh selembar handuk saja. Selama beberapa menit aku terus menggedor pintu kamar Rendy dan berusaha membujuknya, namun ia sama sekali tidak menggubrisku.

“HATSYII..!!!” Karena tidak biasa, aku pun bersin akibat pilek karena suhu dingin itu.

“Kak! Kakak pilek, ya?” tiba-tiba terdengar suara Rendy dari balik pintu.

“I.. iya.. Rendy, tolong… kembalikan pakaian kakak.. disini dingin sekali.. kakak tidak tahan..”

“Oke deh, tapi kakak harus mau memakai pakaian yang kuberikan ya!”

“Iya.. iya.. cepat doong… Kakak kedinginan disini..” pintaku pada Rendy

Rendy kembali keluar dari kamarnya. Ia melihat sekujur tubuhku yang menggigil kedinginan. Anehnya, raut wajahnya tampak berubah, ia tidak lagi tampak senang ataupun puas mengerjaiku. Kini ia tampak agak gelisah.

“Haa.. HATSYII!!!” kembali aku bersin dihadapannya. Kulihat raut wajahnya semakin cemas saja melihat keadaanku.

“Ayo Kak, ikut denganku!” pinta Rendy padaku yang segera kuturuti saja.

Rendy menuntunku ke ruang disebelah kamarnya. Pintu ruang itu dikunci, namun Rendy segera membuka pintu itu dengan sebuah kunci di tangannya. Begitu aku masuk, aku takjub melihat puluhan helai gaun pengantin putih dalam berbagai ukuran dan model yang tergantung rapi di kamar itu. Berbagai aksesoris pengantin wanita juga tertata rapi bersama gaun-gaun itu. Rupanya kamar itu adalah kamar desain bu Diana sekaligus tempatnya menyimpan hasil rancangannya yang belum dikirim ke studio.

“Kak, aku minta kakak memakai baju itu.” ujar Rendy seraya menunjuk ke arah sehelai gaun pengantin putih yang dipasang di sebuah mannequin.

“Apaa?! Kenapa kakak harus memakai baju seperti itu? Memangnya kakak mau menikah, apa?!” jawabku setengah tak percaya, setengah kebingungan.

“Ya, sudah! Kalau kakak tidak mau, kakak boleh memakai handuk itu saja kok!” balas Rendy.

“Iyaa! Dasar!! Kamu mintanya yang aneh-aneh saja!!” ujarku agak kesal. Terpaksa kuturuti permintaan Rendy, daripada pilekku semakin parah.

“Oh iya Kak!”

“Apa lagii?”

“Pakaiannya yang lengkap ya, Kak! Soalnya baju itu sudah 1 set dengan aksesorisnya!” pinta Rendy.

“Jangan lupa juga untuk merias diri dengan kosmetik Mami ya Kak! Sudah kusiapkan lhoo..” imbuhnya.

Aku menghela nafas dan menutup pintu kamar itu. Memang kulihat gaun itu dilengkapi dengan mahkota, sarung tangan, bahkan stocking dan sepatu yang semuanya berwarna putih susu. Luar biasa! Sejenak aku kagum dengan kepandaian bu Diana dalam merancang gaun itu, komposisi yang disusunnya benar-benar serasi. Aku lalu menuruti perintah Rendy untuk memakai semua pakaian itu dengan lengkap. Berat bagiku memang, karena aku belum pernah memakai gaun pengantin sebelumnya. Setelahnya, aku pun merias diriku dengan kosmetik milik bu Diana. Kulihat semua kosmetik itu buatan luar negeri. Aku sendiri agak canggung untuk memakai kosmetik-kosmetik itu, mengingat harganya yang selangit bagi mahasiswi sepertiku. Tapi setidaknya, aku mendapat sebuah kesempatan untuk mencoba kosmetik-kosmetik itu, maka aku berusaha untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Setelah beberapa lama, aku akhirnya selesai mempengantinkan diriku. Kubuka pintu kamar itu dan seperti yang sudah kuduga, Rendy sedari tadi sudah menungguku di depan pintu. Ia tampak amat terpana melihatku yang berbusana pengantin itu. Busana pengantinku berupa sebuah gaun pengantin putih yang indah sekali. Atasan gaun memiliki sepasang puff bahu yang terikat dengan sepasang sarung tangan satin dengan panjang selengan di kedua tanganku yang kini menutupi jari-jariku yang lentik. Di bagian perut dan dada gaunku bertaburan kristal-kristal imitasi yang samar-samar membentuk sebuah pola hati. Bagian pinggang gaun itu memiliki hiasan kembang-kembang sutra yang melingkari bagian pinggang gaun itu seperti sebuah ikat pinggang yang seolah menghubungkan atasan gaunku dengan rok gaun polos yang dihiasi manik-manik membentuk hiasan bunga-bunga yang bertebaran disekeliling rok gaunku. Pinggulku dipasangi pita putih besar. Aku juga memakaikan rok petticoat di pinggangku agar rok gaunku tampak mengembang. Rendy sendiri tampak kagum melihat cantiknya wajahku yang sudah kurias sendiri; kelopak mataku kurias dengan eye-shadow berwarna pink dan alsiku yang kurapikan dengan eye-pencil. Sementara lipstick yang berwarna pink lembut kupilih untuk melapisi bibirku yang tampak serasi dengan riasan bedak make-upku.

Riasan mahkota bunga putih tampak serasi dengan rambut hitam-sebahuku yang kubiarkan tergerai bebas. Aku telah memasang stocking sutra berwarna putih yang lembut di kakiku yang dilengkapi dengan sepasang sepatu hak tinggi berwarna putih yang tampak serasi seperti gaun pengantinku. Tubuhku juga kuberi parfum melati milik bu Diana sehingga sekujur tubuhku memancarkan aroma melati yang amat wangi.

“Nah, bagaimana?” ujarku pada Rendy yang masih melongo melihat penampilanku.

“Hei! Kok malah bengong sih?!” seruku, yang segera menyadarkan Rendy dari lamunannya.

“E.. eh.. ccantik sekali Kak!” jawab Rendy tergagap-gagap, aku tertawa kecil melihat tingkahnya yang kebingungan.

“Kak, ini.. buat kakak..” Rendy mengulurkan setangkai mawar merah kepadaku. Mawar merah yang indah itu tampak segar berkilauan.

“Waah, terima kasih ya!!” otomatis aku mencium bunga itu untuk menghirup aromanya. Sejenak aroma yang menyengat memasuki hidungku aku pun langsung merasa pandanganku tiba-tiba kabur dan tubuhku terasa lemas.

Aku pun ambruk tidak sadarkan diri. Sayup-sayup kulihat senyuman Rendy, aku berusaha untuk tetap sadarkan diri, namun mataku terasa berat sekali dan akhirnya aku menutup kelopak mataku. Entah apa yang terjadi pada tubuhku, namun saat aku sadar, aku melihat diriku sudah terbaring mengangkang di sebuah ranjang canopy dalam keadaan berbusana pengantin lengkap. Kedua tanganku terikat di belakang punggungku sementara kakiku terikat erat di sisi kanan-kiri tiang ranjang itu sehingga posisi tubuhku mengangkang lebar. Aku merasa amat geli di daerah kewanitaanku, seperti ada sebuah daging lunak hangat yang menyapu-nyapu daerah kewanitaanku, terkadang daging itu menusuk-nusuk seolah hendak membuka bibir kewanitaanku melewati celah vaginaku. Aku juga merasa daerah disekitar vaginaku amat becek akibat gerakan daging itu.

“Aahh.. oohhh..” Aku pun mendesah pelan menikmati sensasi di kewanitaanku itu. Rasanya vaginaku seolah diceboki, namun gerakan daging itu yang seolah berputar-putar mempermainkan vaginaku menimbulkan sensasi nikmat disekujur tubuhku. Aku merasa tubuhku diairi listrik tegangan rendah saat daging itu membelah bibir kewanitaanku dan menyentuh lubang pipisku.

“Eh! Kakak sudah bangun rupanya!!” tiba-tiba kudengar suara Rendy dibalik gaunku. Aku berusaha mendongak dan kulihat wajah Rendy sedang berada tepat di depan selangkanganku yang terbuka lebar. Sadarlah aku kalau “daging” tadi tak lain adalah lidah Rendy yang sedang menjilati vaginaku. Aku berusaha berontak, namun untuk menutup kedua pahaku yang sedang terbuka lebar saja amat sulit. Tubuhku terasa amat lemas tanpa tenaga. Saat aku melihat sekitarku, aku baru sadar kalau aku kini berada di dalam kamar bu Diana.

“Badan kakak masih belum bisa digerakkan, soalnya pengaruh obat tidur Mami masih tersisa.” Jelas Rendy sambil berjalan ke sampingku.

Sekejap aku merasa amat panik dan berusaha mengerahkan seluruh tenagaku untuk kabur, tapi sia-sia saja. Tubuhku tidak mau bergerak sedikitpun. Astaga! Bagaimana aku bisa sebodoh itu mencium aroma bunga yang ditaburi obat bius?! Niatku untuk menjaga jarak dari Rendy kini sia-sia saja. Sekarang malah kesucianku terpampang jelas di hadapannya, aku dalam keadaan terjepit dan tidak bisa kabur lagi.

“Kakak tenang saja, dijamin enak kok! Hehehe..” tawa Rendy terkekeh-kekeh.

“Jangan, Rendy.. Jangan.. kakak mohon!!” pintaku berderai air mata saat melihat Rendy berbalik berjalan menuju arah selangkanganku.

Namun sia-sia saja, Rendy sama sekali tidak mau mendengar permohonanku. Aku pun semakin panik dan cemas. Air mataku kembali meleleh membasahi mataku, namun apa dayaku? Tubuhku kini amat sulit digerakkan karena ikatan itu ditambah rasa lemas disekujur tubuhku karena pengaruh obat bius yang tersisa. Kini aku hanya bisa pasrah membiarkan Rendy menyantap kewanitaanku. Jantungku berdegup semakin kencang dan wajahku merah merona saat Rendy semakin mendekati selangkanganku. Rendy lalu memegang kedua pahaku yang mulus. Ia mulai mengendusi paha kananku sementara paha kiriku dibelai-belai dengan tangannya.

“Essh..” aku mendesis sesaat setelah bibir Rendy mencium bibir kemaluanku. Hembusan nafas Rendy di pahaku membuat tubuhku sedikit mengigil kegelian. Saat bibir kemaluanku bertemu dengan bibir Rendy, Rendy mulai menjulurkan lidahnya. Seperti lidah ular yang menari-nari, bibir kemaluanku dijilati olehnya. Kembali bibir kewanitaanku dibelah oleh lidah Rendy, yang kembali menarikan lidahnya menceboki liang vaginaku perlahan-lahan. Aku berusaha sekuat mungkin untuk menahan gejolak birahi yang kini mulai melanda diriku, namun tetap saja suara desahan-desahanku yang tertahan sesekali terdengar keluar dari bibirku karena rasa nikmat yang menjuluri tubuhku apalagi belaian lembut Rendy di pahaku semakin terasa geli akibat stocking sutra yang kupakai.

“Haaa?! Aakh..!!” Sontak aku menjerit terkejut saat merasakan sensasi rasa geli dan nikmat yang tiba-tiba melanda tubuhku. Rupanya Rendy menjilati klitorisku. Sesekali ia menyentil klitorisku dengan lembut sehingga sekujur tubuhku seperti dialiri listrik dan bulu kudukku berdiri. Rendy menyadari bahwa aku mulai dikuasai oleh gejolak birahiku. Ia terus melancarkan serangannya ke klitorisku. Berulang kali permohonanku yang disertai dengan desahan kusampaikan ke Rendy, namun ia malah tampak kian bersemangat mengerjaiku. Kesadaranku pun semakin menghilang tergantikan dengan rasa nikmat dan hasrat seksual yang semakin merasuki tubuhku.

“Bagaimana kak? Enak tidak?” tanya Rendy padaku.

“Rendyy.. stoop.. auhhh.. jangaan..”

“Ah masaa? Bukannya kakak mendesah keenakan tuh? Yakin nih, nggak mau lagi?” ejeknya sambil menjauhkan wajahnya dari kemaluanku. Namun secara refleks, aku malah mengangkat pinggangku kehadapan wajah Rendy, seolah menawarkannya untuk kembali mencicipi liang vaginaku.

“Tuh, kan?! Malu-malu mau, nih cewek!” kembali Rendy menghinaku. Dipeganginya kedua bongkahan pantatku dengan telapak tangannya dan dtegadahkannya tangannya, sehingga kini pinggangku ikut terangkat tepat dihadapan wajah Rendy.

“Aww.. aww.. aaahh..” kembali aku merintih saat Rendy mengecup dan mengisap-isap daging klitorisku. Sesekali aku merasa sentuhan giginya pada klitorisku dan hisapannya membuatku kini hanya berusaha untuk mengejar kenikmatan seksualku semata.

SLURP.. SLURP.. Sesekali terdengar suara Rendy yang menyeruput cairan cintaku yang sudah banyak keluar dari vaginaku, seolah hendak melepas dahaganya dengan cairan cintaku.

“AAHH.. AAHHH.. AAA..” Desahanku semakin keras. Aku merasa ada sebuah tekanan luar biasa di vaginaku yang sebentar lagi hendak meledak dari dalam tubuhku. Otot-otot tubuhku secara otomatis mulai menegang sendirinya.

“HYAA.. AAAKH!!!” jeritku bersamaan dengan meledaknya tekanan dalam tubuhku. Tanpa bisa kutahan, pinggangku menggelepar liar, bahkan Rendy terlontar mundur akibat dorongan tubuhku. Aku bisa merasakan vaginaku memuncratkan cairan cintaku dalam jumlah yang banyak. Seluruh simpul sarafku terasa tegang dan kaku saat sensasi geli dan nikmat yang luar biasa itu menjalari tubuhku, dan akhirnya muncul perasaan lega yang nyaman setelahnya. Aku pun terkapar kelelahan, nafasku tersengal-sengal. Tenaga di tubuhku seolah lenyap seketika. Aku sadar, baru saja aku mengalami orgasme yang luar biasa!

“Wah, waah.. Rupanya galak juga nih, kalau orgasme!” ejek Rendy yang kini terduduk di hadapan selagkanganku.

Ia mendekati vaginaku dan kembali ia menyeruput cairan cintaku yang masih tersaji di vaginaku setelah ledakan orgasmeku barusan. Aku pun hanya mendesah kecil tanpa memberontak. Kepalaku serasa kosong dan aku membiarkan Rendy menikmati cairan cintaku sesuka hatinya. Setelah puas meminum cairan cintaku, Rendy berdiri di hadapanku dan melepas pakaiannya sehingga ia telanjang bulat dihadapanku. Bisa kulihat penisnya yang panjangnya sekitar 14 cm sudah menegang keras melihat keadaanku yang mengangkang lebar, memamerkan kewanitaanku di depannya. Rendy berjalan melewati tubuhku hingga akhirnya ia tiba didepan kepalaku. Rendy lalu berlutut di hadapan wajahku sambil mengocok penisnya.

“Kak, tadi rasa memek kakak enak sekali loh! Nah sekarang giliran kakak ya, ngerasain punya Rendy?” seloroh Rendy. Aku yang menyadari kalau Rendy akan mengoral penisnya dengan mulutku, mulai menjerit meminta pertolongan.

“TOL.. uumph!!” jeritanku terhenti karena Rendy langsung menyumpalkan penisnya didalam mulutku. Walaupun ukuran penisnya tidak begitu besar, namun batang penisnya sudah cukup memenuhi rongga mulutku yang mungil.

“Hhmmphh.. hmph..” suaraku teredam oleh penis Rendy.

Aku berusaha memuntahkan penis itu, namun Rendy memajukan pantatnya sehingga penisnya tetap masuk didalam mulutku hingga menyentuh kerongkonganku. Rendy menjambak poni rambutku dan mulai menggerakkan kepalaku maju mundur. Rasa sakit di ubun-ubunku karena poni rambutku dijambak sudah cukup untuk membuatku tidak berontak lebih jauh, aku mengikuti gerakan tangan Rendy yang sedang memaksaku mengulum dan mempermainkan penisnya dalam mulutku.

“Aahh.. Enaak..” desah Rendy saat penisnya keluar masuk dari mulutku.

“Hmmp.. mpp.. phh..” aku berusaha mengambil nafas untuk menyesuaikan gerakan penis Rendy dalam mulutku. Kocokan mulutku masih belum berhenti, namun aku merasa agak mual karena rasa dalam mulutku saat ini. Sementara leherku juga pegal karena dipaksa naik-turun oleh Rendy.

Beberapa saat kemudian, Rendy berhenti manjambak poniku, aku pun segera merebahkan kepalaku yang pegal-pegal keatas bantal yang lembut untuk melepas penat. Namun rupanya penderitaanku belum juga berakhir. Rendy belum mau melepaskan kenikmatannya dioral olehku. Belum sempat penisnya keluar dari mulutku, sekarang ia malah menekan selangkangannya ke wajahku dan menggoyang-goyangkan pantatnya sehingga penisnya kembali masuk kedalam rongga mulutku. Aku bisa merasakan buah zakarnya yang tergantung menampar-nampar daguku berulang kali bersamaan dengan gerakan pantatnya yang maju mundur dihadapan wajahku yang kini tertekan oleh bantal, aku pun berulang kali tersedak karena penis Rendy dalam mulutku bergerak dengan amat cepat.

“Oke, kak! Sekarang giliran kakak yang main! Ayo kulum dan mainin pakai lidah kakak!” perintah Rendy sambil menghentikan gerakannya. Aku sendiri sudah mati kutu, kepalaku terjepit diantara selangkangan Rendy dan bantalku, sehingga aku tidak bisa bergerak bebas.

“Ayo, Kak! Atau mau kugerakkan sendiri dimulut kakak seperti barusan?” ancamnya padaku. Aku pun tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah Rendy, setidaknya aku akan lebih leluasa bernafas apabila aku yang bergerak sendiri. Aku pun menggerakkan lidahku membelai-belai batang penisnya yang masuk hingga rongga mulutku. Sesekali lidahku juga bersentuhan dengan kepala penisnya. Sebenarnya aku agak jijik juga karena tercium bau agak pesing dari ujung penis Rendy, namun apa dayaku? Lebih baik kuturuti perintah anak ini supaya siksaanku cepat selesai. Aku pun berusaha untuk tidak begitu mempedulikan bau itu. Penis Rendy kuanggap saja seperti permen yang luar biasa tidak enak. Aku pun terus mengemut penis Rendy itu.

“Ayo, kak! Terus! Jago juga nih, nyepongnya! Enak bangeet!”

“Mmphh..” erangku.

“Isapin juga kak! Seperti ngisap permen!” kembali Rendy memberi perintah padaku, yang langsung saja kuturuti.

Kuhisap penisnya dengan pelan dan lembut dengan harapan anak ini bisa segera menghentikan aksinya dan aku bisa terbebas dari siksaan ini. Herannya, selama beberapa menit kuoral, Rendy masih saja tidak puas. Aku pun mulai kelelahan mempermainkan penisnya dalam mulutku, walaupun aku mulai terbiasa dengan situasiku sekarang.

Entah setan apa yang merasukiku, namun saat aku mengingat bahwa aku sedang mengoral penis anak kecil yang tak lain adalah muridku, aku merasa hasrat seksualku kembali meninggi dalam tubuhku. Aku ingin sekali mencapai orgasme sekali lagi dan aku ingin mencoba sesuatu yang lebih hebat lagi bersama Rendy. Pikiran itupun membuatku memainkan penis Rendy sebaik mungkin dalam mulutku agar Rendy mencapai kepuasannya.

“Ookh..” Aku mendengar suara erangan panjang keluar dari mulut Rendy dan saat itulah, aku merasa mulutku disembur oleh cairan kental berbau amis. Aku menyadari bahwa Rendy baru saja berejakulasi dalam mulutku, dan kini mulutku dipenuhi spermanya. Rendy kembali menekankan selangkangannya ke wajahku.

“Telan kak! Jangan sampai bersisa!”

Aku pun menuruti perintah Rendy, kutelan semua sperma dalam mulutku, sekaligus kuhisap-hisap penis Rendy agar spermanya tidak bersisa. Rendy hanya mengerang keenakan saat penisnya kubersihkan dengan mulutku.

“Woow.. enaak.. lebih enak dari onanii…” seloroh Rendy. Namun aku tidak peduli, aku terus menghisap-hisap penisnya itu hingga aku yakin tidak ada lagi sperma yang tersisa. Setelah selesai, Rendy mengeluarkan penisnya dari dalam mulutku.

“Waah.. Kakak jago banget lho! Enak sekali kak!”

“Rendy, kamu jahaat..” protesku.

“Lho kenapa? Bukannya kakak sekarang sudah jadi pengantinku?” balasnya.

“You may kiss your briide!!” sorak Rendy tiba-tiba.

Tanpa basa-basi, Rendy segera mencium bibirku. Bibirku diemut-emut dengan lembut dan sesekali bibirku juga dijilati oleh lidahnya. Aku hanya membiarkannya mempermainkan bibirku sesuka hatinya. Pelan-pelan lidah Rendy membelah bibirku dan lidahnya menyusup kedalam rongga mulutku. Aku pun merespon dengan menghisap lidah Rendy dengan lembut. Sesekali juga kujulurkan lidahku, sehingga giliran Rendy yang menghisap air ludahku yang menyelimuti lidahku. Gairah seksualku sekarang benar-benar menguasai tubuhku, semakin kuingat bahwa Rendy yang saat ini sedang bercinta denganku, semakin aku tenggelam dalam hasratku. Selama beberapa menit kami terlibat dalam French kiss itu, sebelum akhirnya Rendy menghentikan ciumannya di bibirku. Aku pun tampak kecewa saat Rendy menjauhkan wajahnya.

“Kenapa kak? Enak kan rasanya? Masih mau lagi?” tanyanya.

Pertanyaan Rendy itu seketika memancing gairah seksualku yang meningkat. Aku merasa ini adalah sebuah kesempatan bagiku, namun sebelum aku sempat menjawab, tiba-tiba Rendy mengambil sehelai celana dalam putih berenda yang tadi kupakai dan menjejalkannya ke mulutku hingga celana dalamku memenuhi seluruh rongga mulutku. Belum puas, Rendy juga melakban mulutku sehingga celana dalamku itu tersumpal sempurna di dalam mulutku.

“Mmfff…” Protesku pada Rendy. Namun suaraku terhalang oleh celana dalam yang menyumbat mulutku.

“Jangan dijawab dulu, Kak. Nanti ya, Rendy mau istirahat dulu!”

“Oh, Kakak juga boleh istirahat kok! Nah, daripada bosan, bagaimana kalau kakak nonton saja dulu?” lanjut Rendy. Aku bisa mendengar suara televisi yang dinyalakan dan suara pemutar DVD yang dibuka oleh Rendy. Setelah selesai, Rendy lalu mendatangiku yang masih terbaring mengangkang di ranjang.

“Jangan berontak ya, Kak! Kalau macam-macam, video kakak kusebarkan!” ancamnya. Rendy lalu melepaskan ikatan kakiku di kedua tiang ranjang itu. Aku disandarkan ke kepala ranjang dan Rendy menyandarkan sebuah bantal di punggungku dan juga sebuah bantal kecil di pantatku untuk kududuki agar aku merasa nyaman. Tali yang tadi dipakai untuk mengikat kakiku kini digunakan untuk mengikat sikut tanganku yang masih terikat di punggungku pada kedua tiang bagian atas ranjang canopy itu agar aku tidak kabur.

“Oke deh! Rasanya sudah cukup!! Nah, kakak santai saja ya? Nikmati saja filmnya!” Rendy lalu memutar DVD itu.

“Mmff!!” Aku berteriak terkejut saat melihat adegan percintaan seorang wanita berambut pirang di layar televisi itu, rupanya Rendy menyetelkan DVD porno untuk kutonton..

“Kakak pelajari gayanya dulu, ya! Supaya nanti siap main dengan Rendy! OK?!” Rendy tersenyum dan beranjak pergi, meninggalkanku sendiri terikat di ranjang sambil berusaha menahan gejolak birahiku yang semakin mendera karena suguhan adegan panas dihadapanku.

Aku pun terpaksa menonton film porno itu sekitar 2 jam. Yah, aku memang pernah melihat sekilas film porno di handphone teman-teman SMUku, namun mungkin karena ini pengalaman pertamaku melihat film porno selama itu, muncul keinginanku agar vaginaku dimasuki oleh penis seperti wanita bule yang ada di film porno itu. Pikiranku bergejolak, aku sadar bahwa aku akan kehilangan keperawananku apabila vaginaku dimasuki penis Rendy, namun di sisi lain, aku penasaran akan rasa nikmat yang tampaknya melanda wanita di film itu saat vaginanya dimasuki oleh penis. Aku juga ingin merasakan kenikmatan itu. Apakah aku juga akan merasa senikmat itu apabila vaginaku dimasuki oleh penis? Aku masih bisa mengingat dengan jelas rasa nikmat saat vaginaku dijilati dan dipermainkan oleh Rendy sebelumnya. Tentunya aku akan merasa lebih nikmat lagi apabila vaginaku dipermainkan oleh penis Rendy. Lagipula, setidaknya aku tidak perlu khawatir akan hamil sebab masa suburku baru saja terlewati minggu lalu. Akhirnya rasa penasaran dan gairah seksualku mengalahkan perasaanku. Sudah kuputuskan, aku akan melayani Rendy sepenuh hatiku. Aku sudah tidak peduli lagi akan statusku sebagai gurunya ataupun perbedaan usia kami, yang kini kuinginkan hanyalah mengejar kenikmatan seksualku semata. Bahkan status dan perbedaan usia kami malah menjadi sumber gejolak gairah seksualku. Detik dan menit berlalu, namun bagiku yang kini dikuasai gairah seksualku, serasa menunggu selama berhari-hari. Cairan cintaku sudah semakin banyak keluar dari vaginaku sehingga aku bisa merasakan bantal yang kududuki semakin basah. Akhirnya, pintu kamar itu terbuka juga dan masuklah Rendy kedalam kamar itu.

“Bagaimana kak? Sudah puas nontonnya?”

“Sudah tahu kan bagaimana gaya-gayanya?” lanjutnya. Aku hanya mengangguk pelan dengan wajah memelas.

“Bagus, bagus!! Kakak emang pintar!” ujarnya sambil membelai kepalaku dengan pelan, seolah memuji anak kecil.

“Hff..” jawabku.

“Nah, kalau begitu kakak mau tidak kalau aku setubuhi seperti di film?” muncullah pertanyaan yang sedari tadi kutunggu. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengangguk sambil melihat wajah Rendy. Namun Rendy malah pura-pura tidak melihat sambil mematikan DVD playernya.

“Apaa? Rendy nggak bisa dengar nih!”

“Mmff!!” Aku berusaha untuk meminta Rendy melepaskan sumbatan mulutku agar aku bisa berbicara, namun Rendy malah melepas ikatan di kedua sikutku sehingga aku terbebas dari ranjang canopy itu. namun tanganku masih terikat kencang di punggungku. Aku lalu dituntun turun dari ranjang. Rendy tidak lagi mengawasiku dengan ketat. Ia tahu bahwa aku sekarang sudah tidak ingin kabur lagi.

“Waah, udah gede masih ngompol yah, Kak?” ejek Rendy saat melihat bekas cairan cintaku di bantal yang tadi kududuki.

Aku hanya menggeleng pelan, namun kurasa Rendy juga tahu bahwa itu adalah cairan cintaku yang meluber karena aku terangsang sedari tadi. Rendy lalu menarikku kehadapan sebuah papan tulis putih di kamar itu yang ditempeli berbagai rancangan bu Diana. Rendy melepas semua rancangan itu agar papan tulis itu bersih. Rendy juga memposisikan tubuhku agar terjepit diantara sebuah meja dihadapanku dan papan tulis itu dibelakangku. Aku terkejut saat Rendy dengan sigap menundukkan tubuhku di meja itu sehingga posisiku kini menungging kearah papan tulis itu. Rendy juga menaikkan rok gaun dan petticoatku bagian belakang dan mengaitkannya di pita putih gaunku yang ada di pinggangku, sehingga kini pantatku terpampang jelas menungging didepan papan tulis itu.

“Nah, gimana kalau kakak tulis saja apa yang kakak mau? Soalnya kakak nggak bisa ngomong sekarang” ujarnya dari belakang. Aku pun semakin heran, bagaimana caraku menulis dengan tangan terikat dan posisi tubuh menungging seperti ini? Aku hendak berdiri, namun punggungku ditekan ke meja itu oleh Rendy.

“Tahan sebentar ya, Kak” ujar Rendy sambil membuka celah pantatku. Rendy lalu menuangkan lotion ke jari telunjuknya dan mengusapkan lotion itu ke lubang pantatku. Sesaat aku merasakan jari Rendy yang menempel dilubang pantatku bergerak pelan mengoleskan lotion itu dan aku bisa merasakan rasa dingin dan licin akibat lotion itu di pantatku.

Setelah lubang pantatku selesai dilumuri lotion, aku merasa ada sesuatu di lubang pantatku, aku tahu benda itu bukanlah jari Rendy karena benda itu terasa lebih besar dan keras dari jari Rendy.

“HMMFF!!” jeritku saat tiba-tiba aku merasakan rasa sakit yang luar biasa di lubang pantatku. Suatu benda yang panjang dan keras menekan memasuki lubang pantatku. Aku menoleh ke belakang dan melihat Rendy memaksakan untuk memasukkan benda itu ke dalam anusku. Benda itu diputarnya perlahan masuk ke dalam pantatku seperti sekrup. Air mataku meleleh saat merasakan rasa perih yang amat sangat saat Rendy memperawani anusku dengan benda itu. Lubang pantatku serasa tersayat-sayat dan rasa perihnya tak terkira.

“Wuiih.. lubang pantatnya seret banget! Padahal sudah dikasih lotion! Pasti masih perawan, nih!” komentar Rendy yang terus memutar benda itu masuk kedalam anusku. Aku hanya bisa menggeleng-geleng keras memohon agar Rendy menghentikan aksinya itu. Namun Rendy terus memaksakan benda itu untuk masuk kedalam pantatku.

“Oke! Selesai deh!” seru Rendy. Aku menoleh kebelakang, aku amat panik saat menyadari sebuah spidol berukuran besar kini tertanam didalam pantatku. Spidol itu tampak mengacung tegak kearah papan tulis karena posisi tubuhku yang menungging.

“Oops, tenang saja, Kak! Spidolnya sudah kumasukkan dengan baik, kok! Kakak tahan saja spidolnya dengan otot pantat kakak supaya tidak jatuh!” ujar Rendy. Kata-kata Rendy sama sekali tidak menenangkanku apalagi saat merasakan spidol besar yang sedang tertanam dalam pantatku.

“Nah, ayo tulis apa yang kakak mau!”

“MMFF!!” aku menggeleng memprotes Rendy. Ide anak ini benar-benar gila! Aku yakin dia pasti mempelajari cara ini lewat film-film pornonya untuk mempermalukanku.

“Ayoo, kalau tidak, kakak nanti kubiarkan seperti ini, lho! Spidolnya tidak akan kucabut kalau kakak tidak mau menurut!” ancamnya.

“Mmm..” aku memelas mendengar ancaman Rendy. Aku tahu kalau sedari awal aku tidak memiliki posisi menawar melawan Rendy dengan kondisi seperti ini.

“Nah! Ayo, tulis di papan tulis kak! Seperti waktu kita belajar! Sekarang, aku mau kakak mengajariku menulis!” ujar Rendy sambil beranjak duduk dihadapanku, seolah sedang mendengarkan pelajaran di kelas.

Aku berusaha tetap tenang dan mulai menggerakkan pantatku di papan tulis itu.

“Mmf!” aku menjerit kecil dan mataku membelalak saat ujung spidol di pantatku menyentuh permukaan papan tulis.

Pantatku terasa geli dan sedikit perih akibat tekanan spidol itu. Rendy tampak senang melihat ekspresi wajahku yang dipenuhi rasa panik, malu dan bingung akan keadaanku sekarang. Perlahan-lahan aku berusaha untuk menulis dengan pantatku di papan tulis itu. Kaki dan pahaku ikut bergerak menaik-turunkan tubuhku yang menungging. Aku selalu merintih setiap kali satu goresan kutulis di papan tulis itu karena sensasi yang ditimbulkan spidol itu dalam pantatku, yang entah bagaimana semakin membangkitkan gairah seksualku.

“Hati-hati lho, kak. Kalau terlalu ditekan, spidolnya bisa tergelincir masuk kedalam pantat kakak. Nanti tidak bisa keluar lagi lhoo..” sorak Rendy.

Dasar badung! Pikirku. Memangnya salah siapa kalau nanti spidol ini malah terselip masuk kedalam pantatku?! Malah sekarang aku yang harus berusaha keras menangkal resiko yang diciptakan oleh anak ini untuk tubuhku! Aku pun mulai kehilangan ketenanganku akibat sorakan Rendy itu. Apalagi sesekali aku merasa spidol itu semakin masuk kedalam pantatku saat aku menulis. Namun aku tetap berusaha keras dan hasilnya, 5 huruf yang acak-acakan tertulis di papan tulis itu. Aku menghela nafas lega saat aku melihat hasil tulisanku itu. Sulit untuk dibaca memang, bahkan aku yakin tulisan anak SD pasti jauh lebih mudah dibaca dari tulisanku; namun aku yakin telah menulis huruf P-E-N-I-S di papan tulis itu.

“Waah, tulisan kakak jelek sekali! Padahal katanya sudah kuliah!” kembali Rendy mempermalukan diriku. Ia lalu berjalan kehadapanku, melepas lakban mulutku dan menarik keluar celana dalamku yang sedari tadi telah menjejali mulutku.

“Ahh.. ohk.. ohkk..” Aku terbatuk-batuk dan menghela nafas lega. Kulihat Rendy sedang mengendusi celana dalamku yang basah karena ludahku dan sesekali ia menghisap-hisap ludahku yang membasahi celana dalamku itu.

“Hmmm.. ludahnya kakak memang enaak.. Nah sekarang coba kakak baca apa yang kakak tulis!”

“Pe.. penis..” ujarku pelan dengan perasaan yang amat malu.

“Apaa? Apa yang kakak mau?” tanyanya dengan nada mengejek, seolah tidak mendengar ucapanku barusan.

“Penis!!” jawabku tidak sabaran.

“Penis siapa, hayooo?”

“Penisnya Rendy!!” aku mengumpulkan seluruh keberanianku untuk meneriakkan kata itu dan akhirnya terucap juga.

“Iya deh! Nah, tahan sebentar ya, Kak!” Rendy lalu berjalan kebelakang tubuhku yang masih menungging. Aku bisa merasakan ia memegang spidol yang tertanam dalam pantatku. Perlahan-lahan ditariknya spidol itu keluar dari pantatku.

“Aww.. auuch..” rintihku pelan saat merasakan gesekan batang spidol itu di permukaan lubang pantatku yang rasanya sedikit sakit, namun agak geli juga. Apalagi saat aku mengejan, pantatku terasa semakin nikmat dengan tekanan itu.

PLOOP! Terdengarlah suara lepasnya spidol itu dari pantatku.

“AAHH!!” Sontak aku berteriak merasakan kelegaan yang kembali ke lubang pantatku setelah sekian lama disumbat. Namun, sebelum aku sempat berdiri dan merasakan kelegaan, Rendy segera menarik dan menghempaskan tubuhku ke ranjang canopy itu sehingga aku kembali terbaring diatas ranjang.

“Aduh!” Aku segera berusaha bangkit, namun Rendy segera menerkam dan menimpa tubuhku.

“Jangan bergerak Kak!” perintahnya. Entah bagaimana, aku segera menuruti perintah Rendy dan mulai merelakan tubuhku dipermainkan olehnya.

“Sekarang kakak kupanggil pakai nama saja ya? Erina..” pintanya manja.

“I, iya.. terserah kamu..” jawabku dengan wajah memerah saat menatap wajah Rendy yang ada tepat diatas wajahku.

“Ah!” aku menjerit kecil saat Rendy mencengkeram dan meremas-remas dadaku. Tangan kanannya menekan payudaraku dengan perlahan dan mencubitnya dengan lembut, sementara tangan kirinya menyibakkan rambutku. Rendy lalu mendekatkan wajahnya dan mencium pipiku.

“Erina, kamu wangi deh!” pujinya seraya melayangkan kecupan ke bibirku yang segera kubalas.

Rendy lalu duduk bersimpuh di atas ranjang itu dan memangku kepalaku diatas pahanya. Rendy kembali menjamah payudaraku, namun kali ini ia mengulurkan tangannya menyusupi bagian dada gaunku. Jari-jarinya menjalar pelan diatas payudaraku sambil mencari puting payudaraku. Aku merasa agak sesak karena aku masih memakai BH, namun itu tidak menghalangi jari-jari nakal Rendy untuk mempermainkan dadaku.

“Aw!” aku merasakan puting payudaraku disentuh oleh jari Rendy. Rendy segera memencet putingku sehingga aku merasa seperti tersetrum oleh listrik di sekujur dadaku.

“Ahh..” desahku pelan saat Rendy kembali meremas payudaraku.

Payudaraku digerakkan berputar pelan oleh jari Rendy sambil sesekali memencet putingku. Aku semakin terhanyut saat Rendy menyentil-nyentil puting payudaraku dengan kukunya yang agak panjang ataupun saat memencet puting susuku dengan kuku jempol dan jari telunjuknya. Saraf-saraf tubuhku kini semakin sensitif karena aku semakin terangsang dengan pijatan di payudaraku. Kakiku mulai menggeliat-geliat pelan dan aku bisa merasakan cairan cintaku kembali meluber dari vaginaku. Rendy yang melihat pergerakan-pergerakan terangsang tubuhku, mengentikan aksinya. Kini ia kembali bergerak kearah selangkanganku. Ia lalu duduk dihadapan tubuhku yang masih terbaring

“Nah, Erina. Ayo buka pahamu. Yang lebar ya!” aku merentangkan kakiku selebar mungkin dihadapan Rendy. Ia tersenyum melihat aku yang tidak menolak perintahnya lagi. Rendy lalu mengamati selangkanganku. Bagaimana kewanitaanku yang masih basah oleh cairan cintaku dan lubang pantatku yang terbuka sedikit setelah diperawani spidol, terhidang di hadapannya. Rendy mencolek vaginaku dan mencicipi cairan cintaku yang ada di jarinya. Rendy kembali membenamkan jarinya dengan pelan di celah vaginaku, jarinya bergerak lembut seolah mencari sesuatu.

“Aww..” desahku pelan saat jari telunjuk Rendy menyentuh klitorisku. Rendy yang akhirnya menemukan apa yang dicarinya dalam liang vaginaku tampak kegirangan. Jarinya segera menyentil-nyentil klitorisku. Akibatnya, bisa ditebak, aku kembali melayang kelangit ketujuh. Aku merintih-rintih keenakan dihadapan muridku yang kini sedang memainkan gairah seksualku.

“Aahh.. ohh.. aww..” desahanku semakin keras dan akhirnya tubuhku kembali serasa akan meledak. Punggungku melengkung bagai busur dan kakiku kembali menegang, siap untuk menyambut orgasmeku untuk yang kedua kalinya. Namun, Rendy yang tahu bahwa aku akan orgasme segera mencabut jarinya keluar dari liang vaginaku; otomatis, kenikmatan yang sebentar lagi akan kucapai lenyap seketika.

“Rendyy.. jahaat.. ayo lagiii..” pintaku memohon pada Rendy.

“Apanya yang lagi, Erina?” tanyanya seolah tidak mengerti.

“Ayoo.. mainin vagina Erinaa.. Erina sukaa..” jawabku seperti seorang pelacur rendahan.

“Suka apa?”

“Erina suka kalau vagina Erina dimainin Rendy.. ayo doong.. Erina mau orgasme lagii.. enaak..” kembali aku mempermalukan diriku sendiri. Aku sudah tidak bisa berpikir lagi karena tubuhku sudah sepenuhnya dikuasai dorongan seksualku yang sudah di ambang batas.

“Panggil aku “Sayang”! Kan kamu sudah jadi pengantinku!” perintah Rendy

“Iyaa.. Rendy sayaang.. ayoo..” entah bagaimana aku terjebak dalam permainan psikologis Rendy. Aku sekarang bertingkah seolah-olah dia adalah suamiku yang sah. Aku agak terkesan karena walaupun masih begitu muda, Rendy sudah tahu bagaimana menjalankan trik psikologis untuk mempengaruhiku agar menuruti permintaannya, mungkin ini juga pengaruh dari video pornonya. Namun kuakui, permainan psikologis ini semakin membangkitkan gairahku dan aku amat menikmatinya! Sekarang hubungan kami bukan lagi seperti seorang murid dan guru, namun lebih seperti sepasang pengantin baru.

“Nah, Erina. Boleh tidak kalau Rendy memasukkan ‘adik kecil’ ke memek Erina?”

“Boleh sayang.. Erina kan pengantinnya Rendy..” selorohku. Aku sekarang sudah rela memberikan keperawananku untuk Rendy. Lagipula mulut dan pantatku kini sudah tidak perawan lagi, jadi tidak ada salahnya kalau aku sekalian merelakan kesucianku kepada Rendy. Aku pun menarik rok gaunku hingga ke perutku sehingga kewanitaanku terpampang jelas sekali dihadapan Rendy.

“Ayo sayang. Erina mau orgasme lagi..” aku memohon pada Rendy. Rendy segera merespon dengan duduk dihadapan selangkanganku dan mengatur posisi tubuh kami sehingga penisnya sekarang berada di bibir kewanitaanku. Aku bisa merasakan penisnya yang kembali membesar seperti saat aku mengoralnya barusan menyentuh celah vaginaku. Aku menghela nafas, menyiapkan diriku untuk menerima kenyataan bahwa keperawananku akan direnggut sesaat lagi. Aku berusaha mengatur nafasku yang memburu untuk mengusir rasa takut dan cemas akibat degup jantungku yang amat kencang.

“Bagaimana, Erina? Sudah siap?” aku mengangguk pelan menjawab pertanyaan Rendy akan kesiapanku.

“Rendy.. yang pelan ya? Jangan kasar..” pintaku kembali.

Aku tidak ingin Rendy memperawaniku seperti sebuah pemerkosaan, yang kuinginkan hanya agar aku bisa diperlakukan lebih lembut. Maklumlah, ini juga merupakan pengalaman pertamaku yang pasti akan berkesan seumur hidupku. Untunglah, Rendy tampaknya mengerti akan perasaanku. Ia mengangguk dan sorot matanya seolah menenangkanku. Rendy mulai mendorong pinggangnya ke depan. Sesaat penisnya berhasil membelah bibir vaginaku, namun mungkin karena vaginaku licin akibat cairan cintaku, penis Rendy malah meleset keluar dari celah vaginaku. Mengakibatkan timbulnya suara tertahan dari mulutku. Rendy kembali berusaha, namun tampaknya agak susah baginya untuk memasukkan penisnya kedalam vaginaku karena diameter penisnya juga cukup lebar (walaupun masih kalah dengan penis yang kulihat di film porno barusan), apalagi aku juga masih perawan sehingga liang vaginaku masih sempit. Setelah beberapa kali berusaha, Rendy tampak kesal karena belum berhasil memperawaniku. Akhirnya ia meraih batang penisnya dan mengarahkannya tepat dihadapan celah bibir kewanitaanku. Tangannya masih kuat mencengkeram penisnya saat ia sekali lagi menggerakkan pantatnya ke depan dan..

“AAGH!!!” aku membelalak dan menjerit keras saat merasakan rasa ngilu dan perih yang amat hebat melanda vaginaku. Akhirnya selaput daraku robek dan keperawananku sekarang lenyap sudah terenggut oleh Rendy. Aku bisa merasakan penis Rendy yang kini terjepit di vaginaku dan ujung penisnya didalam lubang pipisku. Rendy kembali memajukan pinggulnya dengan pelan, mengakibatkan rasa sakit itu semakin mendera vaginaku. Bahkan rasanya jauh lebih sakit daripada saat pantatku diperawani oleh spidol barusan.

“Rendy, Rendy!! Sakit! Sebentar!! Aduuh!!” aku kembali meminta dengan panik pada Rendy. Air mataku meleleh akibat rasa perih itu.

“Sebentar, Erina. Tenang ya, sebentar lagi..” jawab Rendy sambil mendorong pinggangnya dengan pelan.

Penisnya semakin dalam memasuki vaginaku diiringi dengan jeritan piluku yang tersiksa oleh rasa sakit itu. Kepalaku terbanting kekiri-kanan menahan rasa sakit, seolah menolak penetrasi Rendy kedalam lubang vaginaku.

“Ohh..” Rendy melenguh dan menghentikan dorongannya. Aku bisa merasakan sepasang buah zakarnya bergelantungan di bongkahan pantatku dan paha kami yang sekarang saling bersentuhan.

“Hhh..” aku mengambil nafas sejenak merasakan rasa sesak di vaginaku akibat besarnya penis Rendy didalam lubang pipisku. Aku akhirnya sadar kalau sekarang ini seluruh penis Rendy sudah terbenam sepenuhnya didalam kewanitaanku. Rambut-rambut kemaluannya yang baru tumbuh juga menggelitik selangkanganku. Untuk beberapa saat, kami terdiam dalam posisi itu. Rendy memberiku waktu untuk menyesuaikan diri dengan keadaanku.

“Erina..” panggil Rendy pelan.

“Ya?”

“Hangat sekali rasanya didalam. Kamu lembut sekali, Erina..” pujinya. Aku tidak bisa merespon jelas karena rasa perih yang menyiksa ini, namun bisa kulihat kalau Rendy tampak mencemaskan keadaanku.

“Sakit ya?” tanyanya penuh perhatian

“I, iya, sakit sekali..” jawabku pelan.

“Sekarang kita sudah bersatu lho, Erina. Aku dan kamu sekarang jadi satu..” Aku mengangguk membenarkan pernyataan Rendy. Memang, sekarang tubuh kami sudah bersatu karena kemaluan kami masing-masing telah menyatukan tubuh kami.

“Rendy.. sakiit..” protesku pada Rendy. Rendy terdiam, ia hanya mengusap air mataku.

“Sabar ya, Erina? Sebentar lagi pasti enak kok!”

Rendy lalu menarik penisnya sedikit vaginaku dan dengan pelan dilesakkannya kembali kedalam liang vaginaku. Rasa pedih kembali menyengat vaginaku, namun Rendy selalu berusaha menenangkanku. Aku merasa tampaknya Rendy juga tahu bagaimana sakitnya saat seorang gadis diperawani untuk pertama kalinya karena ia selalu berusaha memompa penisnya selembut mungkin untuk mengurangi rasa sakitku.

Lama kelamaan, muncul rasa nikmat dari vaginaku akibat gerakan penis Rendy. Walaupun masih bercampur dengan rasa perih, aku bisa merasakan bahwa sensasi baru ini berbeda dari saat vaginaku dioral dan dipermainkan oleh jari Rendy. Sensasi ini lebih menyentuh sekujur syarafku. Rendy kembali membelai pahaku sambil menjilatinya pelan sehingga gairah seksualku kembali bangkit perlahan. Rasa perih itu semakin hilang dan digantikan dengan sensasi baru di tubuhku. Rasa geli, sakit dan sesak yang melanda vaginaku memberikan sensasi tersendiri yang mengasyikkan. Rendy yang melihat bahwa aku sudah terbiasa akan pergerakannya mulai leluasa mengatur gerakannya. Sekarang penisnya ditarik keluar hingga hanya tersisa pangkal penisnya saja dalam vaginaku otomatis bibir vaginaku ikut tertarik keluar. Tiba-tiba, Rendy mendorong pantatnya mendadak dengan cepat sehingga penisnya kembali menghunjam liang vaginaku dengan keras.

“Hyahh..” jeritku kaget, namun sekarang rasanya tidak lagi perih seperti tadi. Rendy mulai menggerakkan penisnya dengan tempo yang lebih cepat, membuatku akhirnya melenguh-lenguh nikmat merasakan sensasi di vaginaku.

“Oohh..ahhh…aahh..aakhh..” aku mendesah-desah keenakan saat penis Rendy menghunjam vaginaku.

Sesekali Rendy berhenti menggerakkan pinggangnya saat penisnya tertanam penuh dalam vaginaku dan mulai menggoyang-goyangkan pantatnya sehingga penisnya seolah mengaduk-aduk isi liang vaginaku, membuatku semakin melayang diatas awan kenikmatan seksual. Semakin lama, kurasakan tempo goyangan penis Rendy semakin cepat keluar-masuk vaginaku dan menggesek klitorisku saat memasuki vaginaku. Tubuhku juga berguncang mengikuti irama pompaan penis Rendy seiring dengan desahan-desahan erotis dari bibirku. Malah, saat Rendy menghentikan gerakan penisnya, secara otomatis aku menurunkan pinggulku menjemput penisnya, seolah tidak rela melepaskan penisnya itu. Rendy terlihat puas melihatku yang sekarang sudah berhasil ditaklukkan olehnya. Tidak terasa sudah sekitar 10 menit sejak penis Rendy memasuki vaginaku pertama kalinya. Rendy masih dengan giat terus menggerakkan penisnya menjelajahi vaginaku. Sementara aku sendiri sudah kewalahan menerima serangan kenikmatan di vaginaku, orgasmeku sudah siap meledak kapan saja.

“OH! AAKHHH..!!!” akhirnya aku menjerit keras dan tubuhku terbanting-banting saat aku merasakan gelombang kenikmatan yang melanda seluruh simpul syarafku, mengiringi ledakan orgasmeku untuk kedua kalinya. Tanpa bisa kukontrol, kakiku menendang bahu Rendy sehingga Rendy terpelanting ke ranjang. PLOP! Otomatis terdengar suara pelepasan penisnya yang tercabut keluar dari vaginaku seiring dengan rebahnya tubuh Rendy di ranjang. Cairan cintaku yang hangat kembali terasa meluap dari celah kewanitaanku. Rendy bergerak menjauh sedikit membiarkan tubuhku bergerak liar meresapi kenikmatan orgasme yang saat ini kurasakan. Setelah merasakan ledakan orgasme itu, tubuhku kembali melemas, serasa tenagaku lenyap seluruhnya. Nafasku terasa berat dan degup jantungku juga masih saja kencang. Rendy membiarkanku beristirahat sesaat untuk mengembalikan staminaku.

“Waah, nggak nyangka nih! Padahal tampangnya alim, tapi rupanya Erina memang galak kalau orgasme!” Rendy menggodaku .

“Gimana? Enak nggak rasanya?” tanyanya padaku. Aku mengangguk pelan sambil tersenyum kecil.

“Mau lagi?” kembali Rendy bertanya menantangku.

“Mau..” jawabku mengiyakan.

“Nah, sekarang ikut aku kak!” Rendy menarik tanganku turun dari ranjang dan melepas ikatan kedua tanganku. Aku lalu digandengnya kehadapan meja rias bu Diana. Meja rias itu dilengkapi sebuah cermin besar sehingga aku bisa melihat penampilanku dengan jelas dihadapan cermin itu.

“Erina, sekarang coba kamu menungging!” aku pun membungkukkan badanku dan menumpukan tubuhku pada kedua lenganku yang menekan meja rias bu Diana, sehingga aku dalam posisi menungging dihadapan cermin meja rias itu.

“Lebarkan pahamu dan coba lebih menunduk!” kembali Rendy memberi perintah yang segera kuturuti, pahaku kulebarkan dan aku semakin menunggingkan tubuhku. Rendy lalu menyingkapkan rok gaunku dan menaikkan petticoatku dari belakang dan menjepitnya dengan pita gaunku, sehingga kembali pantat dan vaginaku terpampang jelas dihadapannya. Rendy lalu berdiri dibelakangku, aku bisa melihat tubuhnya yang berdiri dibelakang pantatku lewat cermin itu. Tampaknya Rendy memang ingin agar aku bisa melihat keadaan sekitarku lewat cermin itu.

“Auuch..” aku merintih pelan saat penis Rendy kembali menghunjam vaginaku dari belakang. Sekarang Rendy memegang pinggulku dan menggerakkannya maju mundur sehingga vaginaku dihentak-hentakkan oleh penisnya.

“Aw.. aakhh.. aawww..” rintihku saat gesekan antara kemaluan kami kembali menimbulkan sensasi kenikmatan yang melanda tubuhku. Suara beturan tubuh kami juga menggema didalam kamar itu mengikuti desahan-desahan yang keluar dari bibirku.

“Erina, coba kamu lihat cermin.” Perintah Rendy sambil terus memompaku. Aku menatap cermin dan aku bisa melihat ekspresi wajah cantikku yang tampak dilanda kenikmatan di tubuhku. Aku bisa melihat mataku yang sayu dan bibirku yang megap-megap berusaha mencari nafas dan melontarkan desahan-desahanku.

“Apa yang kamu lihat di cermin itu?” tanyanya

“Erina.. aakh.. Erina jadi.. pengantin.. Rendy.. auuhh..” jawabku terbata-bata.

“Oh ya? Apa yang sedang dilakukan Erina, pengantin Rendy itu?”

“Oohh.. Erina.. Erina sedang disetubuhi.. aww.. Rendy.. ahh..”

“Bagaimana menurutmu, penampilanmu sekarang?”

“Erina.. Erina jadi.. aww.. cantik sekali.. Erina.. suka.. gaun Erina.. juga.. ahh.. indah..”

“Erina senang tidak jadi pengantin?” ujar Rendy.

Aku hanya menganggukkan kepalaku merespon pertanyaan Rendy karena mulutku sekarang sedang sibuk mendesah penuh kenikmatan. Memang dengan penampilanku sebagai pengantin saat ini, aku tampak cantik sekali. Saat aku melihat wajah cantikku itu tampak dikuasai oleh gairah seksualku, entah kenapa aku semakin terangsang. Apalagi saat aku melihat diriku yang sedang disetubuhi dari belakang oleh Rendy, dalam balutan busana pengantinku yang indah, gairah seksualku semakin meningkat drastis.

“Oouch.. ahhh..aww..” aku berusaha menggapai orgasmeku, namun Rendy malah berusaha bertahan agar aku tidak mencapai orgasmeku dengan cepat. Sesekali gerakannya dipercepat, namun saat merasakan aku akan mencapai orgasmeku, ia segera menghentikan serangan penisnya di vaginaku. Akibatnya siksaan orgasmeku semakin mendera tubuhku.

“Rendyy.. kamu jahaat.. auuch.. kakak mau orgasmee..hyaah..” aku memprotes perlakuan Rendy padaku.

“Iyaa.. soalnya Erina kan sudah orgasme dua kali! Rendy juga mau! ” balasnya. Memang benar, dari tadi Rendy terus memberi pelayanan yang membuatku mencapai orgasme dua kali, namun dia sendiri hanya sekali berejakulasi dalam mulutku.

Tiba-tiba, Rendy menghentikan gerakannya, sehingga aku mendesah tertahan sejenak. Aku cemas karena tampaknya Rendy tidak berminat lagi meneruskan pompaannya.

“Sekarang, giliran Erina yang gerak, ya?” pinta Rendy yang segera kurespon dengan senang hati. Goyangan maju-mundur pantatku pun menjemput dan mempermainkan penisnya dalam vaginaku. Aku merasa lega karena setidaknya vaginaku masih bisa merasakan kenikmatan dari persetubuhanku dengan Rendy.

“Erina, ayo lihat cerminnya lebih dekat!” kembali aku menuruti perintah Rendy. Wajahku kudekatkan pada cermin itu sehingga cermin itu mengembun akibat hembusan nafasku. Aku bisa melihat pantatku yang kini bergerak maju-mundur dan ekspresi nikmat di wajah Rendy.

“Erina suka lihat cerminnya?”

“Iyaa.. wajah Erina cantiik.. eeghh.. dan nakaal..”

“Jadi, Erina cewek yang nakal yaa?” tanyanya sedikit menggodaku sambil menghentakkan penisnya secara tiba-tiba di vaginaku.

“Aww.. iyaa.. Erina memang nakaal..” celotehku tanpa pikir panjang.

“Bagaimana, rasanya enak tidak dientot, Erina?”

“Mmm.. aah..enaak.. nikmaaat.. Erina sukaa..”

“Kalau begitu, boleh kan kalau Rendy mengentoti Erina lagi?” selorohnya.

“Boleeh.. Erina.. auuh.. boleh dientot Rendy.. kapaan saja.. Erina kan.. sudah jadi.. pengantin Rendy.. oh..” jawabku yang sekarang sudah sepenuhnya takluk oleh Rendy.

“Kalau begitu, Erina tidak boleh selingkuh dengan orang lain ya?”

“Iyaa.. ooh.. Rendy sayaang.. Erina cuma mau dientot Rendy sajaa.. nggak mau sama cowok laiin..” secara otomatis aku menyatakan kesetiaanku pada Rendy.

Rendy terus mempermainkan mentalku sambil mempermalukanku. Anehnya, dipermalukan sedemikian rupa, malah semakin merangsangku dan aku semakin mempercepat gerakan pantatku walaupun sendi-sendi paha dan pinggangku terasa ngilu akibat kelelahan. Akhirnya Rendy mencengkeram pinggulku dan menghentikan pergerakanku.

“Rendyy.. kenapaa?” tanyaku penuh kekecewaan.

“Sekarang giliranku ya, Erina?” aku hanya mengangguk pelan mengiyakan permintaan Rendy. Ada untungnya juga bagiku karena tubuhku sudah amat lelah dan aku juga merasa aku tidak bisa melanjutkan gerakanku lebih lama lagi.

Rendy kembali menggerakkan pinggulku maju-mundur dengan cepat sehingga aku semakin kewalahan. Dengan nakalnya, Rendy melesakkan jari telunjuknya kedalam lubang pantatku. Tidak seperti tadi, anusku yang sekarang sudah amat becek akibat lelehan cairan cintaku yang sekarang juga meluber ke anusku. Lubang pantatku dengan mudahnya menelan jari telunjuk Rendy sehingga kembali rasa perih yang sedikit nikmat melanda anusku. Jari telunjuk itu lalu digerakkan seirama dengan gerakan penisnya di vaginaku sehingga aku semakin tenggelam dalam kenikmatanku. Desahan-desahanku semakin keras karena sensasi di selangkanganku saat ini dimana penis Rendy masih terbenam dalam vaginaku, sementara jari telunjuknya berputar-putar menjelajahi isi pantatku apalagi saat jarinya mempermainkan saraf di sekitar lubang pantatku. Saat aku mengejan, Rendy malah semakin memasukkan jarinya lebih dalam kedalam pantatku sehingga sensasi rasa geli dan sakit di anusku kian menjadi. Aku semakin kewalahan dengan rasa nikmat yang datang menguasai tubuhku apalagi aku bisa merasakan otot-otot tubuhku yang menegang lebih keras dari sebelumnya, aku mengepalkan tanganku dengan keras menahan desakan dari dalam tubuhku. Namun sekuat-kuatnya aku berusaha menahan diri, akhirnya pertahananku runtuh juga.

“Ahhk.. aah.. AKHHH!!!” dengan diiringi teriakanku, orgasmeku kembali meledak. Aku merasakan vaginaku berdenyut keras seolah menyempit dan penis Rendy semakin terjepit erat di dinding kewanitaanku. Tubuhku langsung dialiri oleh ledakan rasa nikmat dan kelegaan yang luar biasa.

“OOKH.. Erinaa..” Merasakan sensasi jepitan vaginaku saat orgasme, Rendy akhirnya tidak bisa menahan dirinya. Sekali lagi dihentakkannya penisnya sekeras mungkin kedalam vaginaku dan saat itu pula aku merasakan cairan hangat menyembur dari penis Rendy memenuhi rahimku.

Rendy pun mencabut jarinya dari lubang pantatku sebelum menarik penisnya keluar dari vaginaku setelah spermanya telah tertuang sepenuhnya kedalam rahimku. Aku tidak tahan lagi melawan rasa lelah tubuhku. Setelah mencapai orgasmeku itu tubuhku serasa kehilangan seluruh tenagaku. Aku pun jatuh lunglai tanpa tenaga di lantai kamar bu Diana. Rendy menghampiriku yang masih tergeletak lelah dan mencium bibirku sekali lagi dengan lembut sambil melumat bibirku. Aku menggerakkan bibirku membalas kecupan Rendy dengan pelan sebelum rasa lelah mengalahkanku sehingga aku pun tertidur kelelahan. Aku terbangun saat kurasakan sentuhan lembut di pipiku. Saat aku membuka mataku, aku melihat Rendy sedang duduk disampingku yang kini terbaring di ranjang bu Diana. Aku masih berbusana pengantin lengkap seperti sebelumnya. Melihatku yang terbangun, Rendy segera membelai kepalaku dengan penuh kasih sayang. Aku merasa terkesan dengan perhatiannya, belaiannya terasa lembut melindungiku seolah menjawab perasaanku sebagai seorang wanita yang ingin dilindungi dan diperhatikan oleh seorang kekasih. Akhirnya kusadari kalau aku telah jatuh cinta pada Rendy.

Walaupun bisa disebut sebagai cinta terlarang antara guru dan murid, namun bagiku hal itu sekarang bukan lagi hambatan bagiku. Aku hanya ingin agar bisa bersama dengan Rendy selama mungkin. Lagipula, dialah yang telah membuatku menjadi pengantinnya dan merenggut keperawananku yang tadinya kujaga dengan baik demi calon suamiku dimasa depan. Jadi, wajar saja kalau dia berhak menerima cintaku.

“Erina, kamu akhirnya bangun juga..” panggil Rendy pelan.

“Ya, sayang..” jawabku manja sambil melihat wajahnya.

“Kamu suka tidak sama Rendy?” tanyanya dengan mimik cemas.

“Erina cinta Rendy kok! Erina mau jadi pengantin Rendy selamanya!” jawabku mantap.

“Benar?” tanyanya dengan ragu.

“Iyaa.. kan Erina sudah jadi pengantin Rendy? Niih lihaat!” jawabku nakal sambil memamerkan gaun pengantinku. Rendy tersenyum melihat tingkahku itu dan ia segera mencium bibirku. Sekali lagi kami berciuman diatas ranjang itu dan kali ini, tidak ada paksaan atas diriku untuk memadu kasih dengan Rendy. Perasaanku terhadap Rendy telah berubah seluruhnya menjadi perasaan cinta sepenuh hatiku. Sekarang aku adalah seorang pengantin wanita bagi seorang lelaki yang telah berhasil menaklukkan hatiku dengan kehebatannya bercinta denganku. Rendy juga tampak bahagia karena berhasil menjadikanku sebagai kekasih hidupnya. Ya, sekarang aku telah menjadi pengantin muridku, Rendy!

 


Pengalaman ML Dengan Pacar Kakak —

Pengalaman nonton blue film – Siang itu aku sendirian. Papa, Mama dan Mbak Sari mendadak ke Jakarta karena nenek sakit. Aku nggak bisa ikut karena ada kegiatan sekolah yang nggak bisa aku tinggalin. Daripada bengong sendirian aku iseng bersih-bersih rumah. Pas aku lagi bersihin kamar Mbak Sari aku nemu sekeping VCD. Ketika aku merhatiin sampulnya.. astaga!! ternyata gambarnya sepasang bule yang sedang berhubungan sex. Badanku gemetar, jantungku berdegup kencang. Pikiranku menerawang saat kira-kira 1 bulan yang lalu aku tanpa sengaja mengintip Mbak Sari dengan pacarnya berbuat seperti yang ada di sampul VCD tsb. Sejak itu aku sering bermasturbasi membayangkan sedang bersetubuh. Tadinya aku bermaksud mengembalikan vCD tersebut ke tempatnya, tapi aah.. mumpung sendirian aku memutuskan untuk menonton film tersebut. Jujur aja aku baru sekali ini nonton blue film.

Begitu aku nyalain di layar TV terpampang sepasang bule yang sedang saling mencumbu. Pertama mereka saling berciuman, kemudian satu persatu pakaian yang melekat mereka lepas. Si cowok mulai menciumi leher ceweknya, kemudian turun ke payudara. Si cewek tampak menggeliat menahan nafsu yang membara. Sesaat kemudian si cowok mejilati vaginanya terutama di bagian klitorisnya. Si cewek merintih-rintih keenakan. Selanjutnya gantian si cewek yang mengulum penis si cowok yang sudah ereksi. Setelah beberapa saat sepertinya mereka tak tahan lagi, lalu si cowok memasukkan penisnya ke vagina cewek bule tadi dan langsung disodok-sodokin dengan gencar. Sejurus kemudian mereka berdua orgasme. Si cowok langsung mencabut rudalnya dari vagina kemudian mengocoknya di depan wajah ceweknya sampai keluar spermanya yang banyak banget, si cewek tampak menyambutnya dengan penuh gairah.

Aku sendiri selama menonton tanpa sadar bajuku sudah nggak karuan. Kaos aku angkat sampai diatas tetek, kemudian braku yang kebetulan pengaitnya di depan aku lepas. Kuelus-elus sendiri tetekku sambil sesekali kuremas, uhh.. enak banget. Apalagi kalo kena putingnya woww!!
Celana pendekku aku pelorotin sampe dengkul, lalu tanganku masuk ke balik celana dalam dan langsung menggosok-gosok klitorisku. Sensasinya luar biasa!!
Makin lama aku semakin gencar melakukan masturbasi, rintihanku semakin keras. Tanganku semakin cepat menggosok klitoris sementara yang satunya sibuk emremas-remas toketku sendiri. Dan,
“Oohh.. oohh..”
Aku mencapai orgasme yang luar biasa. Aku tergeletak lemas di karpet.

Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Tentu saja aku gelagapan benerin pakaianku yang terbuka disana-sini. Abis itu aku matiin vCD player tanpa ngeluarin discnya.
“Gawat!” pikirku.
“Siapa ya? Jangan-jangan pa-ma! Ngapain mereka balik lagi?”.
Buru-buru aku buka pintu, ternyata di depan pintu berdiri seorang cowok keren. Rupanya Mas Andi pacar Mbak Sari dari Bandung.
“Halo Ulfa sayang, Mbak Sarinya ada?”
“Wah baru tadi pagi ke Jakarta. Emang nggak telpon Mas Andi dulu?”
“Waduh nggak tuh. Gimana nih mo ngasi surprise malah kaget sendiri.”
“Telpon aja HP-nya Mas, kali aja mau balik” usulku sekenanya.
Padahal aku berharap sebaliknya, soalnya terus terang aku diem-diem aku juga naksir Mas Andi. Mas Andi menyetujui usulku. Ternyata Mbak Sari cuman ngomong supaya nginep dulu, besok baru balik ke Bandung, sekalian ketemu disana. Hura! Hatiku bersorak, berarti ada kesempatan nih.

Aku mempersilakan Mas Andi mandi. Setelah mandi kami makan malam bareng. Aku perhatiin tampang dan bodi Mas Andi yang keren, kubayangkan Mas Andi sedang telanjang sambil memperlihatkan “tongkat kastinya”. Nggak sulit untuk ngebayangin karena aku kan pernah ngintip Mas Andi ama Mbak Sari lagi ml. Rasanya aku pengen banget ngerasain penis masuk ke vaginaku, abis keliatannya enak banget tuh.
“Ada apa Ulfa, Kok ngelamun, mikirin pacar ya?” tanyanya tiba-tiba.
“Ah, enggak Mas, Ulfa bobo dulu ya ngantuk nih!” ujarku salting.
“Mas Andi nonton TV aja nggak papa kan?”
“Nggak papa kok, kalo ngantuk tidur aja duluan!”

Aku beranjak masuk kamar. Setelah menutup kintu kamar aku bercermin. Bajuku juga kulepas semua. Wajahku cantik manis, kulitku sawo matang tapi bersih dan mulus. Tinggi 165 cm. Badanku sintal dan kencang karena aku rajin senam dan berenang, apalagi ditunjang toketku yang 36B membuatku tampak sexy. Jembutku tumbuh lebat menghiasi vaginaku yang indah. Aku tersenyum sendiri kemudian memakai kaos yang longgar dan tipis sehingga meninjolkan kedua puting susuku, bahkan jembutku tampak menerawang. Aku merebahkan diriku di atas kasur dan mencoba memejamkan mata, tapi entah kenapa aku susah sekali tidur. Sampai kemudian aku mendengar suara rintihan dari ruang tengah. Aneh! Suara siapa malam-malam begini? Astaga! Aku baru inget, itu pasti suara dari vCD porno yang lupa aku keluarin tadi, apa Mas Andi menyetelnya? Penasaran, akupun bangkit kemudian perlahan-lahan keluar.

Sesampainya di ruang tengah, deg!! Aku melihat pemandangan yang mendebarkan, Mas Andi di depan TV sedang menonton bokep sambil ngeluarin penisnya dan mengelusnya sendiri. Wah.. batangnya tampak kekar banget.

Aku berpura-pura batuk kemudian dengan tampang seolah-olah mengantuk aku mendekati Mas Andi. Mas Andi tampak kaget mendengar batukku lalu cepat-cepat memasukkan penisnya ke dalam kolornya lagi, tapi kolornya nggak bisa menyembunyikan tonjolan tongkatnya itu.
“Eh, Ulfa anu, eh belum tidur ya?”
Mas Andi tampak salting, kemudian dia hendak mematikan vCD player.”
Iya nih Mas, gerah eh nggak usah dimatiin, nonton berdua aja yuk!” ujarku sambil menggeliat sehingga menonjolkan pepaya bangkokku.
“Oh iya deh.”
Kamipun lalu duduk di karpet sambil menonton. Aku mengambil posisi bersila sehingga bawukku mengintip keluar dengan indahnya.

“Mas, gimana sih rasanya bersetubuh?” tanyaku tiba-tiba.
“Eh kok tau-tau nanya gitu sih?”
Mas Andi agak kaget mendengar pertanyaanku, soalnya saat itu matanya asyik mencuri pandang ke arah selakanganku. Aku semakin memanaskan aksiku, sengaja kakiku kubuka lebih lebar sehingga vaginaku semakin terlihat jelas.
“Alaa nggak usah gitu! Aku kan pernah ngintip Mas sama Mbak Sari lagi gituan.. nggak papa kok, rahasia terjaga!”
“Oya? He he he yaa.. enak sih.”
Mas Andi tersipu mendengar ledekanku.
Akupun melanjutkan, “Mas, vaginaku sama punya Mbak Sari lebih indah mana?” tanyaku sambil mengangkat kaosku dan mengangkangkan kakiku lebar-lebar so bawukkupun terpampang jelas.
“Ehh glek bagusan punyamu.”
“Terus kalo toketnya montokan mana?” kali ini aku mencopot kaosku sehingga payudara dan tubuhku yang montok itu telanjang tanpa sehelai benang yang menutupi.
“Aaanu.. lebih montok dan kencengan tetekmu!”
Mas Andi tampak melotot menyaksikan bodiku yang sexy. Hal itu malah membuat aku semakin terangsang.

“Sekarang giliran aku liat punya Mas Andi!”
Karena sudah sangat bernafsu aku menerkam Mas Andi. Kucopoti seluruh pakaiannya sehingga dia bugil. Aku terpesona melihat tubuh bugil Mas Andi dari dekat. Badannya agak langsing tapi sexy. penisnya sudah mengacung tegar membuat jantungku berdebar cepat. Entah kenapa, kalo dulu ngebayangin bentuk burung cowok aja rasanya jijik tapi ternyata sekarang malah membuat darahku berdesir.
“Wah gede banget! Aku isep ya Mas!”
Tanpa menunggu persetujuannya aku langsung mengocok, menjilat dan mengulum batang kemaluannya yang gede dan panjang itu seperti yang aku tonton di BF.
“Slurp Slurp Slurpmmh! Slurp Slurp Slurp mmh.”
Ternyata nikmat sekali mengisap penis. Aku jepit penisnya dengan kedua susuku kemudian aku gosok-gosokin, hmm nikmat banget! Mas Andi akhirnya tak kuat menahan nafsu. Didorongnya tubuh sintalku hingga terlentang lalu diterkamnya aku dengan ciuman-ciuman ganasnya. Tangannya tidak tinggal diam ikut bekerja meremas-remas kelapa gadingku.

“Ahh mmh.. yesh uuh.. enak mas”
Aku benar-benar merasakan sensasi luar biasa. Sesaat kemudian mulutnya menjilati kedua putingku sambil sesekali diisap dengan kuat.
“Auwh geli nikmat aah ouw!”
Aku menggelinjang kegelian tapi tanganku justru menekan-nekan kepalanya agar lebih kuat lagi mengisap pentilku. Sejurus kemudian lidahnya turun ke vaginaku. Tangannya menyibakkan jembutku yang rimbun itu lalu membuka vaginaku lebar-lebar sehingga klitorisku menonjol keluar kemudian dijilatinya dengan rakus sambil sesekali menggigit kecil atau dihisap dengan kuat.
“Yesh.. uuhh.. enak mas.. terus!” jeritku.
“Slurp Slurp, vaginamu gurih banget Ulfa mmh”.
Mas Andi terus menjilati vaginaku sampai akhirnya aku nggak tahan lagi.
“Mas.. ayo.. masukin penismu.. aku nggak tahan..”

Mas Andi lalu mengambil posisi 1/2 duduk, diacungkannya penisnya dengan gagah ke arah lubang vaginaku. Aku mengangkangkan kakiku lebar-lebar siap menerima serangan rudalnya. Pelan-pelan dimasukkannya batang rudal itu ke dalam vaginaku.
“Aauw sakit Mas pelan-pelan akh..”
Walaupun sudah basah, tapi vaginaku masih sangat sempit karena aku masih perawan.
“Au.. sakit”
Mas Andi tampak merem menahan nikmat, tentu saja dibandingkan Mbak Sari tempikku jauh lebih menggigit. Lalu dengan satu sentakan kuat sang rudal berhasil menancapkan diri di lubang kenikmatanku sampai menyentuh dasarnya.
“Au.. sakit..”
Aku melonjakkan pantatku karena kesakitan. Kurasakan darah hangat mengalir di pahaku, persetan! Sudah kepalang tanggung, aku ingin ngerasain nikmatnya bercinta. Sesaat kemudian Mas Andi memompa pantatnya maju mundur.
“Jrebb! Jrebb! Jrubb! Crubb!”
“Aakh! Aakh! Auw!”
Aku menjerit-jerit kesakitan, tapi lama-lama rasa perih itu berubah menjadi nikmat yang luar biasa. vaginaku serasa dibongkar oleh tongkat kasti yang kekar itu.
“Ooh.. lebih keras, lebih cepat”
Jerit kesakitanku berubah menjadi jerit kenikmatan. Keringat kami bercucuran menambah semangat gelora birahi kami.

Tapi Mas Andi malah mencabut penisnya dan tersenyum padaku. cerita sex selingkuh bisa anda baca di ceritaserudewasa.info Aku jadi nggak sabar lalu bangkit dan mendorongnya hingga telentang. Kakiku kukangkangkan tepat di atas penisnya, dengan birahi yang memuncak kutancapkan batang bazooka itu ke dalam bawukku,
“Jrebb.. Ooh..” aku menjerit keenakan, lalu dengan semangat 45 aku menaik turunkan pantatku sambil sesekali aku goyangkan pinggulku.
“Ouwh.. enak banget tempikmu nggigit banget sayang.. penisku serasa diperas”
“Uggh.. yes.. uuh.. auwww.. penismu juga hebaat, bawukku serasa dibor”
Aku menghujamkan pantatku berkali-kali dengan irama sangat cepat. Aku merasa semakin melayang. Bagaikan kesetanan aku menjerit-jerit seperti kesurupan. Akhirnya setelah setengah jam kami bergumul, aku merasa seluruh sel tubuhku berkumpul menjadi satu dan dan
“Aah mau orgasme Mas..”
Aku memeluk erat-erat tubuh atletisnya sampai Mas Andi merasa sesak karena desakan susuku yang montok itu.
“Kamu sudah sayang? OK sekarang giliran aku!”

Aku mencabut vaginaku lalu Mas Andi duduk di sofa sambil mememerkan ‘tiang listriknya’. Aku bersimpuh dihadapannya dengan lututku sebagai tumpuan. Kuraih penis besar itu, kukocok dengan lembut. Kujilati dengan sangat telaten. Makin lama makin cepat sambil sesekali aku isap dengan kuat.
“Crupp.. slurp.. mmh..”
“Oh yes.. kocok yang kuat sayang!”
Mas Andi mengerang-erang keenakan, tangannya meremas-remas rambutku dan kedua bola basket yang menggantung di dadaku. Aku semakin bernafsu mengulum. Menjilati dan mengocok penisnya.
“Crupp crupp slurp!”
“Ooh yes.. terus sayang yes.. aku hampir keluar sayang!”
Aku semakin bersemangat ngerjain penis big size itu. Makin lama makin cepat cepat Cepat, lalu lalu
“Croot.. croot..”
Penisnya menyemburkan sperma banyak sekali sehingga membasahi rambut wajah, tetek dan hampir seluruh tubuhku. Aku usap dan aku jilati semua maninya sampai licin tak tersisa, lalu aku isap penisnya dengan kuat supaya sisa maninya dapat kurasakan dan kutelan.

Akhirnya kami berdua tergeletak lemas diatas karpet dengan tubuh bugil bersimbah keringat. Malam itu kami mengulanginya hingga 4 kali dan kemudian tidur berpelukan dengan tubuh telanjang. Sungguh pengalaman yang sangat mengesankan.


Oww..owww..gadisku —

kali ini aku (gadies) yang terbiasa menulis cerita dari sudut pandang cewek sekarang akan bercerita dan berperan sebagai cowok. Bisa ga ya aku? Mari kita baca aja yukkk…

Jam 6.30 pagi dan jam 13.00 siang adalah jam dimana aku harus dan wajib nongkrong di teras rumah kosku. Bukan karena menunggu penjual baso atau siomay lewat, tapi di jam-jam itulah aku bisa melihat lewatnya gadis pujaanku berangkat dan pulang sekolah.

Ups lupa….perkenalkan, namaku Gunung Purba. Nama itu rasanya terdengar aneh dan unik namun setahuku sih ayahku dulu seorang pecinta alam yang terbiasa naik turun gunung.
Aku seorang anak kuliah jurusan keperawatan di sebuah akademi keperawatan yang terletak di sebuah ibukota provinsi. Di kota tersebut aku tinggal di sebuah rumah kosan bersama 3 orang teman kuliahku. Mereka adalah dadang, ade, dan basuki.

Kembali pada sosok gadis yang kubicarakan tadi, ia adalah penghuni salah satu rumah kurang lebih sepuluh rumah sederet setelah rumah kosku. Didepan rumahnya digunakan untuk usaha wartel. Namanya ara, lengkapnya arimbi dara daunmuda. Hehehe…namanya juga aneh ya? Mirip salah satu sub-kategori di forum cerita panas semprot saja namanya !. Tapi memang begitulah adanya.
Gadis yang kukagumi ini sebenarnya bukanlah anak kuliahan seperti aku. Ia adalah seorang anak smp kelas 3. Tapi pertumbuhan badannya begitu pesat dan subur (kecuali tinggi badannya yang masih sekitar 157 centimeter) untuk anak belia seumurannya. Ku taksir umurnya sekitar 15 atau 16 tahun. Hanya saja onderdil orisinilnya sudah tumbuh sempurna layaknya gadis seumuran anak kuliah. Bayangkan saja, dengan umur sedemikian muda namun bongkahan dadanya begitu terlihat membulat indah dengan ukuran bra yang lagi-lagi kutaksir (tukang ramal kaleee…) sudah sekitar 34. Belum lagi sekal, montok dan bahenolnya pantat yang padat berisi. Dipadu dengan ukuran paha yang proporsional dan betis yang langsing. Sungguh membuat aura kewanitaannya begitu kuat terlihat dalam balutan seragam smp nya.
Selain daya tarik yang aku sebutkan diatas, wajahnya itu lho…wajah yang mengingatkanku pada sosok penyanyi alda. Namun yang ini sedikit ditambah bumbu timur tengah. Bisa dibayangkan wajah yang bersih mulus dengan hidung mancung dan raut muka yang sensual. Rambutnya bergelombang panjang sebatas setengah punggungnya. Bila berjalan, dadanya membusung karena tertekan baju seragam sekolahnya yang press body. Pantatnya juga wahh banget saat memakai rok sekolah yang lumayan ketat.

“permisi dik…ada yang kosong kbu nya?” Tanyaku saat muncul di wartel ara dan tentu saja bertemu ara.

“iya mas tuh masih kosong semua kok !” Jawab ara terkesan tegas dan agak jutek. Memang itulah daya tarik tersendiri bagiku. Aku entah kenapa selalu suka pada cewek dengan jenis karakter tegas, jutek, judes, galak, atau yang sejenisnya itu. Rasanya bakalan binal di ranjang….hahaha…

“halooo…siapa nehhh ???” Ucap ade di telepon dengan bermalas-malasan.

“aku nyong…Purba…” jawabku. Memang aku biasa memanggil ade dengan sebutan inyong karena memang dia berasal dari daerah ngapak-ngapak.

“aseemm…ngapain kamu pakai telepon segala? Gangguin orang tidur saja !!” Timpal ade dengan bete.

“uhhh nyong….cakep bener ya nih cewek…muda belia lagi…hihihi” ucapku lagi.

“edan kau dul….dasar otak mesum ! Udah sana nikmatin idolamu…aku mo bobo manis !” Balas ade.

Keluar dari wartel adalah waktu yang aku tunggu-tunggu. Waktunya bayar adalah waktunya ketemu dan mencuri pandang kearah ara…huhuiiii…

KRIEKKKK…KRIEEKKKK…
begitulah bunyi printer wartel mencetak struk percakapan saat kuletakkan gagang telepon ke sarangnya.

“berapa dik?” Aku berdiri di depan meja kasir sambil bertanya ke ara.

Tak ada jawaban.

“dikk…adikkk…berapa???” Ku ulangi lagi pertanyaan yang sama pada ara.

“ohhh iyaaa ya mas ehhh ini anu…dua ribu mas” jawab ara seperti terkaget sambil matanya tak lepas dari layar komputer operator yang ada dihadapannya.

Aku membayar dengan sambil tetap memandangi wajah ara yang terkesan seperti salah tingkah.

“aduh mas kegedean uangnya…bayar dua ribu aja kok uangnya limapuluhan sihh…ada uang pas ga??” Ucap ara kemudian dengan agak bete.

“satu-satunya harta terakhir yang kumiliki dik hehehe…” aku menjawab sambil cengengesan.

“owww…ya udah bentar ya…” Ara membalas singkat sambil berlari ke dalam rumah untuk mengambil uang kembalian. Kuikuti langkah kakinya dengan mataku. Pantatnya bergoyang indah sekali.

Merasa penasaran pada apa yang diperhatikan ara di layar komputer, perlahan aku mencoba melongok ke balik komputer itu.

Busssyyyetttttt..!!!
“filem belu brooooo…gila…!!!” Batinku.

Sesaat kemudian nampak ara melenggang mendekatiku sambil membawa uang kembalian.
“kok sepi dik…papa mama emang lagi keluar? Adik kamu juga ikut ya?” Ucapku sopan.
“ihh mas tanyanya kayak detektif aja !…iya sepi mas…pada kondangan ke tempat sodara, kenapa emang ? Mo godain ara? Jangan macam-macam ya !!!” Balas ara si galak dengan mendelik. Aku hanya tersenyum kecut namun tak juga beranjak dari tempat itu.

“nungguin apa mas??? Kembaliannya kurang?” Tanya ara ketus saat melihatku tak kunjung beranjak pergi.

“eehhmmm ga sihhh…tapii…..cuma mo tanya…sudah lama suka sama pilem begituan?” Balasku sambil mengedip nakal ke arah layar komputer.

Ara sepertinya terkejut dan melotot kepadaku.
“hheeehh mas ngintip komputer ara ya ??? Jahil banget sih jadi orang !! Awas ya kalau sampai cerita ke papa mama !!” Bentak ara.

Cliiingg !!!
Tiba-tiba aku seperti mendapatkan inspirasi layaknya penulis cerita panas semprot yang secara spontan dapat ide baru dalam penulisannya.

“kenapa pakai ngancam sih ??? Aku sih santai saja asal ada satu syarat !!” Imbuhku sambil mencoba suaraku kubuat berat layaknya seorang perampok yang menodong korbannya.

“ehhmmm maaf deh mas…bukannya gitu…Ara Kan takut juga kalau papa mama tahu…syarat apaan sih…??? Jangan yang aneh-aneh ya !!” Ucap ara agak mengendur.

“iya…tenang aja…syaratnya ga sulit kok…cuma ingin bisa jadi teman dik ara” jawabku tanpa sungkan-sungkan.

“jiaahhh mas mas…mo ngomong begitu aja susah banget…iya iya…Ara Jadi temen mas deh…tapi ya jangan panggil dak dik dak dik begitu dong…kesannya ara seperti bau kencur banget…biasa aja…panggil ara…ok?” Balas ara dengan bonus senyum.

Aku tersenyum dan mengangguk. Akhirnya akupun tak jadi pamit balik ke kosan. Kita berdua asyik ngobrol sambil menemani ara yang menjaga wartel. Tak terasa hari telah beranjak siang.

“aku buatin mie rebus ya masss” Ucap ara padaku.

“boleh deh…” jawabku. Yah anggap saja sekaligus pengiritan. Namanya juga anak kosan…hehehe..

“ya udah…tolong dong bantuin tutup rolling door nya, nanti buka lagi jam 5 sore” imbuh ara lagi.

Aku segera beranjak menutup rolling door wartel.

“mas…abis tutup wartel langsung aja ke ruang tengah ya…disana ada televisi…mas santai aja disitu dulu sambil nungguin ara selesai masak” teriak ara dari dalam rumah.

singkat cerita, aku sedang mengunyah mie rebus buatan si cantik dengan penuh semangat. Teh manis juga telah dihidangkan ara sebagai pendamping makanan itu.

“hihihihi…lucu juga kamu mass…makan kok kayak mesin selep tebu…asal telan aja..apa ga panas tuh?” Ucap ara sambil tersenyum geli memandangku yang sedang mengunyah mie dengan lahap.

“kalo ada lomba makan mie, aku paling jago…dijamin dehh..hehehe” balasku dengan agak membusungkan dada.

tanpa kusangka, dicubitnya dadaku yang sedang kubusungkan itu. Aku mengaduh kesakitan.

“hihihi…rasain…dasar congkak !!!” Cibir ara sambil menahan senyum.

“huuhhh dasarrr…!!!” Balasku sambil mengacak-acak rambut ara dengan kesal.

Selesai makan, kita asyik nonton televisi berdua.

“ehhh ra…setelin pilem belunya dooong…” ucapku tiba-tiba dengan wajah memelas.

Plukkk !!!
Tamparan ringan di pipiku menjadi jawaban atas ucapanku tadi.

“hehh mister cabul….tak usyahhhh yaaa!!!” Bentak ara sambil melotot namun sambil menahan tawanya. tapi ternyata itu hanya gurauan ia semata. Nyatanya ia beranjak juga ke dalam kamar dan sejurus kemudian sudah keluar kamar dengan membawa sebuah dvd polos tanpa gambar bertuliskan love & live.

“ada syaratnya kalo mo nyetel beginian disini !” Ucap ara sambil berjalan kearahku. Lenggak-lenggok jalannya bikin mules saja hihihi.

“apaan mbak sist syaratnya?” Tanya ku super penasaran sambil mengkerutkan kening. Tapi mengkerutnya kening itu buka karena penasarannya tapi karena pusing setelah melihat lenggak-lenggok jalannya ara tadi… xixixixi.

“resiko ditanggung penumpang, aku ga mau tanggungjawab !” Balas ara.

“lha kan ada kamyuuu…menerima dan menyalurkan hasrat kan ???” Tanyaku nyengir.

Toooeenggg…!!!
Bantal kursi sofa berukuran 30 cm x 30 cm dengan ketebalan sekitar 10 cm dan berat kurang lebih sekitar setengah kilogram telah nangkring di kepalaku, buah karya tangan ara sebagai ganti dari jawaban atas pertanyaan sablengku barusan. Aku hanya pura-pura manyun.

Ceklekkk…Srriuutttt…Ccreetttt…
suara disk setelah dimasukkan player dvd.

Blaaablaaa..bla..bla..
suara dialog awal film yang tidak terlalu penting bagiku karena memang es degan panas..uppss salah…adegan panas lah yang hanya ku tunggu.
Tampak disana si cewek baru melepas handuknya sehingga nampak tubuh polosnya. Ia berjalan menuju meja rias untuk berdandan. Sungguh pemandangan indah luar biasa. Udah putih, cuantiik, langsing perutnya, pantatnya semlohe, dadanya manyun gede, bbbrrrrr…..bikin ngilu saja hehehe.
Saat si cewek berdiri didepan cermin tiba-tiba seorang cowok datang dan merangkulnya dari belakang. Si cewek hanya tersenyum dan berbalik. Sambil berhadapan, mereka mulai saling melumat bibir. Si cewek membantu si cowok melepas seluruh pakaiannya. Tuiiing….menyembullah batang si cowok yang bikin mendelik si cewek itu. Busyettt…gede dan panjang banget. Seukuran apa ya….ehh…itu lho seukuran gethuk pisang yang dari kediri…tahu kan ??? Tapi yang ini hampir dua kalinya gethuk itu…swearr… Si cewek terlihat takjub dan terpukau. Namun tanpa sungkan-sungkan ia menyambar si gethuk pisang dan mulai mengulum dan menjilatinya. Ku lirik ara yang duduk di sebelahku, nampaknya dia agak berubah roman mukanya.

Plekkk…
“apaan sih mass….!!! Udah sana nonton” ucap ara sambil tangannya menepuk pipiku dan tersenyum malu-malu-mau.

Dengan sigap bin lincah ia terjang si cewek hingga tertelentang dan dengan beringas menjilati lobang ehem si cewek. gantian sekarang si cewek merem melek dibuatnya. Aku yang memperhatikan ‘kegiatan’ di layar televisi itu menjadi panas dingin sendiri.
Tanpa peduli ara bakal marah atau tidak, aku rangkul pundak ara dan aku tarik kearahku. Dengan cepat ku sambar bibirnya dan berusaha ku kulum. ternyata ara hanya diam saja. Lambat laun mulutnya juga merespon kulumanku dan berusaha mengimbanginya. Semakin lama semakin bersemangat dan menggebu-gebu.

“eehhhmmm…mas mas….sudah ya…stooppp…stttttopppp…berhentiii…..Ara Udah punya pacar !” Ucap ara menghentikan aksi ciuman kami.

Dueerrr….Tuwingggwing wingg…plekkkk….
anganku yang sudah melambung jauh tinggi hingga ke awan tiba-tiba tersambar petir, jatuh berputar-putar, dan akhirnya menghujam bumi….uhhh…
Si anu yang tadinya udah berdiri dengan sikap sempurna kini mengendur dan lama-lama terkuai lemas. Mood-ku benar-benar amblas sirna. Aku jadi murung dan memandang layar televisi dengan tatapan kosong.

“ya udah dehhh…sori…aku balik dulu ya…udah mo sore” ucapku dengan wajah cool abis.

“yaaa…mas kok ngambek gitu…di sini dulu dehhh…!!!” Balas ara dengan prihatin (sok prihatin mungkin pastinya).

“ga ahhh…besok-besok aja aku maen lagi..” lanjutku.

“sttttt…hehmmm…ya udah terserah mas…tapi minta no hp nya mas dong…siapa tahu wartelnya butuh orang jaga besok-besok !” Balas ara lagi sambil menghela nafas.

Seminggu kemudian di kamar kos ku…

Seputih cinta ini, ingin kulukiskan di dasar hatiku, kesetiaan janjiku, untuk pertahankan kasihku padamu…

Cklekkkkkk !!!
Kumatikan saja radio yang sedang memperdengarkan lagu kerispatih-tak lekang oleh waktu. Berisik ah…apaan lagu cinta-cinta-an. Prettt…

Apakah ini cinta…datang menyeruak dalam jiwa,
sesakkan jiwa, dan kini ku terluka…

ranah jiwa sedang kering kerontang, desiran angin terbangkan sampah dedaunan,
kosong dan hampa tercipta, sinar mataku siratkaan nestapa….

hikks…hikss… kucoba merangkai puisi atau rintihan jiwa atau apalah itu ku tak peduli. Yang penting aku bisa melipur jiwaku yang sedang luka. Wajah ara melintas di benakku dan aku semakin merana. Tapi memang apa hendak dikata, cintaku terluka hnya karena anak smp belaka…whattt??? Smp ??? Shiittt…!!!

Ting tong ting teng…
Bang…MAS…TUAN…ADA Smsss…
teriak suara doraemon dari hp ku yang cukup mengejutkanku. Nomernya tidak dikenal. Kucoba membaca isinya,

“mas minta tolong, bisa jagain wartel siang ini (sekarang) ??, Orang rumah lagi kerumah nenek yang sakit, aku juga kurang enak badan nih…tolong ya…makacih..ARA”
wowww…Ara. Tapi ku masih bete dengan kejadian minggu lalu. Dengan berat hati kulangkahkan kaki menuju rumahnya mengingat kasihan juga pada ara yang sakit tapi ga ada yang bisa dimintain tolong.

“ara….ara…kamu dimana?” Teriakku dari depan pintu rumahnya.

“masuk saja mas, aku dikamar lagi tiduran, ini kuncinya wartel di aku” jawab ara.

Ku berjalan memasuki rumah yang lengang itu dan menemukan ara dibawah tumpukan pakai kotor…upss hehe salah…di atas ranjang dengan berselimut rapat.

“mas ini kuncinya, tolong dibuka seperti biasa. Nanti kalau capek, ditutup dulu sebentar ga apa-apa” ucap ara dengan agak lemah.

“lho ara sakit apa? Udah bilang ortu? Pacarnya mana kok ga nemenin?” Tanyaku gencar.

“belum bilang mama papa sih mas, nanti juga mendingan. Kalo pacar ara sih tadi udah di sms, tapi katanya lagi ada job penting jadi ga bisa kesini, cuma mas yang dengerin keluhan ara…makasih ya mas..!!!” Balas ara.

Kudekati ara dan aku mencoba ngobrol untuk menemani dia sementara waktu. Akhirnya ku tahu bahwa pacar ara bukanlah anak smp seperti ara melainkan seorang pegawai yang umurnya sedikit diatas umurku. Ternyata selera ara yang dewasa ya hiihiihiii.
Dari obrolan itu aku juga akhirnya tahu bahwa pacar ara jarang sekali ketemuan dengan ara. Terakhir ia kelepasan bahwa ia akan minta putus dari pacarnya.

“lho…kok minta putus…hayooo…punya gebetan baru ya ??” Ledekku pada ara.

“sebel aja mas…bete…punya pacar tapi kemana-mana sendirian…mintanya yang enak aja tuh dia” ucap ara dengan ber api-api.

“hahh…minta enaknya yang gimana?” Tanyaku menyelidik.

“hhhemmm hehehe…ya itu mas…itu tuhhh masak ga tau sihhh…mainin itu ama masukin itu ke ituuu…hihihi” balas ara dengan agak memerah wajahnya sambil ia menutup mukanya karena malu.

“udahhh ah mas malu…lagian sebenarnya ara lagi berbunga-bunga…ada cowok yang perhatiaannn banget ama ara akhir-akhir ini…jadinya ara makin sebel ama pacar ara itu” imbuh ara lagi.

Clingggg…!! (muncul gambar lampu bohlam diatas kepalaku)
secara tidak langsung aku langsung paham lah. Ternyata ara sudah pernah begituan dengan cowok. Pantesan aja dia kelihatan ehemm menggoda gitu hehehe. Tapi…siapa ya cowok yang perhatian sama ara akhir-akhir ini? Bikin penasaran saja. Yang pasti aku ga boleh kalah sama tuh cowok.

“badanmu panas ra, sudah minum obat belum ?” Ucapku sambil memegang kening ara.

“iya sih mas agak demam gitu, tapi tadi udah minum obat kok, kebetulan ada kotak p3k di rumah, cuman ni kepala rasanya pusing banget mas !” Jawab ara sambil memegang kepalanya.

“oww pusing, sini aku pijitin…jelek-jelek begini tapi suka jadi langganan teman-teman buat pijet gratis hahaha” lanjutku.

“kok jelek? Ganteng kok hiihihi..” timpal ara sambil terkekeh. Terlihat dia berusaha membuka selimutnya dan hendak bangun untuk siap dipijit.

“yeee…tumben bilang ganteng…mentang-mentang minta pijit gratis pakai merayu segala !!!” Semprotku sembari mencibir. Tapi swearrrr rasanya begimana gitoh saat dia bilang ganteng….hhrrrrr….

Segera kubantu ara membuka selimutnya, tapi saat selimut itu telah selesai seluruhnya terbuka waduuuwww ampunnn dj…..Ara Cuma pakai lilitan handuk brooo…CDnya Kelihatan…aw aw awww…jadi inget pilem yang diputer seminggu yang lalu itu hihihi…

“lho…kokkk???” Tanyaku tak kulanjutkan namun sambil mulut ternganga takjub.

“ehhhmmmm iya tadi abis mandi berasa badan meriang, ya udah minum obat terus tiduran disini…belum sempat ganti baju…hayooo….mesum lagi nih pikiran mas !!!” Jawab ara membuatku salting alias salah tingkah dan laku.

“owwhhh….yyaa yaa… udah ss ini aku pijitin…menghadap belakang gih, pundaknya mo ku pijit” lanjutku dengan grogi sambil memberikan instruksi.

Pijit pundak kanan, pundak kiri, leher belakang, tepi ketiak, lalu…

“ra, ini mo dipijit punggung belakangnya…biasanya sih kalau masuk angin perlu di pijit yang bagian sini..” ucapku sambil menyentuh punggungnya yang masih tertutup handuk.

Tanpa bicara dan tanpa ada keraguan ara spontan huhuii membuka handuknya. Topless lah dia. Cuma pakai cd doang warna unggu ehh ungu. Ctuing ctuing gitu deh jadinya si anu ku. Ya memang sih bagain payudaranya tak terlihat karena menghadap depan tapi lekuk tubuhya yang juelas terlihat itu malah bikin gantian aku yang puyeng.
Perlahan ku pijit bagian punggung yang ku sebutkan lagi. Sesekali jariku sedikit menepi sehingga sedikit menyenggol tepian payudara yang ternyata hhhiiiiii empukkkkk banget bro…

” ehhhh masss…ganjen lagi ya…cabul lagi ya….!!!” Bentak ara padaku.
“upppsss soriii ga sengajaaaa!” Balasku takut-takut.

“hihihihi… becanda mas…ga apa-apa kok, namanya juga tukang pijet ya pastilah mijitin yang penting-penting hihihi…udah sana lanjutkan !” Ara menimpali dengan tersenyum dan berucap agak genit.
Cessssss….rasanya hatiku mendengar itu. Aku sudah takut bukan main tadi saat dia ngebentak. Tapi…semua hanya mimpi..ehhh salah….semua hanya becanda. Horeeee…

Kulanjutkan dengan pijitan ‘serius’. Ara pun sudah mengatakan kalau kepalanya sudah enakan. Tapi yang namanya jariku tak mau berhenti. Mijit dan mijit kian kemari, mendekati gundukan tepi payudaranya. Semakin lama semakin merayap ketengah payudara. Ara hanya diam dan sesekai menggeliat geli. Begitu kedua bukitnya sudah penuh tertelangkup tanganku, segera kutarik dia kearahku. Menempel lah punggungnya ke dadaku. dari arah samping ku sambar mulutnya yang sedikit ternganga menahan geli. Ara menyambutnya dengan lembut. tautan lidah dan sedotan bibir bergantian semakin lama semakin menggelora. Remasan tanganku didadanya pun juga semakin bervariatif. Remasan dan pilinan ku kombinasikan sesuka hati.

“uuuhhhmmmmmmmmmm” ara melenguh panjang dengan bibir masih dalam pagutanku. Ia merasakan geli yang teramat sangat pada putingnya yang terus kupermainkan.

“uuuhhh maass masss..gelii auhhhh yaaa yang itu nahh nahhh ahhhh awwww ahhh masssss” ara menarik mulutnya dan berhamburanlah kalimat desahan yang indah dari mulutnya.

“ehmmm mass…auuuhh aduhhh ssstttt masss gilaa mass geliii bangettt taphiiii eennn ennn ennakkk masss aduhhh sssttttt massss auhh” desah ara semakin menggila.

Ara kudorong untuk berdiri sedangkan aku masih dalam posisi duduk di tepi ranjang. Ku bantu ara untuk membuka cd unggu nya eehhh salah lagi…ungu.

Woowww…sekarang dia full bugil brooo. Memang indah ya tubuhnya. Wajahnya cantik, kulit putih, hidung mancung, rambut bergelombang sensual, dadanya haiiikkk gede juga, bulet kenceng lagi dadanya, putingnya merah muda abis, pantatnya montok bahenol, waahhh gitar spanyol banget deh. Gila…masih anak smp brooo…gimana dewasanya nanti yahhh…
Kupeluk dia dengan posisiku tetap duduk sehingga otomatis bukit payudara montoknya pas menyumpal mulutku dengan sukses. Ku kulum dan kujilat putingnya dengan gemas. Kumainkan lidahku dengan getaran cepat untuk menggelitik puting itu. Bukan itu saja, tanganku pun ikutan gotong royong dalam meremas dan memilin sesuatu yang perlu di pilin hohohoho..

“aihhhh masss….geliiii lebihhh geliii dari yangg remmasann tadii ahh aaayhhh mass benerannn enakkkkk mass” rancau ara menyeruak lagi.

“diemuttt masss yang dalemm uhhh ennn ennn ennak masss aauhhh sssttttttttt…..masssssssss” ara kian menggeliat dan mendesis seperti ular sanca.

Dengan sedikit membungkuk ku berpindah daerah kekuasaan ke arah sela sela selangkangannya hhehe. Slurrppp…satu jilatan mendarat tepat di daging enak milik ara. Ara terjingkat kaget plus geli. Ku ulangi lagi jilatan dan makin bertubi-tubi. Lidahku pun mengorek-ngorek sejauh yang bisa dijangkau lidahku. Lobang ara yang masih cukup sempit itu ku bor dengan ujung lidah getarku. Sesekali ku emut klitorisnya dan ku gigit-gigit kecil. Ara mengejang-ngejang hebat tanda…suka.

“auuuhhh aw aww awwwhh masss auuhhh iiihhhh stsstttttt ehhmmmm masss” desah ara sambil mendongakkan kepalanya.

“auuuww masss teruuusssss ahhhh auuuhhh klitnya mas yang seringgg ahhh ahhh sssttt ahhhhh” sambung ara sambil meminta bahwa ia suka klitorisnya di kerjain lagi.

“sstt nahhh nahhh ituhhh masss sssip ahhhhh enakkknyah auuhhh sttttt waaaahhh aahhhh” ara semakin menggila.

Kudorong ara agar menungging dengan berpegangan tangan di bibir ranjang. Kakinya kubuka lebar. Lalu kujilati lubang anusnya dengan tanpa jijik. Bagiku semua yang ada di tubuh ara adalah keindahan dan keindahan.
Slurrppp…sluuuppp ku jiat lubang itu dengan penuh semangat dan nafsu. Ara mengejang kaget dan kegelian.

“ahhh hihi…hii mass ahhh nakal banget sihhh….kokk lobang ituuhh yang dikerjainnnn ahhhh tapiii gelinyaaa aduhhh terusss ajahhh dehhh auuhhh massss…pacarkuu ga pernaaahh gini innn akhuuu uuhhmmmm” ara mencoba berbicara dibalik desahan manjanya. Dia sudah lupa bahwa seminggu kemarin telah menolakku. Dia sudah lupa bahwa aku bukan pacarnya. Dia sudah lupa dan lupa karena yang ada dalam benaknya sekarang hanyalah kenikmatan tak berujung.

Berpindah lagi ku ke bagian memey nya yang merekah itu. Kujilat bergantian secara searah dengan anusnya. Membuat ara menggeliat meronta namun pasrah. Saat ku jilat anusnya, jariku ikut mengobok memey dan klitorisnya. sebaliknya, saat ku jilat memey nya maka jariku sibuk menembus anusnya. Ara menjadi bingsatan karenanya.

“auuhhh mass aiiiihhhh aduhhh apaan masss diapain aja nihhh auhhh ennaakkknya masss janagnnn berhentiiihhh aauhhhh masss terussiiinnn ahhh aahhh” ara mendesah dan berteriak keenakan.

Semakin ku percepat kocokan dan gesekan didaerah memey dan klit-nya saat kujilat anus indahnya. Alhasil ara semakin dibuat melambung dan menggila.

“auhhh masss aduhhh auuuww sssssttttt ahhh aduhghhh gannteng…enakkk sedapppnya masss ahhhhh awwwhhhhh” ara menjerit sejadi-jadinya. Dalam hatiku merasa gembira sekali saat ia menyebutku ganteng hehehe.

“eeehhhhmmmmm masss enakkk terusssss akkku berrasa mmmoo mmmmo nyammmpaiiiii sssstttt ahhhhh terusinnnn yangggg di klitt kuuuhh ayyyoooohhh etrsss ahhha ahhh awww assststttttt aaaahhhh wwwwssssytttt ahhhhh mmmmassss affffttt aarrrgggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh……..” Ara merancau tak terkendali dan akhirnya memuncratkan cairan orgasmenya. Meski tidak banyak namun tetesan cairan nikmat itu terlihat sibuk berebut keluar dari memey ara dan berdesakan mengaliri paha hingga betis ara.

Ara bersimpuh di lantai dengan bertumpukan lutut dan kepalanya lemah tersandar di bibir ranjang. Ara tak tahu saat itu aku sudah muai melucuti pakaianku hingga polos los los. Tanpa menunggu lama, kutarik pantat ara untuk menungging lagi. Ku gesekan ujung palkon (kepala kontol) ku di bibir memeynya yang basah kuyup. Ara terhenyak kaget, namun tangannya segera mengarah kebelakang untuk menuntun kontay ku menembus memeynya. Lagi-lagi ara terbelalak terkejut saat memegang kontay ku.

“hahhhhh….gede sekali masss kontolmuuuhhh…ssttttt jadi berasa takut-takut massss….cukup ga yaahhh…sakittt ga yaa…jadi inget yang di film yang kita tonton kemarin…segede iniiihhh ehhhmmm pastinya penuh dan enakk nihhh !!”ucap Ara dengan genit-genit menggemaskan.

Memang batang kontay ku tergolong cukup berbobot dan berkelas. Dengan panjang 17 cm dan diameter se gede versneling mobil pastinya akan membuat cewek indonesia mendelik. Ini berkat ilmu pijitan dari kakekku dan juga ritualku yang rutin merendam dengan berbagai ramuan jamu.
Ara mengarahkan batangku dengan perlahan namun pasti ke memey nya. Awalnya agak susah. Mungkin karena si memey kaget menerima tamu baru yang super oye ini. Namun si memey memang pinter, digoyang dikit-dikit dia langsung bisa menyesuaikan dan bahkan berusaha menelannya.

“hhhemmmmm masss stttt…padat merayapppp hihiiihi…uhhh stttttt hhhhmmmmm” desah ara sambil mencoba becanda namun terganggu oleh desahannya sendiri.

“baru separooo…hhmmmm…peret seret juga memey kamu cantik !” Balasku dengan gemas.

“apahhhh separooo….uuhhhhhmmm….segini aja sudah sedapphhh aphhaalagii sstttt semuanyahhh nanntiii uuuhhh ehhhmmmm masss ssstttt” timpal ara sambil terus mendesis dan mendesah karena perlakuanku yang terus memompa dengan lembut dan pelan-pelan menghanyutkan.

Bblllesss !!!
Dengan satu tekanan tenaga penuh kulesakkan sedalam mungkin kontay ku ke memey ara. Sejurus kemudian goyangan dan tusukanku yang awalnya pelan berubah menjadi super cepat dan dalam.

“aaaaawwwwwhh masssssssssssss…..auuh aw aww awww awww awww sttttt masss aahhhh ampunnn enakkkk massss aahhh terusssshhh aahhhwwhhhhhhh” ara berteriak tertahan. dari mulutnya keluar erangan erotis yang membuat suasana begitu bergairah.

“eehmmm ra, memey kamuuu eehhmmm enakkk sempittt legittt !! Ucapku sambil terus menggoyang cepat.

“iyahhh masss sempittt tapi dapat kontol gedeeehhh jadiii eehhmmm nya eeehhhh enn ennnakkk sssttta ahhhhhhhh masss terusss…aku mau terusss lagi….lagiii…besok juga lagi…lusa lagiiihhh aahhh mass beneran gilaaa ahh ahh aww awa aww masss enakkkk mass ssstttt ahhhhhhh !!!!” Ara merancau dan berteriak tak terkendali. 10 menit dalam posisi nungging membuatku lelah juga. Dengan tetep menancapkan kontay di memey ara kugendong dia dan sekarang kami sama-sama duduk berpangkuan namun wajah ara membelakangiku. Kugoyang dari bawah memey ara dan iapun merespon dengan ikut turun naik di kontay ku. Tanganku berusaha meraih payudara ara dan meremaskan keras sambil menusuk-nusuk dalam ke memey nya.

“ahhh masss hhhhhhrrrr masssss hhekk hekkk hekkk ssttt ahhh” ara mendesah sambil menggoyang pantatnya sendiri naik turun dengan menghentak keras.

“masss….gilaaa kuattnya mass inihhh…pacarkuuhhh palinggg 5 menittt sudahhh muncrattt…ini mashhh ampunnn bikin akhhuuu ketagihannn ajaahh…masss auuuhhhhhhh” ucap ara disela raungan mulutnya.

Aku mencoba lagi dengan posisi lain. Ku tengkurapkan ara dengan kaki tertutup rapat. Kontay kudorong menembus sela-sela kakinya yang rapat itu menuju memey ara yag tentunya mengatup rapat pula.
“auuhhh masss….gilaaaa…gedenya berasa banget pakai cara begiini auuhh mass ah ahhha awwwwwwwwwwwwhhhh” ara menjerit tertahan oleh sumpalan seprei di mulutnya.

“auuuh masss….benerannnn auuh auuuhh teruss yang cepettt ahh ahhhh aaahhhh sssttttttt” ara terus saja merancau.

Kudorong dan kutusuk memey ara dengan cepat dan dalam. Akupun merasakan pilinan dan empotan yang sangat dalam posisi ini. Dunia seperti begitu indah.

“eerrhhhghhh mass aahh ahh ahhhh akkhu ga kuattt ahh amhhhmmm…mauu mauhhh keluarrrghh lagihh aah ahhha hahhh ahhh awaaww aaaargghhh masssssss maaasss purbaaaaaa ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh” ara menjerit lagi dan kurasakan kontay ku disirami sesuatu yang hangat di dalam sana. Ara mencapai orgasmenya yang kedua.

“tungguu ggghh aakhuu jugga ggggrrhhhh mauu ccroooottttttttttttttttttttt ahhhhhhhhhhhh” aku merasa tak kuat lagi menahan sempitnya memey di posisi itu. Akhirnya klimaks kucapai juga dengan empat sampai lima crottt di memeynya.

Kami tergeletak lemas dengan dilelehi keringat hasil perjuangan bersama. Ara memeluk manja di dadaku seakan meras sangat bahagia.

“ra…sebenarnya akuu…jatuh cinta sama kamuu…”ucapku malu-malu.

“iya…Ara Tahu…emang mas tahu siapa laki-laki yang ara bilang penuh perhatian dan mencuri hati ara?…itu mas…ya mas purba…tapi mas tahu kan…Ara Punya pacar…jadi sedikit bersabar ya…kalau jodoh nanti kita pasti bisa bersama” jawab ara sok berpetuah sok tua. Tapi memang ada benarnya juga.

Aku hanya mengangguk setuju sambil berpikir.
“ahhh biarlah ara jadi pacar orang lain….yang penting tubuhnya milikku hehehe!” Lamunku dengan sok berjiwa master permemek…halahhh purba…purba..

“ra, kalo kamu hamil gimana? Pacarmu bisa marah besarrr !!!” Tanyaku pada ara.

“tenang saja mas…Ara Udah biasa minum obat seperti saat main dengan pacar ara” jawab ara santai.

“ehhmmm mass jangan tersinggung ya…sebentar ara mau telepon mas ryan, hanya sekedar memastikan dia jadi kesini atau tidak…” ucap ara lagi.

“iyahhhh…” jawabku pendek.

Ara segera duduk dan memencet tuts hp nya kemudian meletakkan ditelinga.

” halooo mas ryan…” ucap ara.

“ehhhmmm ini ara ya….saya lihat namamu muncul di hp ryan…ada perlu apa? Kamu apanya ryan ya?…kenalin aku cintya tunangannya ryan….Ryan Lagi ke kamar mandi tuh..” seseorang wanita berbicara di hp ryan.

Duuuerrrrr !!
Ara kaget sekali mendengarnya.

Tanpa berbicara ara segera menutup telepon itu dan berbicara padaku,

“mas temenin ara sebentar..ke kosan mas ryan…ada yang ga beres…buruannn !!!” Ucap ara panik.

Sekian menit kemudian ara sudah duduk diatas motor bututku yang melaju membelah jalan menuju kosan ryan. Sampai disana pintu kamar ryan tertutup rapat. sayup-sayup terdengar rintihan suara manusia sedang memacu hasrat birahi kepuncak asmara. Ara semakin yakin pada kata-kata cintya tadi.

Doook.dok Dookkk..
Ara mengetuk pintu kamar itu dengan agak keras. Agak lama menunggu. Semenit kemudian muncul cintya membukakan pintu dengan hanya berbalut kain bali dari atas dadanya hingga menjuntai ke lantai.

“mbak cintya ya???” Tanya ara menyelidik.

“ehhh iyaa…siapa ya?” Jawab cintya sambil bertanya balik.

“saya ara yang tadi telepon, apa benar mbak itu tunangannya mas ryan ?” Tanya ara lagi.

“iya…ada apa dik?” Jawab cintya lagi dengan wajah bingung.

tanpa menjawab pertanyaan cintya, ara segera menerobos masuk ke dalam kos itu. Aku mengekor dari belakang di ikuti cintya dibelakangku dengan wajah semakin bingung.

“hehhh mas ryan…tega-teganya ya ngebohongin ara !!” Bentak ara saat bertemu ryan di dalam kamar itu.

“eh ara…ada apa ini…kok dateng-dateng ngomel gitu !!” Balas ryan terpancing emosi ara.

“mas kenapa ngaku bujang…ini mbak cintya bilang kalo dia tunangan mas…tega ya mas berbuat begitu…Ara Malu dengan mbak cintya masss….kasihan dia…sudah tunangan kok dibegituin !” Ucap ara lagi dengan ketus.

“iii yya…tapi kita bicarakan dulu yaaa..” kata ryan lagi dengan tegang.

“ga perlu…dasar lelaki pembohong…mulai sekarang kita putusss !!!” Bentak ara sambil melotot menakutkan.

“sebentar ara…!!!” Sahut ryan sambil menarik tangan ara. aku yang merasa tidak senang dengan ryan sejak awal spontan menepis tangan ryan yang berusaha menghentikan langkah ara.

“hehhh looo…!!! Siapa looo…jangan sok jadi pelindung ara ya…!” Bentak ryan padaku.

“aku kakaknya ara…kamu sudah deh sana urusin calon istrimu…siapin pernikahanmu…ga usah maen api sama cewek laen!!” Balasku sambil membentak tak mau kalah.

“brengsek loo ya, gue tahu…pasti lo kan yang tukang ngomporin ara supaya nyelidikin gue ?!!” Bentak ryan lagi.

“kalo aku yang ngomporin, emang kamu mau apa ? Kalo enggak pun, kamu mau apa?” Jawabku enteng sambil mencibir.

“bangsat lo….!!!!” Prakkkkkk…!!!
Ryan mengumpat emosi sambil melayangkan satu pukulan ke rahang kiriku. Aku tersulut, dengan tangan mengepal ku labrak ryan dan ku hadiahi beberapa pukulan di pipi, dada, dan perutnya. Ryan terdorong mundur beberapa langkah namun maju kembali hendak membalas pukulanku.

Stttoooppp !!!
“ryan, kamu sudah ga waras ya??? Kamu itu salah, ngebohongin orang, ngeduain aku, sekarang malah kakaknya pacarmu kamu pukulin, kamu punya nurani ga sih ryannn…!!!” Bentak cintya tiba-tiba menengahi pertengkaran kami dengan menangis tersedu.

“eehhh…ma…maa..af cin, maaf buat kamu terluka…harusnya aku tidak begini…” ucap ryan sambil memeluk cintya.

Aku yang melihat mereka sedang sibuk berbicara berdua segera menarik ara untuk segera keluar dari tempat itu. Ara menurut. Sebentar kemudian motor ku sudah melaju kembali di jalanan.

Ku dengar ara menangis sesenggukan. Dengan iba ku belokkan motorku disebuah warung es untuk istirahat sejenak dan menenangkan ara.
“udah ya ara…jangan dipikirin lagi…!!” Ucapku membuka pembicaraan.

“bukan begitu mas, aku sangat terluka, semuanya telah kuberikan buat dia, tapi….huaaaaaa” jawab ara sambil menangis.

“iya iya aku tahu…tapi kamu tak bisa memutar kembali waktu yang telah berjalan…bayangkan jika kamu belum tahu masalah ini hingga ryan menikah, malah akan lebih runyam kan ???” Lanjutku lagi.

“udah sekarang diminum es nya, terus ara mau ngajak kemana? Muter-muter dulu keliling kota atau langsung pulang??” Ucapku pada ara sambil bertanya kembali.

“srrrooottt…ga mau pulang…Ara mau diluar terus sampe besok !!” Cerocos ara sambil mengelap ingusnya yang meleleh di hidungnya akibat menangis tadi.

“lhoo…lhooo…kok ga pulang gimana sihhh??? Kalo papa mama nyariin gimana? Trus sekolahmu gimana?” Ucapku kaget.
“sekolahnya lagi liburan massss…..papa mama sama adik baru pulang minggu depan sekalian ngabisin liburan, aku sih milih ga ikut emang !! !!!” Jawab ara kemudian.

Setelah mendengar kata-kata ara bahwa ia sedang libur, timbul pikiran bebasku untuk mengajak ara jalan sekalian agak jauh. Tapi kemana aku juga bingung. Dan setelah berpikir dan berpikir akhirnya aku memutuskan untuk mengajak ara ke salah satu daerah dataran tinggi untuk refreshing sekaligus menyewa vila.
Sekitar jam 8 malam kuajak ara untuk makan diluar sembari melihat-lihat pemandangan alam pegunungan yang demikian segar. Saat melewati sebuah toko pakaian, aku menjadi teringat bahwa ara dan aku tak membawa pakaian ganti satupun. Kuingat di dompetku masih cukup dana karena tiga hari yang lalu sempat ikut borongan eo untuk persiapan konser sebuah grup band papan atas. Yahhh lumayanlah hasilnya bisa buat hidup sebulan dua bulan dengan berfoya-foya plus belanja-belanja hahaha (wajah congkak songong).
Kupilihkan baju hangat untuk ara yang tadi pagi mengeluh meriang berupa sebuah sweater dan celana training kaos. Ternyata dia memilih tambahan beberapa g-string dan bra minim.

Dalam perjalanan pulang ke vila, ku ajak ara untuk mampir sejenak ke perkebunan sayur.

“mas, hatiku sakit sekali kalo ingat mas ryan…!!” Ucap ara.

“ihhh kok mikirin dia lagi sih ???” Sahutku agak sebel.

Ara menangkap gelagatku yang kurang suka dengan obrolan itu. Dengan manja ia sandarkan kepalanya di dadaku yang sedang memandang kosong ke hamparan tanaman sawi yang ada di depanku.

“masss…Ara Tahu mas sayang dan cinta sama ara…apalagi pengorbanan mas dalam membela ara di depan mas ryan bikin ara terharu….Ara Mengungsi di sini pun mas rela nemenin…eehmmmm…kalau boleh ngomong….sebenarnya….Ara Juga sayang sama mas purba…sejak dulu mas mondar-mandir ke wartel dan curi pandang ke ara…Ara Juga melirik mas….tapiiii yahhh memang harus tunggu mas ryan begitu dulu kali ya biar kita bisa duduk berdua di sini sekarang…” ucap ara panjang x lebar x tinggi.

Mataku menjadi berbinar, tak terasa lelehan airmata meluncur turun ke pipiku. Ku pandang wajah ara, wajah yang teduh itu, wajah yang cantik ayu itu, wajah yang menghiasi mimpi tidurku. Kupegang kedua bahu ara, ku tatap matanya, kemudian dengan lembut dan penuh perasaan ku kecup keningnya. Sejenak kemudian kami saling merangkul erat, seakan tiada lagi kata berpisah yang mampu menghadangnya. Sekian menit kami hanyut dalam lamunan masing-masing sambil tetap dalam posisi berpelukan. Suasana hening, syahdu, tenang, setenang jiwaku yang serasa disiram ribuan bunga hingga merasuk ke otak ku, ke lubuk hatiku terdalam.

“sayang….” ucapku kemudian.

“iya sayang…” jawab ara sambil mendongakkan kepala memandangku.

Secepat kilat kusambar bibir ara dan kukulum dengan lembut. Ara hanya terpejam, namun gerakan bibirnya mulai mengimbangi setiap sedotan dan kuluman yang aku lakukan. Lidah saling melilit, menjulur, mengulum, dan berbagai ciuman mesra nan menggebu kami lakukan dengan penuh penjiwaan.

“sayang…dingin…balik yuk…” ucap ara setelah sekitar 10 menit kami berpagutan di tengah alam bebas itu.

“ayoookkk sayang…” sambutku sambil menggamit mesra tangan kekasih baruku itu dan melangkah berdua meningggalkan perkebunan yang telah menjadi saksi bisu dari pertemuan cinta kasih tulus kami.

Sampai di vila, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Waktu yang cukup dingin untuk wilayah dataran tinggi. Setelah kami membersihkan badan. Kutuntun ara untuk rebah di atas kasur. Kuselimuti sekujur badannya dengan selimut. Namun karena dorongan buang air kecil yang terus mendera akibat udara dingin, akhirnya aku dengan malas beranjak kembali ke kamar mandi untuk menuntaskan hajat.
Memang udara dingin bikin kamar mandi laris. Setelah buang air kecil malahan aku berasa mules, akhirnya mau ga mau kutuntaskan sekalian keperluan pribadiku itu meski setiap gayung air yang ada di kamar mandi itu begitu dingin sedingin es hingga terasa menembus tulangku.
Butuh waktu sekitar 15 menit hingga aku bisa keluar kamar mandi dengan lega. Kulihat ara sudah terlelap di balik selimutnya. Layar televisi yang menyala segera kumatikan dan aku segera menyusul ara di ranjang. Badan ini serasa letih sekali setelah menjalani berbagai peristiwa hari ini.
Aku segera menyusupkan tubuhku dibawah selimut ranjang yang memang lebar dan hanya satu itu untuk setiap ranjang sehingga aku harus berbagi bersama ara. Kupandang wajah ara yang teduh itu. Pancaran kecantikannya tak surut meski guratan keletihan menghiasi wajahnya. Sejenak aku terlupa bahwa wanita yang ada di sampingku ini adalah anak sekolah smp yang masih belum berumur 17 tahun. Memang cinta tak pandang usia. Lagian ara sudah cukup dewasa untuk menghembuskan nafas cinta bersamaku.
Kumiringkan tubuhku menghadap ara demi untuk menikmati wajah ciptaan tuhan yang sungguh sempurna. Pahaku yang terbuka karena hanya memakai celana boxer menggesek atau tepatnya menyenggol sesuatu yang sepertinya adalah kulit paha ara. Aku menjadi termenung sejenak, kan seharusnya aku tak terkena kulit itu. Sebelum tidur tadi ara kan memakai celana training kaos yang kubelikan…!!
Dengan penasaran kuberingsut memasukkan kepalaku ke bawah selimut. Kulongok dan aku pun terkejut. Ara hanya memakai g-string minim dan bra minim yang kubelikan tadi. Sungguh seksi dan montok kulihat. Kulihat kembali wajah ara, sesaat kemudian dia tersenyum centil.

“oalahhh ndukk gendukk…kamu pura-pura tidur ya…asyemmm !!!” Bentakku sambil tersenyum lucu.

Ara hanya tersenyum dan langsung bergerak menindihku. Kami berpagutan bibir dengan panas dan menggelora dibalik selimut itu. Merasa tak nyaman dengan penghalang selimut, ku tendang selimut itu hingga terjuntai ke lantai. Ciuman panas kami lanjutkan dengan menggebu. Ara begitu menikmati perciuman itu dan bahkan sepertinya dia yang mencoba mengambil alih nahkoda perciuman dengan posisinya diatasku untuk mendominasi permainan. (tuhhh kan bener…yang jutek, yang judes, yang galak….itu simbol ratu di ranjang…!!! Hehehe).
Ara kemudian melorot jauh kebawah dan menemukan celana boxer ku yang sudah menggembung bagian depannya. Tanpa permisi ia loloskan boxer itu dari tubuhku sekaligus cd yang kukenakan. Kini tubuhku polos. Ara dengan gemas memegang erat batang kontay ku dan mengocoknya membuat aku gemetaran. Perlahan tapi pasti dijilatnya batangku dan dikulumnya.

“aauhhh sayanggg….pinterrr bangettt siihhh ahhhhhh” ucapku terangsang hebat merasakan kuluman batangku di mulut ara.

“ssstttt aahhhh sayayng aaahhhh aahhhhh” seringaiku menikmati itu semua.

Kuterjang kedua bukit ara yag menggembung indah dibalik branya yang sangat mini itu. Dengan satu hentakan, terlepaslah pengait bra ara dan dengan buas ku lumat putingnya dan kukulum juga kujilati. Tanganku tak hanya diam, ku remas bongkahan dada putih nan membusung itu hingga ara meringis antara kesakitan dan geli.

“auuuhh mass…nakallll ayhhhh…..sayanggg….diapain aja tuhhh susu akhuuu hmmmm” desah ara manja sambil mencubit hidungku.

“hmmmm…hhmm..mmmmhhhhhh” jawabku dengan gumaman tak jelas karena sibuk ‘mengunyah’ dada indahnya ara.

Kepalaku bergerak semakin ke bawah. Kugeser kain g-string tanpa melepasnya sehingga lobang memey ara terlihat menyembul di sisi samping kain. Begitu kulihat daging berjenggot itu spontan darahku berdesir. Dengan sangat bernafsu segera ‘kuterkam’ bagian lobang aneh itu dengan penuh semangat. Lidah dan tanganku bermain dengan lincahnya di area becek itu. Kadangkala ku gosok tonjolan diatas memey dengan telunjukku sehingga membuat ara menggelinjang tak karuan. Paduan tusukan jari dan gosokan di klit nya ara begitu kunikmati laksana seorang pegawai baru menerima pekerjaannya dengan senang hati.

“auuuhhhh sayy ahhh sttttttttt ehhhmmmm sayangggg aaahhhhh stttttt aahhhhhh” ara mulai mendesah tanda nikmat.

“sssstttttt masss sayanggg aaahhhhh aauuuwwwwhhh eeehmmm ennnnakkk sayaaangggg…sssstttt terussss !!” Desah ara tiada henti.

P”ehhhmmm……eeehhhhh…ehhhmmmmmm” hanya desahan demi desahan yang keluar dari mulut ara sementara matanya tertutup menghayati setiap sentuhan dan gesekan ku.

Semakin gemas dengan lobang ara yang berdenyut-denyut semakin pula ku kocok lobang itu dengan irama yang stabil namun semakin lama semakin cepat dan dalam.

“auhhh auhhh massss sssttt ahhhhh aahhh ahhh terusss cepetannn ahhhh mmmo mmo nyampaaiiii bentarrran laghiii uhhh ahhha hahhhh masssss” desah ara semakin meradang.

“ssssttt masss ahhhh sayayanggg aauhhh ahhh ahh ahhh awawwwhhh mmmasss akhuuu keluarrrr ahhhhhhhhhhhhhahh ahhhhhhh” teriak ara dengan suara super seksi.

Saat melihat ara menggapai orgasmenya, tangan dan lidahku malah ku tarik keluar dari memey ara. Sebagai gantinya, dengan gemas ku cabut satu dua bulu jembi ara. Ara melonjak dan terpelanting kembali ke ranjang akibat orgasme dan perbuatanku ‘cabut rumput’ yang jahil. Antara puncak kenikmatan dan sakit yang aneh menyerang memey ara dengan bersamaan.

“aauhhhh massss dasssarrr nakalll bangg het siiihh….” ucap ara sambil mencoba mencubit dadaku. Namun badan dan tangannya sudah terlalu loyo merasakan gejolak puncak itu sehingga cubitannya pun menjadi tak bertenaga.

“ehhhmmmm masss…barusan sensasinya anehhh bangettt…rasanya gimana gitu…asyik..enak tapi…aduuuh apaan ya….ituuu sayang…keras gituu hihihih….ehhmm cuuppp mwuahh” ucap ara menceritakan kenikmatannya sambil mengisyaratkan kecupan bibir ke arahku dengan seksinya.

Tak kukira ara yang seorang anak smp kelas 3 telah memiliki gejolak birahi begitu membuncah. Sisi erotisnya menyeruak dibalik usianya yang masih ranum. Tapi kembali ku berpikir, berapapun usianya, se-seksi apalah dia, sebesar apapun gejolak nafsunya, selama ia telah mencapai garis dewasa dalam hal ini telah menstruasi maka tak aneh bila semua itu terjadi. Memang kalangan keluarga ara adalah keluarga berpostur super. Papanya begitu jangkung dan gagah. Mamanya juga tinggi montok hehehe. Ya mungkin darah timur tengah masih mengalir di tubuh mereka sehingga pertumbuhannya juga berbeda dengan pribumi layaknya.

Dengan tangan yang masih bergetar tremor karena mengocok memey ara, kulanjutkan dengan mendaki tubuh ara hingga wajah kami saling berhadapan. Sambil terus berciuman dalam posisi konvensional itu ku tekan kontay ku mengarah ke memey ara. Ara seperti biasa memegang batangku dan membantu mengarahkan ke bagian vitalnya. Nampak ara mendelik saat ujung kontay ku mulai menyeruak bibir memey nya dan terus melaju lambat menyusuri goa terjal berlendir itu. Meski sudah pernah ‘menelan’ kontay ku namun batangku yang memang guede itu tetap saja membuat ara mendelik seakan kaget dan tegang menerima ‘hujaman’.

“uuuffffhhhh masss….ggilllaa…guedeenyahhhh hhmmmm nikmattt massss” desah ara pelan.
Dengan penuh konsentrasi ku mulai menggoyang memey ara. Semakin lama semakin kudengar desahan dan raungan ara yang menikmati genjotanku.

“uhhhmmm sayanggg….auhhhh ssttt ahhh ahhh terusss….cepett tambahhh enakkk…ehhhh rasanya mentokkk bangettt uhhhh mass ahhhh penuh bangettt memey ku massss aahhhh ahhhha ahhh” rancau ara.

“ehmmm say sayanggg suka gakk…enakkk gaaa saayanggg” bisikku di telinga ara.

“sukka sayaang sukaaa bange ettt aahhh ahahhhh aw awwwhhh…enakknyaaa ampuuunnn sayang aahhh enaaakk gilaaaa….terusinnn saayyy aahhhhhh” jawab ara disela erangannya.

“aahhhh kkkm kammmu sayanggg akkuu gaaa ra? Cinta gaaa ?” Ucapku lagi ditelinganya memancing antusiasme ara.

“sayayanggg bangettt ahhhh ciin cinnta jugaaaa…jangnn tingggalinn akhuuu masss ahhh sstttt…selamanyaaa ahahhh sama akuuu…temaninnn akuuu…kelakkkk jadi suamikhuuu yahhh ssttt ahhhhhhh” jawab ara dengan terbata-bata. Jawaban ara membuatku tertegun sejenak dan kemudian hatiku tersenyum dibuatnya.

Malam kian larut. Dengan penuh kasih sayang ku ajak ara berdiri diatas ranjang. Kutuntun dia untuk menyandarkan tangan ketembok ya ada di tepi ranjang. Kupandu ara dengan lembut. Kubungkukkan tubuhnya dan kutunggingkan pantatnya. Kini mulai ku belai dan kujilati bongkahan pantat indah ara itu dengan penuh gairah. Kujilati pula bibir anus ara.

“auuuufhhhhh mmasssss aahhhh…sudaaahh sudaahhh ahhhh…pakai kontol gede kesukaanku ajaa ahhhhhhh masss” teriak ara tak kuasa menerima semua rangsangan itu.

Tak kupedulikan teriakan ara. Terus saja kukocok memey ara sambil menggosok-gosok klit nya dengan cepat. Lidahku juga tak mau pindah dari urusan jilat-menjilat di anus ara. Ara semakin meraung tak tertahankan.

“auuuh masss aahhhhhh massss ampunnnn ara tidak kuatttt aahhh masss aw awwwhhhh mmauuu keluarrr lagi niiihhh masss auuuuhhh masssssssss ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh” ara menjerit dan merancau tak terkira. Dengan suara nyaring ia sampai juga pada orgasmenya yang kedua. Cairan ara yang sudah membanjir di lobang memey nya mulai menetes ke ranjang.
Kaki Ara sudah semakin tak kuat untuk berdiri. Nafasnya ter engah-engah.

Tanpa menunggu ara yang masih lemas, ku tusuk dengan cepat memey ara yang masih merekah. Ara menjerit super kaget namun aku langsung injak pedal gas untuk full speed. Kukocok dengan kecepatan super gila. Ara semakin mengaduh tapi keenakan.

“aaauuuuuuuuuhhhh masssss aahhhhhhhh ahhh ahhhh ahhhh gilaaa auuuhhh ssstttt ahhh” desah ara tanpa henti.

“aww awww awwwhhh sayanggg hhekkk heehhkkk aduuuhhh stttt ahhhh ahhhhh” desah ara semakin menjadi-jadi tanpa bisa berkata-kata.

“sayanggg…kamuuu siappp maiiinn teruss sama akkhuuu setiaap waktuuu ??? Kamuu gaa nyerahhh sayanggg ngeladeninn akhuuu???” Ucapku sambil dengan tetap menggenjot ara.

“auuuwhhh sayanggg…kamuu perkassaa ahhhh gaa ada matinyaahhh…akhuuu malahh senengggg mainnn ahhh ahhh teerr…terruss sama kammuhhh…kapannn ajaaa…aauuuhhh sayangg aaahhh ahhh” balas ara dibarengi desahan yang terus menerus terlontar dari bibirnya yang seksi.

“aauuuhhh mass ssstttt ahhhh terusss jangnnn berhentitiii…sedikittt…sedd ddiikittt ahhh lagiii aahhh ahh awawawwhh ara nyampaiiiyyy lagggiii aaawww ahhhh ahhh aahhhh masss ahhh aauuuhhh aaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhh” sekali lagi ara mencapai orgasmenya. Matanya sayu namun menyiratkan kepuasan tak terhingga.

“yaaa aaayyyy saayyannng akkkhhuu jugga hampir ooohhh sammmpaii juuga aahh uhhhh ehhmmm…akkkuu kellluarin diluarrr aja yaaa…kita perluuu mainnn save sayanggg aaahhh ahhh ahhhhh araaaaaaaa……” akhirnya aku mendekati puncak kenikmatan yang sedari tadi ku daki. Ku tarik batang kontay ku dari memey ara. Dengan sigap pula ara membalikkan badan dan segera mengulum kontay ku. Sekian detik kemudian cairan kental muncrat ke dalam mulut ara. Sebagian merembes keluar dari mulut ara karena tak muat. Dengan senyuman genit ia menelan seluruh cairanku. Lelehan di luar mulutnya pun ia jilati dengan menjulurkan lidahnya.

Tanpa berbusana kami saling berpelukan dibawah selimut ranjang. Segera kami tertidur karena letih yang amat sangat.

jam menunjukkan jam 9 pagi saat kubangunkan ara yang masih tidur. Kuajak dia mandi bersama. Didalam kamar mandi itu kami sekali lagi bergumul dan memacu kenikmatan. Sungguh hari-hari yang membahagiakan bagi kami berdua.

beberapa jam kemudian motor bututku telah kembali membelah teriknya mentari di jalan raya untuk kembali ke kota.


Tammy si bontot —

Angin basah lautan menerpa mukanya dengan kencang. Tami tak bergeming dari
pembaringannya. Malahan, seraya memejamkan matanya, gadis manis berkulit putih
mulus itu memenuhi paru-parunya dengan udara segar pulau Dewata. Bibirnya yang
tipis itu menyunggingkan senyum pertanda ia menikmati betul suasana sore itu.
Saat itu ia tengah duduk di teras rumah peristirahatan orang tuanya yang berada
di sebuah bukit yang terletak tepat di sisi pantai. Deburan ombak yang berjarak
100 m di hadapannya itu terdengar jelas di telinganya. Tami memang bukan orang
sembarangan. Ia lahir sebagai bungsu dari keluarga seorang pejabat tinggi yang
memiliki pengaruh di negeri ini. Kedudukan ayahnya itu membuat
kesenangan-kesenangan duniawi seakan tak henti mengejar-ngejar keluarganya.
Harta melimpah, kemudahan berniaga, kemudahan hidup, status sosial yang tinggi,
kehormatan.. seakan merupakan atribut standard bagi ayah, ibu, dan
kakak-kakaknya. Tami masih memejamkan matanya seraya meluruskan punggungnya di
kursi panjang bermotif batik. Tubuh telanjangnya yang hanya ditutupi kimono
handuk berwarna putih terlihat menggeliat sesaat sebelum kembali terdiam santai.
Namun gerakan kecil tadi cukup membuat kimono putihnya terbuka memamerkan bagian
kiri tubuhnya yang telanjang. Sebelah buah dada perawan yang berbentuk bulat
menantang itu menyembul keluar. Puting kecil berwarna coklat kemerahan itu
tampak agak mengeras ketika angin basah pantai pulau Bali itu kembali menerpa
dengan kencang. Tami mengangkat tangan kirinya dan menyentuhkan telapak
tangannya di ujung putingnya yang terbuka itu. Aaahh, gadis itu mulai merasakan
darahnya mengalir bertambah cepat, kulitnya mulai merinding, dan kedua putingnya
mulai mengeras.. Tami membuka matanya, ya… perasaan-perasaan inilah..
sensasi-sensasi inilah yang akhir-akhir ini begitu sering mengunjunginya.. di
usianya yang ke 24, Insinyur dari sebuah institut negeri di Jawa Barat ini
memang masih sendiri. Nasibnya sebagai seorang anak pejabat, membuat
pergaulannya agak terbatas. Ia tak bisa pergi bergaul sesuka hatinya seperti
teman-temannya yang lain karena kemanapun ia pergi beberapa pengawal pasti
mengikutinya. Beberapa kali kedua orang tuanya yang memegang teguh adat istiadat
Jawa itu mencoba untuk menjodohkannya dengan pemuda dari kalangan pejabat juga,
namun Tami belum menemukan seseorang yang pas di hatinya. Ibunya yang amat
memanjakannya adalah teman bertukar pikiran yang paling mengasyikkan sekaligus
figur yang paling dominan baginya. Begitu banyak nilai-nilai dan falsafah Jawa
yang agung itu ditanamkan ke dalam benaknya. Namun, sebagai perempuan Jawa,
tidak semua hal bisa dibicarakan dengan seorang ibu. Tami menghela nafas… duh
ibu.. seandainya ibu bisa memahami gejolak apa yang ada di dalam diriku..
tentunya ia tak akan menjagaku sedemikian ketatnya.. Tami mengerti betul kalau
ia membutuhkan sentuhan lelaki.. seringkali keinginan itu menjadi kenyataan
dalam mimpinya.. beberapa kali ia mencapai orgasme ketika dalam mimpinya ia
ditindih dan disetubuhi oleh orang tak dikenal.. beberapa kali juga ia mencari
orgasme dengan tangannya sendiri dengan bantuan majalah dan film-film porno.. ia
betul-betul tak tahu kapankah sang pangeran tampan akan datang untuk
melamarnya.. TITITITIT..TITITITIT… terdengar telephone cordlessnya berbunyi.
Dengan malas Tami bangkit dari kursi panjangnya dan berjalan menuju telphone. Ia
membiarkan kimononya terbuka dan tertiup angin sehingga kedua buah dada
berukuran 34 B itu bergayut mengiringi langkah kakinya. Pinggulnya yang bulat
berisi itu tampak bergetar mantap. Tami melirik ke pintu kaca di depannya, ia
memandang wajah Jawanya yang manis dengan mata bundar, hidung mancung dan dagu
sedikit lancip.. ia pun memandang rambutnya yang tergerai sebatas bahu.. lalu ia
memandang badannya yang telanjang itu… tiba-tiba keningnya agak berkerut
ketika melihat sedikit guratan lemak di perut bawahnya tepat di atas bulu-bulu
keriting yang tercukur rapi yang menutupi vaginanya “hmmmmm musti senam lagi
deh..” gumamnya seraya mengangkat telephone “hallo…”
Tami memeluk Rina dengan erat. “Happy Birthday ya..” ucapnya sambil mencium pipi
sepupunya itu. “Thanks ya mbak Mi.., kapan datang dari Bali?” “Ya
kemarin…begitu terima telepon dari kamu.. sorenya aku pulang.. untung kamu
mengingatkan.., kalo engga pasti aku kebablasan..” “Iya.. aku sampai bingung
nyariin mbak soalnya orang-orang serumah pada nggatau mbak kemana.. yang tau
ternyata cuma Bude.. ya udah.. yang penting mbak nyampe kesini..” Rina menggamit
lengan Tami dan membawanya untuk menyalami kedua orang tuanya. Ayah Rina adalah
seorang pengusaha besar yang memiliki banyak perusahaan di berbagai bidang.
Namanya diabadikan sebagai nama sebuah jaringan penyedia hiburan di Indonesia.
Dengan ceria, Rina terus menggamit Tami dan memperkenalkan dengan teman-temannya
dan relasi bisnis keluarganya. Mereka menghampiri tamu-tamu yang berdiri di
ruang tengah rumah keluarga Rina yang luas dan megah di bilangan Pondok Indah
itu. “Mbak Mi, ini kenalkan teman kuliahku Tuti…” Rina memperkenalkan Tami
pada seorang gadis berparas lumayan dengan tubuh tinggi semampai “dan ini
cowoknya.. Dito..” Seorang pria tampan berperawakan tinggi dan tegap serta
berpotingan rambut cepak tentara tersenyum sambil menyambut uluran tangan Tami
“Dito..” suara beratnya membuat penampilan pemuda itu sangat berwibawa. Tami
menatap mata Dito dengan kagum.. belum pernah ia melihat pemuda setampan ini..
dagunya yang panjang, lehernya yang kokoh, dadanya yang bidang, dan tangannya
yang berotot.. Tami membiarkan tangannya berlama-lama dalam genggaman pemuda
itu.. “Ehmmm..” Rina mendehem sambil tersenyum.. Dito melepaskan tangannya
dengan kikuk.. tampak Tuti mendelik kearahnya dengan pandangan tak senang.. Tami
tersenyum lalu meninggalkan mereka berdua..
Dito adalah seorang anak pejabat sebuah departemen favorit bagi para sarjana
FISIP. Ia seorang sarjana lulusan sebuah universitas negeri ternama. Sejak
tingkat awal di kampusnya ia sudah dikejar-kejar oleh mahasiswi-mahasiswi baik
teman seangkatan maupun lebih tua. Hobi gonta-ganti mobilnya cukup menunjang
sosoknya sebagai target incaran wanita-wanita cantik. Dito tampaknya sangat
menyadari dan menikmati kelebihannya itu. Sebutan ‘womanizer’ dengan bangga tak
ditampiknya. Ketika lelaki itu bersalaman dengan Tami, ia menangkap sinar
kekaguman terpancar dari mata wanita yang setahun lebih tua darinya itu. Sinar
kekaguman yang begitu seringnya tampak di mata wanita-wanita teman kencannya.
Namun, Dito merasa ada yang aneh pada pandangan Tami. Ia tak tahu bagaimana
menerangkannya, namun ia merasa bahwa Tami dilahirkan untuk dirinya. “Minum
Dit..” suara Tuti membuyarkan lamunannya. “O..ya.. thanks..” Dito mengambil
gelas dari tangan Tuti.
Sejak pertemuan dengan Dito di pesta ulang tahun Rina, Tami menjadi
uring-uringan. Wajah Dito selalu terbayang-bayang di pelupuk matanya. Yang gila,
ia pernah bermimpi sesosok tubuh berpakaian hitam memeluknya, dan tanpa terlihat
tiba-tiba Tami merasakan sosok hitam itu memasukkan penisnya ke dalam vaginanya.
Tami menggelinjang kegelian kerika tiba-tiba serrrrrrrrrr… seluruh tubuhnya
menegang dan vaginanya mengeluarkan cairan orgasmenya… Tami hanya terperangah
ketika sosok hitam itu berkata padanya “Sudah lama saya menginginkan kamu Mi..”
dengan suara berat milik Dito !! Gadis itu tampaknya sudah tergila-gila pada
Dito. Ia tak memperdulikan bahwa Dito sudah memiliki pacar bernama Tuti. “Selama
janur kuning belum melengkung, kesempatan masih ada..” Tami tersenyum
membenarkan gurauan teman-teman kuliahnya dulu.
Singkat cerita, dengan bantuan Rina, harta serta pengaruh orang tuanya, Tami
berhasil merebut Dito dari tangan Tuti. Tami seperti menemukan oase di tengah
padang pasir ketika bisa memiliki Dito. Lelaki itupun tampaknya tak keberatan
melepaskan Tuti yang secara fisik memang lebih seksi dibanding Tami. Tapi Dito
tak mau menganggap remeh Tami, karena ia selalu merasakan ada magma yang siap
meletus di dalam diri gadis itu. Dito bisa merasakannya bila memandang mata
bundar Tami. Dan lagi, lelaki mana yang tak tertarik pada harta dan pengaruh
keluarga Tami ?
Malam itu adalah malam minggu kedua setelah mereka resmi berpacaran. Sejak pukul
7 malam Dito telah bertandang di rumah pribadi Tami di bilangan Jakarta Pusat.
Rumah besar yang barlokasi tak jauh dari rumah kedua orang tuanya itu tampak
lengang. Dito membolak-balik majalah di atas sofa kulit buatan Itali yang
terletak di pojok ruang tamu yang besar. Interior yang bernuansa krem dipadu
dengan perabotan kayu dan karpet tebal, sangat mirip dengan suasana hotel
berbintang lima. Pintu berukir buatan Jepara itu terbuka, dan masuklah sesosok
tubuh mulus yang dibalut baju putih tipis lengan pendek berdada rendah dipadu
dengan rok mini kulit berwarna coklat tua. Ikat pinggang berbentuk rantai
berwarna emas dihiasi dengan batu-batu permata yang berkilat membuat si empunya
tubuh aduhai itu jauh dari kesan murahan. Dito menelan ludah melihat Tami
tersenyum padanya seraya mengunci pintu. Lelaki itu melihat sosok wanita yang
sama sekali berbeda dengan yang selama ini dikenalnya melalui media massa. Tak
adalagi kesan pendiam, pemalu, dan anak mama yang selama ini disandang gadis
itu. Dito meletakkan majalahnya di atas sofa, matanya menatap dada gadis itu
yang ditutupi oleh BH putih tanpa tali dengan cup yang sangat rendah sehingga
buah dada putihnya tampak menyembul menantang untuk dijamah. Kulit dada dan
perutnya tampak mulus menerawang di balik baju tipisnya. “Kamu cantik sekali
Mi..” “Thanks.. kamu juga cakep To..” Tami menghampiri Dito dengan lenggang
penuh percaya diri bak peragawati diatas cat walk. Buah dada gadis itu tampak
bergeletar seirama dengan langkah-langkahnya. Tami menghempaskan pantatnya yang
sekal itu disebelah Dito. Rok mininya semakin tertarik keatas memamerkan paha
mulusnya yang cukup indah dan proporsional itu “So, gimana persiapan rally kamu
To?” tanyanya sambil mengangkat kedua lengan menyibakkan rambutnya yang
dibiarkan terurai lepas itu. Dito merasakan sesuatu yang mengeras di balik
celananya ketika ia melihat ketiak Tami yang mulus dan ditumbuhi bulu-bulu
halus. ” Emm.. OK.. kayaknya aku yakin bisa masuk lima besar ….” Pandangan
Dito menelusuri bentuk buah dada gadis yang bagaikan lembah landai itu..
sayangnya, putingnya tersembunyi di balik cup BH nya. “Lalu .. gimana kegiatan
bisnismu minggu ini Mi..?” Dito meletakkan tangan kanannya dibelakang punggung
Tami merasakan keempukannya ketika gadis itu menyandarkan diri ke sofa. “Hm
hmmm..”Tami tersenyum manis sambil memonyongkan mulutnya “Nggak banyak To, lebih
banyak ngelamun mikirin kamu… apalagi 3 hari terakhir ini kamu ngga
nelepon…” Dito meraih bahu dan menyenderkan kepala gadis itu di bahunya yang
kekar. Seraya mengecup kening Tami, Dito berujar “Sorry Mi.., aku bukannya
melupakan kamu… kamu kan tau aku sedang survey lokasi rally yang susah
mendapat hubungan telepon.. ” Memang, ketika kisah ini terjadi, telepon cellular
belum ada di Indonesia. Tami memejamkan matanya sambil menikmati pelukan hangat
pria pujaannya itu. Ia teringat ketika memperkenalkan Dito untuk pertama kalinya
pada orang tuanya minggu lalu. Tampak betul ibunya sangat antusias melihat teman
baru anak bungsunya itu. “Nggantengnya.. nduk..” bisik sang ibu bangga di tengah
acara makan malam. Di keluarganya, sudah menjadi tradisi bahwa makan malam
bersama merupakan lampu hijau bahwa orang tuanya menerima seseorang menjadi
‘teman khusus’ anaknya. Karena itulah ia kini bisa dengan bebas berada dalam
pelukan laki-laki itu. Keduanya terus bercakap-cakap mengenai berbagai topik
sambil sesekali melepas tawa. Tami masih menyandarkan kepalanya di bahu Dito
ketika dirasakannya bibir lelaki itu bergerak menelusuri rambutnya.. terus turun
ke telinganya.. di bagian ini, Dito mengecup-ngecup kecil cuping dan daun
telinganya.. Tami menggeliat geli. Lelaki ini memang luar biasa, pikirnya, ia
tahu betul letak titik-titik yang menjadi pemicu birahi seorang wanita.. Sensasi
ini adalah pertama kali dirasakannya dalam kehidupan nyata.. Tami sudah banyak
mengalami sensasi seperti ini di dalam angan-angannya bila ia tengah
bermasturbasi.. tapi dunia nyata? Baru kali ini ia merasakannya.. dan ternyata
benar-benar berbeda.. lebih menggairahkan !! Tami terus menggeliat geli sambil
meringis dan mempererat pelukannya. Kedua tangannya sudah dalam posisi memeluk
pinggang lelaki itu. Ia terus menikmati permainan bibir Dito yang terus
menelusuri pipinya.. lehernya.. lalu naik lagi ke dagu.. “hhhhhh..” Tami mulai
merintih kecil ketika bibir Dito sampai ke bibirnya. Gadis itu membuka bibirnya
untuk menyambut kecupan lelaki itu.., tapi Dito tidak mengecupnya.. ia malahan
menelusuri bibir mungil itu dengan bibirnya.. sambil sesekali menggigit kecil..
Tami merasakan bulu kuduknya meremang merasakan sensasi ini.. ia merasakan
putingnya mulai menegang dan menegang.. Dito menjulurkan lidahnya dan kini
menelusuri bibir Tami sehingga basah.. “Ehhhhhh…” Kembali Tami merintih seraya
membuka matanya, memandang wajah tampan lelaki pujaannya yang begitu dekat di
hadapannya. Tiba-tiba ia kembali menutup matanya erat-erat ketika bibir Dito
memagut bibirnya.. Dengan takut takut ia membalas.. mengecup.. menyedot.. tau
tau gadis itu menjulurkan lidahnya ke dalam mulut Dito seperti yang sering
dibaca di buku-buku porno koleksinya. Dito cukup dibuat takjub atas respon yang
diberikan Tami karena selama ini ia cuma tau bahwa gadis itu belum pernah
mempunyai pacar. Dalam sekejap Dito pun faham, Tami adalah seorang gadis yang
miskin pengalaman praktek tapi kaya teori. Kesimpulan sekilas ini membuat nafsu
Dito makin menggelegak. Dengan buas lelaki itu mengulum lidah Tami yang bergerak
lincah di dalam mulutnya. Tangan kiri Dito mulai merayap ke atas dari arah
pinggang… terus ke perut.. naik perlahan ke buah dada kanan… di depan daerah
puting tangan Dito berhenti merayap.. ia melebarkan telapak tangannya dan dengan
perlahan menempelkannya di baju tepat di atas puting Tami. Dengan lembut, Dito
memutar telapak tangannya sembari mulai menekan ke arah depan.. akibatnya buah
dada Tami tergencet di telapak tangannya dan menggelembung ke arah sisi-sisinya.
Tami mulai menggoyangkan dadanya dan sesekali menggerakkannya berlawanan dengan
arah tekanan tangan Dito sehingga buah dadanya semakin tergencet di telapak
tangan lelaki itu. Nafas Tami semakin memburu.. tak pernah seorang lelaki berani
menjamah buah dadanya.. Tiba-tiba Tami merasa begitu menyesal, bahwa ia telah
banyak kehilangan waktu untuk menikmati sensasi-sensasi erotis seperti ini di
masa remajanya.. Tangan Dito menghentikan pijatan-pijatannya dan merayap dengan
pasti menuju kancing teratas baju Tami. Dengan lincah jemarinya membuka kancing
yang pertama… kedua… Tami merasakan bagaimana tangan Dito dengan agak
gemetar dan terburu-buru mencoba membuka kancing yang ketiga.. Tami menjulurkan
tangan kanannya dan menghentikan jemari Dito. Kemudian dengan cepat Tami
melanjutkan membuka kancing bajunya sendiri… sampai habis !! Sambil terus
menciumi bibir gadis itu, Dito melirik ke arah dadanya yang terbuka itu.. Ya
ampuunn mulusnya… begitu putih dan terawat… sampai-sampai urat-urat halus
yang berwarna biru itu tampak di sekitar puting susunya… Dito menghentikan
ciumannya dan kelihatan membetulkan sesuatu di selangkangannya.. “Kenapa To..?”
Dito tersenyum menyeringai dan menjawab..”Ngga papa.. cuma ketekuk.. kamu sih..
aku jadi horni berat..” Tami tertawa lepas dan tangannya mencubit pinggang Dito.
Kembali laki-laki itu meraih Tami dan menciumnya dengan mesra. Bersamaan dengan
itu kedua tangannya menyusup ke punggung Tami dan dengan cepat memegang kaitan
BH tanpa talinya.. lalu dengan sekali angkat.. TASS..!! terjatuhlah BH berwarna
putih itu ke pangkuan Tami, dan seketika itu gadis itu merasakan buah dadanya
yang sedari tadi terangkat karena disangga oleh BH itu ikut terjatuh
menggelayut.. Dito mengalihkan tangan kirinya ke depan.. dengan jari telunjuk
dan tengahnya ia menyentuh sisi buah dada yang montok dan mulai mengitarinya..
putaran yang dibuatnya semakin lama semakin kecil sehingga akhirnya kedua
jemarinya itu mengitari puting buah dada Tami yang terlihat sudah sangat mancung
dan mengeras.. badan Tami bergetar.. nafasnya mulai tersengal-sengal.. gilaaa
!!! pekiknya dalam hati.. Ini pertama kalinya tangan seorang lelaki
berjalan-jalan di atas dada telanjangnya !!! Ibunya pasti akan pingsan terkena
serangan jantung bila mengetahui hal ini.. Batin Tami mulai terbelah dua.. di
satu sisi ia sadar bahwa apa yang dilakukannya adalah salah dan berisiko.. namun
di sisi lain, ia ingin memanjakan nafsu birahinya yang belum pernah mendapat
penyaluran dalam bentuk nyata seperti saat ini.. kebimbangan itupun buyar ketika
jemari Dito dengan buas mulai meremas buah dadanya “Hhhhhh Dito.. ohhhhhhh..”
rintihnya ketika jemari pemuda tampan itu memelintir putingnya. Tami memeluk
erat leher Dito dan menaruh dagunya di bahu kekar lelaki itu seraya meringis,
merintih dan berdesis merasakan kenikmatan permainan jemari di buah dadanya.
Tami menyilangkan kedua pahanya dan mulai menggesek-gesek keduanya. Dito pun
dengan cepat memasukkan tangan kanannya ke balik baju Tami dan mulai meremas
buah dada kirinya. Mata gadis itu tampak merem melek menikmati kedua buah
dadanya di perah orang. Selang beberapa menit tangan kiri Dito menghentikan
remasannya dan mulai meraba paha kanan Tami yang tertumpang di atas paha
kirinya. Dengan halus tangannya merayap ke atas menikmati mulusnya dan
kencangnya paha perempuan itu. Tangannya menyusup ke balik rok mini dan menjamah
celana dalamnya. Entah mengapa, Tami tidak berusaha menghentikan perbuatan itu
dan dengan gerakan gugup gadis itu menurunkan dan membuka kedua pahanya
memberikan jalan masuk bagi tangan Dito. Opportunity never comes twice !! Pikir
Dito. Dengan segera ia menjamah selangkangan Tami. Terasa CD nya yang basah
menutupi segundukan daging gemuk yang ditutupi oleh bulu-bulu tebal tercukur
rapi. Dito menggosok-gosokkan jemarinya dari ujung atas hingga bawah vagina
sempit milik putri bungsu seorang pejabat itu. Jemarinya bermain sepanjang garis
liang vaginanya. Tami mempererat pelukannya di leher Dito. Ia tak berani
memandang wajah kekasihnya itu karena malu. Malu karena tangan pria pujaannya
itu sudah menjamah bagian yang paling sensitif dan paling dijaga selama 24 tahun
usianya. Tiba-tiba Tami terbelalak ketika dirasakannya tangan Dito dengan cepat
menarik CD nya ke bawah “Dito..j..jangan..To..” katanya sambil merapatkan
pahanya sehingga CD warna putih bermotif bunga itu tersangkut di lututnya. Dito
mengecup pipi Tami dengan mesra.. “Ngga papa..Mi.. hubungan kita ini kan ngga
main-main.. masak aku berani makan malam dengan keluargamu kalo aku ngga serius
sama kamu… sooner or later kita juga akan mengalami ini.. ” Tami terdiam
mendengar argumen Dito. Benar juga. Ia mulai membuka kembali pahanya. Dito
tersenyum dalam hati.. dasar wanita.. pura-pura malu.. padahal mau banget…
Dengan sekali tarik maka terjatuhlah CD itu ke lantai. Tami memejamkan matanya
dengan rapat…. O my god.. apa yang akan terjadi setelah ini? apakah seperti di
film-film yang kulihat itu? kalau ya.. maka sebentar lagi tentu Dito akan
memasukkan…. “Ohhhhhhhh….” Tami menggoyang-goyangkan pinggulnya ketika
terasa olehnya jemari Dito membelai liang vaginanya yang sudah banjir itu..
Mata
gadis itu kembali mendelik-delik ketika jemari kekasihnya itu mulai mengocok
tonjolan kecil di ujung vaginanya “Dito.. Dittoooohhh..” rintihnya seraya
menggeliat-geliatkan badannya. Terasa di dada Dito buah dada Tami
berguncang-guncang dan menggesek-gesek. “Sssss aaaahhh..ssssss aaaahhhh..”
ketika Dito menurunkan wajahnya ke arah dadanya dan dengan cepat menyantap kedua
buah dada ranum itu.. disedotnya.. diciumnya.. dan dijilatnya dengan rakus..
OOOOHHH jerit Tami di dalam hati, inilah.. inilah rasa yang sesungguhnya atas
adegan-adegan yang selama ini kulihat di video dan fantasi-fantasi yang kubaca
di majalah.. gilaaa.. tak bisa kujelaskan dengan kata-kata nikmatnya… batinnya
yang sedari tadi mencoba menyadarkannya dengan mengirim sinyal “takut
keterusan..” kini diam seribu basa. Birahinya yang meletup setelah terpendam
sedemikian lama seakan menjajah seluruh nalar dan rasa perempuan ini. Tami
memandang kulit tangannya.. tampak seluruh pori-porinya merinding karena
kenikmatan yang tengah di alaminya. Tiba-tiba Dito menghentikan aktivitasnya..
“Pintu dikunci kan Mi ?” tanyanya..” Ya..” Tami menjawab pasrah memandang
kekasihnya yang tengah berdiri dan dengan cepat membuka bajunya… membuangnya
ke lantai.. sehingga tampaklah sesosok tubuh tegap dengan bulu-bulu halus tumbuh
di tengan dadanya yang bidang.. Owwww sexy nya.. jerit Tami dalam hati.. terasa
vaginanya berdenyut-denyut dan degup jantungnya meningkat… terbayang betapa
nikmatnya ia dipeluk, ditindih, dan digumuli oleh badan kekar itu… Sambil
tersenyum, Dito menurunkan celana panjangnya sehingga tubuhnya yang kokoh itu
hanya ditutupi dengan CD nylon berwarna putih. Tami memandang pada bagian yang
menonjol di selangkangannya.. ffffuuuuuhhhh… alangkah besarnya… penis yang
panjang dan lebar ditunjang oleh testis yang juga besar membuat bagian depan CD
kekasihnya itu seakan penuh sesak… Tami makin merinding ketika membayangkan
vaginanya yang sempit itu suatu saat akan dimasuki oleh benda sebesar itu..
tapi…tapi… apakah saatnya sekarang..?? Dito memandang ke arah kekasih
barunya itu. Sungguh tak disangka anak seorang pejabat penting di negeri ini
yang selalu memiliki citra halus dan pemalu ini ternyata menyimpan libido yang
luar biasa. Lelaki itu tak menyangka hanya dalam waktu 2 minggu ia sudah akan
menikmati keperawanan Tami yang cantik itu. Dito mendekati wajah kekasihnya yang
menanti dengan pandangan sayu.. dikecupnya bibirnya dengan lembut..
dilepaskannya baju putih tipisnya dari kedua tangannya sehingga bagian atas
perempuan itu benar-benar telanjang.. dibaringkannya tubuh bugil yang masih
mengenakan rok kulit mini itu di atas sofa yang cukup lebar itu… lalu
ditindihnya tubuh montok itu dan Dito mulai menciumi bibir, leher, kuping, dan
pipi Tami. Gadis itu mendesah dan memeluk leher Dito dengan erat.. Dito
merasakan betul kenyalnya buah dada Tami yang tergencet oleh dadanya. Sambil
terus mencium, Dito mulai membuka kedua paha Tami seraya menyingkapkan rok mini
kulitnya hingga menutupi perutnya sehingga vagina gadis itu benar-benar
terlihat…. Tami melihat dengan pasrah segala aktivitas Dito.. ia diam saja
ketika dilihatnya Dito tengah memandang vaginanya yang sudah terbuka itu dengan
penuh nafsu… ia pun diam saja ketika tubuh kekar Dito menindih tubuh
sintalnya.. namun gejolak birahinya kembali menggebu ketika dirasakannya penis
Dito yang masih terbalut CD itu menempel pada vaginanya… Ibuuu… jerit gadis
itu dalam hati… apa yang harus kulakukaaann…. aku tak kuasa menahan
kenikmatan ini… maafkan aku kalau aku melanggar apa yang selama ini ibu
petuahkan…. Nafsu Tami semakin menggila ketika dirasanya Dito membuka CD nya
sehingga penis besar itu langsung bergesekan dengan vaginanya tanpa
perantara…”Ouuuuuuuhhhh …Ditooo …ouhhhhhhh…” rintihnya ketika Dito mulai
menggerakkan pinggulnya maju mundur sehingga penisnya menggesek-gesek
klitorisnya yang semakin membengkak itu. Bunyi kecipak akibat vaginanya yang
banjir itu membuat Tami merasa risih.. duuuhhh malunya… , sungutnya dalam
hati.., kan dia jadi tau kalau aku lagi nafsu banget… Tami memutar pinggulnya
mengikuti irama goyangan pinggul Dito. Suara rintihan, desisan, dan panggilan
mesra memenuhi ruangan mewah itu.. Peluh mulai bercucuran di wajah Tami. Dengan
mata terpejam, mulut menganga, dan ekspresi kesakitan gadis itu memperhebat
putaran pinggulnya.. ia merasakan dirinya mulai melambung.. tinggi.. tinggi…
denyutan di vaginanya semakin mengeras… Nafasnya sudah tersengal-sengal
seperti pelari yang hendak mencapai garis finish.. namun tiba-tiba ia terkejut..
dirasakannya kepala penis yang besar itu kini menempel di liang vaginanya…
dengan perlahan tapi pasti kepala penis itu menembus masuk ke dalam vaginanya…
Tami menahan nafas !! Seluruh badannya menegang !!! Ia menggigit bibirnya ketika
penis itu masuk semakin dalam… rasa sakit mulai terasa di ujung vaginanya…
Dito tersenyum melihat ekspresi kekasihnya yang pasrah itu.. gelora
kelaki-lakiannya tengah berada di puncaknya.. ia akan memerawani anak bungsu
seorang pejabat berpengaruh di negeri ini.. ia akan menyetubuhi tubuh molek
ini.. Dito berkata dalam hati.. dalam itungan ke 3 akan kubenamkan seluruh
penisku ke dalam vaginanya yang sempit ini.. satu.. dua….. tig.. “STOP !! DITO
STOOOP !!!” Tami menjerit keras seraya meronta dan mendorong perut Dito untuk
menghalangi penisnya melakukan penetrasi lebih jauh. “Ke..kenapa Mi ??” Tanya
Dito kebingungan.. Penisnya yang besar itu sudah keluar dari vagina Tami. Gadis
itu bangkit dan duduk seraya menunduk “Nggak To.. jangan sekarang.. waktunya toh
akan tiba kalau kita sudah resmi menjadi suami istri.. ” “Tapi .. itu cuma soal
waktu Mi…”
“Please To.. jangan paksa aku.. hhhhh.. aku ngga mau keperawananku rusak sebelum
kita resmi jadi suami isteri…” Tami menunduk.. denyutan di vaginanya masih
terasa.. gelora birahinya masih bergejolak… “Oke.. kalau begitu.. tapi..
bagaimana kalau kita selesaikan ini tanpa merusak keperawananmu..?” Dito
tersenyum sambil memeluk tubuh telanjang Tami.. “Maksudmu.. ?” Tami bertanya
pura-pura bodoh.. “Menurut buku-buku yang sering kamu baca.. bagaimana ??” Dito
balik bertanya dengan senyum menggoda. Wajah Tami memerah karena malu. Bagaimana
lelaki ini bisa tau kalau aku suka baca buku-buku begituan ? Atau dia hanya asal
ngomong saja ? “Sudahlah..” Kata Dito seraya kembali menindih Tami.. “Kamu juga
ingin sampai ke puncak kan Mi? Aku jamin kamu akan puas tanpa rusak
keperawananmu…” Dito mulai menciumi muka, leher, dan buah dada Tami dengan
buas.. ia dengan sigap meletakkan penis besarnya di atas vagina Tami dan mulai
menggesek-gesek dengan cepat.. Tami kembali menggelinjang dan menjerit-jerit
nikmat.. “Ohhh.. ohhh.. Dito.. geli..To..” “Enak kan sayang ?” “Hmm Eh..” Tami
mengangguk sambil meringis ketika dengan keras Dito menyedot puting kedua buah
dadanya. Kembali sensasi itu datang.. kembali vagina Tami terasa
berdenyut-denyut.. tiba-tiba ia memeluk kepala Dito yang masih berada di dadanya
sekeras-kerasnya.. ketika ia merasakan aliran darahnya mengalir cepat dari kaki
hingga kepala dan…. serrrrrr…”DITTOOOOOO…………….. EMMMMMMH…..”
Tami merengek sambil menyemburkan cairan hangat di dalam vaginanya.. bersamaan
dengan itu Dito menyedot puting buah dada Tami sekeras-kerasnya dan gadis itu
merasakan penis raksasa itu berkedutan di atas perutnya diiringi dengan
bermuncratannya cairan kental ke atasnya.. “AAAAAHH… TAMI…..” Tubuh Dito
menggelepar sejenak di atas tubuh sintal Tami untuk kemudian kembali
menindihnya…. Selama beberapa menit kedua tubuh telanjang yang bermandikan
keringat itu diam bertindihan… Pikiran Tami menerawang jauh ke atas awan…
sebelum keduanya bangkit dan dengan mesra saling mengenakan baju..
Setelah kejadian itu, Dito tak pernah berani untuk melakukan peting. Bahkan
ketika Tami yang kini mulai agresif itu membimbing tangan lelaki itu untuk
meremas buah dadanya, Dito menolak. “Jangan sayang.. ingat kejadian dulu.. kita
kan hampir saja… ”
“Tapi ini cuma sebatas dada To…” suatu ketika Tami mencoba berargumen..
“Mi please.. aku orangnya cepat hanyut.. aku takut ngga bisa ngendaliin diri..
kalau kejadian gimana?”
“Yaa masukin aja..lakukan aja… aku udah siap kok…” Tami menjawab dengan
kesal ketika kembali Dito menolak untuk melakukan petting. Hari itu tepat
memasuki bulan ke 3 sejak kejadian panas di ruang tamu rumah Tami itu. Sebulan
kemudian, Dito yang baru saja pulang dari petandingan rally di Malaysia selama 2
minggu itu menelpon Tami.
“Tami sayang.. kita liburan berdua yuk..”
“Hmmm boleh juga tuh.. mau kemana ?”
“Kamu maunya kemana ?”
“Aku sih kemana aja ngga pengaruh.. asal ada kamu disampingku..” Dito tertawa
mendengar jawaban sayang kekasihnya itu.. “Ya udah ke Bali aja yu ?”
“Sounds good.. kalau gitu kita pake aja rumah peristirahatan bapak..”
“Okey..” seru Dito bersemangat “Besok pagi kita berangkat…”
Dito meluruskan tubuhnya di dalam kolam renang air hangat yang terletak di dekat
pantai rumah peristirahatan keluarga Tami. Seluruh tubuhnya yang terasa linu
akibat olah raga rally selama 2 minggu itu terasa nikmat dan rileks. “Mi, kamu
yakin orang-orang lain ngga bisa ngeliat kita dari atas? Soalnya risih juga
rasanya kalau berenang diintipin..” “Ngga To.., kolam renang air panas ini
didisain untuk berendam sambil telanjang.. sehingga seperti kamu liat, semuanya
serba tertutup kan? Jangan kawatir deh… ” Tami menjawab sambil berenang dengan
bikini bertali tipis berwarna kuning muda. Putingnya yang mancung terlihat jelas
tercetak di bikininya dan celananya yang hanya berupa tali dan lembaran penutup
kecil itu tak dapat menyembunyikan kegemukan gundukan vagina di selangkangannya.
Beberapa kali Dito melihat ke arah itu sambil menelan ludah. Tami sudah mencapai
ujung yang berlawanan dengan Dito ketika terdengar lelaki itu memanggil.. “Mi…
coba kamu berenang dengan kecepatan penuh kemari…” Teriak Dito sambil duduk di
tangga kolam renang yang terbuat dari besi itu. Pusar ke bawah berada dalam air
dan sisanya berada di atas air. “Hmmm mau nguji ya ? Boleh…” Tami memejamkan
mata, menarik nafas panjang, dan… hup ! Tubuh sintal gadis itu mulai meluncur
dengan cepat menuju Dito yang tengah berendam seraya duduk mengangkang di tangga
kolam itu. Tami terus menggerakkan kaki dan tangannya dengan cepat menggunakan
gaya katak untuk segera sampai di tangga tempat kekasihnya duduk menanti..
sekilas ia dapat melihat kedua kaki pria pujaannya itu menongkrong di tangga di
dalam air. Sambil masih memejamkan mata, Tami bersorak ketika tangannya
menyentuh dengkul Dito di dalam air “Sampaiiii…haha…” Dengan terengah-engah
Tami memegang kedua paha Dito yang dalam keadaan menongkrong sehingga wajah
perempuan itu berada tepat di selangkangan lelaki itu.. Tami memuntahkan air
kolam dari dalam mulutnya sambil membuka matanya.. ketika tiba-tiba ia
terbelalak melihat penis besar Dito sudah berdiri tegak tepat 5 cm di hadapan
hidungnya.. belum sempat ia melakukan sesuatu, tangan Dito sudah memegang bagian
belakang kepalanya dan menariknya ke arah selangkangan sehingga penis besar
itupun menempel di bibir mungil Tami. “Emmmmhhh.. Dito.. ngapain sih..mmphh.. ”
Tami tak dapat melanjutkan kata-katanya ketika Dito menggesek-gesekkan penisnya
di antara 2 bibir Tami. Gadis itu tau apa yang dimaui Dito.. ia sering
menontonnya di video-video koleksinya.. tapi apakah ia tidak jijik melakukannya
? Gairah Tami kembali bergelora.. terlebih setelah 4 bulan dengan sengaja Dito
tidak memberikan sentuhan-sentuhan lelaki yang sangat didambakannya. Dan saat
ini… dihadapannya.. ada sebuah benda yang selalu menjadi impian wanita-wanita
kesepian berdiri tegak menunggu untuk di… Tami menjulurkan tangan kanannya ke
arah penis kekasihnya. Kakinya masih bergerak-gerak dalam air agar tidak
tenggelam. Dalam sekejap penis kekar itu sudah ada dalam genggamannya…
oooohh.. alangkah besarnya… alangkah nikmatnya bila benda ini menari-nari di
dalam vaginaku.. pikir gadis itu. Dengan nafas terengah-engah ia mendekati
wajahnya ke kepala penis yang sudah berwarna ungu itu karena keenakan digenggam
oleh seorang perawan. Tami membuka mulutnya lebar-lebar…lalu… (Bersambung)
seX-Files (I):
TAMI – SI PUTRI BUNGSU (2)
Serial ini berisi kisah-kisah nyata yang diambil dari file-file Dr. B dan Dr. N
seorang psikiater dan konsultan sex kondang di negeri ini. File-file tersebut
saya peroleh secara diam-diam atas bantuan para asistennya yang kebetulan teman
di sebuah organisasi sosial. Yang menarik, file-file tersebut ternyata
melibatkan nama-nama besar yang sering terpampang di media massa Republik ini.
Walaupun ada modifikasi disana sini, alur cerita utamanya persis sama dengan
yang tertera dalam file medis tersebut. Demi menjaga kehormatan, nama-nama tokoh
dalam cerita ini sengaja saya samarkanTami menjulurkan tangan kanannya ke arah penis kekasihnya. Kakinya masih
bergerak-gerak dalam air agar tidak tenggelam. Dalam sekejap penis kekar itu
sudah ada dalam genggamannya… oooohh.. alangkah besarnya… alangkah nikmatnya
bila benda ini menari-nari di dalam vaginaku.. pikir gadis itu. Dengan nafas
terengah-engah ia mendekati wajahnya ke kepala penis yang sudah berwarna ungu
itu karena keenakan digenggam oleh seorang perawan. Tami membuka mulutnya
lebar-lebar…lalu…

perlahan-lahan ia memasukkan kepala penis itu melalui bibirnya..giginya…lalu
diletakkannya di atas lidahnya.. kemudian dikatupkannya bibirnya sehingga
menjepit bagian tengah batang tegang itu.. lidah dan langit-langit mulutnya
bergerak menyedot sehingga Dito merasakan penisnya diremas-remas..
“OAAAAHHH…MIII..duuuhhh terus sayang..teruuusss…” Dito mengerang sambil
terus memegang kepala Tami untuk tetap berada di selangkangannya.. tangan kiri
Tami masih memegang paha Dito.. sementara kakinya berlabuh ke salah satu anak
tangga kolam itu.. dan tangan kanannya kini mulai memelintir penis itu sambil
bergerak naik turun mengikuti irama mulutnya menyedot dan menghisap. Dito
menjulurkan tangannya ke arah punggung Tami lalu memegang simpul tali
bikininya.. sekali tarik.. terlepaslah tahanan buah dada yang montok itu
sehingga keduanya kini bergayut di dalam air.. kelihatan otot bagian atas bukit
kembar itu bergetar-getar mengikuti gerak mulut Tami menyedot penis kekasihnya.
Dito meraih kedua buah dada itu dan mulai meremas-remas dengan bergairah.
“Emmmhh.. emmmmhhhh.. emmmmmhhhhhhh..” putri bungsu pejabat penting negeri ini
menjerit-jerit sambil terus mengulum penis kekasihnya. Tiba-tiba Tami melepaskan
kulumannya dan memanjat tangga kolam hingga wajahnya berhadapan dengan wajah
Dito. Dengan buas Tami memeluk leher lelaki itu dan melumat bibirnya. Dito
benar-benar dibuat kagum oleh kemajuan gadis ini.. dari seorang yang gemetar
ketika disentuh lelaki menjadi seorang yang ‘demanding’ akan belaian lelaki…
tak salahlah rumor yang menyebar di kalangan elit selama ini.. rumor itu
mengatakan bahwa keluarga Tami adalah keluarga yang rata-rata mempunyai libido
tinggi.. terlebih para wanitanya… “Dito kamu jahaaat..cpphh..” Tami berbisik
dengan suara serak sambil terus menciumi Dito dengan buas “Mmmhh appanya yang
jahat..cpphh..” “Kamu sengaja bikin aku merana selama berbulan-bulan.. cph..
sekarang.. puasin aku To…”
Dito tersenyum menang.. ini dia saat yang selama 4 bulan kutunggu-tunggu…
kesabaran memang selalu membuahkan hasil.. pikirnya sedikit berfilsafat.. Sambil
duduk dan menciumi bibir Tami, Dito memeluk pinggang gadis itu dan menyelipkan
kedua tangannya ke balik celana bikini kuning itu. Dito memegang kedua buah
pantat yang padat itu dan menariknya ke arahnya sehingga penisnya yang masih
berdiri tegak itu menempel erat ke vagina kekasihnya. Dito melepaskan ciumannya
dan menundukkan kepalanya.. dalam sekejap mulutnya sudah menjilati dan buah dada
dan puting Tami. Puting berwarna coklat kemerahan itu terasa asin di lidah Dito.
Namun lelaki itu takperduli. Dengan rakus ia menciumi kedua buah dada gadis itu
bergantian… “Auuhhh..auuuhhh…ssssss… ganas betul kamu To…” Tangan Dito
yang masih meremas pantat Tami terus meluncur ke bawah.. menyusuri belahan
pantatnya.. melewati anusnya.. terus ke bawah menuju vaginanya.. pinggul Tami
bergoyang-goyang karena geli.. air kolam disekelilingnya bergelombang seiring
getaran otot pinggul dan pantatnya “Emmmhhhhh… emmmhhhh..
Dittooooo…ennaaaaakk..hhhh.. ” rintihnya ketika di bawah air jemari Dito
menggosok-gosok seraya mencoba menguak pintu vaginanya… walaupun di dalam air,
namun jemari Dito dapat merasakan perbedaan antara air kolam dan cairan vagina
perempuan itu. Lalu.. aaah.., jari tengahnya berhasil memasuki liang vagina
kekasihnya yang masih sangat sempit itu lalu diputar-putarnya dengan perlahan…
Tami berkelejat-kelejat kegelian sambil terus menyodorkan buah dadanya untuk
terus di sedot dan dihisap oleh Dito. Gadis itu sudah mata gelap rupanya.. tak
ada lagi pesan ibu yang diingatnya.. yang ia ianginkan saat ini adalah mencapai
puncak kenikmatan yang… terus terang… ia sendiri tak berani untuk
membayangkan ‘bagaimana’ nya.. Dito rupanya sudah tak ingin lagi kehilangan
momen.. ia bangkit dari duduknya hingga kedua tubuh telanjang itu kembali
tercebur ke dalam kolam sambil terus berpelukan.. Tami tertawa riang ketika
keduanya tercebur.. Dengan cepat tangan Dito membetot tali celana bikini Tami
hingga terlepas.. kemudian Dito mendudukkan Tami di tangga kolam tempat dimana
sebelumnya lelaki itu duduk.. ia membuka kedua paha Tami dan berdiri
diantaranya.. Dito kembali memeluk dan mencium bibir Tami dengan mesra.. Tami
benar-benar sudah menjadi budak birahi.. ia tak ingin sedetikpun hilang tanpa
dijamah oleh kekasihnya itu.. dalam keadaan duduk dan mengangkang itu ia
membimbing tangan kanan Dito ke selangkangannya untuk mempermainkan klit nya..
jemari Dito menyibakkan bulu-bulu yang menutupi vagina Tami yang berada di dalam
air kolam itu.. dengan cepatnya jarinya mencari tonjolan kecil sebesar kacang
yang ia yakin sudah membengkak itu.. tiba-tiba wajah Tami menengadah ke langit,
alisnya berkerut dan wajahnya meringis.. “SSSSSS….Yessss.. aduh Dito.. enaknya
sayang…” rintihnya sembari kembali menggoyang-goyangkan pinggulnya.. cukup
lama Tami merasa klitnya dipermainkan oleh kekasihnya sampai tiba-tiba ia merasa
Dito mendekatkan pinggulnya ke selangkangannya…. seketika itu ia merasa sebuah
daging keras berbentuk bulat besar menempel di pintu vaginanya… ditengah
gejolak birahinya Tami sempat merasa tegang.. degup jantungnya bertambah cepat
karena rasa takut bercampur nafsu.. dirasakannya benda itu mulai menguak pintu
vaginanya dan mendesak masuk… semakin dalam… semakin dalam.. perut Tami
mulas karena tegang… vaginanya mulai terasa perih.. ia memeluk Dito dengan
lebih erat sambil menggigit bibirnya menahan sakit..”ahhhh…. ahhhhhhhh…
ssssssssss…. aaAAHHHHH…” jeritnya ketika penis Dito sudah masuk separonya…
vaginanya terasa perih dengan rasa sakit yang berdenyut-denyut.. Tami menarik
nafas panjang-panjang.. satu kali… dua kali…
dan…….”AAAAAAHHHHHHH…DITTTOOOOOO……. sssakiiittt….!!!!” Dito
membenamkan sisa penisnya dengan sekali tusuk.. tampak darah segar keluar dari
vagina Tami dan mengambang di permukaan kolam.. Dito terdiam beberapa saat untuk
memberi kesempatan Tami untuk menenangkan diri.. Tami menutup kembali matanya
yang sempat terbelalak.. ia merapatkan kedua bibirnya…mengatur nafasnya sambil
terus memeluk leher Dito.. tangannya agak gemetar.. sesaat kemudian ia
mengangguk “Aku siap To….” Dito mulai menyodokkan penisnya keluar… masuk…
keluar… masuk…mula-mula perlahan tapi kemudian makin cepat.. makin cepat…
“Ouhh.. ouhh.. ouhh.. sss..sss..sss..” Tami merintih dan mendesis seiring dengan
sodokan penis kekasihnya. Ia merasakan tangan Dito mulai meremas-remas kedua
buah dadanya.. dan lidah lelaki itu mulai menciumi bibirnya dan mengulum
lidahnya… Tami benar-benar merasa terbang ke langit ke tujuh.. inilah rasanya
persetubuhan yang sesungguhnya dengan seorang laki-laki… ternyata nikmatnya
jauh lebih besar dari yang selama ini ia bayangkan… “Dito..Dito…” Tami
berbisik pada kekasihnya “A..aku ingin ditindih sayang.. ” Dito tersenyum sambil
melepaskan penisnya dari vagina gadis itu. Diangkatnya tubuh Tami keluar dari
kolam dan dibaringkannya di atas handuk. Dito membuka paha gadis itu
lebar-lebar.. lalu menempelkan penisnya di mulut vagina Tami..dan.. slebb..
dengan sekali tusuk terbenamlah penis besar itu ke dalamnya. Dari jauh, tampak
dua orang anak manusia ini tengah bergumul dengan gerakan-gerakan yang liar dan
cepat. Tami yang berbaring di bawah tubuh Dito tampak menghentak-hentakkan
pinggulnya ke atas untuk mengimbangi sodokan-sodokan Dito yang keras.. Tiba-tiba
Tami mengerang.. ia memeluk leher kekasihnya keras-keras.. diletakannya dagunya
di atas bahu Dito.. Tami menggigit bibirnya.. alisnya mengkerut.. matanya
membelalak… ototnya menegang..dan.. “Dito..Dito..akku
KELLUAAAAAAARRRR….EMMMMMHHH…” Tami mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi
bersamaan dengan Dito menghujamkan penisnya dalam-dalam seraya berteriak…
“TAMI..AAAAAAhhhhhh….” serrrrrrr……. crt…crt…crt….crt..crt…..
keduanya terkulai lemas selama hampir seperempat jam… Tami menengok ke arah
kekasihnya dan berbisik.. “Dito… kapan kamu akan melamar aku ?”
Pesta itu merupakan pesta perkimpoian yang paling meriah tahun itu. Semua pejabat
dari yang terpenting sampai kurang penting tumplek di gedung itu. Tami dan Dito
tampak serasi bersanding di pelaminan menerima ucapan selamat para tamu. Tami
tampak tak dapat menahan haru ketika kakak perempuan tertuanya — mbak Yanti –
memberi ucapan selamat. Mbak Yanti adalah seorang pengusaha sukses di bidang
infrastruktur yang aktif di berbagai kegiatan sosial. Tangis Tami semakin
menjadi ketika kakak perempuan keduanya — mbak Yati — yang juga merupakan
kakak terdekatnya, memberi selamat. Mbak Yati adalah seorang pengusaha dengan
prestasi sedang di bidang keuangan yang bersuamikan seorang perwira menengah
Angkatan Darat. Tami benar-benar merasa menjadi seorang wanita lengkap. Ia
memiliki harta, perusahaan, suami ganteng dan perkasa. Apa lagi ? Setelah hari
perkimpoian berlalu, Tami menghentikan minum pil anti hamil yang selalu
dimakannya sejak keperawanannya direnggut Dito setahun lalu. Dasar rahimnya yang
memang subur, sebulan kemudian ia dinyatakan positif hamil.
3 tahun berlalu, anak lelakinya sudah berusia lebih dari 2 tahun. Dito lebih
sering menghabiskan waktu bersama kawan-kawan pembalap dan rekanan bisnisnya.
Dalam seminggu mungkin 1 atau 2 hari saja ia ada di rumah. Selebihnya, entah.
Keadaan ini memang membuat hati Tami menjadi risau karena ia menjadi kesepian.
Kesepian akan teman bicara dan kebutuhan biologis. Namun untuk hal rumah tangga,
Tami adalah seorang wanita yang patut diacungi jempol. Ia berprinsip bahwa
kebahagiaan lah yang pantas untuk dibagi dengan orang tuanya. Kesedihan adalah
hal yang harus ia telan sendiri. Karena itu pula ibunya tak pernah tau kesedihan
yang dialaminya.
Suatu hari, karena perasaannya sedang jenuh, ia memutuskan untuk pergi berlibur
sendirian ke rumah peristirahatan keluarganya di daerah Anyer. Dito, seperti
biasa sudah 3 hari pergi tanpa kabar berita. Pra, anak lelakinya, dititipkan di
rumah ibunya. Diluar kebiasaan, Tami menyetir mobil sendirian tanpa pengawalan
sama sekali. Namun dengan begitu, ia merasa sangat santai dan lega.. hmmmm,
pikirnya, untuk hal tertentu memang lebih enak menjadi orang awam dibanding anak
pejabat. Setelah 2 jam perjalanan, Tami memasukkan mobilnya ke halaman belakang
rumah peristirahatan yang luas itu. Di depannya ada mobil Mercy merah keluaran
terbaru milik mbak Yati, kakaknya. Seorang satpam datang tergopoh-gopoh datang
membukakan pintu mobilnya.. “O non Tami.. kok sendirian to ? Mas Pra kemana ?”
“Di rumah dititip sama ibu.. mbak Yati ada disini to Pak Karyo.. apa rencananya
mau nginep disini?”
“Eee.. kayak nya kok ngga tuh non…”
“Sama siapa dia kesini ?”
Pak Karyo tampak kikuk untuk menjawab, “Kurang hafal non…” Hmmmm mungkin
dengan kawannya, pikir Tami. Perempuan itu berjalan memasuki rumah
peristirahatan keluarganya yang berinterior rumah pantai gaya California.
Seperti biasa isi rumah selalu lengang, karena ada peraturan keluarga yang
menyatakan bahwa pembantu, supir, maupun satpam hanya boleh berkeliaran di dalam
rumah bila dipanggil. Sisanya, mereka punya bangunan sendiri di samping rumah
utama. Ia meletakkan tas tangannya di atas meja dan menaiki tangga ke lantai 2
dimana kamar tidur berada. Ia baru saja hendak berteriak memanggil nama kakaknya
ketika tiba-tiba ia mendengar jeritan-jeritan kecil diselingi tawa lelaki di
kamar sebelah. Dengan rasa ingin tau ia mengendap dan mendekati kamar yang
pintunya dibiarkan terbuka sedikit itu. Tami mengintip dari celah pintu itu dan
jantungnya hampir copot melihat mbak Yati dalam keadaan bugil tengah menindih
dan menggumuli seorang laki-laki yang dari postur kakinya yang panjang itu
dipastikan bukan suaminya. Terdengar rintihan-rintihan mbak Yati ketika si
lelaki menaikkan pinggulnya tinggi-tinggi… ohhhh, rupanya mereka sudah
bersetubuh sejak tadi.. pikir Tami. Hmmm rupanya benar gosip yang didengar dari
karyawannya bahwa kakaknya itu doyan membawa lelaki lain ke kamarnya. Gadis itu
jadi penasaran.. lelaki macam apa yang saat ini tengah bersetubuh dengan
kakaknya? Aktor film kah ? Atau atlet kah ? Pengusaha muda ? Hmmmm.. Tami jadi
bergairah memikirkan hal itu.. dengan hati-hati ia terus mengintip permainan
panas itu.. tiba-tiba Yati mengangkat tubuhnya kemudian lelaki itu bangkit untuk
menyedot buah dadanya yang besar dan bergelayut siap untuk dilahap.. saat itulah
Tami dapat melihat wajah lelaki yang tengah memuaskan birahi kakaknya itu…
Jantung Tami terasa hendak copot.. bunyi ombak menjadi laksana halilintar di
siang bolong !!!


Holiday’s Challenge: Lina si Gadis Petani —

Cerita Holiday’s Challenge menceritakan tentang sifat-sifat seorang wanita yang mungkin jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari
Tidak ada unsur kepolosan dari seorang wanita yang terkandung dalam cerita ini, hanya ada sifat-sifat wanita nakal dan bitchy
Cerita ini hanya mengkisahkan wanita-wanita dengan sifat yang tidak biasa yang mencari ‘pengalaman’ baru di saat liburan.
Kemungkinan besar cerita ini tidak akan menarik, mungkin cenderung membosankan, tapi bisa sebagai penambah koleksi cerita seru sambil menunggu cerita-cerita yang lebih hebat dari para pengarang lainnya

“akhirnya selesai juga UAS yang ngebetein..”, ujar Riri merasa lega sekali, ujian akhir semester genapnya selesai di laluinya.

“oh iya, Ri..kita liburan kemana nih, kan kalo semester genap gini…liburnya lama banget n’ bikin bete…”.

“bentar, kita omongin sekalian ama Lina n’ Intan..”. Riri dan Monica pun berjalan ke kelas, dimana Lina dan Intan ujian. Riri, Intan, Monica, dan Lina adalah 4 gadis yang menjadi bunga kampus, diidam-idamkan banyak lelaki di kampusnya. Setiap mereka berempat lewat, lelaki yang dilalui mereka akan diam terpaku dan menghentikan segala aktivitasnya hanya untuk memandangi mereka berempat berlalu. Bisa dibilang, mereka berempat memang tipe cewek yang suka menggoda lelaki. Setiap ada cowok yang menggoda mereka baik siul-siul, panggil-panggil, atau caper, pasti salah satu dari mereka akan menengok dan tersenyum manis. Mereka suka sekali dengan cowok yang sok-sok menggoda, tapi kalau ditanggapi langsung salah tingkah. Mereka pun tak pernah menolak jika diajak kenalan sehingga tak heran kalau mereka berempat punya banyak teman lelaki di kampus.

“Mon, kemana nih yang enak liburannya?”.

“mana ya? pantai?”.

“bosen ah..”.

“puncak?”.

“ogaah…bosen parah..”.

“hmm…”.

“terus kemana dong?”.

“hmm…”.

“ke Bali?”.

“hmm…gimana kalo liburan ini kita nyobain kerja-kerja kasar gitu?”.

“kerja kasar? maksud lo?”.

“yaa jadi buruh kek, petani kek, apa kek gitu, gimana?”, usul Intan.

“ah gila lo, apa enaknya liburan kayak gitu?”.

“yee justru itu…biar liburan kita beda gitu…bosen kan lo dugem, ketemu cowok-cowok ganteng n’ kaya yang suka banggain diri sendiri?”, jelas Intan yang memang agak beda dengan 3 temannya yang glamour meski dia juga tak kalah kaya dengan 3 temannya, tapi tetap saja, Intan sama ‘gila’nya dengan ketiga temannya.

“mm…bener juga, gue juga dari dulu pengen ngerasain jadi peternak gitu deh..”.

“okelah, tapi emangnya ada tempat yang kayak gitu?”.

“dodol lo ah…kita cari profesi beneran aja..”.

“hmm..gimana..sekalian aja taruhan..yang paling lama tahan, menang n’ dapet duit 5 juta, gimana?”.

“bener yaa? siip deh..”.

“tapi mesti ada bukti foto n’ video ya..”, ujar Riri.

“oke kalo gitu..DEAL !!”.

Hari pertama liburan, Lina bingung dengan tantangan teman-temannya. Dia mau mencoba jadi apa, tak pernah terbayang olehnya, melakukan pekerjaan kasar. Tapi, setelah dipikir-pikir, Lina juga penasaran tentang sisi berlawanan dari kehidupannya. Sisi kehidupan yang harus bekerja keras hanya untuk menyambung kehidupan satu hari saja. Saat sedang menggonta-ganti chanel tv, Lina menonton acara tentang para petani yang sedang menggarap sawah.

“hmm…apa gue coba jadi petani ya?”.

“tapi ntar kulit gue jadi item..”. Entah kenapa, pertimbangan-pertimbangan tadi seperti sirna di pikiran Lina. Sekarang, hanya ada perasaan semangat dan tak sabar. Lina sendiri tak mengerti, kenapa dia begitu ingin merasakan jadi petani, mungkin karena dia ingin sekali mendapatkan pengalaman baru.

“hmm…gue tinggal ma Abah Dirman aja kali yaa?”. Lina teringat dengan orang yang dipercaya ayah Lina untuk mengurusi sawah keluarga Lina yang ada di kampung halamannya.

Bagi Lina, Dirman sudah seperti keluarga sendiri. Dari kecil, Lina selalu diawasi Dirman jika main di sawah. Kalau dipikir-pikir, sudah lama ia tak bertemu Dirman. Sekalian maen aja ah, pikir Lina. Keesokan harinya, Lina pun mengemudikan mobilnya ke desa dimana ia menghabiskan waktu kecilnya. Saat Lina sudah dekat dengan rumah masa kecilnya, dia melihat seorang pria tua keluar dari rumahnya dengan memakai caping. Pria tua itu berhenti, mengamati mobil sedan berwarna silver itu. Tak lama kemudian, Lina keluar dari mobil dan berjalan ke arah pria tua itu. Keduanya saling mengamati satu sama lain. Wajahnya familiar, tapi tak kenal, pikir keduanya.
.

“sini, Abah papah..”. Dengan dipapah Dirman, Lina pun duduk di saung terdekat. Petani yang lain pun mengerubungi saung itu, ingin tahu apa yang terjadi.

“pinjem korek”.

“nih, Bah…”. Beberapa lintah yang ada di betis Lina pun bisa dilepaskan Dirman setelah lintah itu dibakar terlebih dulu.

“ini, Bah..masih ada di paha Lina..”. Ada 4 lintah yang menempel di paha Lina bagian dalam.

“maav, non..bisa diangkat dulu kakinya..”.

“iya, Bah..”.

Para petani yang mengerubungi saung pun seolah tak berkedip atau lebih tepatnya tak mau berkedip. Tentu mereka tak mau melewatkan detik-detik pembukaan ‘warung’ Lina. Lina mengangkat kedua kakinya ke atas saung, dan tanpa disuruh Lina melebarkan kedua kakinya ke samping kiri dan kanan seperti huruf M. Pandangan mata para lelaki yang ada di sekitar Lina berubah bagai pandangan serigala saat melihat ada mangsa. 5 pasang mata, semuanya tertuju ke daerah yang paling intim dari tubuh Lina. Bukannya tak menyadari, Lina sadar betul, semua yang ada di sekitarnya tidak memperhatikan lintah yang ada di pahanya melainkan daerah yang ada di tengah-tengah selangkangannya. Ada rasa hangat yang dirasakan Lina muncul dari dalam tubuhnya. Rasa panik melihat lintah yang tadi dirasakan Lina kini berubah menjadi sedikit rasa semangat dan gairah. Pandangan-pandangan liar para petani membuat Lina merasa dirinya begitu terekspos dan begitu ‘terbuka’ seolah-olah tak ada sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya. Pikiran liar pun singgah di pikiran gadis kota yang cantik jelita itu. Di dalam pikirannya, Lina membayangkan dirinya bugil sementara Dirman sedang memeriksa vaginanya (vagina Lina) sebelum digunakan beramai-ramai oleh para petani yang sudah tak sabar ingin menjejalkan alat kelamin mereka ke dalam liang sempit milik Lina. Tanpa sadar, kedua kaki Lina semakin terbuka lebar. Bukannya melepaskan lintah, tapi Dirman malah bengong, tatapan matanya fokus ke tengah-tengah selangkangan Lina yang ada tepat di hadapannya. Dirman ingin sekali merobek celana Lina, penasaran ingin melihat apa yang ada di dalamnya. Pastilah indah alat kelamin yang dimiliki seorang gadis cantik seperti Lina, pikir Dirman.

Otak Dirman pun kembali normal. Dirman membakar semua lintah yang ada di paha bagian dalam Lina.

“udah non…”, ujar Dirman.

“makasih, Bah…”. Lina mengelap sedikit sisa-sisa darah yang ada di pahanya.

“non Lina gak apa-apa?”, tanya seorang petani.

“iya gak apa-apa kok, Pak Abdul…”, jawab Lina sambil tersenyum.

“non bisa jalan?”.

“bentar, Bah…”. Lina limbung ketika menapakkan kedua kakinya dan mencoba berdiri. Dengan sigap, Dirman memeluk Lina agar Lina tidak terjatuh.

“kaki Lina sakit banget, Bah..”. Semuanya merasa iri dengan Dirman yang bisa memeluk dan memegang tubuh indah Lina.

“kalo gitu Abah gendong non Lina ampe rumah yaa?”.

“iya, Bah..”. Lina pun langsung nemplok ke punggung Dirman setelah Dirman jongkok. Lina pun mengalungkan kedua tangannya ke leher Dirman.

“maaf ya non..”.

“iya, Bah..gak apa-apa kok..”. Dirman merapatkan kedua tangannya untuk menampung pantat montok Lina.

“semuanya, Lina pulang dulu ya..”.

“iyaa, non..moga cepet sembuh..”, jawab para petani seperempak yang sebenarnya sangat iri kepada Dirman.

“udah lama gak digendong Abah kayak gini..”.

“iya non..udah lama juga..”. Emang udah lama, tapi gak pernah seenak ini gendong lo, toket lo empuk banget, pikir Dirman. Payudara Lina yang masih terbungkus bh dan baju itu menempel erat di punggung Dirman sampai kelihatan menyatu dengan punggung Dirman. Meski agak bau sinar matahari, Lina merasa nyaman digendong Dirman sampai tak terasa tertidur, mungkin karena kelelahan juga.

“non udah nyampe..”.

“haa?? mm…”, ujar Lina sambil mengucek-ngucek matanya. Lina melepaskan rangkulannya di leher Dirman. Dengan bantuan Dirman, Lina pun bisa nyaman selonjoran di kasurnya.

“kaki non Lina masih sakit?”.

“iyaa nih, Bah…masih agak sakit..”.

“mau Abah pijetin kakinya?”.

“boleh, Bah..”.

“bentar yaa non, Abah pulang dulu..ambil minyak..”.

“iyaa, Bah..jangan lama-lama ya…”. Dirman keluar kamar, sementara Lina memikirkan peristiwa di sawah tadi. Tak pernah ia merasa begitu nakal dan begitu liar.

Rasa penasaran pun muncul di benak Lina. Entah darimana pikiran itu, tapi rasanya sekarang Lina ingin sekali melihat kejantanan Dirman. Meski sudah tua, tapi Dirman masih terlihat bugar dan kekar. Vaginanya terasa hangat dari dalam, seperti butuh sentuhan. Tangannya mengelus-elus daerah pribadinya sendiri.

“hmmm”. Sebuah batang yang hitam, besar, dan berurat terbayang di pikiran Lina. Semakin ‘gatal’ rasanya sehingga tangannya pun semakin aktif. Sebagai pemiliknya, Lina tahu kalau daerah intimnya perlu sentuhan. Lina pun menyusupkan tangannya ke dalam hotpantsnya.

“uuuhhhmmm”.

Usapan-usapan lembut pada bibir vaginanya sendiri terasa begitu ‘menenangkan’. Jari tengahnya naik turun tepat di tengah-tengah belahan bibir vaginanya. Lina pun memejamkan matanya, meresapi gerakkan jarinya. Gemas dengan rangsangan ‘lembutn’ya sendiri, Lina menyusupkan 2 jarinya masuk ke dalam liang vaginanya yang ‘panas’.

“eemmm…mmmm..”, 2 jarinya bergerak keluar masuk dengan penuh sensasi. Lina sadar ada sepasang mata yang sedang mengamatinya.

Lina membuka matanya. Dirman sudah ada di sebelah ranjangnya, sedang berdiri dan memandangnya. Bukannya berhenti, Lina malah mengeluarkan tangannya dan langsung menuntun tangan Dirman masuk ke dalam hotpantsnya.

“Baah, tolong Linaa…”, desah Lina dengan suara yang begitu menggairahkan dan begitu ‘memancing’. Dengan insting pria sejati yang berorientasi sex lawan jenis (normal), tanpa ragu-ragu Dirman mulai meremasi isi dari hotpants Lina.

“ooohh yeeaahhh disiituu Baah !!! teeruuss Baahh !! uuummhhh…”, Lina semakin menggila saat 2 jari Dirman mulai mengebor vaginanya. Tanpa ragu-ragu, tangan Dirman yang satu lagi merayap masuk ke dalam kaos Lina dan langsung meremasi payudara yang empuk nan kenyal yang ada di dalamnya.

“EEENNGGHHH !!!”, lenguh Lina panjang, tubuhnya menegang.

Dirman mengeluarkan tangannya. Tanpa di suruh, Dirman menarik hotpants Lina beserta celana dalamnya dan membuangnya ke lantai. Bagai mimpi, Dirman tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tak percaya dengan pandangannya, vagina kecil yang dulu sering ia sentuh dan ia cuci kini begitu indah, begitu menggiurkan. Tanpa ragu-ragu, Dirman menempatkan kepalanya di antara selangkangan Lina. Dirman membenamkan kepalanya di selangkangan Lina yang sangat wangi. Merasa ada yang menginvasi daerah pribadinya, secara alami Lina merapatkan kedua pahanya, menjepit kepala Dirman yang ada di tengahnya. Hidung Dirman menempel di belahan vagina Lina. Dirman menarik nafas dalam-dalam, menghirup ‘aroma therapy’ yang berasal dari vagina Lina. Beda sekali dengan punya istrinya yang bau amis. Memek cewek cakep emang beda, pikir Dirman.

Lidah Dirman pun menjulur keluar, menyentuh kelamin Lina.

“ehhh..”, tubuh Lina langsung bereaksi saat benda lunak dan hangat melakukan kontak fisik dengan alat kelaminnya.

Dengan rakusnya, Dirman melahap vagina Lina habis-habisan. Tak henti-hentinya, lidah Dirman menyapu setiap jengkal dari daerah segitiga majikannya yang cantik itu. Mungkin hanya kali ini bisa merasakan vagina yang seharum dan seenak ini, pikir Dirman. Lidahnya terus menggali, menggali, dan menggali lebih dalam lagi ‘tambang’ yang ada di hadapannya sehingga Lina pun menggeleng-gelengkan kepala, menggeliat-geliat, kedua pahanya semakin menjepit kepala Dirman.

“oooohhhh !!! teeruuusshhh Baaahhh !!!! makan memek Linaa seepuaasnyaaaa !!!!”, teriak Lina lepas, tak terkontrol.

“iyaaaa Baahh !! jilatin memek Linaa !!! memek Linaa punya Abaaahhh !!!! ooohhhh !!!”. Mendengar perkataan-perkataan kotor yang keluar dari mulut gadis cantik seperti Lina membuat semangat Dirman berapi-api seperti prajurit yang bersemangat menghadapi perang. Lina menekan kepala Dirman agar lebih menempel dengan vaginanya.

“aaahh aahhh aaahh AAAAKKKHHHH !!!!”, Lina mengejang hebat, kedua pahanya menjepit kepala Dirman dengan sangat kencang, perutnya agak ke atas.

“ssrruupphhh !!!!”, Dirman tak menyia-nyiakan ‘sumber mata air’ Lina. Semuanya habis diseruput Dirman, cairan yang tertinggal di liang vagina Lina pun sampai tak ada karena terserap lidah Dirman yang masuk kembali.

Selesai meminum inti sari dari kelamin nonanya sampai terkuras habis tak bersisa, Dirman mengangkat kepalanya menjauh dari selangkangan Lina. Dengan sangat tergesa-gesa, Dirman membuka celana dan celana dalamnya sendiri. Kedua mata Lina langsung tertuju ke benda yang ada di tengah-tengah selangkangan Dirman. Benda itu terlihat begitu kokoh.

“masukkin, Bah…”, lirih Lina meminta Dirman untuk menyumpal vaginanya.

Kedua kaki Lina terbuka dengan sangat lebar, Lina juga menyibakkan bibir vaginanya sendiri untuk mengundang burung Dirman agar segera masuk ke dalam. Tanpa perlu disuruh, pucuk penis Dirman pun sudah mencium lubang vagina Lina.

“masukkin, Baah..”, pinta Lina dengan melirih. Dirman memajukan pinggulnya perlahan, kepala penisnya mulai mendobrak masuk ke dalam liang kewanitaan Lina.

“heemmhhh….”, Lina merasa bagian bawah tubuhnya benar-benar penuh, penuh sesak dengan batang besar milik Dirman yang semakin masuk ke dalam.

Sensasi yang belum pernah dirasakan Dirman, batangnya terasa begitu terjepit dan terasa seperti diurut dan dipijat. Seluruh batang Dirman telah tertancap di dalam liang vagina Lina dengan sangat kokoh. Dirman tak bergerak, diam sejenak untuk menikmati liang vagina Lina yang begitu hangat dan begitu sempit. Dirman merasa penisnya seperti dicengkram dengan sangat kuat oleh dinding vagina Lina. Belum lagi rasa hangat yang menyelimuti penisnya. Desahan-desahan pelan mengalun lembut dari mulut Lina saat Dirman mulai menggerakkan tongkatnya. Dirman agak kesusahan menarik dan juga mendorong penisnya, rasanya liang rahim Lina terlalu sempit. Tapi dengan penuh kelembutan, Dirman terus berusaha memompa penisnya dengan perlahan.

“oohh ooouuhh uummhh..iyaa, Baahh !! enaak, Baahh !!!”, racau Lina merasa nikmat yang luar biasa di bagian bawah tubuhnya.

Dirman terus ‘menggasak’ liang vagina Lina. Menyodoknya dengan penuh perasaan namun cukup kuat untuk membuat Lina tersentak-sentak.

“ookkhh…ookkhh..ookkhh…”, Lina mengerang keenakan saat Dirman menyodok vaginanya sampai mentok.

Si pria tua itu terus menggenjot dengan ritme pelan agar si gadis cantik yang sedang digenjotnya bisa membiasakan diri terlebih dulu. Kedua tangan Dirman pun menangkup dan menggenggam ‘kemasan susu’ Lina. Meremasi payudara Lina yang terasa sangat empuk dan kenyal itu. Kaki Lina pun melingkar erat di pinggang Dirman. Keduanya masih mengenakan kaos, tapi alat kelamin mereka sudah menyatu. Berpikir Lina sudah mulai terbiasa, Dirman mulai mempercepat genjotannya.

“OOOUUHHH !!!”, Lina mengeluh panjang lagi, gelombang orgasme melanda tubuhnya.

“hhhh…”, nafas keduanya menderu-deru, bulir-bulir keringat Dirman jatuh membasahi tubuh Lina yang juga tak kalah basah oleh keringat. Kedua insan itu bercinta dengan sangat bergairah, begitu menggelora. Desahan-desahan penuh kenikmatan keluar dari mulut keduanya. Keduanya saling berpelukan dengan erat sementara alat kelamin mereka terus bergesekkan semakin cepat dan tanpa henti.

“ooh ooohh OOOKKHHH !!!!”, erang Dirman melepas orgasmenya.

“BAAAAAHHH !!!”, Lina juga mengerang lepas. Keduanya sama-sama meraih puncak kenikmatan yang mereka bangun bersama-sama. Rasa hangat dan becek terasa oleh Lina di liang kewanitaannya. Mata Lina sayup-sayup, semakin tak jelas pandangannya. Rasa lelah karena di sawah hampir seharian ditambah habis digempur pria tua dengan ‘senjatan’ya yang bukan main membuat Lina tak bisa menahan rasa kantuknya. Dia pun tertidur tanpa memikirkan batang Dirman yang masih ‘menyangkut’ di vaginanya. Saat Lina terbangun, Lina mendapati dirinya sudah berselimut. Lina pun membuka selimutnya. Lina tersenyum saat melihat cairan putih yang meleleh keluar dari vaginanya. Lina bangun dan membuka kaos beserta bhnya lalu menuju kamar mandi.

“aah segeerrr…”. Air dingin mengucur dari pancuran membasahi tubuh indah Lina.

Dia mengambil shower dan menyemprotkan air ke daerah intimnya untuk membersihkan alat kelaminnya yang telah ‘dinodai’ Dirman. Lina menyabuni setiap jengkal dari tubuhnya. Tubuh Lina pun kembali segar dan wangi. Lina melilitkan handuk ke tubuhnya yang basah. Handuknya yang bisa dibilang kecil hanya bisa menutupi payudara sampai 5 cm di bawah ‘lembah’ miliknya. Saat dia duduk di kursi meja rias, handuknya pun terangkat saking pendeknya.

“kruuukk…”. Perut Lina pun berbunyi kencang. Perutnya keroncongan, minta diisi dengan makanan.

“aduuh..pantes aja gue laper banget..udah jam segini…”. Lina pun mengambil hpnya dan menghubungi nomor rumah Dirman.

“halo, siapa ini ?”.

“ini Lina…ini Mbok Minah bukan ?”.

“ooo yaa ampun !! neng Lina ??! apa kabar ? iyaa, ini Mbok Minah”. Lina dan Mbok Minah pun berbicara lewat telpon bagai 2 orang sahabat yang sudah lama tak bertemu.

“oh iyaa, Mbok..Abah ada ?”.

“iyaa ada, neng…kenapa ?”.

“Lina laper banget nih, Mbok..”.

“oh, iya neng, iya neng..nanti Mbok suruh Mas Dirman nganter makanan ke neng…”.

“masakan Mbok kan yaa ?”.

“iyaa, neng..”.

“asiiik ! jangan lama-lama ya, Mbok..”.

“iyaa, neng..”.

“oh iyaa..kaki neng Lina udah agak mendingan ?”. Lina pun menggerakkan kakinya dan berdiri, rasa sakitnya sudah hilang meski masih agak ngilu sedikit.

“udah nggak, Mbok…dipijitin Abah sih…”.

“iyaa, kata Mas Dirman, neng Lina sampai ketiduran gara-gara dipijit kakinya”.

“iyaa, Mbok..habis enak siih..”, ujar Lina senyum-senyum sendiri. Bukan ketiduran gara-gara dipijet, tapi gara-gara disodok-sodok, pikir Lina.

“yaudah ya, Mbok…jangan lama-lama makanannya..hehe”.

“beres, neng..”. Lina menyudahi pembicaraannya. Lina baru sadar kakinya sudah agak mendingan, tidak terlalu nyeri seperti sebelumnya.

“pasti Abah mijitin kaki gue pas gue tidur”, ujar Lina berbicara sendiri. Meski kakinya terasa agak mendingan, tapi ada bagian lain yang terasa lebih ngilu yaitu daerah selangkangannya. Tapi, rasa ngilu itu tidak terlalu terasa karena Lina sedang duduk. Lina bersenandung sambil terus menyisir rambutnya. Entah darimana, Lina merasa senang sekali, tak sabar menantikan kedatangan Dirman. Lina hanya tahu satu hal, Dirman adalah satu-satunya pria yang mampu memberikan kepuasan batin yang begitu maksimal dari semua laki-laki yang tidur dengannya. Tubuhnya benar-benar dimanfaatkan dengan baik oleh pengurus sawah ayahnya itu. Meski selangkangannya jadi terasa agak ngilu, Lina ingin sekali merasakan sensasi sodokan-sodokan Dirman lagi. Terngiang-ngiang sensasi nikmat dari sodokan penis Dirman membuat Lina semakin tak sabar menunggu pria tua yang tadi telah menyetubuhinya itu.

“tok tok tok !!”.

“iyaa sebentar !!”, jawab Lina dengan agak berteriak.

“adu duu hh..”, rasa ngilu terasa di pusat daerah intimnya saat dia ingin berjalan cepat menuju pintu. Lina pun berjalan pelan dengan kaki agak terbuka dari biasanya.

“eh, Abah…udah Lina tungguin dari tadi..”.

“iya..aa, non..maaf lama..”, Dirman merasa jadi canggung berhadapan dengan majikannya apalagi hanya handuk mini yang melilit di tubuh Lina. Ekspresi wajah Lina tak kelihatan kesal atau marah malah kelihatan senang.

Masih segar ingatan Dirman akan tubuh indah Lina yang tak tertutup apa-apa sehingga Dirman memandang Lina seolah tembus pandang, tahu bagaimana bentuk dan setiap lekuk tubuh Lina meski tertutup handuk.

“ayo, Bah..Lina udah mau mati nih…hehe..”. Dirman pun langsung ke dapur dan segera kembali dengan piring penuh dengan nasi. Lina yang duduk di kursi meja makan pun langsung menerima piring dari Dirman dan langsung menuang berbagai lauk yang ada di rantang yang tadi di bawa Dirman ke beberapa piring kosong yang memang sengaja disediakan di atas meja makan.

“ayo, Bah..kita makan yuuk…”.

“gak usah, non…non Lina aja yang makan..”.

“ayoo dong, Bah…kita makan bareng..masa Lina makan sendirian..”.

“ng..nggak usah, non..”. Dirman benar-benar merasa tak enak kepada Lina. Padahal tadi dia telah mengambil keuntungan dari tubuhnya dan memperkosanya, tapi kenapa majikannya masih tetap baik malah seperti tak terjadi apa-apa, pikir Dirman.

“ayoo dong, Bah…kalo Abah gak makan, Lina marah nih..”, ujar Lina dengan nada agak manja.

“i..i..iya deh non..”. Dirman pun pergi ke dapur untuk mengambil nasi dan ikutan makan dengan Lina. Gadis cantik itu makan dengan lahap.

“aahh kenyaaang !!!”. Dirman tak berani menatap mata Lina, rasa bersalah dan takut gara-gara peristiwa itu meski Lina tak menunjukkan ekspresi marah.

“non Lina..”.

“iya, Bah ?”. Dirman langsung sujud di kaki Lina.

“maaf..maafin Abah, non…Abah bener-bener minta maaf..Abah rela dipecat, non…tapi tolong jangan laporin Abah ke polisi…”, pinta Dirman memelas dengan nada suara orang yang hampir menangis.

“diri, Bah…”, ujar Lina sambil berdiri. Dirman benar-benar takut akan dilaporkan ke polisi oleh gadis cantik yang ada di hadapannya karena telah memperkosanya. Dirman berdiri dan memberanikan diri mengangkat kepalanya untuk memandang mata Lina.

“gak apa-apa kok, Bah..”, jawab Lina dengan senyuman manis menghiasi wajahnya.

“ha ? apa, non ?”, jawaban yang sama sekali tak diduga-duga membuat Dirman menjadi bingung.

Sambil tersenyum, Lina membuka lilitan handuknya. Handuk itu pun langsung lolos turun ke bawah. Tubuh telanjang Lina tepat berada di depan Dirman.

“iya, Bah..Lina gak marah kok…”, jawab Lina, nada suaranya begitu manja, seperti seorang istri yang sedang ingin bermanja-manjaan dengan suaminya.

Dirman masih tak percaya, semuanya berjalan terlalu lancar bagaikan mimpi saja, Dirman sama sekali tak pernah membayangkan keadaan ini dimana dengan keadaan sadar, Lina telanjang bulat di hadapannya.

“non Lina bener-bener gak marah ?”. Lina tersenyum, dia menuntun kedua tangan Dirman ke belakang tubuhnya dan menaruh di bongkahan pantat kanan dan kirinya lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher Dirman.

“beneer, Abah…malaahh…”, nada suara Lina kini berubah menjadi sangat ‘memancing’. Lina mendekatkan bibirnya ke kuping Dirman.

“kalau Abah mau lagi..Lina gak keberatan kok..”, bisik Lina menggoda. Ucapan yang terlontar dari mulut Lina terdengar begitu merdu di telinga Dirman, seperti nada-nada lagu yang sangat indah.

“bener, non ?”, Dirman masih tak percaya padahal jelas-jelas kedua tangannya menggenggam pantat montok gadis cantik itu.

“Abah masih gak percaya ?”. Tanpa ba-bi-bu, Lina menempelkan bibirnya ke bibir Dirman yang agak hitam.

“eeemmhh..emmhhh..ccpphhh”. Keduanya saling pagut, saling bergantian melumat dan menghisap bibir satu sama lain. Memang beda rasanya jika cipokan dengan gadis yang masih muda dan sangat cantik, bibirnya terasa lembut dan seperti ada rasa buah anggur di bibirnya, pikir Dirman. Lina pun tak bergerak membiarkan bibirnya dipagut, dilumat, dihisap, dan dikulum habis-habisan oleh pria tua yang ada di hadapannya sekarang. Sesekali Lina menjulurkan lidahnya untuk menjadi ‘makanan’ Dirman. Enak sekali rasanya mencumbu bibir yang begitu lembut dan empuk sampai Dirman tak mau berhenti melumat bibir Lina untuk waktu yang cukup lama. Lina pun tak berusaha melepaskan diri, dia begitu meresapi dan menikmati cumbuan Dirman bahkan sampai memeluk Dirman dengan sangat erat bagai memeluk kekasihnya saja. Tangan Dirman pun sudah mulai beraktifitas. Asik sekali Dirman meremas-remas kuat bongkahan pantat Lina yang ada di genggaman tangannya. Tabokan dan cubitan pun dilayangkan Dirman ke pantat Lina yang memang empuk, sekel, padat, dan kenyal sehingga tak heran kalau Dirman jadi begitu gemas dibuatnya. Ternyata ini arti mimpinya kemarin, mimpi ketiban durian runtuh. Dirman kira itu artinya dia akan mendapatkan rejeki nomplok, tapi rupanya bidadari nomplok. Tak ada rezeki yang lebih baik dari sex gratis dengan gadis muda nan cantik yang mau disetubuhi dengan senang hati tanpa paksaan sedikit pun, pikir Dirman. Dirman pun menarik bibirnya setelah sangat puas mencumbu Lina.

Keduanya megap-megap kekurangan oksigen. Lina dan Dirman saling menatap mata satu sama lain. Pandangan mata Lina adalah pandangan wanita yang sudah ‘on fire’, siap untuk digempur habis-habisan. Pandangan mata Dirman pun menunjukkan kalau dia sudah tak sabar ingin merengkuh kenikmatan dari tubuh gadis cantik yang ada di hadapannya. Tak sabar ingin menggeluti tubuh indah Lina untuk kedua kalinya, tidak, mungkin sampai 3x, tidak, pokoknya sampai burungnya tak mampu lagi berdiri dan persediaan sperma di kantung zakarnya habis tak bersisa. Sementara itu, telah terjalin suatu chemistry antara alat kelamin Lina dan Dirman. Vagina Lina seperti kutub utara sementara burung Dirman bagai kutub selatan yang membentuk medan magnet yang membuatnya saling tarik menarik dan ingin bertemu. Vagina Lina tak sabar ingin merasakan panjang dan diameter dari tongkat Dirman dan penis Dirman tak mau menunggu lagi untuk merasakan kehangatan dan sempitnya celah kecil yang ada di tengah-tengah selangkangan Lina. Karena sudah mengantongi izin, Dirman langsung menggendong Lina dan membawanya masuk ke dalam kamar. Tak beberapa lama kemudian, bunyi ranjang yang bergerak-gerak serta desahan, lirihan, dan rintihan keduanya pun terdengar dari dalam kamar. Hanya ada mereka berdua di dalam rumah itu sehingga mereka bisa mengekspresikan kenikmatan yang sedang mereka rasakan sesuka hati. Entah berapa jam sudah Lina dan Dirman berada di dalam kamar. Keduanya tak keluar-keluar kamar sedari tadi. Bahkan turun dari ranjang pun keduanya tak mau. Bagai malam pertama, Lina dan Dirman layaknya sepasang pengantin baru yang sedang bersetubuh dengan penuh gairah dan nafsu yang sangat menggelora. Dirman merasa nafsunya tak menurun malah semakin naik melihat Lina yang terkulai pasrah di hadapannya. Lina pun merasa puas, senang, dan ingin lagi dan lagi untuk disetubuhi Dirman. Sodokan-sodokan Dirman benar-benar membuat Lina mabuk dalam kenikmatan.

“non Lina…”, bisik Dirman yang sedang memeluk Lina dari belakang karena sedang istirahat.

“iyaa, Bah ?”, jawab Lina dengan nada manja.

“boleh minjem telpon sebentar ?”.

“iyaa, Bah..ada di meja rias..”. Dirman pun turun dari ranjang dan mengambil hp Lina.

“halo, Mbok ?”.

“halo, ini siapa ?”.

“ini Mas, Mbok”.

“oh Mas Dirman, ada apa ?”.

“Mas nginep di rumah non Lina..dia takut sendirian..”.

“oh ya udah..inget Mas, jangan macem-macem ama neng Lina..”.

“iya, Mbok..”. Dirman pun menutup telpon dan menaruhnya kembali di tempat semula.

“iih..Abah boong ke Mbok..”, ledek Lina.

“hehe…bosen tidur bareng Mbok..enakan tidur ama non Lina…”.

“iih Abah porno iih..”.

“hehe…”. Dirman pun memandangi Lina. Tubuhnya berkemilauan terkena cahaya karena keringat ditambah air liur Dirman. Belum lagi selangkangan Lina yang belepotan sperma pria tua itu. Tak disangka, gadis kecil yang dulu dijaganya kini berubah menjadi wanita yang sangat cantik dan begitu montok. Dirman pun merasa dia sedang mengambil haknya, upahnya untuk mengambil keuntungan dari tubuh Lina yang dijaganya.

“Abah kok ngeliatinnya gitu sih?”, Lina pura-pura menutupi kedua buah payudara dan vaginanya dengan kedua tangannya.

“hehe..pake ditutupin segala, non…”. Lina pun tersenyum dan membuka kedua tangannya ke atas seperti orang yang sudah siap dipeluk.

“sini, Bah…”, ajak Lina dengan sangat menggoda yang sudah siap ‘menerima’ Dirman.

Tak perlu dipaksa, Dirman langsung menomplok Lina dan menggumuli gadis cantik itu sampai larut malam, sampai staminanya habis dan tongkatnya tak mampu berdiri lagi, habis sudah persediaan spermanya seperti niat Dirman pada awalnya. Keduanya tidur dalam berpelukan, tidur mereka benar-benar pulas karena kecape’an, tapi ekspresi wajah mereka menunjukkan kepuasan yang tiada tara. Hari-hari dilalui Dirman dan Lina dengan penuh kebahagiaan dan penuh kesenangan. Lina pun memutuskan untuk memakai pakaian seperti ibu-ibu petani lainnya agar benar-benar meresapi menjadi ibu petani. Pagi-siang Dirman melakukan kewajibannya untuk mengajari Lina. Sore-malam Dirman meminta haknya kepada Lina yang dengan senang hati melakukan kewajiban lainnya dari ibu petani yaitu memberikan tubuhnya kepada bapak petani, yang tak lain dan tak bukan adalah Dirman, untuk ‘digarap’ sesukanya.

“iih, Abah…maen ngintip aja..”, canda Lina saat Dirman membuka lipatan kain Lina untuk melihat isinya.

“hehe…Abah pengen liat aja..”.

“tapi jangan di sini, Bah..ntar keliatan orang..”.

“iyaa deh non..hehe..”. Dirman benar-benar senang mengusili Lina karena Lina tak pernah marah meskipun dia sering iseng menyelipkan tangan ke dalam baju dan kain Lina untuk menyentuh ‘onderdil’ gadis cantik itu saat sedang istirahat di saung. Tak ada yang tahu kegiatan mereka berdua selain di sawah. Hanya handycam Lina yang menjadi saksi bisu yang meliput kegiatan Lina di sawah dan aktifitas panasnya di ranjang bersama Dirman. Lina pun tak sabar ingin menunjukkan rekamannya kepada teman-temannya yang sama ‘gila’ dengan dirinya.


Balada Masa Sekolah —

Sehabis pelajaran olah raga Denia Putri dan Ester Agustina menuju ke kamar mandi sekolah untuk berganti pakaian.
“Yah penuh, tinggal satu nih Put” kata ester pada putri
” Ya udah kita barengan ajah, udah laper nih pengen cepet2 makan” sahut putri
“ikuuuuuuttt” tiba2 datang Dita teman satu genk mereka
” aku juga buru2 nih mau pipis” Kata Dita
Kemudian mereka masuk ke kamar kecil yg tersisa. Begitu di dalam Dita langsung menurunkan celana olah raganya dan duduk di kloset… seeerrrr cuuuur… pipis Dita mengalir dgn deras ke dalam kloset. Sementara Putri dan Ester membuka pakaian olah raga mereka utk diganti dgn seragam sekolah. Saat Putri dan Ester sedang membuka kaos mereka tiba2 Dita memercikkan air ke tubuh mereka berdua
“Auww…. ” eriak Putri dan Ester kadet
“apa2an sih it basah nih BH aku ” sungut Putri sambil mengelap BHnya
” iya nih Dita, BHku juga basah ” kata Ester agak jengkel
“hihiii… maap” kata Dita cengengesan
Sejenak tampak Putri bisik2 dgn Ester. Mereka berdua kemudian mendekati Dita dgn tersenyum penuh misteri
” Eiitt.. mau apa kaliann” seru Dita
Putri mendekat dari samping kanan dan Ester dari samping kiri. Belum sempat hilang kebingungan Dita tiba2 kedua tangannya di pegang dgn kuat oleh Putri dan Ester. Tangan mereka yg satu memegang Dita sementara tangan yg satunya meremas remas payudara Dita yg cukup besar. Diantara mereka bertiga Dita lah yg paling gemuk sehingga payudaranya paling besar
“aaa..ooooww.. ampuunn..ampuunn ” teriak Dita
“tidak ada ampun bagimuuu ” kata Putri tertawa sambil terus meremas susu Dita. Begitu juga Ester semakin bersemangat meremas payudara Dita sampai kaos olah raganya kusut….
“aaahh.. nggak mauuuuu.. ampuunn” Dita teriak sambil meronta sampai akhirnya bisa melepaskan diri lalu menyingkir ke pojok toilet
“iihhh.. jahat banget kalian jd kusut nih ” sungut Dita
” makanya jd anak jgn iseng.. eh susu Dita jadi tambah gede tuh hihihi” goda Putri
” ayo tanggung jawab kalian, aku jadi horny nih ” kata Dita sambil bersandar ditembok
” sini sini sini sayaaaaang.. mana yg sakit” kata Ester sambil mendekati Dita
” ini..” kata Dita menunjuk ke arah payudaranya
” sini Ester elus2 biar hilang sakitnya” kata Ester sambil merangkul Dita dari samping lalu mengelus payudara Dita dari luar kaos olah raganya.
“eeehhhh….” desah Dita sambil memeluk Ester juga
Sementara itu Putri sudah berganti pakaian lengkap dgn jilbabnya, dia cuma bisa geleng2 sambil tersenyum.

Sepulang sekolah Putri dan Ester mampir kerumah Dita. Kedua orang tua Dita belum pulang dari kantor. Yg di rumah cuma ada Leo adik Dita yg masih kelas 1 SMP. Mereka mengerjakan PR yg di berikan tadi pada jam terakhir di sekolah di ruang tengah.
” ayo minum minum ” kata Dita sambil membawa minuman
” wuihhh.. segar tuh, sesegar susu Putri ” kata Ester sambil mencolek susu Putri
” Aoooww,… ih Ester, ada adiknya Dita tuh” sungut Putri
” Ahh.. si Leo masih kecil, blum tau apa2 hihiih” kata Ester
Sementara itu Leo asyik nonton TV sambil makan mi goreng.
” Eh jangan salah, adik gue masih smp tapi tontonannya BF tuh, kemarin gue pergokin lagi nonton di kamar, dasar tuh anak ” kata Dita
” Siapa dulu kakaknya ” kata Ester meledek
” Enak aja ” kata Dita sambil menarik Rok Ester keatas
” Aooww.. ih.. Dita..!! awas yah nanti aku bales ” kata Ester
” Aku balesin yah ” kata Putri sambil menyingkap rok Dita sampai celana dalamnya kelihatan
” ihh… kalian curang maen keroyok ” kata Dita sambil meloncat berdiri
” udah udah ayo kita kerjain PRnya, nggak selesai2 ntar” kata Putri
Tanpa mereka sadari dari tadi Leo memperhatikan tingkah mereka meski dgn pura2 nonton tv. Dia sempat lihat celana dalam Ester waktu kakanya menyingkap roknya. Begitu juga ketika rok kakaknya di singkap Putri. Nafas Leo menjadi ngos2an.
Leo semakin tidak konsentrasi pada televisi, kalopun kelihatannya merhatikan tv tapi sebenarnya dia lebih sering melirik ke arah ketiga cewek tsb. Terutama pada Ester yg duduknya pas menghadap dia. Karena rok Ester cukup pendek dan duduknya bersila sehingga pahanya yg putih mulus terpampang dgn jelas bahkan sampai celana dalam putihnya kadang2 kelihatan. Sedangkan Putri meski memakai jilbab dan rok panjang tapi waktu dia merubah posisi duduknya tetap saja sekilas terlihat pahanya yg sangat putih. Sementara Dita posisinya tidak kalah terbukanya, namun karena Leo sudah sering melihat paha putih dan celana dalam kakaknya maka dia lebih senang melihat ke arah Ester dan Putri. Nafas Leo semakin memburu karena mereka bertiga belajar sambil bercanda. Kadang saling colek paha, kadang colek payudara.
Diantara mereka bertiga hanya Putri yg menyadari kalo dari tadi Leo memperhatikan mereka, maka dgn iseng dia menyingkap rok Ester tinggi2..
” aooww.. Putriiiiii.. ” teriak Ester sambil meloncat berdiri. Lalu dia menubruk tubuh Putri sambil tangannya berusaha membalas dgn menyingkap rok panjang putri, namun Putri berontak sehingga mereka bergumul dilantai.
” ampuun.. aoo.. ampuuunn hahhahaa ampuunn ” teriak Putri
” Pembalasaaaan ” sahut Ester sambil terus berusaha menarik ujung rok panjang Putri. Kaki putri terus berontak di tambah tarikan dari Ester sehingga roknya kini terangkat sampai atas menampakkan seluruh kaki dan pahanya yg putih mulus hingga celana dalamnya yg berwarna putih.
” Dit, tarik celana dalamnya putriii” teriak Ester pada Dita
“okeeee.. ” kata Dita sambil memegang pinggul Putri kemudian berusaha menarik celana dalam putri
” ampuuunnn.. aaa… nggak mauuuu ” teriak Putri sambil terus berontak. Namun gerakan kakinya justru mempermudah Dita menarik celana dalam Putri. Kini celana dalam Putri sudah lepas seluruhnya dari kaki putri sehingga vaginanya yg montok dan masih berbulu halus terpampang. Namun Putri segera menutup kedua pahanya dan menekuk kedua kakinya kesamping sehingga kini yg terpampang adalah bokongnya yg putih mulus dan montok sedangkan vaginanya hanya mengintip sedikit dari celah pahanya. Sambil tertawa Dita menepuk nepuk pantat Putri
” Ammpuunn.. amppuuunn aku lemaaas ” kata Putri dgn ngos2an dan tidak berontak lagi. sedangkan Ester juga sudah kehabisan tenaga sehingga mereka cuma ngos2an sambil tertawa. Putri terbaring miring lemas diatas tubuh ester dgn rok panjang yg tersingkap sampai atas menampakkan kemulusan bokongnya yg masih di elus elus Dita, sedangkan Ester terlentang dgn pakaian dan rok yg amburadul karena pergumulan tadi.
Tanpa mereka sadari sebenarnya Leo merekam semua tingkah laku mereka sejak awal menggunakan handycam yg disembunyikan di pangkuannya dan di tutupi dgn bantal….

Leo sedang menonton hasil rekamannya tadi siang. Nafasnya ngos2an sambil tangannya mengelus tititnya dari luar celana. Setiap adegan yg menampilkan paha atau celana dalam Dita, Putri dan Ester selalu dia pencet tombol pause, lalu di perhatikan dgn seksama dan penuh nafsu. Apalagi pas adegan celana dalam Putri di tarik sampai lepas oleh Dita, di pause di ulang dipause diulang berkali kali.
” Leooo.. ” terdengar suara dita memanggilnya
” iya kak, ada apa?? Leo di kamar ” sahut Leo sambil buru2 menutup laptopnya karena tanpa ketok pintu Dita sudah masuk ke kamarnya
” hayo.. kamu nonton bokep yah.. kakak laporin mama ” bentak Dita
” eh.. enggak kok.. ini.. mm.. anuu..mm.. enggak ” jawab Leo gugup
” sini coba kakak lihat ” kata Ester merebut laptop Leo lalu membukanya sambil telungkup di kasur.
“jangan kak.. ” kata Leo namun terlambat karena Ester terlanjur membuka rekaman tadi yg sudah di save di laptop
“ups… Leoooo ini kan kakak ama temen2 tadi siang ” Ester kaget
” iya kak, maaf ” kata Leo tertunduk
” oooo.. kakak ngerti sekarang, kamu naksir ama temen2 kakak yah” goda Dita sambil terus melihat rekaman tsb. Timbul niat utk iseng pada Leo
“emm.. anu kak. mmmm ” jawab Leo bingung.
” Udah nggak usah malu2, ini buktinya. Sini coba duduk sini deket kakak ” kata Ester sambil bangkit duduk bersandar di tepi tempat tidur.
Sebenarnya Leo dan Dita adalah saudara tiri. Orang tua mereka baru saja menikah. Dita adalah anak dari si mama, sedangkan Leo adalah anak dari si papa.
Leo dgn agak takut duduk di sempaing kakak tirinya tersebut.
” kamu sebenarnya pengen ngintip paha kakak ama temen2 kakak kan??” tanya Dita sambil merangkul Leo
” mmm… anu kak.. mmm… ” jawab Leo makin bingung dan takut
” sekarang jawab dgn jujur, diantara kami bertiga paha siapa yg paling mulus?? ” tanya Dita sambil meluruskan kakinya. Dita memakai celana yg sangat pendek dan ketat sehingga pahanya terpampang seluruhnya
” mm.. sseemuuuaaa putih kak, cuman mulus tidaknya Leo nggak tau karena Leo belum pernah menyentuh semua” jwb Leo
” sekarang coba elus paha kakak” kata Dita sambil menuntun tangan Leo menyusuri pahanya.
” uuhh.. mulus dan sekali kak ” kata Leo gemeteran
” yg bener?? elus lagi yg bener ” kata Dita sambil menekuk satu kakinya. Bulu2 halus di paha dan kaki Dita meremang berdiri karena geli.
” iya kak bener2 halus” kata Leo ngos2an
” Nah kapan2 kakak akan beri kesempatan kamu untuk mengelus paha temen2 kakak agar kamu bisa membandingkan paha siapa yg palis halus dan mulus” kata Dita lalu bangkit pergi keluar dari kamar adiknya.
Dita menuju ke kamarnya. Tiba2 gairahnya timbul gara2 pahanya di elus oleh Leo. Kemudian dia rebah di kasur dan di rapatkannya pahanya. Di elusnya sendiri pahanya dgn lembut sampai bulu2 lembutnya berdiri….
Pagi2 begitu sampai di sekolah, Dita langsung menuju ke toilet utk merapikan rambutnya.
” hei Dita mau kemana? ” tanya Putri kebetulan berpapasan
“nih mau ngrapiin rambut ” sahut Dita
” sekalian ah, aku juga mau merapikan jilbab neh ” kata Putri
Di toilet mereka merapikan diri masing2 di cermin.
” uhh.. malah kebelet pipis neh” kata Dita
“ikuuttt.. ” kata Putri
Lalu mereka berdua masuk ke kamar kecil bersama.
Sedang seriusnya Dita pipis tiba2 Putri mengeluarkan HPnya
” ayo senyuuuummm..” kata Putri sambil mengarahkan kamera HPnya ke arah Dita yg sedang pipis
” Judulnya narsis sambil pipis nih ihihihihi ” kata Dita sambil memasang gaya narsis sambil pipis.
” oke.. gaya sekarang berdiri ” kata Putri mengarahkan gaya
Dita lalu berdiri sambil membetulkan celana dalamnya
” Eits… celana dalamnya biar aja nyangkut di dengkul biar sexy getu loh ” cegah Putri
Dita batal membetulkan celana dalamnya. Kemudian dia bernarsis ria dgn celana dalam yg masih nyangkut di kaki mulusnya
Berbagai pose yg menggairahkan berhasil di jepret oleh Putri.
” oke.. pemotretan selesai, silakan dilanjut pipisnya hihihiii ” kata Putri nakal
” udah selesai kaleee.. tinggal bersihin” kata Dita
” sini Putri bersihin pake tissu ” kata Putri sambil mengeluarkan tissu dan mendekati Dita. Lalu dia jongkok di hadapan Dita, diusapnya vagina Dita yg berbulu halus dgn lembut.
” uuuhhh.. ” lenguh Dita
” duuhh.. imutnya nih V ” kata Putri gemas sambil mencubit pelan vagina Dita
” aoww.. jgn di cubit dong ” sungut Dita
” kalo gitu di sayang aja yah.. mmmuaachh..” kata Putri lalu mengecup vagina Dita.
“aachh.. ” rintih Dita sambil membelai kepala Putri yg tertutup jilbab…
Leo tersentak dari lamunannya di dalam kamar karena mendengar suara kakaknya dan temannya tertawa cekakakan. Dia menuju ke lubang kunci utk melihat sedang apa mereka. Ternyata kakaknya dan Ester sedang nonton televisi di ruang tengah. Ruangan tsb pas di depan kamar Leo sehingga dia bisa melihat dgn jelas keadaan di luar kamarnya. Leo semakin menempelkan matanya ke lubang kunci karena di depannya terhampar pemandangan yg menggiurkan. Ester yg masih memakai seragam sekolah duduk di lantai dgn lutut di tekuk ke atas agak selonjor sehingga paha mulus dan celana dalamnya terbuka lebar. Sedangkan kakaknya si Dita duduk bersila lebar sehingga roknya tersibak sampai ke atas menampakkan paha dan celana dalamnya juga.
” HHhooaaamm… duh aku ngantuk banget Dita” kata Ester sambil menguap lebar
“ya udah bobo` di kamar aku sono, ntar kalo dah sore aku bangunin” kata Dita sambil terus nonton TV
” Oke .. jangan lupa yah, jam 4 aku harus pulang ” kata Ester lalu beranjak menuju kamar Dita.
Beberapa saat kemudian Dita menuju ke kamarnya. Di lihatnya Ester tampak tidur dgn lelap sekali. Beberapa kali di goyang2kannya tubuh Ester namun Ester cuma menggeliat. Dita tersenyum lalu keluar dari kamarnya menuju kamar Leo.
“Leo.. Leo.. sini ” kata dita memanggil adiknya
” iya kak, ada apa ” kata Leo keluar dari kamar
“Kemarin kakak kan tanya sama kamu, mulus mana paha kakak dgn paha teman2 kakak kan, ingat ?” tanya Dita
” iya kak, tapi Leo kan nggak bisa mbandingin karena Leo belum pernah pegang paha teman kakak” jawab Leo pura2 bloon
” udah sekarang ikut kakak” kata Dita menarik tangan Leo menuju kamarnya. Mereka berdua lalu masuk ke kamar Dita. Dan pemandangan yg ada sungguh mengejutkan Leo karena di atas kasur ada ester yg tertidur lelap dgn posisi terlentang dan roknya agak terangkat.
” Lihat itu ” kata Dita menunjuk kearah Ester yg tidur dgn lelap
” eh.. itu kan kak Ester ” kata Leo sambil menahan degup jantungnya
” iya… ” kata Dita mendekati Ester yg lelap lalu bersimpuh disamping tempat tidurnya
Perlahan lahan di tariknya rok Ester semakin ke atas sampai celana dalamnya terlihat dgn jelas.
” sini.. ” kata Dita pelan sambil menyuruh Leo mendekat
” kak.. nanti kalo kak Ester bangun gimana?? ” tanya Leo agak takut
” Tenang aja, tadi udah kakak kasih obat tidur sedikit di jamin aman” kata Dita lirih sambil mengedipkan satu matanya
” sekarang kamu elus2 paha Ester, lalu bandingin kemulusannya dgn paha kakak ” kata Dita
” tapi kak… “ Leo gugup dan masih takut
” udaaah sini” bisik Dita sambil menuntun tangan Leo mengelusi paha Ester. Tampak tangan Leo agak gemetar.
” gimana?? halus nggak?? ” bisik Dita lagi
” iya kak, halus banget putih lagi ” Bisik Leo semakin bernafsu mengelusi paha Ester
“Nah sekarang bandingin dgn punya kakak ” kata dita sambil menuntun tangan Leo mengelusi pahanya sampai ke pangkal paha
” Mulus paha kakak ” kata Leo.
Sebenarnya Leo tidak bisa membedakan paha siapa yg lebih halus karena keduanya sama2 halus, tapi karena takut ama kakaknya dia bilang paha Dita lebih mulus.
” kak, boleh nggak Leo elus2 paha kak Ester lagi ” bisik Leo
Dita mengangguk, lalu Leo segera mengelus paha Ester dgn penuh perasaan. di resapinya tiap jengkal kemulusan paha Ester.
Dita senang dan geli melihat ekspresi wajah Leo yg lugu namun penuh nafsu dan sangat mupeng.
Ternyata Leo tidak cuma mengelus paha Ester, namun dia juga mengelus vagina Ester dari luar celana dalamnya. Di usapnya celana dalam ester sehingga kini garis vagina ester tercetak dari luar celana dalamnya.
Pemandangan tersebut membuat jantung Dita tiba2 berdegup. Dia membayangkan seandainya yg dielus Leo adalah celana dalamnya. Dita menempelkan dgn erat payudaranya yg merinding ke ranjang. Sedangkan duduknya jd gelisah karena vaginanya tiba2 berdenyut.
” Leo, mau nggak lihat memek Ester ” bisik Dita sambil merangkul Leo sehinnga payudaranya menempel ketet di lengan Leo
” mmm..eemmm..emang bb..bboleh kak???” bisik Leo gugup hampir tak percaya
Tanpa menjawab Dita meraih tepi celana dalam Ester lalu menariknya ke samping.
” Cleguks…” Leo menelan ludah melihat vagina Ester yg montok rapat dan berbulu hitam halus dan jarang.
” eeemmm… ” tiba2 Ester menggeliat
Dita dan Leo kaget bukan kepalang dan refleks mereka tiarap di lantai. Jantung mereka berdetak kencang. Selain karena kaget juga karena nafsu yg sangat tinggi.
Setelah beberapa saat tenang, Dita melihat ke kasur dgn pelan2. Posisi tidur Ester kini miring ke samping membelakangi mereka.
” ayo kita keluar ” bisik Dita pada Leo
“tapi kak… Leo masih pengeeen….mmm.. pengen.. ” rengek Leo pelan
” pengen apa??, udah ayo keluar ” bisik Dita agak keras lalu menarik tangan Leo keluar kamarnya. Mereka menuju ke mara Leo.
” kamu masih pengen apa adikku nakaaal ” kata Dita sesampainya di kamar Leo sambil mencubit kedua pipi Leo
” mmm.. Leo pengen pegang mmm.. mmemek kak Ester ” kata Leo malu2
” Ooo… adikku mulai nakal yah ” kata dita sambil mencubit hidung Leo
” gimana kalo pegang memek kakak ” kata Dita genit menggoda
” emang boleh kak ??” Jawab Leo gn semangat dan mata berbinar
” untuk adikku nakal apa sih yg enggak ” kata dita
Lalu di tuntunnya tangan Leo ke dalam roknya utk mengelusi pahanya beberapa saat, dan sesaat kemudian di tempelkannya tangan Leo ke vaginanya yg masih tertutup celana dalam. Nafas mereka berdua menjadi berat.
” empuk banget kak, hangat lagi ” bisik Leo sambil ngos2an
” eeehhh… ” lenguh Dita sambil terus menuntun tangan Leo mengelus vaginanya makin kencang.
” Leo pengen lihat memek kakak nggak ” kata dita yg sudah di landa nafsu membara
” iii..yyaaa.. kak.. ” jawab Leo gemetar
” tarik celana dalam kakak ” kata Dita sambil mengangkat roknya tinggi2.
Leo lalu jongkok di depan kakaknya, dgn gemetar di tariknya celana dalam kakaknya sampai ke lutut.
Sedetik kemudian jantung Leo seperti berhenti berdetak. Matanya nanar melihat vagina Dita tepat di depan matanya.
” Elus dong Leo.. ” kata Dita dgn suara berat
Agak kaget Leo tersadar dari keterkejutannya. Pelan dan gemetar di elusnya vagina Dita yg ternyata sudah sangat basah.
” Aaaaacchhh… ” desah Dita lemas tersandar di tembok
Leo semakin liar mengelus vagina Dita.
” aaacchh..aaaaahh ” deshan Dita makin keras.
Dimajukannya pinggulnya sehingga seluruh vaginanya yg sudah basah belepotan lendir bening teraba semua oleh telapak tangan Leo.
Tangan ita yg satu menarik roknya ke atas sedangkan tangan satunya meremas kepala Leo.
Elusan Leo semakin kencang dan liar di sertai remasan2 gemas. Nafas kedua kakak beradik tiri tersebut semakin memburu
” AAaacchhh.. eeeeehh.. aaahhhh ” Lenguhan Dita keras dan panajang. Tubuhnya bergetar dgn hebat. Seluruh tubuhnya bergetar dan di sentakkannya pinggulnya berulang ulang…… lalu diam kaku beberapa saat
Sesaat kemudian tubuh Dita lemas seperti tak bertulang lalu sandarannya di tembok merosot ke bawah sampai terduduk lemas di lantai……
Thomas adalah teman satu kelas Dita, Ester dan Putri. Selama ini dia ternyata memendam rasa suka terhadap Dita, namun dia tdk berani mengungkapkannya. Selain cantik, sexy juga kulit yg putih bersih Dita juga anaknya ceria itulah yg membuat Thomas tergila gila pada Dita. Selain cinta, Thomas juga sangat bernafsu dgn Dita sebab selama memperhatikan Dita seringkali dia di suguhi pemandangan yg syuur dari cara duduk Dita. Seringkali secara diam2 Thomas memperhatikan paha dan celana dalam Dita yg sedang ngerumpi bersama teman2nya.
Sebenarnya banyak cewek yg naksir Thomas karena dia cukup ganteng dan orang tuanya juga kaya, namun dia termasuk orang yg tidak percaya diri bahkan minder apalagi bila dgn cewek. Bila suka dgn cewek dia hanya memendam rasa sukanya sambil memperhatikan cewek tsb sambil berkhayal jorok, dan malamnya dia akan membayangkan cewek tsb sambil onani
Saat Thomas sampai di depan ruang kelasnya tampak Anton dan Ale sedang nongkrong di teras kelas dgn asyik.
” Hey bro, tumben pagi2 dah nyampe.. ” Sapa Thomas pada 2 temannya
” SSsstt.. brisik lu dah sanan sanaaa.. ganggu aja” bentak Anton pelan
” Ehh.. ditanya baik2 malah marah, lagi ngapain sih kalian ” kata Thomas penasaran sambil bergabung duduk dgn Anton dan Ale
Betapa terkejutnya Thomas ketika matanya tertuju ke arah yg sedang di perhatikan oleh Anton dan ale.
Ternyata Anton dan Ale sedang memperhatikan Dita yg sedang makan coklat sambil menopangkan salah satu kakinya ke kaki yg lain. Meskipun roknya tidak tersingkap tapi karena posisi duduk Anton dan Ale lebih rendah sehingga mereka dapat melihat kemulusan paha Dita sampai ke celana dalamnya yg berwarna putih.
Jantung Thomas berdetak kencang, nafasnya memburu.. gadis yg dia jadikan obsesi onaninya tadi malam kini di depan matanya duduk dgn memberi pemandangan yg begitu menggemaskan.
” duuhh.. mulusnya paha Dita, seandainya… ” kata Anton sambil menelan ludah
” oh Tuhaannn mulus bangeettt, dan itu celana dalamnya.. ooohh ” desis Ale
” ck..ck..ck..cleguks.. ” Thomas hanya mampu geleng2 kepala sambil menelan ludah yg terasa susah di telan
” Seandainya aku bisa mengelus paha Dita, aku rela di gebukin pake kursi satu sekolahan ” khayal Anton
” kalo aku… aku rela tertimpa meja satu kelas kalo aku bisa cium celana dalam Dita” Ale menggumam sambil melongo
Sedangkan Thomas tidak mau berkata apa2, bahkan berkedippun dia enggan karena dia tidak mau melewatkan pemandangan ini barang satu detik. Cuma tangannya yg berbicara dgn mengelus tititnya dari luar celana sambil di jepit dgn kedua kakinya sehingga tidak kelihatan org lain.
Saat jam pelajaran di mulai Thomas, Anton dan Ale sangat gelisah, mereka masih terbayang bayang dgn paha dan celana dalam Dita. Berkali kali mereka mencuri curi kesempatan utk menoleh kebelakang di mana Dita, Ester dan Putri duduk. Dan pemandangan yg tersaji lebih menggairahkan karena selain Dita, cara duduk Ester pun tidak kalah menggemaskan.
” Dit, liat tuh si Thomas dari tadi curi2 pandang ke arah selangkangan kamu” bisik Ester pada Dita
” iya.. aku juga tau, kita kerjain yuk anak penakut itu ” bisik Dita lirih
” gimana caranya ” kata Dita
” kita gunakan sistem “buka tutup” paha kita biar dia tersiksa hihihiih ” kata Ester sambil cekikikan
” ayo… hihiihihiihi ” sahut Dita
” ih kalian.. ntar pingsan tuh si Thomas ” timpal Putri sambil tersenyum
Saat Thomas menoleh ke belakang sambil pura2 pinjem pensil temannya, Dita dan Ester dgn pura2 cuek membuka lebar2 pahanya lalu dgn cepat menutupnya kembali
Betapa terkejutnya Thomas, meski sekilas pemandangan tsb membuat jantungnya berdegup kencang nafasnya tersengal. Karena dari tadi melihat pemandangan yg syuur Thomas tidak kuat lagi menahan nafsunya. Dia ijin kepada guru pamit ke toilet.
“hihihiii.. pasti kebelet pipis tuh anak ” bisik Dita
” Eh.. btw, si Thomas tuh cakep juga yah, tajir lagi ” kata Dita genit
” yeeee.. kamu naksir yah, ntar gue bilangin langsung ama dia ” kata Ester
” eh jangan.. malu lagi hihiihihiii ” kata Dita
” kapan2 kita kerjain lebih sadis lagi yuk ” kata Ester
” Caranya ???? ” tanya Putri
” begini.. ” Ester menerangkan pada kedua temannya dgn berbisik .. bla bla bla…
Pelajaran olahraga sangat di sukai oleh semua siswa, karena bisa santai di halaman sekolah sehingga tidak jenuh. Pagi itu olah raganya adalah volly pria sementara siswi menjadi suporter.
” eh si Dita kemana ya Put ” tanya Ester pada Putri
” Tau tuh si anak ngilang, jangan2 lagi gebet si Thomas hihihih” kata Putri
” Kita cari yuk ” ajak Ester pada Putri.
Lalu mereka mengelilingi halaman sekolah. Sampai di sudut halaman sebelah barat nampak Thomas sedang duduk sendiri di samping pot tanaman. Dia nampak serius sekali memperhatikan sesuatu.
” eh itu si Thomas, lagi ngapain tuh anak melamun sendirian ” kata Putri heran
” oh.. coba liat, dia sedang memperhatikan si Dita tuh ” kata Ester menunjuk Dita yg sedang berdiri menonton pertandingan volly.
Dari belakang Dita nampak sexy sekali karena celana olah raganya yg pendek dan ketat sehingga bokongnya yg montok tampak semakin montok dan celana dalamnya sampai tercetak krn posisinya agak membungkuk tangannya bertumpu pada tembok rendah pembatas kelas dgn halaman sekolah. Di tambah lagi pahanya yg putih mulus terpampang.
” oouuu.. rupanya dia sedang ngliatin bokongnya si Dita ” bisik Ester
” Dasar otak porno, liat tuh tangannya menggosok gosok celana depannya.. iihhh ” kata Putri sambil bergidik
” hihihihiii.. dia onani kali yah jadi penasaran, samperin yuk ” ajak Ester. Lalu mereka mendekati si Thomas dari belakang
“kita kerjain yuk ” kata Ester berbisik
“oke.. hihihi ” bisik Putri sambil cekikikan
” hayoooo.. ngintip yaaa ” kata Ester sambil menepuk pundak Thomas
” eit.. ehhh.. anuu..mm… enggak.. sapa yg ngintip? ” kata Thomas kaget setengah mati.
” Tuh mata elo jelalatan liat bokong si Dita ” kata Ester menyelidik
” eh enggak kok, aku liat pertandingan volley ” kata Thomas masih gugup
” kalo liat pertandingan ngapain tuh tangan” kata Putri sambil menunjuk tangg masih di selangkangannya
” ehh..a nuu mm… ” Thomas semakin gugup
” Sudahlaaah, nggak usah menghindar. Kami tau kok kamu suka ama Dita kan” kata Ester pelan
” iya ngaku saja, lagian si Dita pernah cerita kok kalo dia juga naksir ma kamu ” kata Putri menimpali sambil mencubit pinggang thomas
” ah masa sih..” kata Thomas kaget
” Bener… tapi ngomong2 kamu tuh suka atau nafsu sih ama Dita “ Tanya Ester genit
” Mmmmm.. dua2nya, abis sexy banget sih Dita hahahha..” kata Thomas mulai santai
” huuu dasar.. kamu pasti dari tadi liatin pantat Dita yah ” kata putri
” MMm.. enggak eh iya.. sapa suruh punya bokong montok banget ” kata Thomas masih agak malu
” itu masih pakai celana, coba kalo liatnya gak terhalang celana kamu bisa onani di tempat hihihi ” goda Ester
” duh kaga` kebayang deh, liat gini aja gue dah deg2an, apalagi… ” Thomas tidak melanjutkan kata2nya
” kamu pengen liaaat??? bilang kek dari tadi ” kata Ester sambil berdiri dan berjalan mendekati Dita yg masih asyik melihat pertandingan
“Eh mau ngapain tuh anak ” Thomas nampak bingung
” hihhiiiii.. liat aja ” kata Putri sambil cengengesan
” Hei.. pergi gak bilang2 ” kata Ester sambil mencubit pantat Dita
” aooww… sakit tau, abis kalian ku cari dari tadi gak ada” kata Dita sambil menoleh ke Ester yg kini berdiri di sampingnya
” yeee.. nyarinya kemana nonaaa ” kata Ester sambil meremas lembut pantat Dita. Yg di remas tidak protes karena itu sudah tindakan biasa diantara mereka bertiga
“ Putri mana ” kata Dita sambil merangkul Ester dari samping
” gak tau, lagi mojok kali ” kata Ester sambil tangannya makin nakal menyusup ke dalam celana olah raga Dita dari atas. Kini tangannya bersentuhan langsung dgn kulit mulus bokong Dita
” Esteeeerr.. tangannya jangan nakal yah, geli tau ” protes Dita sambil mencubit pipi Ester
” abis bokong kamu nggemesiiiin ” kata Ester sambil meremas bokong Dita
” eehhh.. nanti di liat orang Ester cantiikk” desah Dita sambil merapatkan tubuhnya ke tubuh Ester
” enggak lah, kan terhalang tembok ini Dita maniiisss.. ” kata Ester sambil terus mengelusi bokong montoknya Dita
” eecchh… ntar celana olah raga gue jadi melar Ester nakaaal ” lenguh Dita
” kalo gitu turunkan saja yah ” kata Ester langsung menarik turun celana olah raga sekaligus celana dalam Dita.
Karena celana tsb elastis seketika itu juga celana olah raga dan celana dalam Dita melorot sampai ke lutut menampakkan bokong Dita yg montok, putih dan sexy
“aoooowww… Ester..!!! ” teriak Dita yg secara reflek langsung menarik celananya lagi ke atas
” hhihihihiiiii… sorry sayaaang ” kata Ester memeluk kepala Dita agar tidak menoleh ke belakang.
Sementara itu Thomas melongo tak percaya menyaksikan semua keisengan Ester dari awal. Sedangkan Putri hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum…..
Hari2 berikutnya Thomas semakin akrab dgn Ester, Dita dan Putri. Terutama dgn si Dita, bisa di bilang kini mereka sudah jadian dgn di comblangi oleh Ester dan Putri.
” Kalian bertiga tuh kompak banget ya Dit” Kata Thomas suatu ketika sedang berdua dgn Dita. Mereka berdiri bersebelahan di belakang gedung perpustakaan.
” ya iyalah.. teman gitu loh ” jawab Dita sambil ngemil coklat
” Kalian tuh rame banget kalo lg ngumpul, iseng pula ” kata Thomas
“Mang kamu pernah liat keisengan kami bertiga ” jwb Dita
“pernah sekali, waktu Ester mlorotin celana olah raga kamu ” kata Thomas polos
” what…???? berarti .. berarti kamu liat bokong aku?? ” Dita kaget
” mmm.. iya.. sorry, kan waktu itu aku lg di belakang kamu” kata Thomas agak takut
” Huh.. harus di bales tuh anak2 ” kata Dita sok geram
” mang apa yg akan kamu lakukan ” tanya Thomas
” Kamu mau lihat bokong siapa? Ester atau Putri ” tanya Dita memberi pilihan
” mmm.. kalo aku milih pengen liat bokong kamu lg ? ” kata thomas
” yeee.. pilihannya tuh Ester apa Putri sayaaang ” kata ita mencubit pinggang Thomas
” Tapii.. aku sayangnya ama kamu Dit ” kata Thomas sambil memegang tangan Dita
Dita tercekat tdk bisa berkata apa2, hanya tertunduk.
” maaf sayang kalo kata2ku menyinggungmu ” kata Thomas memeluk Dita
“nggak kok ” kata Dita singkat
Dalam hatinya dita begitu tersanjung, bahagia dan sejuta rasa yg tidak bisa diungkapkan. Jantungnya kian berdetak karena kini Thomas memeluk dan membelai rambutnya.
Dgn tangan gemetar thomas mengangkat dagu Dita dan dgn hati2 diciumnya bibir Dita
“eemmm ” lenguh Dita sambil membalas ciuman Thomas dgn malu2
Ciuman mereka semakin dalam dan pelukan mereka pun semakin erat karena di dorong oleh gejolak jiwa muda.
“eeehmmm ” desah Dita ketika tangan thomas mengelus dan meremas lembut pantatnya dari luar seragam sekolah
” aku sayang banget ma Dita ” kata thomas sambil terus meremas bokong Dita
” iya, Dita juga ” jawab Dita dgn suara mendesah nyaris tak terdengar
Tangan Thomas semakin liar masuk kedalam rok seragam Dita dari bawah. Kini tangannya meremas bokong Dita yg montok dari luar celana dalamnya. Pelan namun pasti tangan Thomas merayap kedalam celana dalam Dita melalui samping.
” Dita sayaaaaang, bokong kamu halus dan montok banget ” suara Thomas bergetar
” aacchh… ” Dita hanya mampu melenguh menahan geli dan nikmat
Sambil menciumi pipi dan telinga Dita, tangan Thomas semakin kuat dan dalam meremas bokong Dita. Rok Dita semakin terangkat dan acak2an
Pelukan mereka semakin rapat sehingga thomas dapat merasakan kekenyalan payudara Dita yg montok di dadanya
“aauucchhh….” Dita menggelinjang ketika jari tangan Tomas yg meremas bokongnya juga menggesek vaginanya yg sudah basah berlendir
Gerakan mereka semakin liar. Thomas semakin kuat meremas bokong Dita sambil mengelus vagina Dita. Bokong Dita menjadi licin karena cairan vagina Dita tersebar merata sampai ke bongkahan pantatnya oleh remasan Thomas yg semakin liar
Sementara gelinjang tubuh Dita semakin tidak terkendali dan pelukannya semakin erat sehingga payudaranya yg kenyal menempel ketat ke dada Thomas. Karena gerakan mereka yg semakin liar sehingga payudara Dita seperti di remas2 dada Thomas
” Acchhh… Toooomm.. ” desis Dita. Gerakannya sudah tidak terkontrol. Pinggulnya bergerak liar seiring dgn remasan Thomas pada bongkahan pantat dan vaginanya
Dan pada detik2 dimana gelombang kenikmatan semakin membuncah di seluruh tubuh Dita, di sentakkannya pinggulnya kedepan mengiringi gelombang kenikmatan yg bermuara pada vaginanya.
Sedangkan Thomas sendiri yg baru pertama ini menyentuh tubuh wanita merasakan desakan dari dalam tubuhnya ketika penisnya menempel ketat pada vagina Dita yg masih tertutup celana dalam yg sudah acak2an.
secara reflek dia menggesekkan penis dalam celananya ke vagina Dita
Dan beberapa saat kemudian diiringi geraman yg cukup keras dia juga menyentakkan pinggulnya dgn keras ke depan
“aaaaarrrrgghhhh….!!!” geram Thomas mengiringi muncratnya sprema di dalam celananya
Mereka berpelukan dgn sangat erat menikmati terbang ke surga utk pertama kalinya….
Jam pelajaran terakhir telah selesai, semua siswa berhamburan untuk pulang
” Jadi ke rumahku pinjem buku nggak Put??’ tanya Dita pada Putri
“ya jadi dong, catetanku ada yg kurang nih ” sahut Putri
” ya udah kalo gitu sekalian aja kita di anter ama Thomas ” kata Dita
” oke, biar nanti sopirku jemput aku kerumah kamu aja Dit ” sahut Putri
” ayo.. tuh mobil Thomas dah nungguin ” lalu mereka berdua menuju ke mobil Thomas
” haloo Thomass.. sekarang dah nggak pemalu lagi yah ” sapa Putri menggoda Thomas ketika mereka sudah di dalam mobil. Putri di jok belakang sedangkan Dita di depan
” hahhaa.. apaan sih Put ada2 aja ” jawab Thomas sambil tertawa
” Jangan di godain Put, ntar gemeteran lho hahahha ” goda Dita
” Gemeteran kaya` waktu ketahuan ngintip bokong Dita tuh hihiih.. ” Putri cekikikan
” Huaa.. Putrii.. jangan di ungkit lagiii ” teriak Thomas
” Waktu kamu liat bokong gue gemeteran, tapi waktu megang kok nggak gemeteran ya say.. hihiihihi ” kata Dita sambil mencolek pinggang thomas genit
” auw… sebenarnya gemeteran juga sih cuman kamu nggak tau aja, kan sayang merem keenakan hahhaa ” jawab Thomas
” SSttt.. jangan vulgar gitu dong say ngomongnya, ntar kalo Putri pengen gimana hihihi ” kata Dita sambil melirik Putri.
” Yeee.. apaan sih ” kata Putri salah tingkah melihat kemesraan mereka
” Nah dah sampai, aku lansung cabut aja ya sayang ” kata Thomas menghentikan mobilnya di depan rumah dita
” Oke, tengkyu ya sayang mmuaach ” kata Dita sambil mencium pipi Thomas. Sementara Putri langsung turun
” kok cuman pipi, bibir dong sayang ” kata Thomas sambil memajukan bibirnya
” emm.. mm.. mmmuuaacchh ” Dita mencium bibir Thomas dgn lembut. Utk beberapa saat mereka berciuman mesra sebelum akhirnya Dita turun dan Thomas meluncur pergi.
” Minum apa Put ” tanya Dita sambil meletakkan tasnya di kursi
” Air es aja, haus banget nih ” kata putri sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa.
Beberapa saat kemudian Dita keluar sambil membawa 2 gelas air es
” Ternyata Thomas yg kelihatannya malu2 liar juga Put hihi ” kata Dita sambil meletakkan gelas
” maksut lo??? ” tanya Putri bingung sambil meminum air es
” mmm… ya gitu deh ” kata Dita genit
” Gitu deh gimana??.. tambah bingung ” kata Putri penasaran
” gini lho nonaaa.. ” kata Dita merapatkan tubuhnya ke tubuh Putri
Lalu Dita menceritakan percintaannya beberapa waktu yg lalu dgn Thomas di belakang gedung perpustakaan.
Semua detail di ceritakan, bagaimana mereka berciuman, lalu betapa merindingnya ketika tangan Thomas meremas bokongnya langsung di dalam celana dalamnya. Termasuk juga ketika tangan Thomas mengelusi vaginanya
” Rasanya Uuuuuuhhh.. nikmaaaat bangeet Puut” kata Dita sambil memeluk Putri erat membayangkan orgasmenya saat itu
” iihh.. jadi merinding” kata Putri. Bulu2 di tangannya ikut berdiri membayangkan cerita Dita yg begitu merangsang jiwa ABGnya
” Pelukan kami eraat banget, sampai payudaraku seperti di remas gituuu ” cerita Dita begitu menghayati sambil tangannya meremas payudara Putri dari luar seragamnya
” eemmm.. ” Putri cuma mendesah
” Bayangin aja Put, vagina gue menempel langsung ama tititnya Thomas..!!! meski masih terhalang celana tapi denyutannya terasa banget uuuuhhh..” Dita cerita sambil mendesah, sementara tangannya masih meremasi payudara Putri
” eemm.. jadi pengeeen ” rengek Putri sambil memeluk Dita. Gairah Abg Putri naik terbawa cerita erotis Dita
Sambil membayangkan Thomas, Dita mencium bibir putri sambil tangannya meremasi payudara Putri sehingga seragam dan jilbab Putri kusut
“eeehh..” Desah Putri sambil bersandar di sofa dan tanggannya mengelus punggung Dita
” Kamu pengen merasakan orgasme sayaang” bisik Dita sambil menciumi telinga Putri
” pengen bangeeettt ” desah Putri
Tangan Dita membuka beberapa kancing baju seragam Putri di balik jilbab putihnya, lalu meremas payudara Putri dari balik BHnya
” AAahhhh.. ” desah Putri membusungkan dada ketika tangan Dita mengangkat cup Bhnya dan mengelusi payudaranya.
Telapak tangan Dita mengelusi seluruh permukaan payudara Putri sehingga putingnya mengeras.
” aahh.. enak nggak sayaaang” tanya Dita sambil meremas payudara Putri. Sementara bibirnya menciumi rakus telinga Putri
” aakkhh.. aaakkhh…” Putri tidak sanggup menjawab. Kenikmatan ciuman Dita di telinganya dan kenikmatan remasan Dita di payudara dan putingnya membuat tubuh Putri mengejang. Dadanya semakin membusung sampai bokongnya terangkat dari sofa, kenikmatan tersebut menggetarkan seluruh tubuhnya.. dan beberapa saat kemudian seluruh tubuh Putri menggelinjang hebat menyongsong orgasme pertamanya…..
Di halaman sekolah sedang ada latihan cheerleader, hampir semua murid menonton termasuk Dita, Ester dan Putri juga Thomas. Bersama murid2 yg lain mereka duduk bergerombol di salah satu sudut sekolah menggunakan kursi kelas yg di bawa keluar
“Yah.. gue gak kebagian tempat duduk dah ” cemberut Dita”
” Sini sayang gue pangku ” kata Thomas kata Thomas yg duduk paling belakang
“Asyiiikk ” kata Dita kegirangan
” Huuuuu… ” ledek yg lain
Thomas merapatkan kedua pahanya utk memangku Dita karena kursinya kecil jadi tidak mungkin utk berdua, segera Dita duduk di pangkuan Thomas.
Sambil ngobrol dan menyaksikan aksi cheerleader di lapangan, Dita sengaja menggerak gerakkan pantatnya pelan sehingga bokongnya yg montok bergesekan dgn penis Thomas yg pelan2 mulai mengeras. Karena duduk mereka paling belakang maka teman2 mereka tdk ada yg melihat.
Penis Thomas semakin keras dibalik celananya dan Dita tahu itu. Dgn gerakan yg tetap pelan namun makin bervariasi ita sengaja menggoda penis Thomas dgn bokongnya.
Thomas merespon gerakan pantat Dita dgn menarik bokong Dita lebih kebelakang dan dia memajukan sedikit pinggulnya sehingga kini penisnya menempel ketat pada bokong Dita. Dita tetap pada gerakan pelannya karena dia juga merasa geli dan nikmat ketika bongkahan pantatnya yg montok terganjal penis Thomas yg sudah mengeras maksimal
Meski nafsu mereka semakin meninggi namun ekspresi mereka tetap di buat sewajar mungkin seperti tidak terjadi apa2 agar teman2 yg lain tdk tahu
Kini posisi duduk Dita semakin condong kedepan tangannya bertopang pd paha agar pantatnya bisa menempel maksimal pada penis Thomas, sedangkan Thomas semakin memajukan duduknya utk menyongsong gerakan bokong Dita yg montok.
Mereka berdua merasakan sensasi yg luar biasa, karena dilakukan di tengah keramaian teman2nya
Dita dapat merasakan vaginanya sudah basah kuyup oleh lendir kewanitaannya, sedangkan penis Thomas berdenyut denyut merasakan nikmat yg luar biasa
” Duh kebelet pipis ” kata Dita kemudian berdiri dan melangkah ke arah toilet sambil memberi kode pada Thomas utk mengikutinya
” Gue juga euy.. permisi permisi yah ” kata Thomas
Sesampainya di toilet Thomas mencari cari Dita
” sssttt.. sayang.. sini ” Dita melongok dari salah satu kamar kecil
Thomas segera menyusul masuk lalu mengunci pintunya.
Tanpa ba bi bu tanpa banyak bicara mereka berdua langsung berpelukan dgn erat dan berciuman dgn liarnya. Nafas mereka sudah terengah engah tidak beraturan karena menahan nafsu yg membuncah sejak tadi.
Kedua tangan Thomas langsung masuk kedalam rok dan celana dalam Dita lalu meremas bongkahan pantat Dita yg montok dgn gemasnya. Di elus, di remas sambil di angkat angkat sambil melumat bibir Dita
“aaaaaaachhh sayaaaang ” rintih Dita pelan tertahan, tangan Dita menjambaki rambut Thomas saking hornynya
Thomas menarik turun celana dalam putih Dita sampai ke paha, lalu dgn tergesa gesa dan tangan gemetar dia membuka celananya dan menurunkannya sampai lutut.
selanjutnya Thomas menyelipkan penisnya diantara paha Dita yg putih mulus lalu memeluk Dita dgn kuat sehingga kini penisnya menggesek langsung vagina Dita yg sudah sangat licin oleh lendir
” uuuuhhhh.. sayang banget ma Ditaaa ” bisik Thomas sambil melenguh
“eeeccchhhh… ” Dita hanya bisa mendesah, vaginanya terasa sangat geli dan nikmat menempel pada penis Thomas
Tangan Thomas meremas bokong Dita dgn kuat sambil dimaju mundurkan, sehingga kini kelamin mereka tidak cuma menempel ketat tapi juga bergesekan menimbulkan suara clek..clek.. karena vagina Dita sangat basah
Dita memeluk kepala Thomas sambil meremasi rambutnya dgn kuat, sedangkan bibir Thomas mengulum dan menjilati telinga Dita
Gerakan pinggul mereka semakin kencang dan liar, kelamin mereka bergesekan semakin ketat dan kuat
” eeecchhh..eeecchhh..eeeeeeeeeccchhhh.. ” Dita melenguh panjang menyongsong menggelegaknya kenikmatan yg bermuara pada vaginanya, dan sambil menjambaki rambut Thomas dgn kuat Dita merasakan orgasme yg panjang dan nikmat melemaskan seluruh tubuhnya
Remasan dan gerakan tangan Thomas memaju mundurkan bokong Dita semakin kencang, dan pada saat dia sudah tidak bisa lagi membendung orgasme yg segera menggelegar, di sentakkannya bokong Dita ke arah pinggulnya dgn kuat dan di songsongnya dgn hentakan pinggulnya kedepan
“Aaaaaarrrggggghhhhh… ” erangan panjang Thomas mengiringi muncratnya spermanya yg banyak sekali membasahi vagina, paha dan bokong Dita.
Utk beberapa saat mereka tetap berpelukan erat sambil menikmati orgasme yg fantastis………
Siang begitu panas sehingga para siswa dan siswi menghabiskan jam kosong di tempat2 yg teduh di sisi sekolah sambil ngrumpi
” Eh Dita ma Thomas makin lengket aja yah put” kata Ester pada Putri. Mereka memilih tetap di dalam kelas karena cuaca di luar cukup menyengat
” iya, kemarin Dita cerita ma aku katanya mereka udah sampai petting2 gitu.. ihh” sahut Putri teringat cerita Dita
” aku kemarin juga ngliat mereka ciuman di samping sekolah ” kata Ester
” iyah.. bikin iri aja ” sungut Putri
” Eh.. mumpung si Dita nggak masuk kita kerjain Thomas yuk ” bisik Ester
” maksutnya?? ” tanya Putri
Tiba2 yg sedang di bicarakan nongol
“halo teman2 kok mojok berdua, hayo lg pada ngapain??? ” kata Thomas sambil cengengesan
” nah ini dia pucuk di cinta mangsa tiba hihihi ” bisik Ester.
” iyah lagi males.. eh Thom bisa bantuin kita nggak ” kata Ester manja
” bantuin apa nona2 cantiikk ” kata Thomas mendekat
” Bantuin ambil foto kita berdua dong ” kata Ester sambil menyerahkan HP nya pada Thomas
Putri mulai mengerti apa maksud Ester
” pose gini bagus gak Thom ” kata Ester sambil memeluk Putri dari belakang
” oke.. 1 2 3 smile ” kata Thomas mulai mengambil foto
” pose berikutnya ” kata Putri merangkul dan mencium pipi Ester
“senyuuumm ” Thomas mengambil angel yg bagus
Pose berikutnya ester duduk di kursi di peluk Putri dari belakang. Ester sengaja melebarkan pahanya utk menggoda Thomas
“cleguks.. ” Thomas hanya bisa menelan ludah sambil melanjutkan tugasnya
Adegan berikutnya lebih membuat Thomas blingsatan. Ester menopangkan salah satu kakinya ke kursi sehingga pahanya terlihat sampai atas namun celana dalamnya tdk sampai terlihat karena lipatan paha Ester bagian atas masih rapat, Putri mencium pipi Ester.
” oke.. ssatu.. duaa.. tti.ga ” Tepat pada saat Thomas menjepretkan kamera, Putri menarik rok Ester ke atas sampai celana dalamnya kelihatan
” aowww.. Putri iihh.. ” Ester pura2 kaget, dan segera membetulkan roknya
” hihihihiiii.. ” Putri tertawa cekikikan
Meskipun cuma sekilas namun adegan tersebut membuat jantung Thomas berdegup kencang. Penisnya berdenyut seirama dgn detak jantungnya
” mana hasilnya Thom ” kata Putri melihat hasil jepretan tsb
” wow.. Ester sexy abiiiss hahahaa. ” teriak Putri kegirangan
” iihh .. Putri jahat lu, celana dalemku kliatan tuh ” sungut Ester berpura pura marah
Ester melirik putri sambil tersenyum, Putri juga tersenyum sambil mengedipkan mata. Sedangkan Thomas hanya bisa bengong sambil menelan ludah
” sekali lagi Thom ” pinta Ester
“oo..kee ” kata Thomas mencoba menguasai diri
” Sini Putri cantik ” kata Ester genit merangkul Putri
” okee.. ssiaap 1.. 2.. 3 ” saat Thomas menjepretkan kamera, dgn cepat Ester meremas payudara Putri
” aooouuww… ” Teriak Putri sambil menggeliat namun tidak menolak
” hihihihii.. ” mereka berdua tertawa bersama
” ccc..llleegggukksss.. ” Thomas makin susah menelan ludahnya. Nafasnya makin berat, penisnya makin berdenyut
“teng.. teng..teng.. ” bunyi bel pelajaran berikutnya berbunyi
semua siswa dan siswi mengikuti pelajaran terakhir. Putri dan Ester tertawa puas melihat sikap Thomas yg salah tingkah tadi
Sementara thomas sudah tidak konsen lagi dgn pelajaran. Nafsunya sudah di ubun2 minta penyaluran.
Thomas membuka HP lalu SMS Dita
” Acara keluarganya udah selesai sayang ?” Bunyi sms Thomas
beberapa saat kemudian ada balasan dari Dita
” udah, ini mama ama papa nganter family jalan2 cari oleh2, ada apa sayang ” balasan sms dari Dita
” Aku pulang sekolah mampir yah, kangen nih ” Balas Thomas
setelah agak lama menunggu ada balasan dari Dita
” Kangen apa nafsu?? he3x.. mampir aja aku juga kangen kamu ” balasan Dita membuat Thomas girang setengah mati
” oke ” balas Thomas langsung
Waktu berjalan begitu lama bagi Thomas, duduknya sangat gelisah. Tingkahnya membuat Putri dan Ester tersenyum
” teng..teng..teng ” Bunyi bel tanda jam sekolah usai berbunyi dgn sangat keras di telinga Thomas
Tanpa banyak kata dan bicara Thomas segera menghambur keluar dan segera meluncur ke rumah Dita. Traffic light di lewati, lampu merah tak peduli, jalan terus…
Sesampai di rumah Dita, Thomas agak terkejut karena banyak mobil parkir di halaman rumah. Lalu dia telp Dita
” halo sayang, katanya mama papa pergi ma family, ini kok rame banget ” kata di telpon
” yg bilang sepi tuh sapa sayaaang, mama papa emang pergi nganter family, tapi family yg lain kan masih pada ngumpul kangen2nan.. malah kliatannya mereka nginep kok , kamu masuk aja aku kenalin” jawaban Dita.
” nggak usah lah.. kalo gitu kita keluar bentar jalan2 yuk ” pinta Thomas mulai senewen
” nggak bisa sayaang, masa` ada sodara dari jauh aku tinggalin..” kata Dita sambil melongok keluar melihat Thomas
” ya udah kalo gitu aku mampirnya lain kali aja ” jawab Thomas ketus lalu mematikan HP dan segera memacu mobilnya
” AAAAAAaaaaaaaaaaaaaaRRRrrrgghhhHhhh…!!!!! teriak Thomas sambil satu tangannya memencet penisnya….
Pejaran tentang komputer sedang berlangsung, semua murid konsentrasi pada monitor masing2 sambil mendengarkan penjelasan tentang excel dari guru pembimbing. Satu meja dapat satu komputer yg di gunakan oleh 2 murid. Thomas kebagian satu meja dgn Ester
” Tumben lu nggak semeja ama Dita Tom ” tanya Ester
” nggak, kami lagi marahan ” jawab Thomas
” Cieee.. pake marahan segala, perasaan kemarin mesra2 aja tuh ” goda Ester sambil mencolek pinggang Thomas
” ih.. abis kemarin gue di cuekin ama Dita, dia sibuk sendiri ama sodara2nya ” sungut Thomas
” ehh.. ehh.. liat tuh duduknya pacar kamu ” bisik ester sambil menunjuk ke arah Dita yg duduk di bangku depan mereka agak jauh semeja dgn Putri. Posisi meja dan tempat duduk memang di setting beberapa baris dan saling berhadapan.
” ck.ck.ck tuh anak kalo duduk semabarangan gitu ” kata Thomas melihat ke arah bawah meja Dita. Sepasang paha Dita terbuka cukup lebar sehingga celana dalamnya kelihatan
” halah.. tapi kamu suka liatnya kan ?? ” goda Ester lagi
” he.he.he… itulah kenapa aku suka ma Dita ” kata Thomas cengengesan sambil terus menatap paha dan celana dalam Dita
” huu.. dasar cowok, pasti karena paha Dita mulus yah ” kata Ester
” mulus mana sama paha Ester ” kata Thomas memancing
” ya jelas mulus aku lah… Ester gitu loh ” kata Ester genit
” mana liat ” bisik Thomas sambil tangannya menarik rok Ester
” eitt.. ih Thomas ..! ” bisik Ester kaget cepat2 membetulkan rok nya
” hihhiii.. cuman mau buktiin aja ” kata Thomas sambil tersenyum
” bilang dong jgn main tarik, bilang baik2 ” kata Ester menggoda
” Ester yg cantiiikk dan sexyy, liat pahanya doong .. pliiiss ” bisik Thomas memohon dgn senyum penuh nafsu
Pelan2 Ester menarik roknya ke atas sampai ke atas sampai celana dalamnya mengintip sedikit
” wow.. putih banget, elus dikit yah ” Thomas memohon dgn wajah memelas.
Ester mengangguk sambil menggigit bibir
” oh Tuhaann.. ck.ck.ck.. ternyata Dita nggak ada apa2nya ” bisik Thomas menggombal
Dalam hati Ester merasa bangga oleh pujian Thomas.
Aktivitas mereka tidak terlihat dari depan karena tertutup monitor, sedangkan kanan kiri mereka kebetulan kosong.
Sambil memperhatikan monitor agar pembimbing tdk curiga, Tangan Thomas semakin leluasa mengelus paha Ester karena kini Ester melebarkan pahanya. Sedangkan tangan kanan Ester pura2 sibuk dgn mouse.
Kini jari2 thomas mulai mengelus celana dalam Ester searah dgn belahan vagina Ester yg tercetak di celana dalamnya yg mulai basah
Nafas mereka menjadi cepat dan berat dan wajah mereka menjadi sangat serius dan memerah namun tidak terlihat karena tersembunyi oleh monitor
” eeecchh.. ” desah Ester pelan ketika jari Thomas menyelinap ke dalam celana dalamnya dan mengelusi vaginanya yg baru di tumbuhi rambut2 halus
Tangan kiri Ester menarik kesamping celana dalamnya agar jari2 Thomas lebih leluasa mengelus vaginanya yg telah basah sekali
Thomas menarik paha kiri Ester dan di topangkan ke pahanya sehingga kini telapak tangannya dapat memegang seluruh vagina Ester dgn leluasa
Selain mengelus, tangan Thomas juga meremas lembut bibir vagina Ester yg montok sehingga kedua bibir vagina Ester menyatu. Cairan vagina Ester semakin banyak sampai telapak tangan Thomas belepotan
” eeecchhhmmm.. ” desah Ester berat ketika telapak tangan Thomas mengelus kelentitnya
Elusan tangan Thomas semakin cepat menggesek vagina dan kelentit Ester yg semakinmembengkak.
Dan beberapa saat kemudian Ester tidak dapat lagi membendung gelora birahinya yg segera meledak
” eeeccchhhmm… ” Ester mengatupkan bibirnya kuat2 agar tidak sampai keluar suara sehingga desahannya hanya sampai di tenggorokannya
” eeecchh..aaaacchhhhhhhh… ” desahan Ester panjang namun tertahan mengiringi orgasme yg melanda. Seluruh tubuhnya merinding dan bergetar, bibirnya terkatup rapat dan matanya terpejam meresapi orgasme yg begitu nikmat
Menyadari Ester telah orgasme, Thomas menghentikan aktivitasnya namun telapak tangannya tetap melingkupi vagina Ester yg berdenyut
Mereka diam beberapa saat sambil mengatur nafas masing2. Ester meletakkan kepalanya di meja masih tetap terpejam
” udah.. ah geli ” bisik Ester pelan sambil menutup kembali roknya dan menyingkirkan tangan Thomas
Beberapa saat kemudian pelajaran komputer selesai, dan semua murid segera keluar utk istirahat
Ester segera pergi ke toilet utk membersihkan vaginanya sekalian mau pipis.
Saat dia sedang pipis ada SMS masuk ke HPnya, ketika di buka ternyata dari Thomas
” Seandainya aku masih bisa memilih, akan ku pilih engkau sebagai kekasih sejatiku ” bunyi SMS dari Thomas mengutip lagunya PADI
Ester tersenyum membaca sms tsb, dalam hatinya ada perasaan tersanjung karena sebenarnya dia pun naksir Thomas. Tapi tiba2 dia teringat sahabat baiknya si Dita.
” Sebenarnya aku juga sayang Thomas, tapi aku tidak mau mengkhianati sahabatku sendiri ” balas Ester kemudia membersihkan vaginanya dan membetulkan celana dalam dan roknya lalu keluar dari toilet.
Baru beberapa langkah HPnya berbunyi lagi pertanda ada sms masuk. Setelah di buka ternyata dari Thomas lagi
” Tidak ada yg di khianati atau mengkhianati, karena kita adalah manusia yg mencoba menikmati masa remaja kita, mencoba menyelami indahnya cinta ” Ester membaca sms sambil berjalan menuju kelas……….
Pagi itu sungguh bagi Putri, dia terlambat masuk kelas pelajaran matematika yg gurunya sangat galak. Krn terlambat dia tdk di perbolehkan mengikuti pelajaran dan di suruh menunggu di luar sampai mata pelajaran matematika selesai.
“Daripada manyun di depan kelas mendingan pergi ke UKS bisa tiduran” pikir Putri
Sesampainya di UKS Putri sangat terkejut karena ada Thomas sedang berbaring di dalam
” Hey.. ngapain kamu Tom ” tanya Putri
” Eh… iya nih, gue telat gak boleh masuk ” kata Thomas kaget
” walah.. sama dong nasib kita ” kata Putri sambil duduk di kursi
” Jadi kamu terlambat juga ya, dasar tuh guru an bener ” Geram Thomas
” iyah.. awas nanti kalo ada kesempatan gue balas ” kata Putri emosi
” orang kita sekolah tuh bayar, eh.. maen usir sembarangan, emang bayarnya pake daun apa..!!!! an ..!! ” sambung Putri makin emosi
Thomas bengong melihat Putri ngomel
” Orang namanya juga macet, ya di maklumi dong kalo telat, emang kalo kita telat dia rugi apa..!!! gajinya di potong apa …!!! dasar guru geblek, muka cobek, nggak punya perasaan ” Putri makin emosi
” heii haloooo.. kok kamu malah bengong Thom ” kata Putri mengagetkan Thomas
“ee..mm.. anuu.. emm.. terpesona ma kamu ” jawab Thomas kaget
” orang gue tuh lagi marah kok malah terpesona, aneh ” kata putri agak mereda emosinya
” iya.. abis kamu kalo lagi marah ekspresinya cantik banget” kata Thomas
” yaelaaahhh.. kita tuh lagi di hukum sempat2nya ngrayu, urusin tuh pacar kamu si Dita dari kemarin bingung mulu gara2 kamu cuekin ” kata Putri
” biarin aja, siapa suruh dia cuekin aku duluan ” kata Thomas
” mang kalian belum baikan yah?? ” tanya Putri
” Kalo dia nggak minta maaf duluan aku juga nggak bakalan minta maaf ” kata Thomas
” Hmmm.. dasar cowok egois, kalo udah dapet enaknya sembarangan aja memperlakukan cewek ” cibir Putri
” Dapet enaknya??? maksutnya?? ” tanya Thomas agak kaget
” Sudahlahh jangan pura2 bodoh, Dita cerita semua ke aku kok yg sering kalian lakukan berdua” kata Putri sambil tersenyum
” mm.. mm.. mang Dita pernah cerita paan ” kata Thomas gugup
” ya gitu deeehhh.. mulai dari ciuman, raba2, sampai…… hihihihii” goda Putri
” sampai apa put??? terusin dong ” kata Thomas penasaran sambil mendekati Putri
” sampai lemes katanya hihihiih.. hayo ngakuuu ” kata Putri
” Dasar si Dita, masalah gituan di cerita2in.. ” kata Thomas sambil duduk di kursi sebelah Putri
” ya nggak pa pa lah, kan sekalian memberi pengetahuan ma aku ” kata Putri
” Emang Putri belum pernah ???” Tanya thomas. Pikiran kotornya mulai bekerja
” Yeee.. Putri kan masih kecil, belum tau gitu2an, masih polos, masih suci gitu loh, kalo hamil gimana?? ” kata Putri agak malu2
” yaelah.. Putri cantiiiikkk.. ciuman tuh nggak bakalan bikin hamil tauuu ” kata Thomas
” mm … tapii… ” Putri kliatan penasaran
” Sini hadap sini aku kasih tau ” kata Thomas sambil menarik kursi Putri sehingga kini mereka berhadapan dgn jarak ygt dekat
” Ciuman itu adalah ungkapan kasih sayang kita pd orang yg kita cintai, karena bila kita sangat menyayangi pasangan kita maka kata2 aja nggak bakalan cukup utk mengungkapkannya ” kata Thomas sok dewasa dan sok romantis.
” Emang rasanya gimana ” Putri mulai terhanyut dgn kata2 indah dari Thomas
” Rasanya tuh tergantung seberapa sayang kita ama pasangan kita, semakin kita menyayangi rasanya semakin luar biasa ” kata Thomas
” iya sih… kata Dita enaaakk banget ” kata Putri polos
” dan cewek secantik Putri selayaknya merasakan ciuman yg paaaling indah dan luar biasa” Rayuan Thomas semakin membuat Putri terhanyut
” iihh.. apaan sih ” Putri tersipu
” Put.. sebenarnya dari dulu yg aku taksir tuh kamu, karena aura kecantikanmu tuh terpancar begitu kuat “
” yee.. kan lebih sexy Dita ” Putri semakin melayang mendengar pujian Thomas
” memang Dita kliatannya lebih sexy, itu karena cara berpakaian dia emang sexy.. tapi kalo Putri meski tertutup rapat oleh jilbab tapi aura Putri tidak bisa di tutupi “ Kata Thomas sambil meraih tangan Putri
Putri tidak menolak ketika tangannya di genggam dan di cium Thomas, namun dia tdk berani menatap wajah Thomas karena malu.
Perasaan Putri melambung ke awang2, karena baru pertama ini tangannya di genggam dan di cium cowok dgn mesra.
” Aku ingin mencium Putri boleh nggak ” bisik Thomas dgn suara syahdu
Putri hanya tertunduk malu
Perlahan wajah Thomas mendekati wajah Putri, dan sedetik kemudian bibir bibir Thomas menempel pada bibir Putri
Dgn lembut Thomas melumat bibir Putri sambil tangannya tetap menggenggam tangan Putri. Beberapa saat mereka berciuman lalu mereka saling memandang dgn tatapan sayu mesra
” aku sayang Putri ” bisik Thomas sambil menatap mata Putri
” mmm.. Putri jugaa ” Bisik Putri manja sambil memeluk Thomas dan membenamkan mukanya ke pundak Thomas karena malu
Thomas membalas pelukan Putri, sambil mengelus punggung Putri
Beberapa saat kemudian mereka kembali berciuman. Kali ini lebih mesra karena Putri juga aktif melumat bibir Thomas
Putri benar2 sudah terhanyut oleh ciuman Thomas, di tambah tangan Thomas mengelus seluruh permukaan punggungnya membuat gairah Putri yg selama ini terpendam jadi menggelora.
Perlahan rabaan tangan Thomas mulai ke depan, di elusnya payudara Putri yg masih tertutup rapat oleh pakaian dan jilbabnya
” eecchh.. ” desah Putri menggeliat ketika tangan Thomas meremas lembut payudaranya dari luar.
Putri semakin erat memeluk leher Thomas sambil membenamkan wajahnya ke pundak Thomas.
Tangan Thomas yg satu memeluk leher Putri sedang yg satu aktif meraba dan meremas payudara Putri
” aku sayang Putri ” bisik Thomas di telinga Putri. Meski tertutup jilbab namun hembusan nafas Thomas begitu terasa di telinga Putri membuat geli sehingga seluruh bulu kuduk dan bulu2 lembut di tangan Putri berdiri merinding
” aacchhh.. ” hanya itu yg bisa di ucapkan Putri sambil menggeliat
Kini jari tangan Thomas mulai membuka kancing atas Putri, lalu tangannya menyelinap masuk ke dalam BH Putri
Putri semakin mendesah dan matanya semakin terpejam menikmati elusan dan rabaan tangan Thomas di payudaranya, putingnya terasa sangat geli dan nikmat
Tiba2 terdengar langkah kaki dari jauh ke arah ruang UKS.
” ada oang.. ” kata mereka kaget berbarengan. Buru2 Thomas menjauh sedangkan Putri buru2 merapikan pakaiannya. Nafas mereka nampak terengah engah.
Ternyata suara langkah kaki tersebut berbelok ke arah lorong sebelum UKS.
” Fiuhhh… ” desah Thomas lalu memandang Putri
Putri juga memandang Thomas, sejenak mereka saling pandang nafas mereka masih agak terengah engah dan gairah mereka masih menyala.
Putri bergegas berdiri dan menghampiri Thomas lalu memeluknya, Thomas menyambut pelukan Putri dgn semangat lalu mereka berciuman dgn begitu ganas
” mmm.. bentar Put ” kata Thomas melepas ciuman dan pelukan lalu membimbing Putri ke arah jendela UKS yg tertutup tirai dan mengahadapkannya ke luar
” Kalo ada orang bilang ya sayang ” bisik Thomas sambil memeluk Putri dari belakang
Putri mengangguk sambil tangannya kini bertumpu pada jendela sementara matanya mengintip keluar mengawasi kalo ada orang
Thomas memeluk Putri dari belakang sambil menciumi telinga Putri dari luar jilbabnya. Tangannya kini dgn leluasa menggenggam payudara Putri dari balik jilbabnya.
Kancing baju atas Putri dibuka kembali oleh Thomas lalu tangannya menyelinap dari bawah BH Putri. Seluruh payudara Putri kini dalam genggaman kedua tangan Thomas, di elus dan di remas.
” sss..eehh… ” desah Putri mendongakkan kepala dan sedikit memejamkan mata ketika Thomas memilin putingnya
Thomas semakin menempelkan bagaian bawah tubuhnya ke bokong Putri, sehingga penisnya yg masih di dalam celana dapat merasakan kekenyalan bokong Putri. Di gesek gesekkannya penis tersebut ke bokong Putri
Dgn reflek Putri menyambut gesekan penis Thomas dgn sedikit menunggingkan bokongnya ke belakang sehingga kini bokong Putri dan Penis Thomas menempel dan menggesek lebih kuat
Putri semakin mendongak dan menggeliat merasakan kenikmatan yg baru pertama ini dia rasakan.
” angkat roknya ke atas Put ” bisik Thomas sambil sambil terus meremas payudara Putri
Putri yg sudah teramuk gelora nafsu remajanya mengikuti perintah Thomas. Di angkat rok panjangnya ke atas dan dgn satu tangan menahan ujung rok agar tetap terangkat, sedangkan tangan satunya kembali bertumpu pd jendela.
Nafas Thomas semakin terengah engah, tangannya satu semakin liar meremas payudara serta puting Putri sedangkan tangan satunya berusaha menurunkan celana dalam Putri.
” aaachh.. ” desah Putri panjang dan kaget ketika merasakan ada benda keras dan hangat menempel erat di belahan pantatnya. Ternyata Thomas sudah membuka resleuting dan mengeluarkan penisnya. Sedangkan celana dalam Putri sudah melorot sampai paha.
Thomas menaik turunkan pinggulnya sehingga penisnya dapat merasakan kehangatan dan kemontokan bokong Putri.
Secara naluri Putri menyambutnya dgn menggerakkan pinggulnya.
Sambil sesekali mengintip keluar mengawasi keadaan, gerakan dan geliat Putri semakin liar menyambut sodokan penis Thomas yg kini berada di antara pahanya sehingga bersesekan langsung dgn vaginanya yg berbulu halus
Sensasi yg mereka rasakan sungguh menggelora luar biasa karena di sertai dgn perasaan was was kalo ada orang datang.
“AAaaaaacchhh.. Putri sayaaang ” bisik Thomas menciumi pipi Putri yg sebagian tertutup jilbab
Putri yg baru pertama ini merasakan kenikmatan yg begitu indah tidak sanggup lagi berkata kata, dia hanya terpejam dan mendongak dan sudah tdk peduli lagi dgn tugasnya mengawasi keadaan luar.
Putri semakin menunggingkan pantatnya kebelakang agar seluruh permukaan vaginanya yg basah kuyup bisa tergesek semua oleh penis Thomas.
” aaeeecchhh… ” desah Putri panjang, matanya semakin terpejam rapat ketika dia sudah tidak sanggup lagi menahan gelora birahi yg segera menggelegar.
” Aaaaacccchhhhh…” dgn gerakan pinggul yg liar dan desahan yg panjang seluruh tubuh Putri bergetar merasakan orgasme yg melanda dgn hebat
Thomas memeluk dgn kuat tubuh Putri yg bergetar, di cengkeramnya kedua payudara Putri sambil terus menggesekkan penisnya dgn kuat ke vagina Putri.
” Ooooouuccchhh… ” Dan berbarengan dgn beberapa kali sodokan yg begitu kuat ke bokong Putri, Thomas mengerang panjang ketika spermanya memancar deras dari penisnya.
Ruang UKS terasa begitu hening, hanya nafas mereka berdua yg terdengar.
Nafas yg terhembus dan keringat yg membanjir serta aroma sperma dan cairan kewanitaan mengantar kedua insan tersebut melayang menikmati sensasi orgasme
Pulang sekolah Dita mengajak Putri ke rumahnya, dia mau curhat tentang Thomas karena udah seminggu ini mereka saling diam. Dita tidak tahu bahwa Putri ada affair dgn Thomas ” Menurut kamu aku harus gimana Put ” tanya
” mmm.. kalo menurut aku sih sebaiknya kamu mengalah aja minta maaf ma Thomas ” saran Putri
” aku malu ” kata Dita
” yah, kalo nggak ada yg mulai nggak bakalan selesai dong berantemnya ” kata Putri
” atau jangan2 dia udah punya cewek lain ” kata2 Dita mengagetkan Putri
” mmm.. anu mmm kalo masalah itu sih aku nggak tau Dit” kata Putri agak gugup. Dalam hatinya Putri merasa bersalah telah mengkhianati teman baiknya
” Jangan2 dia dah dapet ganti yg lebih cantik, lebih sexy ” kata Dita cemberut
” siapa sih di sekolah yg bisa mengalahkan keseksian Ditaa ” kata Putri menghibur sambil mencubit pipi Ditaa
“ Emm.. makaciiihhh ” Dita tersipu lalu memeluk Putri
” nih teteknya aja sexy montok banget hihii ” kata Dita menggoda sambil meremas susu Dita
” aow.. ihh Putri, mmm.. menurutmu emang susuku montok?? ” tanya Dita
” ya iyalah.. coba nih bandingin ma tetek aku, gedean siapa ” kata Putri sambil memegang payudaranya yg tertutup seragam dan jilbab
” yeee.. itu karena tetek kamu tertutup jilbab, coba kalo sama2 terbuka pasti sama ukurannya” kata Dita sambil menjajarkan payudaranya ke payudara Putri
” ya tetep gedean Dita doong, coba kita bandingin ” kata Putri menyibakkan ujung jilbabnya kebelakang lalu membuka kancing seragamnya
Setelah beberapa kancing seragamnya terbuka, lalu Putri mengangkat cup BH nya sehingga payudara Putri yg putih dan montok terpampang bebas
dita juga membuka kancing seragamnya lalu mengangkat cup BHnya sehingga payudaranya yg montok putih juga tergantung bebas
Lalu mereka mendekatkan payudara masing2 utk membandingkan
” Tuh kan Put, hampir sama cuma beda sedikit ” kata Dita membandingkan
” iya yah.. tapi puting kamu lebih gede tuh ” kata Putri sambil mencubit nakal puting susu Dita
” aoww.. Putriii ” Dita kaget dgn reflek memundurkan dadanya
” hihihiiiii.. abis puting kamu nggemesin hihihi ” Putri tertawa
” awas aku baleess ” kata Dita sambil berusaha memegang susu Putri, namun Putri segera membalikkan badan sehingga meleset
Dita lalu meraih tubuh Putri dari belakang dan langsung meremas payudara Putri
” aooww.. geli Dit hihiiiiiii.. aow.. ” Putri memberontak karena kegelian
Namun Dita semakin erat memeluk Putri dan terus meremasi susu Putri, sedangkan Dita sendiri sebenarnya juga kegelian karena payudaranya menghimpit erat ke punggung Putri yg terus berontak namun Dita merasa nikmat. Beberapa hari ini nafsu Dita memang sedang tinggi karena tidak ada Thomas.
” ampun Diitt..uuhh.. hiihiiii.. geliiiii ” Putri terus berontak
“Tapi enak kaaann hihiihii ” kata Dita terus meremas payudara Putri dari belakang sambil menggesekkan payudaranya sendiri ke punggung Putri
” aacchh .. bentar, bentar.. bentar Dit ” kata Putri melepaskan diri dari pelukan Dita. Nafas mereka terengah engah
” tuh kan jilbab aku jadi kusuut ” cemberut Putri lalu membuka jilbabnya
Begitu jilbabnya terbuka, payudara Putri yg memerah karena di remas Dita terbuka lebar karena bajunya sudah nggak karuan di acak2 Dita
Dita semakin gemas melihat payudara Putri bergoyang seiring dgn gerakan Putri membuka jilbabnya, secepat kilat Dita menyosor payudara Putri
” aaoooooww.. aachh Ditaaa ” teriak Putri kaget setengah mati berusaha menjauhkan dadanya , namun Dita memeluk punggungnya erat
Dita mendorong tubuh Putri sampai terduduk di sofa sambil terus menyedot payudara Putri
Putri semakin tidak berkutik karena tubuhnya kini terhimpit di sofa sehingga Dita semakin leluasa mengemut susu Dita sambil meremas yg satunya
Beberapa saat kemudian Putri sudah tidak berontak lagi, kini kedua tangannya malah membelai rambut Dita sambil terdongak memejamkan mata
Setelah puas bermain dgn payudara Putri, kini Dita menaikkan badannya dan menyodorkan payudaranya yg sedari tadi tergantung bebas ke mulut Putri
Dengan perlahan Putri memegang payudara kanan Dita dgn kedua tangannya lalu menggelitik puting Dita dgn lidahnya
” aaachhh.. ” Desah Dita semakin menekankan payudaranya. Kepalanya terdongak dan matanya terpejam menikmati lidah Putri yg hangat menggelitik puting payudaranya
Putri semakin gemas, di sedotnya payudara Dita kuat2 sementara tangannya kini mengelus paha Dita lalu naik ke bokong Dita dan meremasnya
” oouucchh.. Thomaass ” Desah Dita membayangkan seandainya yg melakukan semua ini adalah Thomas
Nafsu Dita semakin bergejolak, di tekannya belakang kepala Putri agar lebih menempel pada payudaranya
Putri juga semakin bernafsu, di tariknya celana dalam Dita sampai ke paha lalu di elusnya vagina Dita yg berbulu halus dan basah kuyup dari arah belakang
Dalam posisi agak nungging, vagina Dita nampak menggembung. Dgn lembut Putri mencubit bibir vagina Dita lalu di rapatkannya kedua bibir tersebut sambil di urut ke atas dan ke bawah
“AAahhhh.. ” Desah Dita panjang ketika jari2 Putri mencubit kelentitnya
Semakin erat di peluknya kepala Putri, pinggulnya bergerak liar mengikuti irama jari2 Putri yg menggesek vaginanya ke atas dan ke bawah
Gerakan jari Putri semakin cepat karena dia semakin gemas dan bernafsu. Vagina Dita berdenyut makin kuat, cairan vaginanya sampai menetes.
Mata Dita terpejam rapat dan tubuhnya mengejang hebat ketika dirasakan denyutan vaginanya kian kuat dan tanpa bisa di cegah lagi denyutan itu terasa di sekujur tubuhnya
“aaaaaaccchhhhh………” Jeritan panjang Dita mengantarnya pada orgasme yg panjang pula
Putri menghentikan aktifitasnya karena dia tahu Dita sudah orgasme. Nafas terengah engah, mulutnya terbuka dan matanya masih terpejam meresapi kenikmatan yg melanda. Hening beberapa saat
” auww.. geli sayaang ” bisik Dita ketika Putri menyentil klitorisnya yg menjadi sangat sensitif
Dita memegang kedua pipi Putri lalu mengecup bibir Putri. Mereka berciuman beberapa saat
Tiba2 pintu terbuka, dan Leo adik Dita yg baru pulang dari sekolah smp masuk
” aoww..eehh..aoo ” Dita dan Putri kaget setengah mati, buru2 mereka merapikan pakaina masing2.
” Leo..!! kalo masuk tuh ketok pintu…!!! ” Bentak Dita
Leo semakin terpaku karena dia juga kaget setengah mati .
” Sini kamu..!! ” Dita menghampiri Leo lalu menjewer kupingnya
” aaa.. mm.. puunn kak, maaafff.. Leo gak sengaja ” Leo merintih menahan sakit di telinganya
” Awas kalo bilang2 ama mama papa..!! ” ancam Dita
“ee..eengggak kak.. janjiii ” kata Leo
” dah sana..!! ” kata Dita menyuruh Leo pergi
Sementara Putri sudah merapikan seluruh pakaiannya dan memakai jilbabnya lagi
” Eh Dit.. adek kamu cakep juga yah ” kata Putri genit
” Mauuu??? ambil aja hihiihhiii ” kata Dita tersenyum
Lalu mereka berpelukan sebelum Putri pamit pulang………..
Saat jam istirahat siang Thomas mengajak Dita duduk di depan laboratorium. Ruang Lab terletak di lantai ll (dua) sehingga saat tidak sedang ada praktik suasananya sepi jarang ada yg naik. Mereka bercengkerama sambil ngemil, mereka duduk berhadapan
” pinjem HP nya dong say.. mau sms gak ada pulsa neh” kata Thomas
” Nih pake aja, pulsaku masih banyak kok ” kata Dita sambil memilih kue yg tadi di beli di kantin
Lalu Thomas sibuk menulis dan mengirim sms, sementara Dita masih asyik dgn kuenya
Setelah selesai sms Thomas iseng membuka folder foto di HP Dita
Dengan asyiknya Thomas melihat lihat foto2 Dita dalam berbagai pose, baik yg biasa sampai yg syur membuat jakunnya naik turun
Tiba2 mata Thomas terbelalak ketika membuka folder dgn judul “my Friend” karena di dalamnya terdapat foto2 sexy cenderung syur dari Dita, Ester dan Putri dalam berbagai pose
Ada juga foto Dita dan Ester begitu sexy dan mesra, ada pula si Putri ber pose saling remas dgn Ester
” Eh.. liatin apa sayang, kok ngos ngosan gitu ” tanya Dita curiga
” Liat nih.. ” kata thomas menunjukkan foto2 syur tsb
” heiii… katanya sms kok malah liatin foto sih ” kata Dita cemberut sambil merebut HPnya
” Eit… masa` liat aja nggak boleh sih ” Thomas menghindar sehingga Dita gagal merebut HPnya
” bukannya gak boleeh, ntu rahasia.. nggak enak dong ma Ester ma Putri” kata Dita
” yeee.. masa` ma sayang sendiri pake rahasia2 ” kata Thomas
” iya deeh.. tapi jangan bilang siapa2 yah ” kata Dita yg di iringi dgn anggukan dari Thomas
” Wow.. mesra banget nih kamu ma Ester say.. jadi iri ” kata Thomas
” Emang adegannya gimana? ” kata Dita sambil ngemil
” Kamu pelukan mesra ma Ester ” kata Thomas
” hihiiiiii… itu di kamar aku, yg ngambil si Putri ” kata Dita
” Wow.. ini kamu meremas toket Ester..!!!! ” Thomas terkejut melihat pose Ester dan Dita
” hahahaa.. abis dia juga sering cubit toket aku ” kata Dita
Kata2 Dita membuat birahi Thomas semakin meninggi, dan Dita tahu itu. Apalagi posisi duduk Dita yg bersila sehingga rok pendeknya agak terangkat memperlihatkan pahanya
” Wow paha kamu mulus banget kalo di foto sayang ” kata Thomas melihat foto Dita dgn pose pake celana yg sangat pendek
” Emang aslinya nggak mulus?? ” kata Dita genit sambil mengganti posisi duduknya. Kini kedua lututnya di tekuk kedepan dan kepalanya bertumpu pada lutut tsb sehingga roknya bener2 tersingkap sampai ke pangkal pahanya memperlihatkan pahanya yg mulus dan celana dalamnya yg putih sedikit mengintip diantara kakinya
“Cleguks… ” Thomas menelan ludah melihat paha mulus Dita
“iih.. jangan dilihat ” Kata Dita dgn senyum menggoda sambil merapatkan kedua kakinya
” Yeee.. liat dikiiit ” kata Thomas memohon sambil menahan nafasnya yg ngos2an
” nggak ah… ntar di liat orang” kata Dita menggoda dengan senyum dan tatapan genit
” kan kita di lantai ll, kalo ada yg naik pasti kita tahu duluan sayaaang ” kata Thomas
Dita tidak berkata apa2 hanya tersenyum sambil membuka kedua kakinya lalu dgn cepat di rapatkan lagi
Thomas semakin gemas, setelah melihat sekitar aman dia menjulurkan kakinya ke depan. Thomas memang belum sempat memakai sepatu karena tadi dari kamar mandi dia lepas sepatunya.
Menggunakan ujung kaki kanannya perlahan dia menggeser kedua kaki Dita ke kanan dan ke kiri. Tidak ada penolakan dari Dita, karena kedua kaki Dita terbuka lebih karena memang di buka sendiri bukan krn dorongan kaki Thomas
Kini kaki bawah Dita terbuka dgn lutut menyatu di buat tumpuan tangan dan dagu Dita.
Kini pangkal paha Dita yg putih mulus dgn celana dalam putih menggembung terpampang lebar di hadapan Thomas
Dgn menggunakan jari2 kakinya, Thomas mengelus paha Dita dari atas sampai ke bawah
Dita memandang Thomas dgn tatapan sayu menikmati elusan jari kaki Thomas
” eehh.. ” lenguh Dita tertahan ketika jempol kaki Thomas menekan celana dalamnya tepat pada bagian kelentit
Thomas duduk bersandar di tembok sambil sesekali melihat keadaan kalau2 ada yg naik, sedangkan jempol kakinya mengelus dan menekan vagina dita yg terbungkus celana dalam.
Meskipun di bawah ramai murid2 lain dgn kegiatannya masing2 namun keadaan di atas cukup aman
Melihat keadaan aman sambil jempol kakinya terus menggosok vagina Dita, Thomas membuka resleutingnya dan mengeluarkan penisnya yg sudah tegak berdiri lalu dielus elus sendiri.
Dita mendesah sambil tersenyum manja melihat kelakuan Thomas
Thomas memberi isyarat pada Dita agar celana dalamnya di tarik kesamping, dan dgn tangan kirinya Dita menarik celana dalam putihnya ke samping sesuai isyarat Thomas
Kini Vagina Dita yg menggembung montok dan berambut tipis tidak terhalang lagi.
” Aaarrgghh.. ” erang Thomas perlahan sambil mengelus penisnya sendiri melihat vagina Dita yg basah dgn lendir bening
Perlahan jempol Thomas menggesek vagina Dita ke bawah dan keatas, terasa licin dan hangat
” eeeehhhh… ” desah Dita terpejam sambil tetap memegangi celana dalamnya ke samping
Thomas menekan vagina dan kelentit Dita makin kuat membuat Dita agak memundurkan pantatnya sedikit, namun geli dan nikmat yg di rasakan membuat dia memajukan pantatnya lagi menyongsong jempol kaki Thomas
Gerakan Dita membuat Thomas makin bernafsu sehingga Thomas mengocok penisnya makin cepat
Tubuh Dita semakin merinding dan bergetar ketika jempol kaki Thomas menekan dan menggosok kelentitnya , dan Dita menyongsong dgn memajukan pantatnya sehingga vaginanya tertekan semakin kuat
Merasa gejolak nafsunya sudah tak tertahan lagi Dita berinisiatif menggunakan jari2 tangan kanannya utk mengelus kelentitnya sendiri, sedangkan jempol Thomas menggosok dan menekan lubang vaginanya. Sementara kedua payudaranya dia tempelkan rapat ke lututnya
Posisi Dita terlihat begitu sexy dgn tangan kiri menarik celana dalamnya kesamping sedang tangan kanannya mengelus kelentitnya sendiri dari bawah kedua pahanya yg putih
Melihat posisi tsb Thomas semakin kesetanan mengocok penisnya sambil mempercepat gerakan jempolnya di vagina Dita
Dita sudah tidak kuasa menahan gejolak birahi di seluruh tubuhnya, tangan kanannya semakin cepat menggosok kelentitnya. Vaginanya berdenyut semakin cepat dan kuat
” eeeeeeeeeehh……eeeeeeeeehhh… “ diiringi lenguhan panjang tertahan, dia memejamkan mata sambil menggeliat ke depan memajukan pantatnya dan melepas orgasme yg menggetarkan seluruh tubuhnya
Ekspresi orgasme Dita membuat darah dan birahi Thomas mendidih. Sambil menekan jempol kakinya menyongsong vagina Dita, dia mengocok penisnya dgn cepat dan kuat
“Eeerrgghh…. Aaaaaaaaarrgghhhh… ” Thomas menggeram sambil memejamkan mata dan mendongak tinggi2 ketika spremanya menyemprot sangat banyak
” aoww… ” pekik Dita karena sperma Thomas menyemprot sampai ke bajunya
” hmmm..hmmm.. hehhehee.. hooss.. hooss ” mereka tertawa bersama sambil terengah engah
Berbarengan dgn dentang bel sekolah tanda masuk, mereka segera merapikan pakaian dan mengelap lendir di tubuh masing2 lalu melangkah bersama menuju ke kelas utk menuntut ilmu bekal hidup kelak di masa depan………….
Setelah sekian lama saling diam, akhirnya Thomas memutuskan untuk minta maaf ama Dita karena dalam hatinya paling dalam sebenarnya dia sayang banget ma Dita. Malam minggu sengaja Thomas datang ke rumah Dita tanpa telfon dulu
” Malam tante, Dita ada? ” Kata Thomas sopan ketika mama Dita membukakan pintu
” Ada, tunggu sebentar ya ” lalu mama Dita kembali masuk
Thomas menunggu sambil duduk di kursi teras rumah
” eh.. eemm.. ee.. Tho.. mas ” Dita kaget dan gugup ketika keluar, ternyata yg datang adalah Thomas. Selama ini Dita bener2 kangen tapi malu utk mengatakannya
” iya Dit.. mm.. maaf, mengganggu nggak nih ” kata Thomas
” enggak kok mm.. kok tumben, kirain dah lupa ma Dita ” kata Dita sambil duduk di kursi samping Thomas
” Mmmm.. gini Dit.. akuuu..eemm.. aku mau minta maaf ” kata Thomas agak canggung
” aku kemarin2 cuekin kamu, aku terlalu egois ” lanjut Thomas
Sementara Dita hanya tertunduk sambil mempermainkan jari2nya mendengar pengakuan Thomas
” terus terang aku kangen banget ama Dita, tapi aku malu utk mengatakannya.. sekali lagi maafin aku yah, aku sayang banget ma Dita ” lanjut Thomas sambil meraih tangan Dita
” Kamu jahat banget Tom.. hiks.. ” Dita semakin menunduk dan terisak
” Maafin aku sayang, ku akui aku yg salah ” bisik Thomas mengelus rambut ita
” Kamu nggak tahu aku sakit banget kamu cuekin ” Dita semakin terisak
Thomas merangkul kepala Dita ke bahunya dan membelai rambutnya agar tenang
” Maafin aku yah sayang, nggak akan aku ulangi lagi ” bisik Thomas
Beberapa saat lamanya Dita menangis di pelukan Thomas sampai akhirnya Dita bisa menguasai emosinya lagi dan berhenti menangis
Thomas masih membelai rambut Dita yg sesekali masih terisak sampai akhirnya Dita bener2 tenang
” Maafin aku ya sayang ” bisik Thomas setelah Dita bener2 tenang
Dita hanya mengangguk pelan, hatinya sudah lega karena sakit hati, benci dan kangen yg selama ini menyesakkan dadanya sudah tertumpah bersama tangisannya
Thomas masih mengelus rambut Dita yg semakin tenang dalam pelukannya, dan tangan yg satunya menggenggam tangan Dita
Dita memejamkan mata menikmati belaian Thomas yg beberapa hari ini dia rindukan. Hatinya begitu bahagia dan tenang dalam pelukan orang yg dia sayangi
Thomas membelai dan menciumi rambut Dita dgn penuh kasih sayang, sedangkan tangan satunya mengelus lengan Dita yg di tumbuhi bulu2 halus
Elusan Thomas yg lembut dan penuh kasih sayang membuat tubuh Dita merinding sehingga bulu2 halus di sekujur tubuhnya berdiri
homas juga mengelus tengkuk Dita yg putih mulus membuat Dita semakin merinding dan melayang, matanya terpejam sambil menggigit bibir
” Kok temennya nggak di bikinkan minum Dit ” Mama dita tiba2 muncul mengagetkan mereka berdua. Buru2 mereka melepaskan pelukan
” Emmm.. eehh.. iya ma ” kata Dita kaget sambil menyeka bekas airmatanya
” Bentar ya Tom, aku bikinkan minum ” lanjut Dita
Mama Dita hanya geleng2 kepala sambil tersenyum melihat tingkah anak gadisny, dia jd teringat masa pacarannya dulu
” Dasar si Dita, tunggu bentar ya nak Thomas ” kata mama Dita
” iya nggak pa pa tante ” jawab Thomas sopan. Lalu mama Dita segera masuk kembali
Beberapa saat kemudia Dita keluar membawa 2 gelas minuman
” Di minum Tom, sorry tadi kelupaan ” kata Dita tersenyum sambil duduk lagi di kursi samping Thomas
” Ah.. nggak pa pa.. liat senyum Dita sudah cukup ngilangin haus ” canda Thomas
” iihh.. apaan sih, emang Dita minuman ” Dita tersipu malu lalu kembali bersandar di bahu Thomas manja dan di sambut pelukan mesra
” Aku sayang Dita ” bisik Thomas sambil mengangkat dagu Dita
” iya.. Dita juga ” jawab Dita lirih sambil memejamkan mata dan bibir terbuka
Sesaat kemudian mereka berciuman dengan sangat mesra dan romantis.
Perlahan mereka melepaskan ciuman, mereka tidak berani ciuman lama2 karena takut mama atau papa Dita keluar.
Dita menoleh ke dalam rumah melalui kaca nako melihat situasi dalam rumah. Nampak papa dan mamanya asyik menonton televisi.
Suasan menjadi hening karena mereka berdua terdiam, namun mata mereka saling memandang mesra penuh arti. Tatapan mereka mengisyaratkan cinta, rindu dan nafsu yg sangat besar
Sambil tetap saling menatap dgn pandangan sayu, tangan Dita membimbing tangan Thomas untuk mengelus pipi dan bibirnya.
Di bimbingnya tangan Thomas semakin turun utk mengelus lehernya yg putih beberapa saat, lalu turun ke dadanya.
Kini tangan Dita menuntun tangan Thomas untuk mengelus payudaranya dari luar kaosnya. Tatapan mata Dita semakin sayu sambil menggigit bibir nakal.
Tanpa di bimbing tangan Dita lagi, tangan Thomas mengelus dan meremas payudara Dita dgn lembut.
Dita menyambut remasan Thomas dgn membusungkan dadanya agar seluruh payudaranya dapat di elus dan di remas Thomas
Mereka menikmati adegan tsb sambil tetap saling memandang dgn tatapan mata penuh nafsu dan sesekali Dita menoleh ke dalam ruang tamu utk melihat situasi
Thomas semakin bernafsu meremas payudara Dita yg masih terbungkus kaos dan Bh, sementara Dita menyambutnya dgn semakin membusungkan dadanya dan menggeliat geliat
Tangan Thomas bergerilya semakin liar. Kini sasarannya adalah paha mulus Dita yg mengenakan celana pendek ketat. Dita menyambutnya dgn melebarkan kedua pahanya
Dgn lembut dan mesra Thomas mengelus paha putih Dita yg di tumbuhi bulu2 halus teratur.
Dita semakin melebarkan pahanya ketika elusan tangan Thomas sampai pada pangkal pahanya yg masih tertutup celana pendek
Telapak tangan Thomas mengelus tepat di belahan vagina Dita yg tercetak dari celananya yg ketat
” Aaaahh.. ” Desah Dita sambil terus menatap mata Thomas penuh nafsu, sambil sesekali melihat keadaan di ruang tamu
” Bentar sayang ” bisik Dita sambil memgang tangan Thomas
Lalu Dita berdiri dan masuk ke dalam rumah, sedangkan Thomas tidak tahu maksud Dita. sambil menunggu Dita, Thomas membetulkan letak penisnya yg sudah menegang maksimal
Beberapa saat kemudian Dita keluar lagi, namun kini dia tidak lagi memakai celana pendek tapi sudah berganti rok pendek longgar bermotif bunga. Sedangkan atasnya tetap memakai kaos, tapi samar2 terlihat tonjolan putingnya yg menandakan Dita tidak memakai BH.
Dita duduk kembali sambil tersenyum nakal, sedangkan Thomas melongo tak percaya karena Dita kelihatan begitu cantik dan sexy
” Heii.. malah bengong ” kata Dita menjentikkan jarinya
” ck.ck.ck kamu cantik sekali sayaaang ” kata Thomas sambil geleng2 kepala
Belum sempat hilang kekaguman Thomas, Dita meraih tangan Thomas dan di letakkan di dadanya.
Telapak tangan Thomas dapat meraba puting payudara Dita yg semakin menonjol
Perlahan Thomas mengelus dan meremas payudara Dita, dia dapat merasakan kekenyalannya karena kini hanya terhalang kaos tipis tanpa BH.
Apalagi dita membusungkan dadanya lebih tinggi lagi
” AAaahh.. remas yg kuat sayaaang ” bisik Dita mendongakkan kepala sehingga dadanya semakin menjulang dalam genggaman Thomas
” kamu nakal sayaang ” bisik Thomas sambil mencium telinga Dita sehingga membuat Dita merinding dan menggelinjang karena remasan Thomas juga semakin kuat
” aacchh.. sayaaangg.. kamu awasi mama papa ya sayang ” desah Dita memejamkan mata sambil memeluk leher Thomas
” iya.. sayang tenang aja ” bisik Thomas mulai menjilati telinga Dita. sedangkan tangannya meremas dan memutar mutar payudara kenyal Dita yg di iringi dgn geliatan Dita
Tangan Thomas menyusup kedalam kaos Dita meraih payudara yg montok . Kemulusan dan kekenyalan payudara Dita dapat di rasakan dgn sempurna tanpa pengahalang
” eh.. mamamu keluar ” kata Thomas cepat2 menghentikan aktivitasnya dan membetulkan duduknya
Dita juga segera merapikan kaosnya, dgn cepat meraih majalah di bawah meja lalu pura2 membaca
” Dita.. nanti kalo masuk jgn lupa pintunya di kunci yah, mama sama papa mau tidur dulu ” kata mama Dita
” iya ma, beres ” kata Dita sambil terus pura2 membaca tidak berani melihat karena takut mamanya melihat wajahnya yg memerah dan nafasnya yg terengah engah
Setelah mamanya masuk, Dita meletakkan majalahnya ke lantai lalu menarik nafas panjang
Mereka berdua kembali berpandangan penuh arti. Meski tanpa berkata kata, tapi mata mereka sama2 mengatakan.. lanjutkan..!!!
Dgn penuh nafsu mereka kembali saling duduk mendekat dan saling memeluk erat.
Karena sudah tidak kuatir lagi mamanya keluar, kini keduanya langsung berciuman dgn ganasnya saling melumat, saling menjilat dan saling menghisap.
Tangan Thomas tanpa menunggu waktu langsung mengangkat kaos Dita, di susul dengan terkaman mulut Thomas ke payudara Dita yg terbuka bebas tanpa pengahalang
” Aaacchh.. ” desah Dita membusungkan dadanya lalu menggeliat menyongsong mulut Thomas, tangannya menekan kepala Thomas ke arah dadanya
Lumatan dan sedotan mulut Thomas di payudara dan putingnya membuat kepala Dita terdongak, mulut terbuka mendesah dan mata terpejam rapat
Tangan Thomas mengelus paha Dita dgn leluasa sampai ke pangkal pahanya dan langsung menyentuh vagina Dita karena ternyata Dita juga tidak mengenakan celana dalam
Terdengar suara clik..clik..clik.. ketika telapak tangan Thomas naik turun menggosok vagina Dita yg sudah sangat basah
Dita membuka lebar2 pahanya dan menopangkan satu kakinya ke pegangan kursi sehingga seluruh vaginanya bisa di gosok dan di remas telapak tangan Thomas termasuk kelentitnya yg semakin menonjol
Hisapan mulut Thomas di puting payudara Dita semakin kuat, dan gosokan serta remasan tangannya di vagina Ditapun semakin liar membuat Dita menggeliat kian tak terkendali merasakan gelora birahi yg segera meledak
” Aaach.. aaacchhh..” Kepala Dita semakin mendongak, matanya terpejam rapat, geliatnya makin liar, desahannya makin panjang mengiringi orgasme yg datang bertubi tubi menggetarkan seluruh tubuhnya
Beberapa saat kemudian Thomas segera memeluk Dita dan membelai rambutnya agar Dita lebih tenang menikmati sisa2 orgasmenya. Nafas mereka berdua terengah engah.
Tubuh Dita dalam dekapan Thomas sesekali masih menggelinjang dan nafas tersengal menuntaskan orgasmenya
Setelah kembali tenang Dita melepaskan diri dari dekapan Thomas lalu meraih minuman dan meneguknya sampai hampir habis
” Aaahh… fiuh ” Dita mengela nafas lega sambil tersenyum
Thomas juga minum beberapa teguk lalu kakinya di selonjorkan menjuntai ke lantai sehingga tonjolan di celananya semakin menggembung
Dgn menatap Dita penuh arti dia mengelus tonjolan penisnya dari luar celananya
Dita tersenyum dan mengangguk tahu maksud Thomas
Dgn perlahan Dita mengelus tonjolan penis Thomas yg masih terbungkus celana jeans
Dgn tidak sabaran, Thomas membuka sendiri resleuting celananya lalu dgn jarinya dia susah payah mengeluarkan penisnya yg sudah ereksi maksimal melalui lubang resleuting tsb
Dita menatap penis Thomas yg berdiri kokoh mengacung ke atas
Tangan Thomas membimbing tangan Dita utk menggenggam dan mengelus penisnya. Dita dapat merasakan urat2 penis Thomas yg kencang namun hangat
” Aahh.. ” desah Thomas merasakan kelembutan telapak tangan Dita mengelus penisnya
Tangan Thomas membelai kepala Dita lalu dgn perlahan menundukkan ke arah penisnya
Dita mengerti maksud Thomas, dia segera menunduk dan mulutnya tepat mengarah ke kepala penis Thomas yg sudah mengkilat karena sudah siap mengeluarkan isinya
Dita mulai memasukkan penis Thomas ke dalam mulutnya, lalu menggerakkan lidahnya menyapu kepala penis thomas
” AAaacchh.. sayaang ” desah Thomas merasakan sensasi hangat dan nikmat pada penisnya di dalam mulut Dita
Dita semakin cepat memainkan lidahnya pada kepala penis Thomas yg ada di dalam mulutnya membuat Thomas merem melek dan menggeram pelan.
” AAarrrgghh… ” Thomas menggeram tertahan sambil meremasi rambut Dita ketika dia merasakan spermanya mulai mendesak utk keluar semakin kuat
” auuww.. ” jerit Dita kaget ketika penis thomas menyemprotkan sperma ke dalam mulutnya
Dgn reflek Dita menarik kepalanya sehingga penis Thomas yg masih menembakkan sperma lepas dari mulutnya. Akibatnya sperma justru menyemprot ke mukanya
” uhh.. ” hanya itu yg keluar dari mulut Dita sambil memejamkan mata agar sperma tidak masuk matanya
” aaahh.. ahh.. ” Thomas terengah engah menikmati orgasmenya
Setelah beberapa saat Dita membuka matanya lalu menyeka sperma di wajah dgn kaosnya
” iiihh.. Thomas, belepotan semua kan ” bisik Dita cemberut
” heheheh.. sorry sayang ” kata Thomas lalu meraih Dita ke dalam pelukannya
Mereka berpelukan dan berciuman beberapa saat
Waktu sudah menunjukkan jam 10 malam ketika Thomas pamitan pulang…
Seusai pelajaran olah raga Ester dan Putri bergegas menuju menuju ke toilet utk ganti baju.
” ayo buruan Put, dah haus banget neh ” kata Ester mulai membuka kaos olahraganya
” iyah.. aku juga haus” sahut Putri mulai berganti pakaian
” Duh, pakaian dalemku basah semua kena keringet ” kata Ester melepas BH
” sama nih, mana aku nggak bawa ganti lagi ” cemberut Putri
” kamu sih nggak pake BH nggak masalah Put orang ketutup jilbab juga, kalo aku bisa menonjol nih puting ” kata Ester sambil membusungkan dadanya
” makanya punya toket jangan gede2 ” kata Putri iseng mencubit puting Ester
” aoww.. aih Putri..! bikin horny aja ” kata Ester kaget dan kegelian
” hihihiiii.. toket gue nih proporsional ” kata Putri sambil membusungkan dadanya bangga
” yeee.. kan body aku bongsor makanya toketnya ikut bongsor dodool ” kata Ester mendekatkan payudaranya pada payudara Putri
” tapi putingnya hampir sama ya ” kata Putri menempelkan puting susunya pada puting Ester
” iya… warnanya juga sama, pink hihhihii ” kata Ester iseng menggesekkan putingnya pada puting Putri
” ihh.. geli hhhhiii, tapi enak ” desah Putri
Sambil tersenyum Ester makin menempelkan payudaranya ke payudara Putri dan menggesek gesekkan putingnya
Putri membusungkan dadanya sambil tersenyum nakal dgn mulut sedikit terbuka
Ester gemas melihat ekspresi Putri, segera di peluknya Putri sehingga kedua pasang payudara mereka menempel ketat
Putri membalas pelukan Ester sambil menggerakkan dadanya ke kiri ke kanan, begitu juga Ester sehingga payudara mereka yg kenyal saling bergesekan. Mata mereka sama2 terpejam menikmati sensasi nikmat dan geli pada puting masing2
” uuuhh.. udah yuk, haus nih” bisik Putri
” sini Putri sayaaang, netek sama mama ” kata Ester menekan kepala Putri pelan ke arah payudaranya
” emmmm… ” desah Putri manja sambil mengarahkan bibirnya ke puting Ester
“Aaacchh ..” desah Ester ketika putingnya terasa hangat oleh bibir Putri
Sambil mengulum, lidah Putri memainkan puting Ester membuat Ester secara reflek membusungkan dadanya menyambut permainan mulut dan lidah Putri
Tiba2 mereka di kejutkan oleh suara gaduh di luar, ternyata murid2 yg lain juga beramai ramai menuju toilet utk ganti pakaian. Bahkan ada yg mencoba menarik handle pintu tempat mereka berada utk memastikan ada apa tidak orang di dalam
” hmm..mmuaach.. ” Putri mencium payudara Ester lalu mengangkat wajahnya
” huh.. mengganggu aja mereka ” sungut Ester
” ayo buruan, lalu kita minum “ kata Putri pelan
” Tapi gimana nih BH ku basah ” kata ester sambil memperlihatkan BH nya
” iya yah.. BH ku kan juga basah, sekarang tambah celana dalemku juga ikut basah nih ” kata Putri bingung
” hihihiiiii.. apalagi celana dalam ku, sampai lengket semua ” Ester cekikikan
” ayo berani terima tantangan gak?? kita nggak usah pake BH ama celana dalam hihihi ” bisik Putri sambil tersenyum genit
” mm.. tapiii….. ” kata Ester sambil melihat ke arah putingnya
” nggak pa pa, nanti kamu pegang tas ini utk nutupi ” kata Putri sambil memasukkan BH dan celana dalamnya ke dalam tas
” Tapi jangan bilang siapa2 yah ” kata Ester sambil melipat celana dalamnya lalu di masukkan ke tas juga
Beberapa saat kemudian mereka sudah rapi dgn seragam masing2. Putri nampak cantik dgn jilbab dan seragam panjangnya, sementara Ester nampak sexy dgn seragam pendeknya
” iihh.. geli Put hihhiii ” kata Ester merinding karena putingnya bergesekan langsung dgn seragamnya
” hihiii.. iya nih, tapi nikmat. Ayo buruan, haus nih ” kata Putri
Lalu mereka keluar dari toilet menuju ke kantin utk minum
” ih put.. sumpah geli banget, jd basah punya ku” bisik Ester sambil duduk menyilangkan kedua kakinya sehingga vaginanya terhimpit di pangkal pahanya. Sementara tangannya memegang tas di depan dada menutupi putingnya yg semakin menonjol
” hiiiii.. jd merinding ” bisik Putri sambil menyeruput jus jeruknya
Bel tanda pelajaran di mulai berbunyi, segera mereka membayar dan bergegas menuju ke kelas
” hey.. darimana kalian berdua” sapa Dita di kelas sambil duduk di samping Ester dan Putri
” Mmm.. anu.. mm.. dari kantin kok,ya Put ” kata Ester agak gugup takut kalo Dita tahu kalo dia tidak memakai celana dalam dan BH
” iya dari kantin ” sambung Putri agak gugup juga
” kalian kenapa sih kok aneh gini ” kata Dita agak curiga
” mmm.. nggak pa pa kok ” kataEster mencoba tersenyum menutupi gugupnya
“pasti ada yg di sembunyikan nih, ayo ngaku ” paksa Dita
” hiihihihiii.. mau tahu ??? liat tuh bokong Ester ada cetakan celana dalemnya nggak?? ” bisik Putri
” maksutnya?? ups.. Ester nggak pake celana dalam ?? ” bisik dita kaget
” yeee.. Putri juga tuh, iihh Putri ingkar janji ” sungut Ester
” hihihihi.. nggak pa pa lah, kan temen satu genk” kata Putri membela diri
” hehehe.. gila kalian, gimana rasanya ” bisik Dita penasaran
” rasanya.. mmmmm.. geli2 nikmat hihihhiii, nih liat ” kata Putri sambil sedikit menyibakkan ujung jilbabya sehingga tonjolan puting di balik seragamnya kelihatan
” hihiih bener2 gila kalian, tapi aku jd pengen juga ” kata Dita
” iya.. ayo Dit ” Ester kegirangan merasa di temani
” iya.. sekalian aku mau balas dendam ma guru matematika brengsek yg kemarin ngeluarin aku ” sungut Putri ingat kejadian waktu dia terlambat dan tidak boleh mengikuti pelajaran
“oke, tutupin yah aku mau buka celana dalem ” bisik Dita lalu dia merundukkan tubuhnya. Tangannya segera masuk ke dalam rok dan menarik turun celana dalamnya dgn hati2.
Setelah celana dalamnya terlepas Dita kembali ke posisi duduk semula sambil memasukkan celana dalamnya ke dalam tas
” hihihiii… sejuk ” bisik Dita sambil merapatkan pahanya
” ayo kita minta tukeran tempat di depan, kita kasih pelajaran tuh guru ” ajak Putri pada Dita utk tukeran tempat dgn temannya yg duduk tepat di depan meja guru. Sementara Ester tetap duduk di belakang
” Selamat siang anak2 ” Pak Doky guru matematika segera memulai pelajaran dgn menyuruh salah satu murid mengerjakan PR kemarin di depan
Sambil duduk bersandar di kursi, Putri memangku bukunya pura2 mencocokkan PRnya. Perlahan dia sibakkan ujung jilbabnya ke pundak sehingga tidak menutupi bagian dadanya
” Uughh.. “ Putri pura2 menggeliat sehingga payudaranya yg montok dan tonjolan puting di balik seragam panjangnya terekspose. Lalu dia duduk dgn agak membusungkan dadanya ke depan
Ekspresi kaget nampak terlihat dari muka pak Doky. Meski pura2 melihat buku tapi mata pak Doky lekat menatap dada Putri
” Cleguks.. ” terlihat pak doky menelan ludah ketika tatapan matanya menuju ke arah bawah.
Dita duduk dgn gerakan pelan membuka dan menutupkan kedua pahanya membuat rok pendeknya tersingkap cukup tinggi. Pahanya yg putih mulus terlihat jelas oleh pak Doky. Dan ketika pahanya membuat gerakan membuka, pak Doky bisa melihat sampai ke pangkal paha Dita
” Anak2, kalian kerjakan juga soal di halaman berikutnya ” kata pak Doky
” Itu cuma alasan pak Doky agar dia bisa berlama lama melihat kita tanpa di ketahui murid2 krn mereka konsentrasi mengerjakan soal ” tulis Dita pada selembar kertas lalu di berikan pada Putri
” kita kerjain abiss ” tulis Putri dan di serahkan kembali pada Dita.
Putri menoleh kebelakang pura2 pinjam tip ex pada temannya. Posisi Putri yg menoleh kebelakang sementara badannya tetap menghadap kedepan membuat payudara dan putingnya tercetak ketat dari balik bajunya, Putri sengaja berlama lama
Dita semakin berani, kedua kakinya bertumpu pada pijakan meja dan pahanya terbuka agak lebar sehingga vaginanya mengintip diantara lipatan pahanya, sementara bulu2 halus yg menghiasi vagina atasnya terlihat samar2.
Muka pak Doky nampak serius tatapan matanya tajam ke arah selangkangan Dita, jakunnya naik turun dan rahangnya mengatup rapat
Dita pura2 serius dgn bukunya, begitu juga Putri namun sekilas dia bisa melihat ekspresi pak Doky yg horny
Posisi duduk Dita membuat pak Doky tambah penasaran karena pahanya terbuka cukup lebar namun vaginanya tidak bisa terlihat seluruhnya karena terhimpit paha. Antara percaya atau tidak kalo muridnya bener2 tdk memakai celana dalam
Pak Doky pura2 menjatuhkan pulpen lalu menunduk ke bawah utk mengambilnya. Ketika pak Doky menunuduk ke bawah meja, Dita membuka lebar2 pahanya
” jedug…!!!! Gubrak..!!!” Saking kagetnya kepala pak Doky membentur meja dan dia terjengkang ke belakang menghantam kursi
” hahahhaahhahahha… ” serentak seluruh kelas tertawa riuh
” Diam …!! ” bentak pak Doky. Mukanya merah padam
” Apa yg kalian tertawakan, cepat selesaikan soalnya nanti saya periksa satu2!!!” Bentakan pak Doky membuat suasana kembali sunyi.
Putri dan Dita saling melirik dan tersenyum penuh kemenangan………
Putri sudah bersiap utk berangkat sekolah. Pakaiannya sudah rapi lengkap dgn jilbabnya. Ketika dia mau keluar kamar tiba2 ada SMS masuk ke HPnya
” Seperti kemarin lagi yuk Put ” bunyi SMS yg ternyata dari Dita
” Maksutnya?? ” balas Putri agak bingung
Setelah ditunggu beberapa saat, ada balasan dari Dita
” Iya spt kemarin, kita nggak usah pake CD. Berani gak??” SMS dari Dita
Putri tersenyum membaca SMS Dita membayangkan kejadian kemarin waktu menggoda pak Doky
” Itu mah enteng, kalo nggak pake BH kamu berani nggak?? ” balas Putri balik menantang. Putri merasa di atas angin karena meski nggak pake BH baginya nggak masalah karena tertutup jilbab
” Oke.. siapa takut ” Putri agak kaget membaca balesan dari Dita
” Nekat juga nih anak” pikir Putri
” Oke .. sampai jumpa di sekolah ya ” balas Putri
Putri membuka lagi jilbab dan bajunya lalu membuka BHnya dan di masukkan ke dalam tas. Tangannya lalu menaikkan rok panjangnya dan menarik lepas celana dalam putihnya juga dimasukkan ke tas
Putri merapikan kembali pakaiannya di depan cermin.
” iiihhhh… ” Putri merinding kegelian ketika putingnya bergesekan langsung dgn bajunya
Di depan cermin Putri membusungkan dadanya lalu menyibakkan ujung jilbabnya ke samping, nampak putingnya samar2 menonjol di balik baju. Iseng dia elus putingnya dgn jari
” hihihihi… ” dia tersenyum kegelian lalu merapikan lagi jilbabnya dan segera berangkat ke sekolah
Sesampai di sekolah Putri langsung mencari Dita, dan mereka bertemu di samping kantin
” hihihiihiiiii… ” Mereka langsung cekikikan begitu bertemu
” Hayo pasti kamu nggak berani ya ” ledek Dita
” huuu.. liat nih ” kata Putri sambil menyibakkan jilbabnya ke samping. Nampaklah samar2 tonjolan puting Putri yg dari tadi menegang karena bergesekan dgn bajunya
” kamu mana, coba liat ” kata Putri balik bertanya
” nih.. ” kata Dita menurunkan tangannya yg dari tadi memegang tas di depan dadanya
” yeeee.. mana gak keliatan ” kata Putri penasaran
” mm.. aku pake lapisan tank top ” kata Dita
” yah.. kamu curang ” sungut Putri
” ya enggak lah, kan SMSmu bilang nggak pake BH, ini aku nggak pake ” kata Dita membela diri sambil tersenyum
” oke deh.. alasan di terima, trus celana dalamnya gimana” tanya Putri
” kalo ini paten Put, nih liat ” kata Dita sambil mepet ke tembok biar nggak keliatan orang. Lalu dia mengangkat ujung roknya lalu di turunkan lagi. Meski sekilas namun sudah cukup membuktikan kalo Dita tdk memakai celana dalam karena terlihat bulu2 tipisnya yg hitam dan vaginanya yg montok terhimpit pahanya
” hihiihihiih… ” Putri tersenyum geli
” coba liat kamu Put ” kata Dita
Belum sempat Putri memperlihatkan, bel tanda pelajaran dimulai berbunyi
” ntar aja di kelas ayo kita masuk, kamu duduk sebelahku aja ” ajak Putri, lalu mereka bergegas masuk kelas
Pelajaran bahasa Indonesia berlangsung dgn menyalin halaman 10 – 15, sementara pak Tono guru bahasa indonesia yg kalem memeriksa hasil test kemarin.
” ayo.. mana liat Put, jangan2 kamu boongin aku ” bisik Dita penasaran
” apaan Dita ?? ” kata Putri pura2 lupa sambil terus mencatat
” ih.. ” Dita menyeggol payudara Putri
” hihihiihiii… ” Putri menahan cekikikannya
Putri pelan2 menarik rok panjangnya sampai lutut, lalu di raihnya tangan kiri Dita dan di bimbing menyusuri pahanya sampai ke pangkal paha.
” uhh.. ” pekik putri pelan ketika jari Dita menyentuh vaginanya
” percaya kan?? ” bisik Putri.
Putri membiarkan tangan Dita tetap di dalam roknya, sementara dia melanjutkan mencatat
Dita dgn iseng mengelus vagina Putri, membelai rambut kemaluannya yg halus
Aktivitas mereka tidak di sadari murid lain karena posisi duduk mereka di pojok belakang dan Putri di samping tembok
Putri berhenti mencatat sejenak dan memejamkan mata ketika tangan Dita mengelus kelentitnya. Dia merasakan vaginanya mulai basah
” auww.. ” Putri tersentak ketika Dita mencubit kelentitnya, refelk dia memundurkan pantatnya sehingga tangan Dita terlepas
” hihihiihi ” tawa Dita lirih mengeluarkan tangannya dari rok Putri lalu melanjutkan mencatat.
Pelajaran Bahasa Indonesia berlangsung membosankan, sehingga begitu bel tanda istirahat berbunyi murid2 langsung berhamburan
Di kantin Putri, Dita dan Ester ngobrol sambil menikmati minuman
” hmm.. rasanya gimana gitu ya Put di tengah2 keramaian gini nggak pake daleman hihiih ” bisik Dita
” iya … aku merasa paling seksi hihihii.. ” Putri tersenyum nakal
” eh.. kalian bicara paan sih ” tanya Ester penasaran
” Liat nih, tapi jgn bilang siapa2 ” Putri merundukkan tubuhnya sehingga sejajar dgn meja lalu tangannya terlihat melakukan sesuatu dibalik jilbab putihnya
Masih dlm posisi merunduk sejajar dgn meja Putri menyibakkan jilbabnya kesamping
” hah.. ” betapa kagetnya Ester ketika jilbab Putri tersibak, nampak payudaranya menggantung bebas tanpa BH. Ternyata Putri tadi membuka 2 kancing teratasnya
” hihiii .. ” Putri cekikikan lalu merapikan jilbabnya tanpa mengancingkan bajunya. Meski tidak dikancingkan, namun jilbabnya menutup rapat dadanya
” Sini Put aku foto ” bisik Dita dgn ide nakalnya
Lalu Putri merundukkan badannya lagi dan menyibakkan jilbabnya.
” cekrek ” Dita mengambil foto dgn kamera HPnya.
” mana liat ” kata Putri setelah merapikan kancing baju dan jilbabnya
” ihh.. seksi abis Put ” kata Dita
” iyah.. bagus banget ” Ester menimpali
“Hey… lg pada ngapain kalian, asyik banget keliatannya “Tiba2 datang Thomas lalu duduk di depan mereka
” eh.. dari mana sayang ” kata Dita
” Dari perpustakaan ngembaliin buku sayang” kata Thomas sambil memesan minuman
Putri dan Ester terdiam agak canggung karena masing2 ada affair dgn Thomas tanpa ada yg tahu satu dgn yg lainnya
” eh.. ada Putri ma Ester ” sapa Thomas mencairkan suasana
” ehmmm.. kalo dah ketemu serasa kantin milik berdua yee ” canda Putri diiringi tawa mereka bersama
” iih.. apaan sih Put, biasa aja kaleee ” kata dita
” aku ke toilet dulu ah.. kebelet ” kata Ester lalu buru2 menuju toilet
” Aku ambilin kue ya Tom ” kata Dita lalu beranjak pergi utk mengambil kue
Kini tinggal Thomas dan Putri
” UUuuuuhh..hhhooaamm ” Putri menggeliat mengangkat kedua tangan dan membusungkan dadanya sambil pura2 menguap.
” uhuks… ” Thomas yg sedang meneguk minumannya terbatuk melihat payudara Putri membusung kencang dan puting tercetak jelas karena bajunya tertarik ke atas dan ujung jilbab tersibak kesamping
” Gila kamu Put, kamu nggak pake BH yah ” kata Thomas kaget sambil matanya melirik ke arah Dita yg masih asyik memilih kue
Putri hanya tersenyum sambil menatap nakal
” upss.. aduh ambilin pulpenku dong Tom ” Putri menjatuhkan pulpennya ke bawah meja
” hmmm iya tuan Putri ” Thomas merundukkan kepalanya ke bawah meja utk mengambil pulpen
” Clegukss.. cleguks ” Nafas Thomas serasa terhenti ketika kepalanya di bawah meja dia melihat pemandangan yg membuat birahinya terbakar
Putri sengaja mengangkat rok panjangnya sampai atas lutut dan membuka pahanya lebar2 sehingga Thomas dapat melihat dgn jelas vaginanya dan bulu kemaluannya yg hitam lembut tertata rapi
Putri melakukan itu sambil melihat ke arah Dita yg sedang asyik memilih kue sambil ngobrol dgn ibu kantin
Thomas buru2 kembali duduk takut kalo Dita datang, nafasnya terengah. Dia tidak bisa berkata apa2, hanya matanya yg memandang Putri dgn penuh nafsu
” nah ini dia kuenya datang, enak lho Put coba deh ” kata Dita sambil duduk di samping Thomas
” Hmm.. iya nih gurih ” kata Putri mencicipi kue
” ehh.. ii..iya enak..enak banget ” kata Thomas agak gugup sambil mulai makan kue
Tanpa sepengetahuan Dita, di bawah meja kaki Putri dan kaki Thomas saling menempel dan saling menggesek
Dita tidak tahu karena posisi duduk mereka mepet ke meja dan sambil ngobrol seperti tdk ada apa2
” uhukss.. uhukss.. ” Thomas tersedak sampai batuk ketika kaki Putri merayap ke pahanya dan menyentuk penisnya yg mengeras di balik celananya
” duuh.. makannya pelan2 dong sayaaang, ini minum dulu ” kata Dita sambil memberi minuman pd Thomas
” Ester ke toilet lama amat, aku ke toilet dulu ah kebelet ” kata Putri beranjak dari situ sambil melirik Thomas dan tersenyum penuh arti
Kini tinggal Thomas dan Dita di meja paling pojok tsb, sementara kantin masih agak ramai
” Aku kangen kamu sayang ” bisik Thomas mengelus paha Dita di bawah meja sambil sesekali melihat sekekliling
” yee.. kangen apa nafsu ” Kata Dita sambil mencubit pinggang Thomas
” Kangen dan nafsu itu bedanya tipis, setipis celana dalam kamu sayang hehehe ” bisik Thomas bercanda sambil tetap mengelus paha Dita semakin ke atas membuat nafsu Dita terpancing
” Mmm.. kalo gitu nggak ada bedanya dong, orang aku nggak pake celana dalam ” bisik Dita sambil tersenyum nakal
” cleguks.. yg bener?? ” Thomas tertegun tdk percaya sambil menelan ludah
“cek aja sendiri ” bisik Dita sambil melebarkan pahanya
Tangan Thomas merayap sampai ke pangkal paha Dita, dan betapa kagetnya dia ketika telapak tangannya langsung menyentuh bulu2 halus di atas kemaluan Dita
Bunyi bel tanda pelajaran dimulai membuyarkan mereka, buru2 Dita merapikan roknya dan berdiri
” ayo sayang.. kita lanjut kapan2 ” ajak Dita
” tapi.. mm.. ” Thomas masih duduk bengong, birahinya yg sudah membuncah membuat dia seperti orang bloon
” udaah.. besok kan hari minggu, kita lanjutin di rumah yah ” Dita mengulurkan tangan agar Thomas berdiri
” mmm.. bentar sayang aku ke toilet dulu ” kata Thomas
” lha.. ntar kamu telat masuk ” kata Dita
” nggak pa pa, pelajaran kesenian gurunya santai kok ” kata Thomas
” ya udah, aku duluan ya sayang salam buat si nakal itu hihi” kata Dita sambil melirik ke arah penis Thomas
Birahi Thomas sudah di ubun2 setelah di goda Putri sedemikian rupa, ditambah ulah Dita yg tdk kalah nakal membuatnya butuh pelampiasan sesegera mungkin, statusnya siaga I. Buru2 Thomas beranjak menuju ke toilet utk melampiaskan gejolaknya dgn bersolo karir………
Hari yg sangat melelahkan di sekolah karena ada acara kerja bakti membuat Dita kelelahan. Begitu sampai di rumah dia langsung menghempaskan tubuhnya di sofa. Masih memakai seragam hanya sepatu dan kaos kakinya yg dilepas dia tiduran telungkup. Karena lelahnya dan hawa sejuk dari AC beberapa saat kemudian dia sudah tertidur dgn lelap
Sementara itu papa dan mama Dita baru saja pulang dari tempat kerja mereka. Om Robert papa Dita setelah memarkir mobil di garasi langsung masuk ke dalam rumah sedangkan tante Melly mama Dita mampir dulu ke toko seberang jalan utk beli sesuatu.
Begitu masuk ke dalam rumah langkah Robert tiba2 terhenti di ruang tamu. Dari balik almari buku yg membatasi ruang tamu dgn ruang keluarga matanya melihat seseorang tidur di sofa
” Upsss.. ” Betapa kagetnya dia melihat Dita tidur telungkup di sofa. Namun yg membuat langkahnya terhenti adalah posisi tidur Dita.
Dita tidur telungkup masih menggunakan seragam lengkap sedangkan roknya bagian belakang tersingkap sampai atas menampakkan pahanya yg putih mulus dan bokongnya yg montok terbalut celana dalam warna putih
Pandangan mata Robert menyusuri dari betis, paha dan pantat Dita. Meskipun dia sering melihat paha dan celana dalam anak tirinya tersebut, namunh kali ini beda karena posenya begitu sexy.
Seperti diceritakan pada cerita sebelumnya bahwa orang tua Dita sudah lama bercerai, lalu mamanya menikah lagi dgn Robert ayah Leo
“ck.ck.ck.. ” Cukup lama Robert memandangi tubuh Dita dgn tanpa henti2nya geleng2 kepala dan berdecak mengagumi kemontokannya
” eh.. papa ngapain ” tiba2 Melly sudah masuk rumah mengagetkan Robert
” eh.. mm.. ini..mm.. ” Robert nampak gugup
” hayoo.. ngintip Dita lagi yah.. ih papa nakaal ” bisik Melly pelan melihat suaminya sedang memandangi anaknya yg tidur telungkup di sofa dgn rok tersingkap
” mm.. abis Dita tidur kok di sofa ” Bisik Robert sambil memeluk Melly dari belakang
” eitt.. ih papa genit, bentar aku betulin dulu rok Dita ” kata Melly berusaha melepas pelukan suaminya
” mmm.. bentar dong ma, papa masih tetap memegang janji yg dulu kok cuman melihat aja ” Bisik Robert tetap memeluk tubuh sintal istrinya, sementara matanya masih lekat memandang kemontokan bokong Dita yg masih terlelap
Robert memang sering mengintip paha maupun celana dalam Dita saat sedang duduk nonton TV maupun sedang belajar. Namun itu dilakukan dgn sepengetahuan istrinya. Melly memperbolehkan saja asal Robert janji tidak berbuat yg lebih selain melihat saja, dan Robert menyetujuinya “HANYA MELIHAT”.
Biasanya setelah itu Robert akan langsung menarik istrinya ke kamar untuk bercinta dgn sangat menggebu, dan Melly sangat suka moment2 seperti itu karena dia akan sangat terpuaskan.
” ck.ck.ck.. bener2 sexy ya Ma ” mata Robert tidak lepas dari bokong montok Dita.
” iya , siapa dulu dong mamanya ” bisik Melly manja
” Uh.. bener2 gadis yg sempurna ” Mata Robert semakin jalang
” ih… ada yg bergerak di bokong mama nih Pa ” bisik Melly pelan sambil menggesekkan pantatnya pada penis Robert yg sudang menegang
” Uuh.. ” Desah Robert menekan penisnya ke bokong Melly yg terbungkus rok ketat pendek menyambut gerakan pinggul istrinya tsb
Sambil terus menikmati pemandangan bokong Dita, Robert semakin liar menciumi pipi dan telinga istrinya
” Ma, papa jd pengen bercinta ” bisik Robert
” aahh.. jgn di sini Pa, nanti Dita bangun” desah Melly menggeliat pelan
” Nggak apa2 Ma, kan terhalang almari ini ” bisik Robert semakin liar menciumi pipi dan telinga istrinya, sementara matanya masih memandang nanar pada bokong Dita
” aahhh.. terserah papa” Melly menggeliat pasrah kegelian karena tangan Robert kini mulai meremas payudaranya dari luar blousenya
Tangan Robert semakin liar menyelusup kedalam blouse dan mengangkat BH istrinya lalu meremas payudara Melly yg berukuran cukup besar dan montok.
Sedangkan matanya tetap lekat pada paha dan bokong Dita
Robert menggesekkan penisnya yg masih terbungkus celana semakin kuat pada pantat istrinya yg terbalut rok ketat pendek.
” papaa.. ” desah Melly pelan sambil menggerakkan pinggulnya menyambut gesekan penis Robert
” aarrgghh.. “ Robert mengerang sambil menggigit lembut tengkuk istrinya membuat bulu kuduk Melly berdiri
Tangan Robert yg satu mulai menyusup ke dalam rok Melly
” euhh.. Paaa ” Melly menggeliat mendongakkan kepala ketika tangan Robert meremas vaginanya yg terbungkus celana dalam
Melly memasukkan tangannya ke dalam rok lalu menarik dan melepaskan celana dalamnya.
” Mama bener2 pinter ” Bisik Robert mulai mengelus dan meremas vagina Melly yg sudah basah licin
” Aaahh.. papaaa.. ” Melly menggeliat sambil melebarkan pahanya memberi ruang agar tangan Robert bisa meremas seluruh vaginanya
Tangan Melly menjulur ke atas meraih kepala Robert yg asyik menjilati tengkuknya membuat dadanya kini membusung ke depan
” sss.. aaahh ” desah Melly menikmati semua aktivitas Robert
Sambil terus menjilati tengkuk Melly, tangan kirinya meremas payudara sedangkan tangan kanannya mengelus vagina Melly yg sangat licin. Rok ketat Melly sudah tersingkap sampai perut sehingga tangan Robert leluasa mengelus maupun meremas vagina Melly
Sementara mata Robert masih memandang dgn penuh nafsu ke arah bokong Dita.
Tiba2 Robert menarik Melly ke pojok di balik lemari buku ketika tubuh Dita bergerak. Dia takut Dita terbangun. Mereka diam dgn nafas terengah engah
Beberapa saat kemudian Robert mengintip ternyata Dita hanya merubah posisi tidurnya. Kini posisi Dita tidur miring dgn kaki satu lurus dan satunya tertekuk membuat roknya tersingkap semakin ke atas. Bokong Dita nampak semakin sexy dari samping.
Kemulusan pahanya pun semakin terpampang, dan vaginanya yang tertutup celana dalam nampak menggembung terhimpit bongkahan pantat yg montok
Melihat pemandangan tsb nafas Robert semakin memburu, di peluknya tubuh Melly dgn erat. Kini posisi mereka berdiri berhadapan sehingga payudara Melly terhimpit di dada Robert.
Sambil terus memandang Dita, tangannya meremas kuat bokong istrinya. Dia membayangkan seandainya yg dia remas adalah bokong Dita
Melly menurunkan tubuhnya dan berjongkok tepat di selangkangan suaminya. Dgn cekatan dia lepas ikat pinggang Robert dan menarik resluitingnya . Lalu menarik celana panjang sekaligus celana dalam Robert sampai bawah. Seketika penis Robert yg sudah menegang maksimal menyembul dgn gagahnya tepat di depan wajah Melly
Setelah beberapakali mengelus, Melly memasukkan penis Robert ke dalam mulutnya
” AAaaarrgghhh… ” erang Robert pelan dan memejamkan mata meresapi kehangatan yg menyelimuti kepala penisnya di dalam mulut Melly
Tangan Robert satunya berpegangan pada almari sedangkan yg satunya memegangi kepala Melly
Sambil menikmati kuluman pada penisnya, mata Robert kembali terbuka memandang tubuh Dita dalam posisi tidur yg sangat menggairahkan.
Kaki kanan Robert tidak tinggal diam, punggung kaki tsb menggesek vagina istrinya yg jongkok mekangkang sehingga vaginanya benar2 terekspose
“uhhmm… ” desah Melly semakin bersemangat mengulum penis Robert ketika punggung kaki Robert mengenai kelentitnya. Lendir vaginanya keluar begitu banyak sampai beberapakali menetes ke lantai
” aaahh mamaa.. ” Robert sudah tidak kuat lagi, lalu diangkatnya tubuh istrinya dan di peluk dgn sangat bernafsu diiringi ciuman yg ganas
Kini mereka berpelukan dan berciuman dgn sangat menggebu dgn pakaian yg sudah acak2an. Robert mendorong istrinya mepet ke tembok.
Robert mendesakkan penisnya ke arah vagina Melly. Melly menyambutnya dgn melebarkan selangkangannya dan menopangkan kaki kirinya ke almari sehingga vaginanya benar2 sudah siap menerima penis Robert
” AArrrrggh…” Robert menggeram pelan ketika perlahan penisnya mulai mendesak masuk ke dalam vagina istrinya. Pelukannya semakin erat.
” eeehh… ” Melly menyambut penis Robert dgn memajukan pinggulnya sehingga perlahan namun pasti penis Robert tenggelam dalam cengkeraman vagina Melly
” uuhh.. Mamaa ” Tangan Robert meremas bokong istrinya kuat2 ketika dia mulai mengeluar masukkan penisnya ke dalam vagina istrinya
” eeuuhh.. ” Tubuh Melly bergetar ketika sodokan penis Robert pada vaginanya semakin cepat dan kuat sedangkan bokongnya dipegang kuat oleh Robert sehingga dia tidak bisa menggerakkan pinggulnya. Dia hanya bisa memeluk suaminya dgn erat dan melingkarkan kaki kirinya ke pinggang suaminya
Gerakan pinggul Robert semakin mengganas karena nafsunya sudah diubun ubun, gairahnya sudah menggelora sejak melihat bokong dan paha Dita tadi, begitu juga dgn Melly.
“Aaah.. Aaaaahh.. aaakkhhh.. ” erangan dan desahan panjang Melly terdengar begitu syahdu mengiringi gelinjang tubuh Melly menyambut gelombang orgasme yg menerjang
Robert merasakan vagina istrinya begitu mencengkram hangat ketika istrinya orgasme sehingga sodokannya semakin diperkuat dan dipercepat. Tangannya semakin kuat mencengkram bongkahan bokong montok istrinya
” AAArrrrgghhhh… Aaaaarrggghh…!!! ” Geraman Robert tertahan di tenggorokan ketika dia menyodok kuat vagina istrinya sambil memuncratkan spermanya berkali kali ke dalam rahim istrinya.
Mereka berpelukan sangat erat menikmati orgasme masing2 sambil terpejam, kemudian terdiam
Beberapa kali tubuh mereka masih menggelinjang kecil menikmati sisa2 orgasme
” ehh.. ehh.. uuuhh.. fiuhh ” Hanya nafas mereka berdua yg kini terdengar
Sementara itu Dita masih lelap dalam tidurnya yg sexy.
Ups… tapi ngomong2 kemana si Leo ?????
Ternyata Leo menyaksikan semua adegan tsb dari lubang angin di kamarnya sambil merekam menggunakan Handy cam……
Hari ini adalah ulangan pelajaran Matematika. Bahkan sebelum ulangan dimulai suasana udah tegang banget karena pak Doky selain galak juga selalu mengawasi saat ulangan dgn ketat. Meski pelajaran belum dimulai, semua murid sudah duduk di kelas mempersiapkan diri
” Duh.. aku deg2an nih Dit ” kata Putri
” Hmmm.. kalo aku sih santai ajah, liat nih ” kata Dita mengangkat roknya
” waduh… ” Putri kaget karena paha Dita yg putih mulus penuh dgn contekan
” hihihi.. aku juga ” kata Ester menyingkap roknya, phanya yg putih muluspun penuh dgn rumus2 matematika utk contekan
” Yah.. gimana dong, rok aku kan panjang ” kata Putri
” Udah gini aja, kamu duduk aja di belakang. aku ama Dita biar duduk di depan mengalihkan perhatian pak Doky biar kamu leluasa buka buku ” kata Ester memberi solusi
” maksudnya mengalihkan perhatian???? ” Dita bingung dgn kata2 Ester
” Maksutnya kita alihkan perhatian pak Doky dgn ini ” kata Ester sambil menyingkap rok Dita
” ouw.. hihiiiii, ntar dia kejedot meja lagi ” mereka cekikikan bersama ingat kejadian waktu pak doky ngintip Dita
Lalu Dita dan Ester minta tukeran tempat dgn temannya yg duduk tepat di depan meja guru.
“Selamat pagi anak2 ” pak Doky memasuki kelas
” pagi paaak ” jawab murid serempak, kemudian suasana hening menegangkan
” Sekarang simpan semua buku dan catatan kalian, yg ada di meja hanya alat tulis dan kertas jawaban ” kata pak Doky sambil membagikan soal ulangan
Suasana begitu hening karena semua murid konsentrasi mengerjakan soal yg diberikan pak Doky
Pak Doky sejenak keliling utk mengawasi lalu duduk kembali di kursinya
Kaki Ester dan Dita berpijak pada pijakan meja sehingga paha mereka agak meninggi membuat ujung roknya tersingkap sampai paha atas
Sekilas Dita melirik pak Doky, nampak mata guru tsb sedang mencuri curi pandang pada paha mereka di bawah meja
” cleguks.. ” Pak Doky menelan ludah melihat dua pasang paha putih mulus terbuka cukup lebar tepat di hadapannya.
Selain agar bisa terlihat pak Doky, Ester dan Dita menarik roknya sampai atas agar bisa melihat contekan yg mereka buat di paha mereka bagian atas. Sedangkan pak doky menikmati kemulusan paha mereka bagian dalam dan samping
Tampalnya strategi mereka cukup berhasil. Pandangan pak Doky lebih banyak ke bawah meja daripada mengawasi murid2. Kesempatan tsb digunakan oleh Putri utk membuka contekannya pada selembar kertas kecil
Dita dan Ester kadang sengaja menggerakkan pahanya membuka dan menutup pelan2 secara beraturan sehingga celana dalam mereka sesaat kelihatan sesaat kemudian terhimpit lagi oleh paha mulus mereka
Sambil konsentrasi mengerjakan dan melihat contekan, sesekali Ester dan Dita melirik pak Doky. nampak nafas pak Doky sedikit terengah engah. Dita dan Ester saling lirik dan tersenyum
” Huuufftt….. ” Pak Doky menarik nafas panjang lalu berdiri dari kursi dan berkeliling kelas utk mengawasi muridnya per meja. Dgn gerakan pelan Putri menyembunyikan contekannya di saku
” Ester, kita kasih pertunjukan yg lebih hot biar dia betah duduk ” bisik Dita
” maksutnya ?? ” bisik Ester
” Liat aja nanti ” bisik Dita
Setelah berkeliling sejenak pak Doky duduk kembali di kursinya. Pandangan matanya kembali tertuju ke bawah meja ke arah paha Dita dan Ester yg kembali terbuka setelah tadi sempat di tutup rapat ketika pak Doky berkeliling
Sekilas ada ekspresi sedikit kaget dari wajah pak Doky karena Ester membuka pahanya lebar sehingga celana dalam putihnya terlihat dgn jelas. Namun yg membuat pak Doky lebih kaget adalah tangan kiri Dita berada di paha bagian dalam Ester sambil jarinya membuat gerakan sedikit mengelus
Rupanya inilah yg dimaksud Dita dgn pertunjukan yg lebih hot
Ester nampak serius mengerjakan soal, namun sebenarnya dia tdk konsentrasi karena jari2 Dita yg mengelusi paha bagian dalamnya membuat geli sampai dia merinding
Sedangkan Dita melakukan tindakan tsb juga sambil serius mengerjakan soal, sehingga pak Doky mengira tindakan tsb bukan kesengajaan
Nafas pak Doky semakin ngos ngosan dan kelihatan duduknya gelisah, sesekali dia menggeser sedikit kursinya sesekali membetulkan letak duduknya.
Karena sangat kegelian dgn gerakan jari2 Dita di pahanya, Ester merapatkan pahanya membuat tangan Dita terjepit diantara paha mulus yg roknya tersingkap cukup tinngi tersebut
Meski terhimpit namun jari2 Dita teteap melakukan gerakan mengelus kecil sehingga Ester membuka dan menutup pahanya berkali kali
Tindakan mereka semakin membuat pak Doky terengah engah. Matanya tajam melihat ke bawah meja. Sedangkan Dita dan Ester masih pura2 konsentrasi mengerjakan soal padahal mereka sudah selesai karena contekan di paha mereka sesuai dgn soal yg keluar
Putri juga sudah selesai mengerjakan soal, dia tersenyum kecil melihat pak Doky yg ngos2an sambil menatap tajam ke bawah meja Ester dan Dita
” horny, horny dah lu ” pikir Putri
Karena saking gelinya, Ester menopangkan kedua pahanya membuat tangan Dita bener2 terhimpit. Dita tahu Ester sudah kegelian maka dia menarik tangannya dari paha Ester
” hhmmm huuuft..” pak Doky sedikit menarik nafas panjang dan meregangkan lehernya ke kanan dan ke kiri agar rileks
Namun belum sempat rileks dia dikejutkan lagi oleh pemandangan di depannya
Setelah menarik tangannya dari paha Ester, kini Dita membuka pahanya sendiri lebar dan tangannya mengelus elus pahanya sendiri.
Pak Doky sekilas melihat ke arah Dita dia nampak masih mengerjakan soal. Berarti tindakan Dita tidak disengaja pikir pak Doky
Paha Dita terbuka semakin lebar sedangkan tangannya semakin intens mengelus pahanya sendiri dan sesekali jari2nya membetulkan letak CD nya. Dia melakukan itu sambil terus pura2 mengerjakan soal ulangan
Nafas pak Doky sudah tidak beraturan lagi, birahinya benar2 sudah diubun ubun dan duduknya semakin gelisah
Putri dan Ester melirik pak Doky sambil tersenyum
” Teeett.. Teeet .. Gubrak” Bunyi bel tanda jam pelajaran matematika berakhir mengagetkan pak Doky yg sedang menatap tajam ke arah paha Dita. Saking kagetnya pak Doky terhenyak dari kursi dan hampir jatuh namun dia sempat berpegangan pada meja
” udah..udah.. ayoo semua kumpulkan ” kata pak Doky menutupi kegugupannya
Sebelum keluar kelas Dita, Ester dan Putri saling pandang dan tersenyum
” Sukses ” kata mereka bersamaan…………….
Hari minggu Putri, Ester dan Dita menghabiskan waktunya dgn berenang di kolam renang milik Ester. Keluarga Ester yg tergolong kaya raya memiliki kolam renang pribadi di rumahnya. Minggu itu mama dan papa Ester pergi ke singapura utk keperluan bisnis. Mereka asyik bercanda di kolam renang yg tidak begitu dalam hanya sebatas perut
” awas gue terjuuun ” teriak Dita lalu meloncat ke dalam kolam renang .. byuuurr..
” ih.. Ditaaa ” teriak Putri karena mukanya terciprat air banyak sekali
” hihiiiii .. ” Dita cuma cekikikan sambil memnyeka air dari wajahnya
” eh.. Dit itu kok ada merah2 di toketmu ” kata Ester menunjuk payudara Dita yg terbuka bagian atasnya. Dita memakai pakaian renang yg cukup sexy sehingga sebagian besar payudaranya yg putih tidak tertutupi
” Ups… hihiiii ” Dita reflek menutupi payudaranya sambil tersenyum nakal
” hayoooo.. ulah sapa tuh, liat dong Dit ” Kta Putri menarik tangan Dita
“ ih.. ada dua ” kata Ester
” hihihiiii.. kalo aku ceritain jgn pada pengen yah ” kata Dita genit
” huuuu… ” cibir Putri dan Ester berbarengan sambil meremas payudara Dita
” aooww.. uh kok malah di cubit sih ” Dita cemberut
” abis kamu nggemesiiin, bikin penasaran ” kata Ester memeluk Dita
” ayo dong ceritaiinn ” rajuk Putri ikut memeluk Dita juga
” mmm.. ini bekas gigitan Thomas tadi malem ” Kata Dita sambil membusungkan dadanya dan menunjuk ke arah bekas merah di payudara bagian atas
” wow.. kalian lakukan dimana?? ” tanya Ester penasaran
” di teras rumah gue ” kata Dita
” apa?? emang gak ketahuan mama papa mu?? ” tanya Putri penasaran
” ya nyuri2 kesempatan lah, lagian kan aku dah persiapan gak pake BH ” kata Dita
” gila kalian.. kalo sampai ada yg liat mampus lu ” kata Ester
” nggak mungkin, kami ahli getu loh hihihihi ” kata Dita sambil tersenyum nakal
” Trus ngapain aja kalian ” Putri semakin penasaran
” ya gitu deh.. kalo pas lagi sepi aku angkat kaos aku, trus aku sodorin ke bibir Thomas dan sensasinya uuuuuhhhh…. ” kata Dita sambil menggeliat terpejam membayangkan waktu Thomas mencium payudaranya
” eemmm.. pengeeeeeenn ” kata Ester sambil meremas payudara Dita
” rasanya nikmaaaaat banget ” kata Dita sambil memeluk Ester dan Putri di kanan dan kiri
” emang gak sakit digigit sampai merah gitu ” Putri masih penasaran
” ya enggak lah sayaaang, kan gigitnya mesra.. uuhh ” kata Dita sambil mendekap kepala Putri agar menekan payudaranya
” Apalagi waktu Thomas gigit yg ini ” lanjut Dita sambil menarik BH renangnya keatas sehingga putingnya yg sebelah kiri terbuka
” wow.. puting Dita udah menegang hihhihi..i” kata Ester mencubit puting Dita
” auww.. uhhh.. gini Thomas kalo meremas ” kata Dita menuntun tangan Ester ke arah payudaranya
” pertama pelan2 lalu di remass aaahhh ” lanjut Dita menuntun tangan Ester mengelus dan meremas payudaranya
Ester dgn gemas meremas payudara Dita dgn kencang
” uuuuuuuuhhh.. ” Dita menggeliat dan terpejam merasakan remasan pada payudaranya
” Yg sini buka juga ya Dit ” kata Putri langsung menarik BH Dita yg sebelah kanan lalu memilin putingnya
Dita memeluk Ester dan Putri sambil terpejam dan membusungkan dadanya meresapi elusan ke dua temannya
Ester dan Putri juga ikut horny melihat tingkah Dita
” cium dong Puut “ desah Dita menundukkan kepala Putri ke arah payudaranya
” mmmm… ” Putri dgn perlahan menempelkan wajahnya ke payudara Dita merasakan kelembutannya lalu pelan2 dia mengulum puting susu Dita
Ester juga melakukan hal yg sama, dia menundukkan wajahnya ke arah payudara Dita dan menggigit lembut puting Dita yg menegang
” aaaaaahhh.. kalian bikin aku hornyyy ” desah Dita menengadahkan kepalanya dan semakin erat memeluk kedua temannya tsb
Dita semakin diamuk birahi sehingga tangannya pun tidak mau tinggal diam. Tangannya meraih payudara Ester dan Putri yg sedang asyik menciumi payudaranya dari samping. Perlahan tangan Dita masuk melalui samping pakaian renang Ester dan Putri lalu meremas payudara mereka
” uuuhhh.. ” Ester dan Putri melenguh semakin horny
Remasan Dita semakin kuat seiring makin kuatnya sedotan Ester dan Putri pada putingnya
” aaaaacchh.. stop stop berhenti dulu.. uhh.. ” kata dita menghentikan aktivitas mereka
Ester dan Putri mengangkat wajahnya dari payudara Dita sambil menatap sayu. Wajah mereka bertiga bersemu merah karena birahi yg menggelora
” huuftt… ” Dita mengatur nafas sejenak lalu membuka BH renangnya dan melemparkan ke atas sambil tersenyum nakal memberi isyarat agar kedua temannya juga melakukan hal yg sama
Diringi senyum dan tatapan yg nakal Ester juga membuka BH renangnya dan melemparkannya lalu tangannya mengelusi payudaranya yg putih montok dgn puting kecil yg berwarna merah muda
Sementara Putri menurunkan baju renangnya bagian atas karena dia memakai baju renang yg terusan biasa. Payudara Putri yg tidak begitu besar dan putingnya yg baru tumbuh juga terpampang membusung
” uuuhh.. sini sayaaang ” Desah ita merengkuh kedua temannya ke dalam pelukannya di kanan dan kiri
” ee…mm ” Desah Ester dan Putri lalu mencium pipi Dita
Ester dan Putri menempelkan payudara mereka ke payudara Dita, lalu mereka menggesekkan puting masing2 ke puting Dita
” eehhh… ” desah mereka bertiga ketika puting mereka saling bergesekan
” mm.. Dit praktekin dong waktu sama Thomas ” bisik Ester
” iya Dit.. ” Bisik Putri juga sambil menciumi telinga Dita
” aacchh.. gue horny beneraaan ” desah Dita
Lalu Dita menurunkan tubuhnya kearah payudara Ester yg montok
” Aaaahh.. ” desah Ester ketika bibir dita mengulum putingnya. Beberapa saat Dita asyik mencium dan menggigit payudara Ester sampai meninggalkan bekas merah sedangkan kedua tangannya memeluk pinggang kedua temannya
Putri semakin horny melihat Dita yg asyik menciumi payudara Ester, ditambah lagi ekspresi kenikmatan Ester yg begitu sensual membuat Putri semakin gelisah dan tidak sabar
“mmm.. gantian doong ” rengek Putri
Dita melepaskan kulumannya pada puting Ester dan sejenak memandang wajah Putri yg sayu teramuk birahi. Lalu dita beralih ke payudara Putri, perlahan di resapinya kelembutan payudara Putri
” AAAahhhhh… ” Putri mendesah panjang ketika lidah Dita mempermainkan putingnya
Ester tersenyum gemas melihat ekspresi Putri yg begitu menikmati lidah Dita di putingnya, sambil tangannya memilin putingnya sendiri tangan satunya membelai rambut Dita
” auuww aahh.. ” Putri semakin mendesah ketika ita menggigit payudaranya meninggalkan bekas merah yg begitu kontras dgn payudaranya yg putih bersih
” huuuftt.. aahhh ” Dita menghentikan aksinya dan mengatur nafas
Sejenak mereka bertiga berpandangan lalu saling tertawa dan berpelukan
” gimana rasanya ” tanya Dita pada dua temannya
” enaaakkk ” teriak Ester dan Putri bersamaan sambilo mencium Dita
” hihihiiii.. cupang di susu Ester ada dua ” kata Putri menunjuk tanda merah pada payudara Ester
” hihiiii.. kamu juga ada tuh satu ” Ester memperhatikan cupang merah di payudara Putri
Mereka kembali tertawa bersama dan bercanda saling mencipratkan air ke payudara temannya
” eh.. liat nih ” kata Dita sambil menunjukkan celana renangnya ke atas
” huaaaa.. Dita gila ” Putri dan Ester tertawa bersama
” Awas.. ” kata Dita sambil melemparkan celana renangnya ke arah Ester dan tepat mengenai muka Ester
” iiiiiihhhhh Ditaa, awas ya… ” teriak Ester berenang mengejar Dita yg telanjang bulat
” ayo sini sayaaaang hihihiiii.. ” Dita berenang menjauhi kejaran Ester
” awas Ester ” teriak Putri juga melemparkan pakaian renangnya ke arah Ester
” aoowww.. kalian jahaaaaaaaaatt ” teriak Ester ganti mengejar Putri
Putri mau berenang menjauh namun keburu terpojok di sudut kolam renang
” ampuunn hahahhaha ” teriak Putri mendekam di pojok kolam dgn tubuh yg sudah bugil. Kulitnya yg putih bersih terpantul oleh air kolam yg jernih membuat Putri semakin sexy
” iiihh.. nakaaaall ” kata Ester mencubit pipi Putri
” aoooww.. ampuunnn, Dita toloong ” teriak Putri
Ternyata Dita sudah berada dibelakang Ester dan sambil tertawa tangannya menraik celana renang Ester ke bawah
” auuwww… yeee kalian main keroyok, nggak mauuu ” teriak Esster membetulkan lagi celananya
” Ayo dong Ester buka juga ” kata Dita
” iya.. nih liat sexy kan ” kata Putri sambil lenggak lenggokkan tubuhnya yg sebagian terendam air
” iya.. asyik nih ” kata Dita mendekati Putri sambil melanggok juga, lalu Dita memeluk Putri dari belakang mereka berdua tertawa
” oke siapa takut ” kata Ester lalu melepaskan celana renangnya dan melemparkan kearah Putri dan Dita.
” hahahhahaa… ” mereka bertiga tertawa bersama
Ester segera bergabung ikut memeluk Putri dari depan
Dita memegang payudara Putri dari belakang lalu di gesekkan ke payudara Ester
” aahhh.. ” Putri mendesah ketika Dita meremas payudaranya dan menggesekkan putingnya ke puting Ester
” uuhh.. ” Ester mendesah lalu memeluk erat Putri sehingga payudaranya menghimpit payudara putri
” uuh.. hhuuffttt.. auuww. aku gak bisa nafaaas ” teriak Putri meronta melepaskan diri
” hahahhahha… mereka tertawa bersama lalu saling kejar dan saling menyipratkan air
Setelah puas bermain main di air mereka naik ke atas dan membungkus tubuh mereka dgn handuk lalu berbaring di kursi panjang
” huufff .. capeknyaaa ” kata Dita merentangkan tangannya ke atas membuat handuk yg di pakainya lepas lipatannya sehingga payudaranya menyembul keluar
” kena.. ” dgn cepat Ester yg berbaring di kursi sebelah kanan mencubit payudara Dita
” aooww.. Esteeerrr ” Dita kaget lalu menubruk Ester yg berbaring di kursi sebelahnya
” nakal nakal nakaal ” Dita yg telanjang bulat karena handuknya sudah melorot berusaha melepas handuk Ester dan meremas payudaranya
” hahahaa.. ampuun ampuunnn.. ” Ester berusaha melindungi payudaranya dari serbuan tangan Dita, namun kitikan pada pinggannya membuatnya menyerah kegelian dan membiarkan Dita melepas handuknya
Kini Ester menyilangkan kedua tangannya menutupi payudaranya karena Dita sudah berhasil membuka handuk yg dipakainya
” sini aku bantuin ” Putri bergabung dan berusaha menyingkirkan tangan Ester dari payudaranya
” aaahhh.. aaooowww.. hihihiihh. aaooww ” Ester menggeliat kegelian karena Dita menggelitik pinggangnya sehingga akhirnya Ester membiarkan tangannya di tarik Putri ke atas
” Wooww ” Dita tersenyum mendekatkan wajahnya pada payudara Ester yg menggembung montok dgn puting merah muda kontras dgn kulitnya yg putih bersih, sementara Putri yg masih memakai handuk menahan tangan Ester ke atas
” aaaahhhh… ” Ester menggeliat manja ketika bibir Dita yg basah mengemut putingnya sedangkan tangan satunya meremas payudaranya yg kanan
Putri memperhatikan sambil menggigit bibir bawahnya
Dita semakin liar menciumi payudara Ester bergantian dan tangannya mengelus paha Ester.
” AAAcchhhh.. ” Ester mendesah panjang dan mendongakkan kepalanya ketika jari2 Dita mengelusi vaginanya yg menggembung dan di tumbuhi bulu2 yg masih halus dan tertata rapi
Melihat Ester tidak berontak, Putri melepaskan pegangannya pada tanga Ester lalu dia jongkok dan mencium bibir Ester
” eeemmm … ” Ester semakin mendesah dan tangannya meraih kepala Putri dan membelainya sambil berciuman
Melihat Putri berciuman dgn Ester, nafsu Dita semakin menggelegak dan semakin kuat menyedot puting Ester. Tangan Dita semakin leluasa mengelus dan mencubiti vagina Ester yg semakin basah dan licin karena Ester melebarkan kedua pahanya dan menekuk salah satu kakinya
Putri membuka lipatan handuknya sehingga handuk tersebut melorot menampakkan payudara Putri yg putih bersih. Dgn perlahan Putri menyodorkan payudaranya ke bibir Ester yg menganga menikmati cumbuan Dita di payudara dan vaginanya
” Aaaacchhh.. ” desah Putri ketika Ester langsung menyedot putingnya dgn kuat, di belainya rambut Ester yg semakin menggelinjang
Dita semakin mempercepat gesekan jari2nya di vagina dan kelentit Ester membuat Ester semakin kelojotan dan menggelinjang, sementara bibirnya menyedot puting Ester semakin kuat
” AAaacchhhh…. aaaaaaaaaahhh ” Ester mendesah panjang menyambut gelora birahi yg meledak, pinggulnya bergerak liar menyambut gesekan jari Dita di vaginanya. Dan ketika gelombang tersebut melanda dgn dahsyat, Ester memeluk erat tubuh Putri dan menyedot puting Putri dgn kuat sehingga Putri meringis kesakitan
” aaaahhh.. aahhh.. hhuuuffttt.. ” Nafas Ester tersengal sengal menikmati orgasme yg begitu hebat
Sesaat Dita dan Putri menghentikan aktivitasnya di tubuh Ester. Mereka membiarkan Ester menikmati orgasmenya. Mereka hanya mmbelai dan mengelus pelan memberi ketenangan pada Ester
Dita dan Putri saling pandang penuh nafsu, tatapan mereka berdua sayu.
Setelah Ester tenang Dita mendekati Putri dan Putri merentangkan tangannya sambil tersenyum genit menyambut Dita
Mereka berpelukan dan saling berciuman dgn lembut dan penuh kasih sayang
Tangan mereka saling membelai dan mengelus, dan payudara mereka saling menghimpit menciptakan kenikmatan dan kegelian yg membangkitkan gairah
” aaahhh.. ” Desah Putri ketika tangan Dita meremas bokongnya yg montok.
Dita mendorong Putri agar rebah di kursi panjang, lalu Dita menaiki tubuh Putri dan menyodorkan payudaranya ke bibir Putri
“AAAacchh ” desah Dita semakin menekan payudaranya ke mulut Putri
Sambil mencium dan menyedot payudara Dita, tangan Putri meremas bokong Dita yg Putih montok
Sementara Ester berbaring telungkup sambil melihat kedua temannya bercinta
” Aaahhhhh… ” Dita mendesah semakin keras ketika tangan Putri yg meremas bokongnya menyelinap diantara pantat dan mengelus vaginanya yg basah kuyup
Nafsu Dita sudah menggelora, dgn bernafsu di peluknya tubuh Putri dgn erat dan menggesekkan payudaranya ke payudara Putri
Dita menggesekkan vaginanya yg basah dan licin di paha Putri
Putri menyambut vagina Dita dgn menekuk kakinya sehingga vagina Dita menempel dgn kuat di pahanya yg putih mulus
Bulu2 halus di paha putih Putri begitu terasa di vagina Dita yg sensitif
” uuuhhh… ” Dita semakin erat memeluk Putri dan semakin kuat dan cepat menggesekkan vaginanya di paha Putri
Putri meremasi rambut Dita dan mengelus punggung dgn sangat bernafsu karena vaginanya juga tergesek oleh paha Dita yg satunya
Putri mengangkat ngangkat pinggulnya agar vaginanya bergesekan dgn paha Dita
” AAaaahhh.. aaaaaahh..aaahhhh.. ” Desah mereka berbarengan ketika gelombang orgasme pelan namunh pasti datang dan melanda kedua abg putri tsb dgn hebat
Tubuh mereka terguncang guncang dan menggeliat hebat serta selangkangan mereka saling menghimpit kuat menyongsong gelombang orgasme yg melanda
” aahh.. hhuufftt.. huuffttt.. ” masih tetap berpelukan nafas mereka terengah engah menikmati orgasme yg begitu nikmat
Sesaat kemudian suasama sepi, hanya nafas mereka yg terdengar kadang tersengal menikmati sisa2 orgasme
Ester mendekati mereka lalu ikut rebahan di kursi panjang yg besar tsb.
Mereka bertiga saling tersenyum…………..
Leo sedang asyik di kamarnya memutar rekaman2 yg ada di laptopnya. Rekaman2 tsb adalah kumpulan dari semua rekaman yg selama ini dia shoot menggunakan handycamnya. Mulai rekaman saat kakaknya Dita bercanda dgn kedua temannya yg menampakkan celana dalam mereka, sampai rekaman saat Putri dan Dita berciuman di ruang tamu.
Wajah Leo nampak serius memperhatikan tiap adegan. Saat dia menonton adegan kakaknya bercanda dgn Ester dan Putri yg memperlihatkan kemulusan paha dan celana dalam mereka bertiga, Leo berkali kali mengklik tombol pause pada GOM player. Terutama moment saat rok Putri tersingkap memperlihatkan celana dalam putihnya buru2 dia pause. Cukup lama dia memandangi adegan yg dia pause tsb karena sangat jarang rok Putri tersingkap sampai memperlihatkan celana dalamnya sebab Putri memakai jilbab dan rok panjang. Gejolak birahi anak kelas 2 SLTP tersebut semakin menggelora, nafasnya semakin terengah engah
” Ting tong ” suara bel rumah mengagetkan Leo
” huh.. ganggu aja ” gerutu Leo buru2 keluar kamar dan membukakan pintu. Siang itu Leo sedang di rumah sendirian. Papa dan mamanya sedang ke dokter memeriksakan Dita yg sedang batuk. Hari itu Dita tdk masuk sekolah
” Dita ada dek “ Tanya si tamu yg ternyata Putri
” Eh.. kak Putri, mmm.. anu kak..mmmm.. sedang ke dokter ” betapa kaget Leo setelah tahu siapa yg datang. Lidahnya serasa kelu jantungnya berdegup kencang samapai dia salah tingkah. Putri yg barusan dia khayalkan sekarang ada di depannya nampak begitu cantik dgn seragam sekolah panjang dan berjilbab.
” oh.. tadi aku telpon gak diangkat ” sambung Putri
” mm.. HPnya ditinggal kak, mmm.. sssilakan masuk dulu kak ” kata Leo masih gugup
” sudah dari tadi apa barusan dek ” tanya Putri sambil duduk di ruang tamu
” b..bbarusan kak, sekitar setengah jam yang lalu. B..bentar ya kak, Leo buatkan minum ” jawab Leo salah tingkah
Putri tersenyum melihat tingkah Leo, dia tahu Leo salah tingkah. Putripun tahu kalo selama ini tiap kali dia dan Ester main ke rumah Dita, Leo sering mencuri pandang ke arah paha Ester maupun ke arah dirinya
Putri berniat iseng menggoda Leo
” ini kak di minum dulu ” kata Leo menyuguhkan sirup dingin
” makasih ya dek Leoo, duh cakep banget ” kata Putri tersenyum sambil minum.
Wajah Leo memerah mendengar pujian Putri
” Eh.. kata Dita kamu sering nonton film dewasa yah.. hayooo ” goda Putri
” hah.. mm.. eeenggak kok, dasar kak Dita suka boong ” wajah Leo semakin memerah
” hihihiiii… yg bohong Dita apa kamu, kalo boong ntar bintitan lho?? ” Putri melirik dgn genit
” hahahhaa.. bintitan tuh kalo ngintip kak, bukan karena boong ” Leo mulai rileks tidak gugup lg
” sama aja.. apalagi kalo boong ditambah suka ngintip, benjol tuh mata hihihii.. ” canda Putri diiringi tawa mereka berdua.
” Tapi kalo ada kak Ester kakak sering liat kamu ngintip pahanya kan?? ” goda Putri lagi
” abis kak Ester kalo pakai rok pendek banget, nggak usah ngintip juga keliatan CDnya.. ups.. “ Leo agak kaget karena kelepasan ngomong
” Nah kan kamu sendiri yg bilang, padahal aku nggak bilang CDnya lhoo hayoooo hihihiiiii ” Putri tersenyum genit
” Mmm.. eee.. kak Putri sih yg mancing mancing ” Leo nampak salah tingkah
” aduh… ” jerit Putri ketika lututnya membentur meja ketika tertawa
” eh.. kenapa kak ” tanya Leo mendekati Putri yg sedang meringis memegangi lututnya
” duh.. lutut kakak tadi tuh dah kebentur meja di sekolah, eh sekarang kebentur lagi ” kata Putri sambil menaikkan rok panjangnya sampai sedikit di atas lutut dan pura2 mengusap usap lututnya
Meskipun cuma sedikit diatas lutut namun pemandangan itu membuat Leo yg ada di samping Putri menelan ludah karena kaki Putri begitu indah, putih dan mulus di hiasi bulu2 halus
” nn..ggak pa pa kak? ” tanya Leo
” nggak pa pa gimana? coba pegang ” sungut Putri sambil memegang tangan Leo dan diusap usapkan ke lututnya
” memar kan ??? ” sambung Putri
” mm..ii.. iya kak ” jantung Leo berdegup merasakan kemulusan kulit Putri
” bentar Leo.. kamu duduk bawah dulu, kakak mau selonjor.. aduhh.. ” Dgn pura2 meringis kesakitan Putri menaikkan kaki kanannya ke kursi panjang yg dia duduki utk selonjor.
Gerakan kaki kanan Putri sengaja agak pelan dan agak tinggi sehingga roknya yg tadi dia angkat sampai lutut semakin tersingkap menampakkan pahanya yg putih
” Cleguks… ” Leo yg duduk di bawah terkesiap melihat pemandangan tsb, jantungnya seakan berhenti berdetak
Kini kaki kanan Putri selonjor di kursi sedangkan yg kiri tetap di bawah dan rok panjangnya dibiarkan terangkat menampakkan paha mulusnya
” Leo ambilin balsem ya kak ” Kata Leo mencoba menutupi kegugupannya
” nggak usah Leo.. bantuin mijit pelan aja .. aduh.. ” Putri masih pura2 meringis
” ii.ii..iya kak ” kata Leo lalu mulai mengusap lutut Putri
Sambil merasakan kemulusan kulit Putri, mata Leo sekali kali mencuri pandang ke paha mulus Putri yg terbuka
Putri tahu kalo Leo mencuri curi pandang ke arah pahanya, dia tersenyum godaannya berhasil.
” euuhh.. ” Putri sedikit melenguh, bukan karena sakit tapi karena tiba2 merasakan tubuhnya merinding karena horny, dia merasa vaginanya mulai berdenyut kecil
Gairah abg Putri bangkit selain karena elusan tangan Leo dan tatapan mata Leo pada pahanya, juga karena tingkahnya sendiri yg membuatnya merasa sexy. Itu yg mendorong Putri untuk memberikan pemandangan yg lebih jauh pada Leo
” masih sakit kak?? ” tanya Leo
” euuhhh.. iyah ” Putri menggeliat sambil menaikkan kaki kirinya juga ke atas kursi namun tidak selonjor tapi menekuk ke atas membuat rok panjangnya kini bener2 tersingkap ke atas menampakkan paha putih mulusnya juga celana dalam putihnya nampak mengintip di antara lipatan pangkal pahanya
” heessttt.. heemmfftt.. ” nafas Leo terengah engah, tangannya yg memijit lutut Putri gemetar
” Leooo.. ” desah Putri memegang tangan Leo dan menuntunnya utk mengelus pahanya. Gelora nafsu ABGnya semakin bergejolak
” kak…?? ” Tatapan mata Leo begitu kaget
” Kakak tahu kamu sering mengintip paha kakak kan?? ” kata Putri lirih dgn tatapan mata sayu.
Ekspresi Putri membuat wajahnya yg dihiasi jilbab tampak begitu sexy membuat Leo terkesima dan melongo gemetar
” kamu juga sering mengintip paha kak Dita sama kak Ester kan ?? ” Kata Putri sambil terus menuntun tangan Leo mengelusi pahanya semakin naik. Tubuh Putri merinding sehingga bulu2 halus di kakinya juga berfiri membuatnya semakin sexy
” hhmmffftt.. mmm kak Putrii… ” Leo terengah engah dan tidak bisa melanjutkan kata2nya. Gadis yg selama ini menjadi bahan onaninya kini ada di depannya dgn pose sangat sexy dan menggoda
” euuuhhh… ” desah Putri sambil membawa tangan Leo menjelajah pahanya lebih jauh dan lebih dalam sampai menyentuh pinggiran celana dalamnya
” kak Putri cantik banget ” kata Leo menatap wajah cantik Putri
” Leooo ..” Hanya itu yg terucap dari Putri lalu menggeliat dan melebarkan pahanya karena tangan Leo kini sudah tidak perlu dituntun lagi sudah bergerak agresif mengelus seluruh paha Putri. Dari lutut lalu naik sampai pangkal paha, dari paha atas sampai paha sebelah dalam, baik paha kiri maupun paha yg kanan.
” Aaaaahhhh…. ” Putri mendesah dan mendongakkan kepalanya ke atas sambil menyandarkan tubuhnya pada pegangan sofa ketika jari Leo menyelinap dari samping celana dalamnya dan langsung menyentuh vaginanya yg berlendir licin
” euummhhffftt.. aaahh.. ” Putri semakin menggeliat ketika jari2 Leo menggesek gesek kelentitnya yg menegang licin
Leo melakukan aksinya dgn nafas terengah engah dan tatapan mata sangat serius ke arah selangkangan Putri, jantungnya berdetak sangat kencang dan cepat.
” oouuuchh.. Leooo ” birahi Putri sudah tidak terkendali, diraihnya tubuh Leo dan di tariknya ke atas tubuhnya
” eehh.. ” Leo hanya menurut dan nafsunya juga sudah di ubun2 sehingga dia langsung menubruk Putri
Putri memeluk Putri dgn sangat erat, dan melumati bibir Leo dgn ganasnya.
“heemmfftt.. ” Leo hanya membiarkan bibirnya dilumat Putri karena dia belum ahli berciuman. Dia hanya memeluk Putri dgn erat dan mendesakkan penisnya yg masih memakai celana kolor pendek ke selangkangan Putri yg masih tertutup celana dalam sehingga selangkangan mereka saling terhimpit kuat
Meski masih terhalang celana masing2 namun tonjolan penis Leo yg cukup besar terasa mengganjal di vagina Putri membuat Putri semakin liar menaik naikkan pinggulnya agar vaginanya bisa merasakan ganjalan penis Leo
” aaaaaaaaaahhhhhhh……. ” Putri mendesah panjang merasakan vaginanya terganjal kuat oleh penis Leo. Grakan pinggulnya ke atas ke bawah, naik turun semakin cepat.
Kedua kaki Putri terangkat menyilang menekan pinggul Leo ke bawah dgn kuat dan dia menaikkan pinggulnya sendiri menyodorkan vaginanya agar terhimpit kuat dgn penis Leo yg masih tertutup celana kolor
“AArrrrgghh.. ” Leo juga menggeram merasakan penisnya terhimpit kuat dgn selangkangan Putri yg empuk.
Leo menggerakkan pinggulnya dgn liar berusaha menempatkan penisnya tepat pada vagina Putri yg montok. Dia menciumi pipi Putri dgn ganas sehingga jilbab Putri semakin acak2an
” AAhhhh.. aaaaaaaaaahhhh… aahh. ” Desahan Putri semakin panjang dan keras merasakan vaginanya semakin berdenyut, tubuhnya merinding semua dan bergetar, gerakan pinggulnya semakin liar meyongsong orgasme yg begitu dahsyat melanda jiwa raganya
“AAAAaaaaaarrgggghhhhhh… ” Leo menggeram dan menekan pinggulnya dgn kuat ketika spermanya meledak menyembur dgn deras
“Huuffttt.. huufttt.. ” nafas mereka terengah engah dan tersengal sengal, pelukan mereka erat, tubuh mereka menegang menikmati orgasme yg menggelora……..
Beberapa saat kemudia setelah semua kembali normal, mereka merapikan pakaian masing2 dan membersihkan sisa2 keringat dan sperma yg membasahi tubuh mereka.
Tepat pukul 3 sore Dita dan papa mamanya pulang dari dokter
Apakah Leo merekam adegan tersebut dgn handycamnya?????? nggak sempat…!!!!!
Hari itu sekolah di pulangkan lebih awal karena para guru dan pengurus OSIS mengadakan rapat dengan pejabat dari dinas pendidikan. Dita, Ester dan Putri berjalan bareng menuju gerbang
” Eh.. masih pagi nih.. kita jalan2 yuk ” ajak Dita
” iya nih baru jam 10 ngapain di rumah? ” Ester menimpali
” Putri ngikut, tapi jalan2 kemana? ” tanya Putri
” Gimana kalo kita ke pantai ?? ” usul Dita
” ayoooo… ” sambut Ester dan Putri gembira
” kita pake mobil Thomas, dia kan di sini mungkin sampai sore ikut rapat ” kata Dita. Thomas menjabat sebagai bendahara OSIS karena dia termasuk anak orang kaya
Dita mencari Thomas yg masih di dalam kelas menyelasaikan laporan keuangan bersama anggota OSIS yg laen. Setelah berbicara sebentar utk pinjam mobil, Dita dengan tersenyum senang segera pergi menghampiri teman2nya lalu segera meluncur ke arah pantai.
Ester yg sudah terbiasa membawa mobil dipercaya memegang setir dgn Dita duduk di jok depan sedangkan Putri di belakang
” Horeee kita ke pantaiiiii ” teriak Putri senang
” iyah.. udaranya pasti segaaaarrr aaahhhhhhh.. “ Dita merentangkan kedua tangannya ke atas membayangkan suasana pantai yg sejuk.
Tiba2 Putri mencubit payudara Dita yg menonjol karena tangannya merentang ke atas
” Aooww.. Putrii nakaaall ” teriak Dita kaget
” hihihiiiiii… makin besar aja susu Dita ” cekikik Putri
” yeeee.. kalian tuh yg suka banget netek susu aku ” cemberut Dita sambil memegang payudaranya
” Kita??? Thomas kaleeee hihiihihih ” goda Ester
” berarti yg tanggung jawab tuh kita, Thomas ama Dita sendiri dong ” kata Putri
” Lha.. kok aku juga ” tanya Dita bingung
” kamu bilang kalo lagi horny sering kamu remas2 sendiri ” kata Putri tersenyum
” yeee.. Putriiii itu rahasiaaaaaa ” teriak Dita sambil melompat ke jok belakang memburu Putri
” hahahhahaa… rahasia umum kaleee ” Putri tertawa sambil melindungi susunya dgn kedua tangannya karena Dita berusaha mencubitnya
” ayooo sini susunya, balas dendam hihihiihih ” Dita menggelitik pinggang Putri sambil berusaha meremas susu Putri
” hahaa.. aooww.. aoww.. ampuun ” Putri menggelinjang gelinjang kegelian sampai jilbabnya tersibak dan pakaiannya kusut semua
” kenaaa… gemeeesss iiiihhhhh” akhirnya Dita berhasil memegang kedua payudara Putri lalu meremasnya pelan
” aaahhh.. jangan kenceng2 Dit hihihihi… geliiii ” Putri masih meronta dan tertawa kegelian karena Dita menggoyang goyangkan kedua payudaranya
” hei.. hei.. hei… mobilnya goyang2 nih ” teriak Ester
” iya nih Putri meronta terus ” kata Dita terus menggoyangkan susu Putri
” hiihihihiii.. aooww Ditaaa udaah udah udaah.. aku kebelet pipis niiih ” teriak Putri terengah engah. Dita menghentikan aksinya lalu duduk di sebelah Putri dgn tersenyum penuh kemenangan
” Ester.. mampir POM bensin dong, aku kebelet pipis niih ” kata Putri menahan pipis
” Jalan Tol mana ada POM bensin dodoool ” kata Ester
” Uuuhh.. udah nggak tahan niiihh ” Putri semakin meringis
” hihihiiiiiiiii… ” Dita cekikikan melihat ekspresi Putri menahan pipis
” Tawa lu… aduuhh, Esteer berhenti di depan tuh sepi bener2 nggak tahan nih ” kata Putri
Ester menepikan mobil di tempat yg sepi
” dah pipis di samping mobil tuh mumpung sepi ” kata Ester
” Dit.. temenin dong, awasi kalo ada orang ” kata Putri
” iya .. iya.. tapi celana dalemnya di buka dulu aja biar mudah tinggal jongkok ” kata Dita
Putri menuruti saran Dita segera tangannya mengangkat rok panjangnya dan menarik turun celana dalamnya yg berwarna putih. Lalu mereka berdua turun di sisi mobil sebelah kiri agar terhalang oleh bodi mobil. Namun Putri agak ragu2 karena takut ada yg lewat
” udaah buruan mumpung sepi ” kata Dita
” awasi ya Dit ” kata Putri mengangkat rok panjangnya lalu jongkok menhadap mobil
” eit.. kalo pipis nggak boleh menghadap timur, pamali ” kata Dita tersenyum sambil memegang pundak Putri menyuruhnya menghadap ke arah dirinya
” eehh.. iya iya aduuuhhh banyak aturan.. ” kata Putri menggeser posisi jongkoknya menghadap Dita
Karena tidak terbiasa pipis di tempat terbuka dan diliputi was2 kalo ada yg lihat, meskipun udah kebelet tapi pipisnya tidak keluar2. Apalagi sesekali ada mobil yg lewat
” Ditaa.. jangan di liatiiin nggak mau keluar niih.. awasiiii kalo ada orang ” kata Putri berusaha pipis
” iiiih.. cerewet bener nih anak, sini aku tutupi dari arah depan ” kata Dita lalu jongkok di depan Putri
Setelah beberapa saat.. seeeeerrrrrrrrr….. seerrr… akhirnya air kencingnya keluar juga dgn derasnya
Dita menggeser jongkoknya agak menjauh menghindari cipratan air pipis Putri sambil terus menatap vagina Putri yg merekah mengeluarkan air kencing
Setelah selesai Putri merogoh saku bajunya mencari tissu
” kamu bawa tisu nggak Dit ” tanya Putri
” sini aku yg bersihin ” Dita mengeluarkan tissu dari sakunya lalu tangannya menjulur ke arah selangkangan Putri utk membersihkan vagina Putri
” iihhh.. Ditaaa.. jgn di gesek kelentitnyaa ” bisik Putri meringis kegelian memundurkan pantatnya karena Dita iseng menggesekkan tissu ke kelentitnya
” hihiiiii… udah bersih, ayo berangkat ” Dita beranjak berdiri dan masuk ke mobil di ikuti Putri
Lalu ester segera menjalankan mobil lagi menuju pantai
” ehh.. aku taruh di mana tadi celana dalamku ” Putri clingukan mencari celana dalamnya
” iniii… hihiihiii ” Ester mengangkat tangannya yg menenteng celana dalam Putri sambil menyetir
” yeee.. sini sini ” Putri berusaha merebut celana dalamnya dari tangan Ester, namun Ester mengelak dan menyembunyikannya
” Ester jangan kasih kan hahahhahaa ” Dita tertawa
” pake ntar aja napa, jadi ntar kalo kebelet lagi nggak usah membuka lagi.. hmmm harumnyaaa ” kata Ester sambil mencium celana dalam Putri dan mengirup aroma wanginya
” kalo aku sih santai aja nggak pake celana dalam, kalian berani nggak ??” tantang Putri
” kalo Dita berani aku juga berani huihihiiiii… ” kata Ester cekikikan
” siapa takut.. sekali kali biar vagina kita tertiup angin laut biar segaaar hihihhiii ” kata Dita tertawa genit
” ayoo buktikann… ” kata Putri
” Entar aja di pantai, bentar lagi sampai kok” kata Dita
Mobil memasuki areal pantai dan berhenti sejenak di pintu tiket masuk. Beberapa saat mobil berputar putar mencari tempat parkir lalu berhenti dan merekapun turun.
Suasana pantai cukup teduh karena banyak pohon cemara, dan agak sepi karena memang saat ini masih jam sekolah dan jam kerja. Hanya nampak beberapa orang yg berkunjung dan beberapa penjual makanan dan minuman
” hhhhmmmm… hoooaaaaa… segaaaaarrrrr “ mereka mengirup udara pantai dalam2 meresapi kesegarannya
” wow.. indah sekali ya.. ” kata Putri
” iya.. sepi lagi jadi suasananya tenang ” kata Ester sambil melangkah menuju air diikuti teman2nya
Mereka bertiga bersenda gurau menikmati air pantai sambil sesekali saling menyipratkan air, saling kejar dan saling tertawa lepas. Cukup lama mereka tertawa ceria di air.
Setelah puas main air dan matahari terasa panas mereka mencari tempat yg teduh dan sepi
” ayo kita foto2..” kata Dita mengeluarkan HP kameranya
” oke… ” sahut Putri dan Ester bersamaan lalu berpose dgn centilnya dan di foto Dita beberapa kali
” gantian dong ” kata Dita menyerahkan HPnya kepada Putri lalu dia berpose bersama Ester
” yg sexy dong posenya, gak ada orang aja kok ” kata Putri
” gini ??? ” kata Dita bersandar di pohon cemara sambil satu tangannya mengangkat ujung roknya agak ke atas sehingga pahanya yg putih kelihatan dan Ester memegang paha tersebut.
” cekreekk ” Putri mengambil gambar beberapa kali sambil tertawa
Beberapa kali Ester dan Dita berpose cukup menantang
” wow… yg ini sensual banget hihihi ” kata Putri menunjukkan foto yg barusan dijepret
Foto tsb posenya sangat sexy, Ester bersandar di pohon tangan yg satu terangkat ke belakang dan tangan satunya mengangkat samping roknya cukup tinggi sehingga celana dalamnya sedikit kelihatan, sedangkan Dita jongkok di sampingnya memeluk dan menempelkan pipinya pada paha Ester tsb. Posisi jongkok Dita juga sensual, satu lututnya menempel di tanah sehingga celana dalamnya kelihatan dan pahanya yg putih terekspos
” hihihiiiii… keren banget , sexy” kata Dita dan Ester
” sekarang gue yg ngambil gambar ” kata Ester meminta HP dari Putri
Dita dan Putri mulai berpose tidak kalah panas
Dita berdiri membelakangi kamera berpegangan pohon cemara sedangkan Dita di sampingnya mengangkat rok panjang Putri sampai bokongnya yg montok putih mengintip karena Putri tidak memakai celana dalam
” duh sekarang aku yg kebelet nih, ke toilet dulu yah ” kata Ester
” katanya cewek beranii… disini aja, kan tertutup pohon2 hihiihihih… ayo tadi kan udah jani” tantang Putri
” Emmm.. ” Ester ragu2
” yee.. berani nggak?? dasar penakut hihihiiii .. ” ejek Dita
” yeee.. abis aku ntar Dita yaa ?? ” Ester menantang balik
” okeee… hehhehehaa” sahut Dita di iringi tawa mereka bertiga
Ester sebentar menoleh ke sekeliling dan memang tidak ada yg melihat lalu dia melangkah ke arah semak yg rimbun diikuti Dita dan Putri
Tangan Ester masuk ke dalam rok menarik lepas celana dalamnya dan di kantongi, lalu dia jongkok menghadap semak2
” eit eit… hadap sini sayaaaang ” kata Dita memegang pundak Ester agar menggeser posisi jongkoknya agar menghadap mereka
” hah… kok di rekam sih ” ester kaget dan merapatkan kedua pahanya menyembunyikan vaginanya
” ntar kita rekam semuaaa.. utk dokumentasi hihihihiihihi ” kata Dita sambil jongkok di depan Ester dan mengarahkan kamera HP ke selangkangan Ester yg perlahan lahan mulai berani membuka menampakkan vaginanya yg menggembung menahan pipis.
Sedangkan Putri mengawasi keadaan sekeliling. Kadang2 memang di kejauhan tampak orang berjalan namun mereka tidak melihat ke arah mereka
Ester juga kesulitan utk pipis karena tidak terbiasa di tempat bebas
” emmm.. nggak mau keluar niiih ” kata ester sambil melihat ke arah vaginanya
” tuuhh.. dah keluar sedikit2 ” kata Dita sambil terus merekam
Beberapa saat kemudian… seeeerrrrr.. seerrrr… kencing Ester memancar dgn deras
” aoww… ” Dita beringsut ke belakang karena kakinya terciprat kencing Ester
” hihihiiii.. rasaiiin ” kata Ester mengeluarkan semua pipisnya
Setelah selesai Ester mengambil tisu di kantongnya lalu mengelap vaginanya. Sambil mengelap vaginanya wajah Ester sengaja membuat ekspresi merem melek keenakan membuat Dita dan Putri tertawa
” udah.. sekarang giliran Dita ” kata Ester berdiri merapikan roknya dan bermaksud memakai celana dalamnya kembali
” eiiittt.. janjinya kan nggak di pakai ” kata Putri mendekat
” tapiii…. ” belum sempat berkata kata Putri dgn cepat menyambar celana dalam tersebut dan mengantonginya. Ester hanya bisa cemberut diiringi tawa Putri da Dita
” Sekarang aku yg rekam Dita, Ester awasi sekeliling ya ” kata Putri meminta HP pada Ester
” Gue lebih berani dari kalian..!!! gue sambil nungging..!!! ” kata Dita sambil mulai menarik lepas celana dalamnya
” hah… hihihihiiiiiii.. yg bener?? dasar gila ” kata Ester kaget, begitu juga Putri
Setelah memastikan sekeliling aman dan posisinya terlindung semak2 , Dita berpegangan pada pohon membelakangi kamera dan mengangkat roknya sampai pinggang, lalu kakinya mengangkang lebar2 dan merendahkan pinggulnya nungging.
” cleguks…. ” Putri yg merekam menelan ludah karena kini vagina Dita yg montok berbulu halus menyembul di antara bokongnya yg putih sekel dekat sekali. Sebelum air pipisnya keluar Putri iseng mencolek vagina Dita
” aoww.. ih.. Putri, jgn di colek ntar nggak bisa pipis “ sewot Dita
Lalu Dita kembali nungging, vaginanya semakin menggembung montok karena pipisnya segera keluar, Putri terus merekam dgn penasaran dan agak menjauh takut terciprat
Beberapa saat kemudian.. seerrr ceerrr creettt seeeerrrr…. vagina Dita merekah mengeluarkan pipisnya dari sedikit2 lalu banyak. Meskipun kakinya sudah mengangkang lebar2 namun tdk urung air pipisnya menciprat juga ke kedua pahanya yg putih dan mengalir ke arah betisnya dan sampai ke bawah. Untung Dita sudah melepas sepatunya berganti sendal jepit Thomas yg ada di mobil
Setelah beberapa saat pipisnya berhenti menyisakan beberapa menetes dari vaginanya. Dita bermaksud mengelap vaginanya pake tisu
” sini aku bersihin, Ester jaga yah ” kata Putri menyimpan HP di sakunya, Ester cuma mengangguk
Lalu Putri jongkok di belakang Dita yg masih nungging lalu membersihkan vagina Dita dari air pipis.
” aahhhh.. ” Dita melenguh pelan ketika Putri iseng menggesek kelentitnya.
” iihh.. gemeess “ Putri mencubit vagina Dita yg menggembung
” auww.. ihhh.. dasar, cepetan di lap ” Dita kaget menoleh ke belakang
” hihihiiiii… abis vagina Dita montok banget, jadi gemeees ” kata Putri sambil menjepit bibir vagina Dita dgn jarinya dan mempermainkan kelentitnya
” aahhh.. ” Dita menggeliat dan menggoyangkan pinggulnya
” Dit.. aku cium yah ” kata Putri langsung menempelkan bibirnya pada vagina Dita yg mulai licin dan kembali menggembung karena terangsang
” aooww..aaahh ” Dita sangat kaget namun Putri yg jongkok bertumpu pada lututnya suda mendekap pinggulnya
Dita menggoyangkan pinggulnya kegelian nikmat ketika lidah Putri mulai menggelitik kelentitnya
Terbawa oleh permainan lidah Putri, Dita semakin merenggangkan kakinya dan menunggingkan pantatnya agar seluruh vaginanya terelus oleh lidah Putri
Ester menyaksikan adegan tersebut sambil deg2an terbawa nafsu dan juga was2 kalo ada orang
Putri semakin erat mendekap pinggul Dita dan lidahnya semakin dalam masuk ke dalam celah vagina Dita
” eh.. ada orang.. ada orang ” teriak Ester lirih karena di kejauhan ada rombongan keluarga yg mencari tempat utk menggelar tikar utk santai
Kaget setengah mati karena nafsu yg membubung, Dita dan Putri langsung bersembunyi ke balik semak sambil merapikan pakaian, nafas mereka memburu
Setelah beberapa saat menunggu ternyata rombongan keluarga tersebut menggelar tikar mereka agak jauh
” oke udah aman, ayo kita pergi ” kata Ester memberi aba2
” mmm… kita lanjut di kamar kecil yuk sayang ” bisik Dita di iringi anggukan Putri
Mereka bertiga segera menuju kamar kecil di pantai tersebut
” Ester jaga di luar yah sayang ” bisik Dita memeluk Ester
” iyaaaa.. jgn lama2 yah ” Ester tersenyum
Dita langsung menarik Putri masuk ke dalam salah satu ruang toilet. Setelah mengunci pintu mereka langsung berpelukan dgn erat dan berciuman dgn ganas. Tangan mereka saling meremas bokong dan payudara pasangannya
“ aku pengen seperti yg tadi sayang, sambil nungging ” bisik Putri
Setelah melepas pelukan, Dita langsung membelakangi Putri. Tangannya bertumpu pada bak air posisi nungging
Putri jongkok di belakang Dita bertumpu pada kedua lututnya lalu menyingkap rok Dita sampai pinggang.
Vagina Dita yg menggembung montok menyembul di antara bongkahan pantatnya yg semok putih
” aaaahhh .. ” desah Dita sambil menggoyangkan pinggulnya ketika Putri mendekap pinggulnya dan langsung menyedot vaginanya
Bibir Putri menjepit kedua bibir vagina Dita berkali kali
” uuuuuuuuuhhh… ” Dita mendorong pinggulnya ke belakang ketika lidah Putri semakin liar menjilati kelentitnya
Pinggul Dita meronta semakin liar dalam dekapan Putri ketikia dia merasa gelombang kenikmatan mulai melanda
” AAAaahhhh.. aaahhhh… aaaacccchhh” diringi desahan panjang yg lirih dan gerakan pinggul yg semakin liar, gigitan lembut Putri pada kelentit Dita membawa gelombang orgasme Dita semakin dahsyat
” aaah.. aahhhh.. ” Dita lemas terengah engah bertumbu pada bak air sedangkan pinggulnya lemas tertahan pelukan Putri
Putri membiarkan Dita menikmati orgasmenya, dia mendekap pinggul pinggul Dita sambil mengecupi bokong montok Dita
Setelah beberapa saat Dita pulih kembali lalu berdiri dan berpelukan dgn Putri saling mengecup mesra.
” Sekarang kamu ya sayang ” kata Dita membalikkan tubuh Putri dan mendekapnya dari belakang, dia sendiri bersandar pada tembok
” aahhhh… ” desah Putri ketika Dita menciumi telinganya yg masih tertutup jilbab sampai jilbab tsb basah. Putri menyandarkan kepalanya ke Dita
sambil terus ,menciumi telinga Putri yg tertutup jilbab, tangan Dita meremasi payudara Putri dgn lembut
Putri menekan punggungnya kebelakang merasakan kekenyalan payudara Dita
Dita menggigit lembut telinga Putri yg tertutup jilbab membuat Putri semakin menggeliat , sedangkan tangan Dita melepas kancing seragam Putri satu per satu
” aaaahhhhh … ” desah Putri ketika tangan Dita menyusup ke dalam BH nya dan meremas payudara montoknya
Tangan Dita yg satu menarik rok panjang Putri lalu dari bawah tangannya merayap mengelusi paha putih Putri
” eeehhhhh… ” Putri mengerang lirih sambil menggeliat dan merenggangkan pahanya memberi ruang jari2 tangan Dita mengelusi vaginanya yg berbulu lembut
” sayaaaangggg… ” bisik Dita sambil terus meremas payudara Putri dan menggesek vaginanya
Putri semakin menggeliat liar dan menekankan punggungnya pada payudara Dita semakin kuat
Jari2 Dita semakin cepat menggosok vagina Putri tepat pada kelentitnya membuat Putri semakin teramuk gelombang kenikmatan yg segera datang
“AAAaaaahhh..aaacchhhhhhhh… aaah” desahan panjang karena gigitan Dita pada telinga Putri dan remasan yg semakin kuat pada payudara serta gosokan yg semakin cepat dan kuat pada vagina Putri menyambut geliatan liar Putri menyongsong orgasme yang menggeloraa…..
” aaahhhh.. huuftt..huuuuft.. ” Putri terengah engah lemas dalam dekapan Dita menikmati orgasme meluluhkan seluruh tenaganya
” tok,.. tok..tok hei cepetaaan ” suara Ester mengagetkan mereka. Segera mereka merapikan pakaian masing2. Di akhiri dgn saling kecup mesra mereka keluar dgn tersenyum
” iihh.. lama banget ” sungut Ester..
” maaf sayaaaaang, ntar aku rela deh jadi budak Ester ” bisik Putri di iringi tawa mereka meninggalkan toilett.
Setelah selesai dari toilet mereka menuju ke salah satu warung makan di pantai tsb
Sambil makan mereka bercanda bisik2 membahas kegilaan tadi.
Di depan meja mereka terpaut 2 meja ada seorang om dan istrinya juga sedang makan, mereka duduk berhadapan. Dan si om duduk menghadap ke arah Dita, Ester dan Putri yg duduk ber jejer karena sambil melihat hasil rekaman. Mata om tersebut tidak lepas memperhatikan ke arah selangkangan Dita dan Ester yg posisi duduknya memperlihatkan paha mulus mereka. Meski tdk memakai celana dalam namun vagina mereka masih terhimpit rapat oleh paha masing2
Tidak cuma om tersebut yg menikmati pemandangan sensual tsb, pemilik warung makan tsb juga diam2 menikmati pemandangan tersebut dari belakang meja kasirnya
Karena mereka asyik bercanda dan kadang saling rebutan memegang Hp sehingga rok mereka semakin tersingkap ke atas, dan paha mereka kadang terbuka cukup lebar sehingga paha bagian paling dalam kelihatan
Wajah kedua orang yg memperhatikan selangkangan mereka semakin tegang dan serius. Mereka tidak menyangka akan mendapat rejeki yg begitu besar. ABG cantik dan montok dgn seragam SMA duduk dgn rok tersingkap dan paha putih mulus terbuka cukup lebar. Mereka semakin penasaran karena sekilas kadang nampak sedikit vagina mereka terhimpit oleh paha yg mulus
” eh… bapak di depan melihat selangkangan kalian ” bisik Putri ketika sekilas dia melihat tatapan mata bapak di depannya
Dgn reflek Dita dan ester merapatkan kedua pahanya sambil melirik sedikit ke depan
” ihh.. orang ada bininya juga masih ngintip ” bisik Dita
” upss… kita kan nggak pake celana dalam ” tiba2 Ester panik
” sstt.. biarin, biar aku goda sekalian ” bisik Dita
Lalu Dita menyilangkan kedua kakinya saling bertumpu sehingga roknya terangkat ke atas dan menampakkan paha bagian dalamnya yg saling menghimpit
Ester mengikuti ulah Dita dgn tersenyum lalu mereka pura2 melihat HP lagi
Si tante penasaran karena suaminya diajak ngomong tapi pandangannya ke arah bawah, lalu dia menoleh ke arah pandangan mata suaminya
” oooo.. dasar…!!! ” kata tante tersebut sewot sambil berdiri dan mendorong jidat suaminya lalu beranjak pergi
” eh.. eee.. mama… mama mau kemana? ” tanya om tsb gugup
” pulang..! ” jawab tante tsb ketus
Buru2 Om tsb menuju kasir dan membayar lalu mengejar istrinya
” hihihihihiiii….. tos.. ” Mereka tertawa cekikikan sambil tos
” rasain… ” kata Putri
” hihihiiiii… udah yuk kita pulang ” ajak Dita
Setelah membayar di kasir lalu mereka menuju mobil dan meninggalkan pantai. Sekarang giliran Dita yg nyetir dan putri di sampingnya sedangkan Ester di belakang
” hayoo.. mana janji Putri” kata ester yg tiduran telungkup di jog belakang
” ups.. janji paan ?” tanya Putri menoleh ke belakang
” jadi budak Ester …!” teriak ester
” hihihihiiii… iya iya sayaaang ” kata Putri lalu berpindah ke belakang jongkok di depan jog yg di buat tiduran Ester
” ayo Put, puasin Ester hihihiii ” sahut Dita sambil memperlambat laju mobil
” aku tadi di tinggal sendiri di luar ” sungut Ester
“ maaf sayaaanggg.. sekarang Ester menjadi ratunya, aku menjadi pelayan siap menerima perintah ” kata Putri mengelus punggung Ester
” hihihiiiii.. sekarang pijitin aku ” kata Ester manja
Putri menunduk mencium pipi Ester sambil tangannya tetap mengelus punggung Ester. Dita melirik dari spion dalam sambil tersenyum dan semakin memperlambat mobilnya
Ciuman Putri berpindah menciumi tengkuk Ester
” aaahhh.. ” desah Ester kegelian sambil memberi ruang bibir Putri pada tengkuknya
Sambil mencium tengkuk Ester, tangan Putri yg satu menyusup ke bawah dada Ester dan meremas payudaranya. Ester sedikit mengangkat punggungnya agar tangan Putri leluasa meremas susunya
Tangan Putri yg satu meremas bokong Ester yg montok.
” emm.. enak sayang ” bisik Putri
” eemmm… ” Ester hanya mendesah menikmati remasan Putri pada payudara dan bokongnya
Perlahan Putri menarik rok Ester ke atas sampai bokong Ester yg montok putih kini tidak tertutup rok
Mula2 Putri mengelus bokong ester dgn lembut lalu meremasnya dgn kuat
” aaaahhhh… ” Ester mendesah sambil mengangkat pinggunlnya menyongsong remasan Putri
Putri perlahan menggeser posisinya sampai bokong Ester tepat di hadapannya
Setelah beberapa saat mengelus dan meremasi bokong dita yg putih montok, Putri perlahan menciumi bokong Ester
” uhhh.. ” Desah Ester menggerakkan pinggulnya pelan ketika Putri menggigit bokongnya meninggalkan tanda merah pada bokong putih tsb
” akkhh…!! ” Bokong ester terangkat kaget ketika jari2 Putri menyusup di antara bongkahan bokongnya lalu mengelus vaginanya yg sudah basah licin dari tadi
Putri semakin membenamkan bibirnya pada bokong Ester dan tangannya mengelus dan mencubiti vagina montok Ester
Aksi Putri semakin membuat Ester mendesah ketika kedua tangan Putri meremas dan mendorong bokongnya ke samping lalu lidah Putri menjilati dgn liar vagina Ester
” aaaaachhh.. ooouuuuaaaachh.. ” lenguhan Ester semakin keras dan semakin menggeliat ketika Putri semakin membenamkan wajahnya di antara bokong Ester dan lidahnya semakin dalam menyusup kedalam celah vaginanya.
Dita semakin melebarkan pahanya dan menunggingkan pinggulnya ke atas menyongsong jilatan lidah Putri
” akhh.. aaaahhhh ahhh aaaaaaahh ” ester menjerit semakin keras dan panjang. Bokongnya bergerak naik turun mengikuti irama jilatan lidah Putri yg semakin kuat dan liar menyapu vagina dan kelentitnya
” aaaachhhhh…. ” Ester mendongakkan kepala dan berteriak keras diiringi gerakan pinggul yg liar menyambut getaran orgasme yg meluluhkan seluruh tubuhnya…..
” sluruuuuppsss ….” Putri menyedot vagina Ester dgn kuat agar Ester lebih dalam menikmati orgasmenya
Tubuh Ester yg tengkurap mengejang kuat dgn bokong terangkat oleh dorongan orgasme sebelum akhirnya beberapa saat kemudian melemas tak berdaya
Putri menindih Ester dan menciumi pipinya
” nikmat sayaaang ” bisik Putri mesra
” eeemmm.. nikmat bangeeet ” desah Ester perlahan nyaris tak terdengar
” ayo2.. udah udah rapiin pakaian, udah sampai nih ” kata Dita
” hihihihii…. ” Ester dan Putri tertawa mesra dan saling mengecup lalu merapikan pakaian masing2.
mobil memasuki area sekolah kembali
Pagi2 Thomas menjemput Dita utk berangkat bareng ke sekolah. Thomas tidak perlu menunggu lama di depan rumah Dita karena begitu melihat mobil Thomas, Dita langsung nyamperin dan langsung berangkat
” duh.. cantik banget hari ini sayang ” rayu Thomas
” masa` ciiiihh… tiap hari Dita kan emang cantik ” kata Dita genit
” cieeee.. iya lah, pacar siapa dulu?? ” kata Thomas sambil mencubit lembut pipi Dita gemas
” hihiiiii… ” Dita tersenyum manja
” hari ini sebenarnya aku males banget, pengen bolos” keluh Thomas
” iya.. sama, kita cabut aja yuk ” Dita menyetujui
” enaknya cabut kemana yah ” tanya Thomas
” iya yah.. kemana yah ” Dita balik bertanya
” eh acara ke pantai kemarin seru nggak? ” tanya thomas
” hhihihi.. seru buangeeeeetttt… hahahhaha ” kata Dita tertawa mengingat kegilaan mereka kemarin di pantai
” kita kesana aja yuk, enak romantis ” ajak Thomas
” oke.. tapi kita ijinnya gimana?? ” tanya Dita
” ah.. santai aja, biar aku sms ketua kelasnya aja bilang kita sakit ” jawab Thomas
” ihh.. pacarku emang cerdas hihhiiii.. ” Dita mengelus pipi Thomas yg langsung sms ketua kelas utk ijin
Thomas menjalankan mobil ke jalan arah pantai
” eh.. tau nggak say.. kemarin si Putri pipis di pinggir jalan situ tuh ” kata Dita ketika mereka melewati jalan kemarin
” hah..???? pipis di pinggir jalan??? gila, apa nggak takut di liat org?? ” Thomas kaget sekaligus membayangkan Putri pipis
” nggak keliatan, kan ke tutup bodi mobil ama aku tutupi di depan ” jawab Dita tersenyum
” Tutupi di depan???? berarti……. sayang liatin Putri pipis??? ” Thomas makin penasaran
” hihihihiii.. iya lah, yg bersihin `itu`nya juga aku hahhaha… ” jawab Dita cekakakan membuat Thomas makin penasaran dan bernafsu membayangkan pacarnya mengelap vagina Putri
” duh… ceritamu bikin aku horny sayang uuuhh.. “keluh Thomas
” hihihiii…. tenang aja, kan ada pacarmu di sebelah sayaaang ” jawab Dita genit lalu mengecup pipi Thomas
” Dasar kalian anak2 bandel, tapi asyik juga tuh hahahhahaa, jadi penasaran ” Thomas tertawa
” penasaran paan..??? tanya Dita
” Penasaran liat Putri pipis.. hahhahahhahaa ” jawab Thomas cekakakan
” yeeeeee… mau kamu sama Putri?? ya udah sana..!! aku turun sini aja..! ” kata Dita cemburu
” Duuhhh… cemburu niihhh, becanda sayaaang.. pacarku Dita paling cantik dan sexy kok ” rayu Thomas mengelus rambut Dita
” sexy mana sama Putri ” tanya Dita ketus
” yaelaaahhh.. kalah jauh laaaahh, sexy pacarku jauuuuuuhhhh ” Gombal Thomas membuat Dita tersipu dan tersenyum malu
” hihihiiii.. masa` sih sayang ” kata Dita manja memeluk pundak Thomas
” suer deh.. coba berpose sexy sayaang ” rayu Thomas
” mmm… gini???? ” kata Dita bersandar pada pintu sambil memajukan dadanya yg montok
” hehehheee.. kurang tuuh, lebih sexy dong ” Thomas mulai horny, begitu juga Dita
” gini??? ” Dita mengangkat satu kakinya ke sandaran jog sehingga paha dan celana dalamnya terlihat
” clegukssss …. ” Thomas menelan ludah melihat paha putih dan celana dalam Dita
” mau lebih ????? ” tantang Dita yg langsung memasukkan tangannya ke dalam rok dan menarik lepas celana dalamnya dan di lemparkan ke muka Thomas sambil tertawa ngakak
” upss… hahahhahaa.. dasar gilaaaaa hahahhaha…. ” Tawa Thomas penuh nafsu
” konsentrasi tuh liat jalaaan hhihiiii ” kata Dita menggoda sambil melebarkan pahanya menampakkan vaginanya yg berbulu halus
” aarrrrrrrrrggghhhhh…..!!! sayang membuatku gilaaaaa..!!!” teriak Thomas menahan nafsu
” hihihiii… udah ah ntar nabrak lagi ” kata Dita merapikan duduknya
” naaahhhh.. sampai dah, tuh pantainya
Mobil memasuki arel pantai, setelah membayar tiket masuk mereka berputar putar sebentar kemudian parkir di tempat yg agak jauh
” eh.. ini pagi2 kok ramai banget sih ” Kata Dita memperhatikan suasan pantai yg ramai banyak pengunjung
” mungkin rombongan pariwisata, liat di sana ada 3 bis plat nomernya luar kota ” jawab Thomas
” iya yah… ayo kita jalan2 sayang ” ajak Dita
” eitss.. ini nggak di pakai?? ” kata Thomas menunjukkan celana dalam Dita yg tadi dilempar
” hihihiiii.. nggak usah, biar segar kena angin laut hihihii ” kata Dita cekikikan membuat Thomas blingsatan membayangkan pacarnya tidak memakai celana dalam padahal rok seragamnya tergolong pendek
Lalu mereka berjalan bergandengan menikmati pemandangan pantai di antara para pengunjung lain. Memang pantai sangat ramai karena ada beberapa rombongan pariwisata
Mereka berjalan sambil bercanda dan sesekali saling peluk, tidak peduli dgn pengunjung yg lain. Pantai serasa milik mereka berdua, yg lain adalah kerang2 di laut
” sayang.. aku sayang banget ama kamuu” Thomas merayu sambil berjalan bergandengan
” iyaa… aku juga ” jawab Dita memeluk pinggang kekasihnya
” kita duduk di sana yuk ” ajak Thomas menunjuk ke arah tempat duduk yg ada di salah satu sudut pantai
” ayo.. tapi rame banget tuh, banyak anak2 bermain ” jawab Dita
” ah biarin… capek nih pengen duduk ” kata Thomas
Lalu mereka berdua menuju tempat duduk panjang yg terbuat dari beton membentuk kursi lengkap dgn sandarannya tsb. Tidak jauh dari mereka banyak pengunjung lain yg asyik menikmati pantai.
” ih… silir hhihihiiii ” kata Dita melebarkan pahanya
” hei.. awas masuk angin lho ” canda Thomas
” iiihhh… sejuknya hihihiiiiii ” Dita cekikikan makin melebarkan pahanya sampai roknya terangkat sampi paha atas. Tempat duduk mereka langsung menghadap pantai dan tubuh bawah mereka terlindung sandaran kursi panjang sehingga yg terlihat cuma punggung bagian atas sampai kepala mereka
” wow… paha kamu putih banget sayang… ” Thomas merapatkan duduknya dan mengelus paha mulus Dita sambil sesekali melihat sekeliling mengawasi pengunjung lain
” iya doong.. pacar siapa duluuu ” kata Dita manja menyandarkan kepalanya ke pundak Thomas
Thomas makin berani mengelus paha Dita yg terbuka lebar sampai ke pangkalnya karena tubuh bawah mereka tertutup sandaran kursi sehingga terlindung dari penglihatan pengunjung lain. Pengunjung lain pun asyik dgn kegiatan mereka masing2 sehingga tdk memperhatikan mereka
” uuuhhhhh… ” Dita melenguh pelan menyandarkan kepala ke pundak Thomas ketika tangan Thomas mengelus bulu2 halus yg menghiasi vaginanya
Tiba2 HP Dita berbunyi mengagetkan mereka, Dita bermaksud menerima tapi karena kaget dan gugup HP tsb jatuh..
” aduhh… ” kata Dita mengambil HPnya di bawah lalu menerima telpon sambil jongkok di hadapan Thomas
” ck.ck.ck.ck ” Thomas terkesima karena posisi jongkok Dita membuat rok pendeknya terbuka memperlihatkan paha putihnya sampai ke vaginanya. Vagina tersebut nampak rapat montok menggembung di hiasi bulu2 halus. Dantubuh Dita seluruhnya terlindung oleh kursi panjang sehingga hanya Thomas yg bisa melihat pemandangan sensual tersebut
Dita menyadari kalo Thomas sedang memperhatikan selangkangannya, maka sambil menerima telpon dan pandangan genit pada Thomas dia melebarkan pahanya sehingga kini gundukan vaginanya terbuka jelas di hadapan Thomas
Nafas Thomas naik turun, matanya memandang lekat ke arah selangkangan Dita
” minumannya mas ” tiba2 datang pedagang asongan menawarkan minuman
” eh.. ee.. ee enggak pak ” jawab Thomas kaget dan gugup. Begitu juga Dita yg sedang menerima telpon buru2 merapatkan pahanya dan melindunginya dgn satu tangannya.
Pedagang asongan tersebut segera berlalu namun matanya masih melirik ke arah paha Dita
” huh.. pedagang geblek ” sungut Dita menutup telpon lalu duduk kembali di samping Thomas
” hehehee… telpon dari siapa ” tanya Thomas
” dari si Putri, tanya kenapa nggak masuk.. aku bilang sakit, eh.. dia mau jenguk ke rumah ” jawab Dita
” terus??? ” tanya Thomas
” ya terpaksa aku bilang terus terang kalo lagi cabut ama sayang ke pantai ” jawab Dita lalu merangkul Thomas
” sayang.. pemandangan tadi indah bangeeeetttt ” kata Thomas mencium rambut Dita
” hihihiiii… celanamu kok jadi sesak gitu sayang ” goda Dita menunjuk ke celana depan Thomas yg membengkak karena ereksi dari tadi
” iya nih… `adekku` berontak pengen di elus ” jawab Thomas bernafsu
” sini biar di elus ama Dita cantik ” kata Dita genit lalu tangannya mengelus penis Thomas yg kencang terlindung celana seragamnya
” eehhhh… ” lenguh Thomas ketika Dita meremas agak keras permukaan celananya
” sayang… Dita pengen liat `adeknya` ” Rayu Dita manja
” jangan di cubit yah ” kata Thomas membuka resleutingnya sambil melihat sekeliling
” hihiiii… keras banget…” kata Dita memasukkan tangannya ke celana Thomas dan menarik sedikit celana dalamnya sehingga kepala penis Thomas mengintip
” aaahhh… ” desah Thomas pelan ketika jari2 Dita mengelus kepala penisnya.
Meski nafsunya sudah di ubun2 namun Thomas berusah ekspresinya tetap biasa sambil pura2 menikmati pemandangan dan menengok sekeliling agar pengunjung lain tdk curiga
” sayang… aku kecup boleh nggak, abis gemes imut banget ” pinta Dita manja
Thomas hanya mengangguk dan Dita segera jongkok di hadapan Thomas tepat di depan penis.
” aaaarrrggghhhhhh….. ” Thomas menggeramm pelan merasakan kepala penisnya hangat bersentuhan dgn bibir Dita yg basah
Dita mengeluarkan penis Thomas sampai batang atas hingga bisa di genggam
” uuhh.. huuufttttt… ” nafas Thomas semakin terengah karena lidah Dita menggelitik lubang penisnya, sementara dia harus mengawasi sekeliling juga
” ups.. ada yg datang sayang..!!! “ kata Thomas buru2 memundurkan pantatnya dan memasukkan penisnya karena ada 2 anak kecil berlari ke arah mereka di ikuti oleh seorangt wanita. Dita langsung pura2 membetulkan tali sepatunya
Setelah beberapa saat anak kecil dan wanita tersebut menjauh menuju air, Thomas memajukan lagi pinggulnya dan menyodorkan penisnya pada Dita
Dita menyambut penis Thomas dgn tersenyum lalu kembali menciumi kepala penis Thomas.
Sambil menikmati gelitikan lidah Dita, Thomas memberi isyarat dgn kakinya pada Dita utk melebarkan pahanya
Dita menggeser salah satu kakinya sehingga kini posisi jongkoknya memperlihatkan selangkangannya yg montok
” hhhuuuuffttt… uuuhhh ” desah Thomas melihat dgn tatapan tajam ke arah vagina Dita yg meneteskan lendir bening
Vagina Dita nampak menggembung montok karena sudah horny berat sampai cairan kewanitaannya menetes
Nafsu yg sudah menggelegak membuat Thomas tidak tahan lagi, tangannya memegang kepala Dita dan mengayunkannya agar lebih cepat kulumannya. Namun Thomas tetap waspada dgn keadaan sekeliling
” aaaaaaaaarrrrrgghhh… aarghhhh..” Thomas menggeram panjang dan pelan, tangannya menekan belakang kepala Dita agak kuat dan cepat. Sejenak tubuh Thomas mengejang kencang dan didiringi geraman yg lebih keras dan panjang penis Thomas menyemprotkan sperma dgn deras dan banyak memenuhi mulut Dita
” eemmmmm… ” Dita hanya bisa mendesah tertahan ketika mulutnya di penehi sperma Thomas
” uuuhhhh..huuuufftttt..huuuffttt… ” Nafas Thomas terengah engah menikmati orgasme yg begitu dahsyat
” fiuh.. cuhh… ” Dita mengeluarkan sprema dari mulutnya, kemudian sambil tersenyum dia mengelap mulutnya dengan tissu. ia juga membersihkan penis Thomas dari lelehan sperma
” ooohhh.. huuuufftt…. ” Thomas masih terengah engah menikmati sisa2 orgasmenya.
Dita membantu Thomas merapikan kembali celananya lalu duduk merangkul Thomas
” nikmat sayaang ” tanya Dita manja
” hehehehehheee…. terima kasih sayang ” kata Thomas mesra mencium rambut Dita dan mengelusnya
Sesaat mereka saling diam, sementara tangan Thomas mengelus punggung Dita lalu ke samping menyenggol gundukan payudara Dita
Dita meresponnya dgn merapatkan tubuhnya ke tubuh Thomas. Sambil melihat sekeliling telapak tangan Thomas yg mengelus punggung meraih payudara Dita dari samping dan meremasnya
” eeemm… ” desah Dita manja ketika Thomas meremas payudaranya dari samping dgn kuat membuat nafsunya yg dari tadi menggelora semakin menggelegak
” Hadap sana sayang.. ” perintah Thomas agar Dita menghadap ke arah berlawanan dan menundukkan tubuhnya sampai terlindung sandaran kursi hanya kepalanya yg terlihat dan bertumpu pada tangan
Thomas menaikkan ujung rok Dita yg belakang lalu tangannya mengelus bokong Dita. ita merespon dgn sedikit mengangkat bokongnya.
” aaaaahhhhh…. Dita melenguh pelan ketika jari Thomas menyusup dari bawah bokongnya mengelus vaginanya dari belakang.
Thomas mengelus vagina Dita yg sudah sangat licin sambil pura2 melihat pantai dan sekeliling
Pinggul Dita bergerak gerak pelan menyambut elusan jari2 Thomas pada vagina dan kelentitnya. Tangan Thomas yg berada di bawah bokong Dita tertutup rok Dita jadi meski ada orang datang tdk akan melihat aktivitas jari2 Thomas.
” eeeehhhh… eehhh.. ” erangan Dita makin panjang, dan pinggulnya semakin cepat bergerak naik turun membuat jari2 Thomas yg mengelus vaginanya sedikit terbenam
Thomas semakin cepat dan kuat mengelus vagina Dita dari belakang sambil melihat sekeliling. Orang2 tidak ada yg menyadari aksi panas mereka berdua
” akhh..!! ” Dita terpekik agak keras ketika jari2 Thomas terbenam agak dalam ke vaginanya karena gerakan bokongnya yg naik turun
Dita merasa seluruh tubuhnya merinding, seluruh bulu2 di tubuhnya serasa berdiri
” aaaaaaaaakkhh…. aaakhh.. ” bersamaan dgn pekik tertahan berkali kali, bokong Dita bergerak liar menyongsong jari Thomas dan nafas tertahan mengiringi gelombang orgasme yg melanda seluruh tubuh Dita
” aakkhhh..aakhh..huufftt.. ” Dita terengah engah melepas orgasmenya
Dgn lembut Thomas mengelus vagina dan bokong Dita yg lemas terengah engah menikmati orgasme
Sesaat kemudia ita merapikan kembali roknya lalu memeluk Thoma
” sayang banget ama Thomaas ” bisik Dita mesra
” iya sayang, aku juga sayang Thomas ” balas Thomas mengecup Dita
Setelah tenaga mereka pulih, lalu mereka melangkah bergandengan dgn senyum lebar menuju ke mobil utk jalan2 kembali menhabiskan waktu bolos……….
Sehabis olah raga Dita dan Thomas sedang asyik ngobrol di kantin bersama satu kawan mereka si Wawan. Wawan adalah teman mereka namun beda kelas. Dia termasuk cowok bengal di sekolah, namun wajahnya cukup tampan. Selama ini dia ngebet banget dgn Ester, namun Ester jual mahal meski hatinya pengen Wawan nembak dia. Memang siapa tahu dalamnya hati seorang wanita, begitu penuh misteri. Maka Wawan minta tolong kepada Dita agar dicomblangi.
” udaaah.. kamu tembak aja tuh Dita ” kata Thomas
” Ah maen tembak aja, ntar kalo di tolak apa kata dunia ” jawab Wawan sok jaim
” Yaelah.. cemen lu Wan, katanya jagoan di sekolah.. eh takut ditolak ” cibir Dita
” Ah.. kalian nggak tau sih, meski aku preman tapi hatiku roman hahahaha ” kelakar Wawan
” udah pokoknya kamu nekat aja, orang si Ester tuh anak bandel juga kok ya nggak say ” kata Thomas
” hihihihihiii… iya nekat aja, kalo ditolak ya resiko lah ” Dita menimpali
” oke lah kalo beg beg begitu ” kata Wawan penuh semangat
Memang Wawan sudah ngebet banget dgn Ester, selain cantik, putih dan sexy Wawan juga sering diam2 mencuri pandang ke arah selangkangan Ester bila duduk. Dan itulah yg sering membuat Wawan horny dan setiap kali habis ngintip paha dan celana dalam Ester Wawan langsung onani dgn membayangkan Ester.
Segera dia bergegas mencari Ester utk mengungkapkan isi hatinya.
Setelah beberapa saat keliling akhirnya dia menemukan Ester yg masih memakai kaos olah raga di dalam kelas mengambil seragamnya.
”Eh.. emm hai Ester ” sapa Wawan sok jagoan
” mm… ada apa Wan ” Jawab Ester singkat
” Enggak pa pa.. cuman pengen liat2 kelas kalian aja ” jawab Wawan sekenanya krn grogi.
Mata Wawan jelalatan melihat payudara Ester yg nampak montok dibalut kaos olah raga yg cukup ketat. Dan Pantat Ester semakin terlihat padat karena celana olah raganya juga tidak kalah ketat
” ouw.. kirain mo nraktir aku ” Jawab Ester sambil berlalu membawa tas nya menuju toilet utk ganti seragam
” eh.. emm.. bentar bentar.. i..ii.. iya, ayo aku traktir. Seluruh kantin biar aku usir agar nggak ada yg ganggu ” kata Wawan sok jagoan sambil mengikuti langkah Ester
” ah.. nggak punya ide ” kata Ester
” Ah… ayolah ijinkan aku sekali kali mentraktirmu cantik ” rayu Wawan
” ih.. gombal. Bentar aku mau ganti baju dulu ” kata Ester memasuki toilet cewek
” eh gimana bro ” tiba2 muncul Thomas
” eh Tom, kamu jaga di sini yah jgn ada yg boleh masuk.. bilang aja sedang dibersihin ” kata Wawan
” hah.. mau ngapain lu ” tanya Thomas curiga
” sssttt… aku mau nembak Ester saat ini juga di toilet, katanya suruh nekat” kata Wawan langsung masuk ke toilet
Sementara Thomas hanya tersenyum sambil geleng2 kepala
” dasar preman ” batin Thomas
Wawan menunggu Ester sambil menata rambut dan ngaca di toilet
” aoww.. heii ngapain kamu dodol masuk tempat cewek ” Ester kaget ketika keluar dari salah satu kamar kecil melihat Wawan sedang ngaca
” eeemm.. enggak pa pa, njagain Ester siapa tau ada yg ngintip ” jawab Wawan mendekati Ester
” Kamu tuh yg ngintip, dasar ” kata Ester sambil memencet hidung Wawan
” upss.. tangan abis ngapain tuh” sungut Wawan
” abis pipis ” jawab Ester sekenanya sambil merapikan diri di depan cermin
” ooo pantesan bau ikan asin xixiixiixiix ” ejek wawan
” enak aja…!! `punyaku` wangi tauuu..!!! ” bentar Ester tidak terima hartanya paling berharga dan dirawat setiap hari dibilang bau ikan asin
” ih wangi paan, tuh bau hihiihih ” Wawan memancing Ester
” Sini..!! jongkok kamu, nih cium ..!! ” kata Ester jengkel menekan pundak Wawan agar jongkok di depannya lalu dia menyodorkan pinggulnya ke muka Wawan lalu segera menariknya menjauh
” ah.. belum ke cium ” kata Wawan mendongak ke atas
” huh.. nih ” Ester makin jengkel dan ingin membuktikan, dia memajukan pinggulnya lagi dan menarik kepala Wawan dgn agak keras sampai muka Wawan melekat agak lama pada rok depannya lalu menariknya mundur namun masih memegang kepala wawan
Ester makin sewot melihat Wawan geleng2 kepala sambil mencibirkan bibir.
Ester menarik lagi kepala wawan dgn lebih keras sambil tangan satunya mengangkat ujung rok nya sehingga kini wajah Wawan menempel langsung pada celana dalam Ester.
Ester bermaksud langsung menarik pinggulnya dan menjauhkan kepala Wawan dari selangkangannya karena dia cuma ingin membuktikan sekilas saja, namun terlambat karena tangan Wawan langsung mencengkeram bokong Ester dgn kuat sehingga pinggul Ester tidak bisa bergerak
” eihh.. ehh Wan lepasin…!!! ” Ester kaget dan teriak tertahan takut ada yg melihat
Namun Wawan malah semakin kuat mencengkeram bokong Ester dan menyusupkan kepalanya lebih dalam ke selangkangan Ester
” akh…!!! Lepasin..! ” Ester terpekik tertahan ketika mulut Wawan dgn ganas menyosori celana dalamnya tepat pada bibir vaginanya. Ester berusaha menjambak rambut Wawan dan menariknya agar menjauh, tapi karena rambut Wawan cepak sehingga usaha tsb sia2
Mulut Wawan melumat celana dalam Ester pada bagian yg empuk dan hangat sambil lidahnya menusuk nusuk membuat celana dalam Ester basah oleh liurnya
” aaachhh… ” Namun lumatan mulut dan tusukan lidah Wawan yg tepat sasaran membuat Ester terpekik dan juga mendesah menahan geli dan nikmat yg sangat luar biasa sehingga secara reflek dia merenggangkan pahanya memberi ruang pada kepala Wawan
Wawan merasakan paha Ester melebar memberi ruang dan tangan Ester tdk lagi menjambak rambutnya maka dgn kasar tangan Wawan yg mencengkeram bokong Ester menarik celana dalam Ester ke bawah
” eiihh..” Ester kaget dan langsung menarik pinggulnya ke belakang bermaksud menjauhi mulut Wawan, namu Wawan dgn gerak secepat kilat mencengkram lagi bokong Ester yg montok yg selama ini dia idam2kan dan menariknya lebih kuat ke arah mulutnya
” aaachhh…. ” Ester mendesah panjang dan mendongakkan kepalanya ke atas ketika bibir Wawan yg basah melumat langsung bibir vaginanya tanpa penghalang. Terdengar suara berkecipak ketika Wawan melumat dan menyedot bibir vagina Ester yg basah membuat mulut Wawan belepotan
Gairah Ester langsung naik ke ubun ubun. Kini dia justru mengharapkan Wawan melumat vaginanya lebih kuat
Tangan Ester yg tadi berusaha menjauhkan kepala Wawan kini justru mencengkeramnya dan menariknya ke arah selangkangannya agar menempel bibir Wawan menempel lebih kuat ke bibir vaginanya dan juga kelentitnya
Reaksi Ester tersebut membuat Wawan semakin ganas dan liar melumat vagina Ester dan meremas bokong Ester
Tubuh Ester menggeliat semakin liar dan semakin melebarkan pahanya, dia juga berusaha merendahkan pinggulnya agar seluruh vaginanya bisa di lahap Wawan
” Woooiiii…. pelajaran udah mulaiiiii…!!! ” teriakan Thomas mengagetkan mereka
Ester dan Wawan kaget setengah mati, nafas mereka terengah engah tidak karuan. Wawan langsung menghentikan aksinya dan lansung berdiri sambil mengelap mulutnya yg belepotan liur dan cairan vagina Ester. sementara Ester buru2 merapikan pakaiannya dan menaikkan lagi celana dalamnya yg melorot sampai lutut.
Setelah selesai semua Ester bermaksud langsung pergi, namun Wawan dgn cepat memegang tangannya dan menarik tubuh Ester
” heeftt.. heeftt.. aku sayang Ester ” Kata Wawan terengah engah sambil menatap mata Ester dalam pelukannya
Ester yg juga masih terengah engah tdk sanggup menjawabnya, dia langsung memeluk Wawan dan membenamkan wajahnya ke leher Wawan
Wawan menganggap itu merupakan jawaban penerimaan dari Ester
” ayo kita kembali, nanti aku pengen ngomong banyak dgn kamu ” kata Wawan sambil mencium rambut Ester
Ester hanya mengangguk pelan, lalu mereka melepaskan pelukan dan melangkah ke kelas masing2 dgn tersenyum bahagia
Putri termenung sendiri di kelas. Sejak Ester jadian dgn Wawan kini Putri merasa kesepian karena Ester lebih sering bersama Wawan. Begitu juga dgn Dita lebih sering bersama Thomas.
” huh….. ” sungut Putri menghela nafas sambil merapikan bukunya bersiap utk pulang
Sejenak dia nampak mencari sesuatu, ternyata buku bahasanya nggak ada
” oh.. kemarin dipinjem Dita udah dikembalikan apa belum yah?? ” Putri mencoba mengingat
Setelah beberapa saat dia yakin kalo Dita belum mengembalikan bukunya, padahal besok ada tugas penting. Putri bergegas mencari Dita.
Putri mencari di kantin nggak ada di pintu gerbang juga nggak ada lalu dia menuju parkiran mobil di sebelah samping. Nampak masih ada beberapa mobil di sana dan salah satunya adalah mobil Thomas dgn pintu yg sedikit terbuka.
Putri segera melangkah ke arah mobil tsb siapa tau ada Thomas di dalam dia mau nanya dimana Dita
Begitu sampai di samping mobil dia langsung membuka pintunya yg sedikit terbuka
” akh… sorry.. sorry ” Betapa kagetnya Putri karena di jok tengah ada Thomas dan Dita. Yg membuat Putri terkejut setengah mati adalah Thomas sedang asyik mencium dan meremas payudara Dita yg terbuka karena kancing seragamnya yg atas terbuka lebar.
Mereka juga kaget karena aksi panas mereka ada yg memergoki, untung yg datang Putri
” eh.. Putri ada apa Put ” kepala Dita nongol dari kaca tengah sambil tersenyum dan tangannya sibuk membetulkan kancing seragamny. Sementara Thomas langsung pindah ke jok depan
” eemm.. enggak .. anu mmm.. buku bahasaku yg kemarin kamu pinjam udah selesai belum?? ” tanya Putri agak gugup
” oh.. iya yah, aduuh sorry Put aku lupa, masih di rumah ” jawab Dita keluar dari mobil
” Yah.. kan besok ada tugas Dit, aku ambil sekarang yah sekalian kita pulang ” kata Putri
” Emm.. eee.. aku ada acara ama Thomas ” jawab Dita malu2
” Duh.. gimana dong ” Kata Putri
” Gini aja kamu ke rumahku aja bareng adekku, biar dia jemput kamu disini ntar suruh dia ngambilin bukunya di kamarku ” kata Dita. Sekolah Leo memang dekat dgn sekolah mereka
” ya udah kalo gitu kamu telpon Leo biar aku tunggu di depan gerbang yah ” kata Putri
” oke.. ” Dita segera mengambil HP dan menelepon adeknya
Sementara Putri segera melangkah menuju pintu gerbang utk nunggu Leo
Kejadian tadi meski cuma melihat sekilas namun teringat terus oleh Putri. Dia membayangkan betapa nikmatnya Dita waktu payudaranya di kulum dan di remas Thomas.
“uuhhh.. ” Putri menghela nafas dalam2 seandainya dia jadi Dita
Membayangkan itu semua membuat nafsu Putri naik, jantungnya berdesir dan tubuhnya merinding menahan gejolak birahi ABGnya
” Leo…. ” Tiba2 tersungging senyuman dibibir Putri mengingat kejadian waktu dia menggoda Leo
Beberapa saat menunggu akhirnya Leo yg memakai seragam SMP datang juga mengendarai sepeda motor sportnya
” hei Leo ” teriak Putri melambai memanggil Leo
Motor Leo segera menghampiri Putri, dari balik helmnya tersungging senyuman senang Leo karena ketemu Putri
” Lha kak Dita mana kak “ tanya Leo basa basi setelah membuka helm
” tuh lagi mojok ” kata Putri sambil tersenyum genit pada Leo
” ayo kak naik, ntar keburu ujan udah mendung tuh ” ajak Leo tdk sabar ingin segera merasakian memboncengkan Putri gadis pujaannya
Putri segera naik ke boncengan motor Leo, karena roknya yg panjang maka dia membonceng dgn posisi menyamping. Karena Motor Leo type sport maka posisi boncengannya lebih tinggi belakang membuat tubuh Putri mau tak mau menempel pada punggung Leo namun dia masih merenggangkan jarak dgn menggunakan satu tangannya sedang tangan satunya berpegangan pada tubuh Leo
” Ciiiiiitt…. ” Tiba2 Leo ngerem mendadak karena ada motor yg belok dgn mendadak
” aaauuuuuwww…” teriak Putri kaget, tubuhnya langsung terdorong ke depan dgn keras menghantam tubuh Leo. Payudaranya agak sakit tertumbuk punggung Leo. Untung Leo bisa mengendalikan motornya sehingga tidah terjadi kecelakaan
” an.. duh maaf ya kak ” Kata Leo mengumpat lalu menengok kebelakang minta maaf sama Putri yg keliahatan shock
” hati2 dong Leo nggak usah ngebut ” kata Putri masih kaget
” iya iya maaf ” kata Leo lalu menjalankan motornya pelan2
” Duh… punggung Leo sakit kak ” kata Leo sedikit menoleh ke belakang
” sakitt?? kok bisa?? ” tanya Putri mendekatkan kepalanya ke wajah samping Leo
” iya nih, tertimpa dua gunung hehehhee ” Kata Leo tertawa
” iiihhh.. enak aja, sakit nih ” sungut Putri sambil mencubit pinggang Leo
” aoww.. hahahhaa… becanda kak” kata Leo kegelian
” huuuu.. kamu ngelaba yah ” Putri kembali menggelitik Leo lagi
” aoww.. aoww.. cciitt.. ” Leo kegelian sampai terpaksa menghentikan motornya
” auww.. iiihhhh sakit tauuuu ” Putri mencubit lengan Leo karena tubuhnya kembali terdorong ke depan dan payudaranya kembali mengenai punggung Leo
” abiis.. kakak menggelitik teruss, punggungku tertimpa gunung lagi kan” kata Leo sambil cengar cengir lalu menjalankan lagi motornya pelan
” ihh.. dasar bandel, sakit apa enaaak?? ” kata Putri gemas karena diam2 dia juga merasa nikmat ketika payudaranya menekan punggung Leo membuat gairahnya naik lagi
” enak, empuk heheheheeheh ” Leo cengengesan penuh nafsu
” mau lagi, niiihhh ” kata Putri menempelkan payudaranya ke punggung Leo, sementara kedua tangannya memeluk pinggang Leo. Tubuh Putri jadi merinding sendiri karena payudaranya seperti diremas. Dia terbayang lagi peristiwa di parkiran tadi
” eehhhh.. kak Putri emang paling baik, cantik lagi ” rayu Leo sambil menikmati kekenyalan payudara Putri di punggungnya. Penis di dalam celananya sudah mengeras dan menekan pada tangki motornya
” Leo masih ingat waktu yg dulu diruang tamu?? hihihhi ” kata Putri mesra
” iyah.. Leo seneng banget ” jawab Leo semakin nafsu
” lagi yuk Leo, mau nggak? ” Putri makin genit dan menggeser geserkan payudaranya pada punggung Leo
” mau banget kak, tapi dimana” kata Leo ngos ngosan
” ya di tempat yg sama, kan kita sedang menuju rumah Leo nih ” kata Putri makin menekankan payudaranya. Gairah Putri semakin meninggi, dia merasa vaginanya mulai geli dan basah
” ii..ii iya , semoga aja mama dan papa nggak ada kak ” kata Leo
Sesampai di depan rumah Leo buru2 membuka pagar dan segera membawa motornya masuk di ikuti Putri. Nafsu mereka berdua sudah sangat membubung sehingga langkah mereka memasuki teras cepat sekali
” Ehh.. kok kliatan buru2 ” tiba2 mama Leo muncul dari samping mengagetkan mereka
” eh..mm.. eh.. nggak ada apa2 kok ma ” jawab Leo gugup
” ssii siaang tante ” sapa Putri juga gugup
” eh Putri, mana Dita?? ” tanya mama Leo
” mmm.. anu tante.. mmm masih ada pelajaran tambahan, Putri kesini mau ambil buku” jawab Putri kebingungan mencari lasan
” ohh.. ayo silakan masuk ” Mama Leo mempersilakan Putri masuk, sedangkan Leo sudah masuk duluan utk ngambil buku di kamar Dita
Putri segera masuk dan duduk dikursi menunggu Leo
” mm.. ini kak, bukunya ” kata Leo menyerahkan buku pada Putri sambil tatapan matanya mengisyaratkan kekecewaan
” mm.. kamu anterin aku pulang ya Leo, bilang aja ke mama kamu nganter aku kembali ke sekolah ” kata Putri dgn tatapan mata kecewa juga diiringi anggukan Leo
Leo segera meminta ijin pada mamanya utk nganter Putri kembali ke sekolah
Mereka segera meluncur lagi menggunakan motor Leo. Kali ini posisi membonceng Putri tdk menyamping tapi mengangkangi jok sementara rok panjangnya di tarik ke atas sampai lutut. Dan Putri tanpa ragu2 lagi langsung memeluk pinggang Leo dgn erat sehingga payudaranya menempel ketat pada punggung Leo.
Leo menjalankan motornya pelan2 sambil menikmati kemontokan payudara Putri yg kenyal dan lembut meski masih terhalang baju, BH dan jilbabnya
” aduh hujan, berteduh dulu Leo ” kata Putri dan Leo langsung membelokkan motornya ke sebuah kios rokok yg kebetulan sedang tutup utk berteduh di emperannya
Hujan yg datang tiba2 tersebut segera menjadi hujan yg cukup lebat
” duuhh… masih tempias nih ” keluh Putri, lalu mereka bergeser ke balik rak2 tumpukan botol di sudut kanan kios sehingga terlindung dari tempias sementara motor Leo dibiarkan kehujanan.
” kakak masih kena hujan tuh, pindah sini di depan Leo ” kata Leo lalu Putri menggeser berdirinya ke depan Leo. Karena tempatnya sempit tubuh mereka berhimpitan
Darah Putri berdesir ketika bokongnya menempel pada celana depan Leo yg menonjol. Dari tadi memang penis Leo sudah ereksi maksimal
” dingin ya Leo” kata Putri memancing berharap dipeluk Leo
” iya kak, anginnya cukup kencang” kata Leo polos
” peluk dong Leo ” kata Putri tanpa malu2 lagi karena nafsunya sudang nanggung
Dgn pelan Leo memeluk pinggang Putri dari belakang, dan Putri langsung meresponnya dgn menempelkan tubuhnya lebih mepet ke tubuh Leo
” emmm.. ” Leo menarik nafas ketika bokong Putri yg montok menekan penisnya yg sudah tegang di balik celana pendek smpnya
Putri merasakan penis Leo yg tegang berkedut kedut di bokongnya
” heeftt.. ” nafas Putri mulai terengah dan dia sengaja memundurkan bokongnya agar lebih menekan penis Leo. Sementara hujan bertambah deras
” kakak cantik sekali ” bisik Leo di telinga Putri yg tertutup jilbab dan memeluk Putri lebih erat
” emmmm.. ” Putri hanya mendesah meresapi kehangatn pelukan Leo. Pandangan matanya semakin sayu terlanda birahi
Dita merasakan penis Leo semakin sering berkedut dalam himpitan bokongnya, putri meresponnya dgn menggerrakkan bokongnya pelan membuat Leo semakin ngos ngosan
” heeft.. Leo sayang kak Putri ” nafas Leo terasa panas di telinga Putri
” kak Putri juga ” bisik Putri pelan
Tangan Putri yg dari tadi memegang tangan Leo kini menuntun tangan Leo mengusapi perutnya lalu naik sedikit demi sedikit sampai mengelusi payudaranya, tangan mereka terlindung oleh ujung jilbab Putri
” eeehhh.. ” Putri mendesah pelan dan menyandarkan tubuh sepenuhnya ke tubuh Leo ketika tangan Leo yg dia tuntun mulai meremas payudaranya di balik jilbab
Karena hujan makin lebat sehingga tidak ada orang maupun motor yg lalu lalang, hanya sesekali mobil yg lewat. Di seberang jalan sebenarnya ada juga beberapa org yg berteduh namun hujan yg lebat mengaburkan pemandangan dan rak tumpukan minuman ringan juga melindungi mereka
Tangan Leo semakin kuat meremas payudara Putri di balik jilbab sementara bagian bawah tubuhnya di sorongkan lebih ke depan menyambut bokong Putri yg mendesak dan menggeliat pelan
Tangan Putri menuntun jari2 Leo utk membuka beberapa kancing seragamnya. Meski terbuka beberapa kancingnya namun tidak kelihatan karena terlindung oleh ujung jilbab
” aaahhh.. ” Putri melenguh ketika tangan Leo tanpa dituntun lagi menyelinap masuk ke dalam seragam dan BHnya lalu mengelus dan meremas payudara Putri pelan. Puting Putri sudah menegang dan terasa kenyal di telapak tangan Leo. Dgn gemas Leo meremas dan memilin puting kecil Putri. Nafas Leo yg terasa hangat di telinga membuat Putri semakin merinding sehingga menggeliat dan melenguh manja sambil menggesekkan bokongnya ke penis Leo.
Merasa gerakan tangan Leo kurang leluasa Putri berinisiatif membuka lagi satu kancing seragamnya dan menaikkan BHnya ke atas agar seluruh permukaan payudaranya dapat dielus tangan Leo
Putri sudah tidak kuat lagi menahan gejolak birahinya, lalu dia membalikkan tubuhnya dan memeluk Leo dgn erat di sambut Leo dgn pelukan erat juga. Dgn ganas Putri melumat bibir Leo, Leo yg masih polos kaget dan hanya bisa diam tanpa membalas lumatan Putri, hanya secara naluri dia mendesakkan bagian bawah tubuhnya ke bagian bawah tubuh Putri sambil meremas dan menarik bokong Putri ke arahnya
Hujan yg semakin lebat dan posisi tertutup rak membuat Putri yg dilanda birahi ABG semakin nekat. Ditekannya belakang Leo agar menunduk menuju ke payudaranya
Leo yg juga dilanda nafsu menurut dgn menundukkan kepalanya ke arah payudara Putri yg terbuka namun terlindung oleh ujung jilbab
“aaakkkkhh… ” Putri mendesah ketika Leo menyibakkan ujung jilbabnya lalu melumat payudaranya. Leo belum faham utk menggunakan lidahnya, dia hanya mengikuti nalurinya dgn menyedot pelan puting payudara Putri
Putri merespon lumatan dan sedotan Leo degn menekan kepala Leo lebih kuat ke payudaranya sambil menggeliat menggesekkan seluruh payudaranya ke wajah Leo
Leo semakin ganas dan kuat menyedot Puting Putri sambil tangannya semakin kuat meremas bhokong Putri membuat Putri semakin merinding dan menggeliat
Putri semakin nekat, dia menekan lagi kepala Leo lebih kebawah sampai Leo jongkok di hadapannya, lalu dia mengangkat rok seragam panjangnya dan memasukkan kepala Leo ke dalam rok panjang tsb.
Kepala Leo yg tertutup rok panjang Putri mendongak ke atas. Sejenak dia melihat paha Putri yg putih mulus dan celana dalam Putri yg berwarna putih. Dari luar rok Putri memegang kepala Leo dan memberi isyarat agar ke atas. Leo langsung menaikkan kepalanya dan memburu ke arah selangkangan
” aaaahhhh… ” Putri terpekik panjang ketika bibir Leo melumat celana dalamnya tepat pada bi9bir kemaluannya yg montok. Putri merenggangkan pahanya memberi ruang pada kepala Leo
Lumatan Leo di celana dalam Putri semakin liar di iringi gigitan, sementara tangannya satu berpegangan pada rak minuman yg satunya menarik bokong Putri ke arah mukanya
Leo semakin bernafsu, dgn agak tergesa ditariknya celana dalam Putri sampai lutut, sejenak dia memandangi vagina Putri yg menggembung dan berlendir banyak
Sejurus kemudian Leo langsung memburu vagina montok Putri yg berbulu jarang dan halus
” aaaaaaaahh….. ” erangan panjang Putri menyambut lumatan kuat bibir Leo pada vaginanya, Putri semakin mengangkangkan pahanya
” dhuuuaaaaarrrrr…!!!!” kilat di susul petir yg keras menyambar mengagetkan mereka. Leo langsung menarik kepalanya dari dalam rok Putri dan langsung berdiri. Putri yg terkejut setengah mati langsung bengong terengah engah. Mereka hanya saling pandang
Sesaat setelah tersadar ternyata hanya petir mereka lalu berpelukan dgn erat, sementara hujan makin menjadi
Nafsu mereka kembali naik setelah sedikit menurun karena kaget.
Tubuh mereka berpelukan sambil saling menggeliat saling menggesek. Tangan Leo meremas kuat bokong Putri
Putri yg sudah tidak sabar meraih tangan Leo lalu di tuntunya menarik rok panjangnya lalu langsung diarahkan ke vaginanya yg tidak tertutup celana dalam yg sudah melorot sampai lutut. Setelah itu tanpa di tuntun lagi jari2 Leo mengelus dan menjepit vagina Putri membuat Putri merintih dan membenamkan kepalanya ke pundak Leo
Tangan Putri merayap menggenggan penis Leo dari luar celana pendeknya. Dgn tergesa sambil menahan geli dan nikmat di vaginanya, Putri membuka sabuk dan menurunkan resleuting celana Leo
” aakkkhhhrrgg.. ” Leo menggeram pelan ketika tangan Putri menyelinap ke dalam celana dalamnya dan langsung meremas penisnya
” aaahh.. aahhh.. ” Putri semakin menggeliat nikmat, lalu menuntun penis Leo ke arah vaginanya.
Leo segera menarik tangannya dari vagina Putri berpindah ke bokong Putri
Putri memajukan pinggulnya serta melebarkan pahanya lalu menarik penis Leo dan menempatkannya di antara pahanya tepat menempel bagian bawah vaginanya lalu kedua tangannya memeluk Leo dgn erat
” aaahhh.. ” desah mereka bersamaan ketika kelamin mereka saling menggesek
Leo meremas bokong putri pelan karena Putri dgn pelan memaju mundurkan pinggulnya menggesekkan vaginanya pada penis Leo yg menegang maksimal
Selain maju mundur, Putri juga lebih menurunkan pinggulnya agar kelentitnya tergesek juga oleh penis hangat Leo yg keras
“ahhhh…” desah Putri ketika kelentitnya tergesek semua oleh batang penis Leo
Leo tidak mau kalah, dia juga memaju mundurkan pinggulnya menyambut gerkan pinggul Putri
Gerakan mereka semakin liar, cepat dan kuat membuat penis Leo semakin belepotan cairan vagina Putri, kelamin mereka menempel dan bergesekan semakin lengket
Putri merasa seluruh tubuhnya mengejang dan merinding semua, sesaat kemudian vaginanya terasa berkedut berkali kali
” aaaaaaaaaaahh..aaaaaaaaahhh… ” kedutan vagina Putri semakin cepat mengalirkan orgasme yg dahsyat diiringi dgn gerakan dan geliatannya yg semakin liar.
Leo menyambut geliatan bokong Putri dgn memaju pinggulnya semakin cepat, dan vagina Putri yg sedang orgasme terasa semakin tebal dan kenyal menggesek batang penisnya
” aaaaaaaarrrrggghhh…” geraman panjang Leo mengiringi menyemprotnya sperma Leo berkali kali diiringi hentakan hentakan pinggulnya
sesaat mereka diam berpelukan dgn erat menikmati orgasme masing2. Hanya nafas mereka yg terengah engah seakan mengalahkan suara derasnya hujan yg mulai sedikit mereda
” hmmm.. fiuh ” mereka menarik nafas dalam2 dan dihembuskan dgn kuat menghempaskan beban nafsu birahi yg sudah terlampiaskan
Masih tetap berpelukan mereka saling pandang dan salin tersenyum lega…
” kita ujan2na yuk Leo ” ajak Putri manja setelah mereka merapikan pakaian masing2
” ayooo… bersama kak Putri semua Leo lakukan hahahha ” jawab Leo disambut tawa mereka berdua.
Lalu mereka berjalan menuju motor dan segera melaju di tengah derasnya hujan yg lebat……
Pulang sekolah Ester minta diantar Wawan utk ke mall beli sepatu. Masih memakai seragam mereka jalan2 bergandengan berkeliling mall lalu menuju counter sepatu . Beberapa lama mereka memilih milih sepatu
” ini bagus nggak sayang ” kata Ester menunjukkan sepatu warna hitam
” bagus, model baru tuh di coba aja say… ” kata Wawan penuh perhatian
Ester lalu duduk di kursi yg disediakan di pojok counter utk mecoba sepatu yg mau dibeli. Kursi tersebut rendah dekat sekali dgn lantai maka Ester duduk dgn menekuk kedua lututnya sehingga pahanya sedikit terangkat karena roknya agak pendek
” harganya nggak terlalu mahal juga ” kata Ester sambil melepas sepatunya yg sebelah kanan, sedangkan Wawan berdiri memperhatikan
” yg penting coba dulu kalo cocok ambil, masalah harga sayang” kata Wawan
Setelah sepatunya dilepas lalu Ester mencoba memakai sepatu yg dia pilih
” bagus nggak sayang ” tanyaEster sambil menggerak gerakkan kakinya memperhatikan sepatu tsb dari cermin yg diletakkan di lantai
Gerakan kaki Ester yg duduk dgn lutut tertekuk membuat himpitan pahanya melebar menampakkan celana dalamnya sedikit mengintip bila dilihat dari atas
” pas banget di kaki Ester nggak kesempitan “ Ester masih memperhatikan dgn seksama sepatu di kakinya dari segala sisi tanpa menyadari kalo Wawan sedang memperhatikan pahanya yg semakin melebar karena dia menggerakkan kaki kanannya ke segala arah.
” iya.. bagus itu ” kata Wawan pura2 perhatian, padahal pandangan matanya tidak lepas dari selangkangan Ester
” ini aja ah ” kata Ester melepas sepatu tsb
” coba yg ini dulu sayang ” kata Wawan memberikan sepatu warna lain , dgn harapan Ester mencoba lagi dan dia bisa melihat celana dalam Ester lebih lama
” bantu pakaikan dong ” kata Ester manja menjulurkan kaki kanannya ke depan
“ ii ya sini aku bantuin ” kata Wawan gugup karena dari tadi dia memperhatikan paha Ester
Wawan lalu jongkok di depan Ester dan membantu melepas sepatu tsb sambil matanya sedikit melirik ke arah selangkangan Ester
” Cleguks… ” Wawan menelan ludah karena kaki Ester yg kiri tetap tertekuk dan yg kanan selonjor membuat rok seragam Ester yg bawah tidak bisa menutupi selangkangannya
Paha Ester yg putih bersih dan mulus terpampang di depannya sampai ke celana dalamnya membuat Wawan agak gugup membuka sepatu Ester
Ester tersenyum nakal melihat Wawan melirik ke arah selangkangannya sambil menelan ludah
” aoww.. ” Ester sedikit menarik kakinya kegelian ketika jari2 Wawan yg membuka sepatunya tidak sengaja menggaruk telapak kakinya
” kenapa sayang ” tanya Wawan
” geli.. telapak kakinya kegaruk ” kata Ester manja
” hihihii.. sorry ” kata Wawan cengengesan lalu memakaikan sepatu yg td dipilihkan.
Sambil memakaikan sepatu kembali matanya melirik ke selangkangan Ester yg terbuka
Ester merapatkan pahanya sebentar lalu membukanya lagi utk menggoda Wawan
” Sayang, nafasmu kok jadi ngos ngosan gitu hihiiih ” goda Ester sambil tersenyum genit
” mmm… iiya.. abisnya itu kurang lebar sih ” kata Wawan sambil matanya menunjuk ke arah selangkangan Ester
” eitt.. ih sayang ngintip ” kata Ester pelan merapatkan pahanya dan tangannya menekan roknya sambil tersenyum nakal
” hehhehe.. bukan ngintip, justru aku yg diintip ama yg di dalem rok itu ” bisik Wawan
” enak ajah … ” kata Ester mencubit lengan Wawan
” coba di lihat di kaca ” kata Wawan selesai mengikat sepatu Ester
” mmm… sama yg tadi bagus mana yah ” kata Ester memperhatikan sepatu di kakinya melalui kaca rendah di depannya
Gerakan kakinya sengaja agak melebar membuat wawan yg jongkok di depannya blingsatan
” ya udah aku ambil yg ini aja ah, bukain dong sayang ” kata Ester semakin manja dan genit
Kembali tangan Wawan membantu membuka sepatu Ester dan kali ini dia tidak melirik lagi ke selangkangan Ester, namun langsung melihat sambil tersenyum nakal
Ester hanya tersenyum melihat tatapan nakal Wawan di selangkangannya, justru dia merasa horny melihat ekspresi Wawan memandang selangkangannya
Cukup lama Ester sengaja memberi pemandangan yg eksotik pada Wawan sambil kakinya bergerak gerak kecil utk menghilangkan grogi, sedangkan Wawan dgn tatapan penuh nafsu memandang paha putih mulus Ester sampai ke celana dalamnya sambil tersenyum nakal
” permisi ya dek ” tiba2 datang seorang ibu2 mau mencoba sepatu juga membuat mereka kaget
“ii..ii..iya silakan Bu ” jawab Ester gugup sambil membetulkan duduknya dan merapikan roknya, Wawan hanya tersenyum buru2 berdiri
Lalu mereka memanggil penjaga counter utk membungkus sepatu tsb dan mereka melanjutkan berjalan jalan
” eh.. mampir situ bentar sayang, mau liat2 BH ” ajak Ester ketika mereka melewati counter pakaian dalam wanita
Sebenarnya Wawan agak malu karena di counter tsb cukup banyak pembeli dan semua wanita, namun dia menurut saja
Sejenak Ester memilih milih BH yg ada di rak bagian belakang
” ini bagus nggak sayang ” tanya Ester memperlihatkan sebuah BH dari bahan kain yg berenda
” mmm.. ukuran sayang berapa ?? ” tanya Wawan
Sebelum menjawab Ester melihat sekeliling nampak pembeli yg lain jaraknya agak jauh
” ukur aja ndiri “ bisik Ester memajukan dadanya sambil berlindung di belakang rak
” hhehehe bentaar ” kata Wawan sambil tersenyum utk menutupi gugupnya
Setelah melihat sekeliling Wawan menjulurkan tangannya ke arah dada Ester
” akh.. ” tatapan mata dan senyum Ester begitu sensual dan nakal ketika telapak tangan Wawan menangkupi dadanya yg membusung lalu dgn pelan meremasnya
” mmm.. kira2 34 hehhee “ kata Wawan melepaskan remasan pada dada Ester takut ada yg melihat
” pinteerr.. hihihihii, ini aja ah ” kata Ester mengambil BH tersebut dan menyerahkan pada penjaga counter utk dibungkus
Setelah membayar belanjaannya di kasir, mereka lalu berkeliling lagi
” eh.. nonton yuk sayang ” ajak Wawan
” nonton?? tapi nanti kita pulangnya kesorean dong ” kata Ester
” nggak pa pa, bilang aja ada pelajaran tambahan trus bezuk teman di RS ” kata Wawan merangkul pundak Ester
” hihihiiiii… dasar tukang ngibul ” kata Ester memeluk pinggang Wawan
Mereka berjalan menuju ke teater 21 yg ada di mall tsb
Setelah membeli tiket dan membeli makanan dan minuman ringan, mereka memasuki gedung bioskop
Meski dapat tempat duduk di deretan tengah namun kanan kiri mereka kosong karena bioskop sepi. Beberapa pengunjung lain lebih suka memilih tempat duduk deretan belakang
” ihh.. AC nya dingin banget ” kata Ester merapatkan duduknya pada Wawan
” sini aku peluk sayang ” kata Wawan memeluk Ester
“ Jantung kamu kok kenceng banget sayang ” bisik Ester dalam dekapan Wawan
” Baru tahu yah??.. padahal udah dari tadi sayaaang, sejak aku diintip dari dalem rok tadi hehehe ” kata Wawan mengelus rambut Ester
” yeee… sayang yg ngintip kaleee ” bisik Ester manja
” sayang… pengen liat lagi ..” pinta Wawan memelas ditelinga Ester membuat Ester merinding kegelian
” hihiiiiii… ntar jantungmu makin berdetak kena serangan jantung ” bisik Ester tersenyum
” nggak pa pa, kalo pun aku harus mati aku akan mati dgn senyum damai memeluk sayang ” rayuan gombal Wawan membuat Ester tersanjung
Tiba2 lampu teater padam karena bioskop segera mulai
Wawan memeluk Ester makin erat sambil tangannya membelai rambut Ester, lalu turun membelai pipi dan bibir Ester
Ester pasrah dalam pelukan Wawan, dia merasakan kehangatan dan kedamaian dalam pelukan kekasihnya
” emmm.. ” desah ester ketika Wawan dgn lembut dan pelan mulai mencium bibirnya
Bibir mereka saling lumat dan saling sedot, lidah mereka saling jilat dan saling membelit sambil berpelukan di bawah cahaya film yg kadang terang kadang gelap
” aahhh.. ” Ester mendesah dan memeluk leher Wawan ketika tangan Wawan meremas payudaranya dibalik seragam
” sayang… kamu harum sekalii ” bisik Wawan sambil menjilati telinga Ester
Ester hanya mendesah sambil menggeliat kegelian dan membusungkan dadanya agar payudaranya teremas lebih kuat oleh telapak tangan Wawan
Tangan ester menekan belakang kepala Wawan ke arah payudaranya yg semakin mebusung terbungkus seragam sekolahnya
Ketika wajah Wawan sampai di dadanya, sambil menggeliat membusungkan dada dia menekan kepala Wawan agar terbenam ke payudaranya
” euuhh.. ” Desah Wawan menikmati kemontokan dan kekenyalan payudara Ester yg menggesek wajahnya
Tangan Wawan tidak kalah agresif, disusupkan tangannya dari bawah baju seragam Ester lalu naik ke atas langsung menyusup dari bawah BH Ester dan meremas dgn kuat payudara Ester
“aaachh” desah Ester membantu mengangkat baju seragamnya sampai atas dada
Ester semakin menggeliat dan memejamkan mata menikmati remasan Wawan di payudaranya sambil tangannya menahan agar bajunya tetap terangkat diatas dada.
Penonton yg lain di belakang mereka tidak memperhatikan karena asyik dgn pasangan masing2 atau asyik menonton film yg diputar
Wawan menggeser duduknya dari tempat duduk, kini dia bersimpuh di depan Ester yg duduk rendah selonjor sambil memegangi bajunya ke atas dan BHnya sudah acak2an, sejenak mereka saling bertatapan
” aaaahhh… ” Desah Ester meski agak keras namun tersamar oleh sound system teater yg sangat keras ketika dgn rakus mulut Wawan melumat puting payudaranya setelah menggusur BH Ester ke atas
Wawan melumat habis payudara kanan Ester sementara yg kiri di remas dan di pilin menggunakan tangan kiri Wawan
” euuh.. bentar sayang.. bentar ” bisik Ester menjauhkan kepala Wawan dari dadanya
Wawan memandang penuh nafsu ketika Ester melepas kaitan BHnya yg ada di depan lalu melepas kaitan talinya dan meyimpan BH tsb ke dalam tas nya
Dgn pandangan sayu dan senyum nakal yg samar2 dalam keremangan lampu bioskop , Ester duduk bersandar selonjor pasrah mengelus elus payudaranya menggoda Wawan
Wawan yg nafsunya sudah tinggi langsung menyerbu payudara montok Ester
” aacchh.. ” Desah Ester membusungkan dadanya ketika Wawan melumat dan meremas payudaranya dgn ganas dan kuat
Wawan menempatkan kaki Ester diantara selangkangannya dan menempelkan penisnya yg sudah menegang maksimal ke kaki Ester, dan Ester menyambut dgn menggesekkan kakinya pada penis Wawan
Tangan Ester mendekap kepala Wawan ke arah dadanya sambil menggeliat menggerakkan payudaranya agar semakin banyak yg dilahap Wawan
Wawan semakin kesetanan meremas, melumat, menyedot dan menggigit payudara Ester
Ester pun semakin dilanda birahi, ditekannya kepala Wawan dgn kuat semakin ke bawah ke arah selangkangannya yg di renggangkan lebar
Tangan Wawan sejenak mengelus paha Ester lalu menyingkap roknya sampai ke atas dan dibantu Ester dgn menahan ujung roknya agar tetap tersingkap menampakkan pahanya yg putih mulus meski dalam kegelapan
Setelah sejenak memandang selangkangan Ester yg terbungkus celana dalam, dgn terburu Wawan melumat vagina Ester dari luar celana dalamnya
” aaaaaaaaaccchhhhh… ” pekik Ester tertahan semakin melebarkan pahanya, dia merasakan hangat bibir Wawan yg basah melumat dgn ganas vaginanya
Tangan ester yg satu menarik ke samping celana dalamnya agar bibir Wawan bisa melumat langsung vaginanya tanpa halangan
terdengar suara berkecipak ketika bibir dan lidah Wawan beradu dgn vagina Ester yg telah basah licin oleh cairan vagina
” aaachh..kkkk ” Ester semakin menggeliat memajukan pinggulnya menyodorkan vaginanya agar terlumat dan tersedot lebih kuat oleh Wawan sambil tangannya menarik celana dalamnya semakin lebar ke samping
Wajah Wawan belepotan dgn cairan vagina Ester, nafasnya semakin memburu dan lumatannya semakin kuat sambil tangannya meremasi payudara Ester
Ester mengangkat pinggulnya menyongsong mulut Wawan yg melumat dgn ganas bibir vaginanya
” AAAaaaaaaaacck…aaakkcckkk ..aacchhhkk ” Ester terpekik tersendat sendat ketika gelombang birahi semakin melanda seluruh tubuhnya, pinggulnya terangkat semakin maju menyodorkan vaginanya. Dan ketika sedotan dan lumatan Wawan tepat pada kelentitnya tubuh Ester mengejang berkali kali diiringi desahan panjang menyongsong orgasme yg menggelora
“aaahh.. huuuft..huuuftt.. ” Ester terkulai lemas di tempat duduk dgn nafas terengah engah dan mata terpejam
Wawan menciumi lembut vagina Ester dan membiarkan kekasihnya menikmati orgasme yg melanda hebat
Setelah beberapa lama Ester kembali tenang, Wawan duduk kembali dan memeluk Ester dgn lembut.
Dgn mesra dia membelai rambut Ester, sambil merapikan kembali baju seragam Ester
” aku sayang Ester ” bisik Wawan membelai Ester yg lemas
” emmm.. aku juga ” bisik Ester bersandar pasrah dalam dekapan Wawan
Tangan Wawan berpindah meremas lembut dan mengelus tangan Ester, lalu dituntunnya tangan Ester ke arah penisnya yg membengkak memenuhi celananya
Ester menurut ketika tangan Wawan menuntun tangannya utk mengelus penis yg semakin meronta ronta tsb, bahkan Ester berinisiatif menurunkan resleuting Wawan
Wawan membantu mengendurkan ikat pinggangnya lalu mengeluarkan penisnya yg sudah berdiri tegak dari sarangnya
” akh..” pekik Wawan ketika dgn nakal Ester mencubit gemas kepala penisnya
” hhihihhiiii… ” Ester hanya cekikikan sambil menggenggam dan mengocok batang penis Wawan yg terasa hangat di telapak tangannya yg lembut
“eeuhh… ” Wawan semakin melenguh karena genggaman Ester pada penisnya semakin kuat sambil dikocok naik turun
Nafas Wawan makin ngos ngosan dan merem melek menikmati kelembutan telapak tangan Ester yg menggenggam dan mengocok penisnya
Birahi Wawan semakin menggebu, dgn agak memaksa dia menekan belakang kepala Ester ke arah selangkangannya
Sambil terus menggenggam dan mengocok penis Wawan, Ester menurunkan kepalanya ke arah penis Wawan
” aaarrrrgghhh…. ” Wawan menggeram meremasi rambut Ester ketika kepala penisnya terasa hangat dan nikmat dalam kuluman bibir Ester yg basah dan sensual
Ester memainkan lidahnya di kepala penis Wawan sedangkan batangnya dia genggam dgn kuat membuat nafsu Wawan semakin menggila
” eeuuhh ..aaarrghhhh ” geraman Wawan semakin keras sedangkan tangannya meremas payudara Ester yg menggantung di dalam baju tanpa BH dgn gemas
Karena nafsunya sudah dipermainkan Ester sejak dari counter sepatu tadi maka pertahanan Wawan tidak sanggup lagi menahan dorongan gejolak orgasme yg semakin kuat
Ester merasakan penis Wawan berdenyut denyut dalam genggaman tangannya
” aaaaarrrrgghhh..aaaaaaaarrrrhhh… ” diiringi geraman yg panjang, Wawan menyodokkan penisnya agar tenggelam lebih dalam kedalam mulut Ester dan disambut sedotan mulut Ester dgn kuat… penisnya berdenyut denyut memuncratkan sperma berkali kali
” ukhhs.. uhukss..uhuk..” Ester terbatuk karena mulutnya dipenuhi sperma Wawan, dia bermaksud melepas penis Wawan dari mulutnya namun Wawan menahan kepalanya maka Ester memuntahkan sperma tsb meleleh dari mulutnya membasahi seluruh penis Wawan
Sejenakseluruh tubuh Wawan mengejang hebat melepaskan orgasme yg menggelora, dan beberapa saat kemudian tubuh tsb lemas tak bertenaga bersandar dikursi
Setelah Wawan lemas, Ester segera melepaskan penis Wawan dari mulutnya, sejenak dia tersenyum memandang Wawan yg terengah engah lemas bersandar dikursi
Ester mengambil tisu dari tasnya, lalu membersihkan mulutnya dan juga membersihkan penis Wawan yg mulai lunglai
” aooww..” pekik Wawan ketika sambil mengelap sperma, Ester mencubit lagi kepala penisnya
” hihihiiii… ” Ester cekikikan sambil menimang penis Wawan yg perlahan lemas mengecil
Mereka kembali duduk berdampingan saling peluk dan diam menikmati udara AC yg begitu sejuk menerpa tubuh mereka yg lemas melepas sisa2 orgasme sambil menonton film yg hampir selesai………
Matahari siang terasa begitu menyengat membuat pakaian seragam Dita basah oleh peluh, begitu juga pakaian dalamnya terasa lengket. Dia pulang diantar oleh Thomas
” duh gerah bangeeet, ACnya gedein dong say ” keluh Dita
” iya panas hari ini, itu AC udah maksimal ” kata Thomas
” hhuhhh.. masih gerah yah ” kata Dita mengecek udara yg keluar dari blower AC di dashboard
Dita membuka 3 kancing bajunya yg atas lalu menunduk menempelkan dadanya yg terbuka pada lubang AC dashboard
” uuuuhhhh… sejuuukk ” Dita terpejam menikmati sejuknya AC langsung mengenai kulit dadanya
” yah.. kamu sih jadi dingin, aku yg sekarang makin kepanasan ” kata Thomas melirik dada Dita
” hhihihiiiii…. biarin ” kata Dita tersenyum
” heiii… ck.ck.ck ” Thomas kaget dan hanya bisa geleng2 kepala ketika Dita menarik BHnya ke atas sehingga payudaranya yg putih montok menggantung bebas didepan dashboard
“uuuuuuuhhh…. ” Dita mendesah terpejam meresapi sejuknya AC yg menerpa langsung payudaranya
” cleguks… sayaaaang… masuk angin lho ” Thomas menelan ludah melihat payudara begitu montok menggantung bebas
” uuhh… hihihiiiiiiii…. sejuk banget sayang ” Dita masih terpejam tdk hanya menikmati sejuknya AC, namun dia juga menjadi horny karena putingnya yg diterpa AC langsung menjadi dingin geli membuatnya merinding
“ihhh.. hihihiii” Dita menggelinjang kegelian lalu membetulkan lagi BHnya dan hendak menutup lagi baju seragamnya
” yah.. kok di tutup sih ” Thomas cemberut membuat Dita menghentikan aksinya
” hihihhiiii… ntar kamu tambah kepanasan” senyum Dita genit
” hmmm.. pegang dikit dong say ” pinta Thomas memelas
“dikit aja yah ” kata Dita nakal lalu meraih tangan kiri Thomas dan menaruh ke puting payudaranya yg cup BHnya diangkat kembali
” aoowww.. ih nakal ” teriak Dita genit ketika dgn nakal jari Thomas mencubit puting Dita
” hihihi.. abis gemesss ” Thomas cengengesan
” yeeee… dasar ” kata Dita mencubit lengan Thomas lalu membetulkan lagi BH dan bajunya
” mampir dulu ya sayang, masih kangeeen ” rajuk Dita ketika mobil telah sampai di depan rumahnya
” oke.. ” jawab Thomas memasuki halaman rumah Dita setelah pembantu membukakan gerbang
Mereka bergegas turun dari mobil
” ayo masuk” ajak Dita membukakan pintu lalu masuk
” siang ma ” Dita mencium mamanya yg sedang membaca tabloid di ruang tamu dan membalas ciuman anaknya
” Selamat siang Tante ” sapa Thomas pada mama Dita
” siang nak Thomas, baru pulang sekolah??” tanya mama Dita basa basi
” iya tante ” jawab Thomas lalu duduk di kursi
Sementara Dita masuk kekamar menaruh tas lalu ke kulkas mengambil minuman dingin
” ini minum Tom ” kata Dita menaruh gelas di meja.
” ajak Tomas makan Dit ” kata Mama Dita lalu beranjak ke depan televisi agak jauh dari ruang tamu
” ntar aja ma ” jawab Dita duduk di kursi depan Thomas, sengaja kakinya diangkat bersila di kursi sambil menikmati minuman
” uuuhh.. segaaaarrr ” Thomas meneguk minuman dingin sambil matanya menatap paha Dita yg roknya terangkat karena duduk bersila
” hayoo liat apa ” kata Dita genit menaruh tangannya dipangkuan sehingga roknya tertekan menutupi selangkangannya
” hehheheeee… dikiiiiiitt ” pinta Thomas sambil cengengesan
Dita memindahkan tangannya sambil merenggangkan posisi silanya sehingga celana dalamnya kelihatan oleh Thomas
“cleguks… ” Thomas menelan ludah, kemudian menengok ke arah mama Dita yg sedang nonton TV takut kalo2 ketahuan
” santai aja sayang mama nggak ngliat, ntar kalo mama ke sini kan aku udah tau ” bisik Dita lalu duduk bersandar dgn kaki masih bersila merenggang membuat pahanya semakin lebar terbuka menampakkan sepasang paha mulus dan celana dalam putih
” huuuffttt… ” Thomas menarik nafas berat menikmati paha mulus Dita
Pandangan mata Dita menggoda sambil sesekali melirik ke arah mamanya yg asyik nonton TV
” Kurang Lebar ” bisik Thomas sambil memberi tanda dgn tangannya agar Dita melebarkan pahanya
Dita mengubah posisi duduknya, masih tetap bersandar kini satu kakinya turun dari kursi satunya lagi tetap dikursi menekuk sehingga roknya semakin terangkat dan pahanya semakin terbuka lebar, celana dalamnya tampak menggembung tersimpan vagina yg montok dan telah horny
Pandangan Thomas begitu serius karena nafsunya menggebu menikmati paha dan celana dalam Dita
” ehem… ” Dita pura2 batuk segera menurunkan kakinya dan duduk biasa ketika dia melihat mamanya berdiri, Thomas juga agak kaget
Ternyata mamanya menuju kulkas lalu balik lagi menonton TV
” bentar ya say.. ” bisik Dita beranjak menuju kamarnya
Thomas menarik nafas berkali kali utk meredakan nafsu yg semakin menggelora
Dita keluar lagi namun kini dia tidak duduk kembali di kursi , namun duduk bersila di lantai sehingga terlindung kursi didepannya namun dia masih tetap bisa mengawasi mamanya
” ada apa say ” tanya Thomas ketika Dita tersenyum senyum penuh arti kepadanya
Sambil mengedipkan matanya genit, Dita menekuk satu kakinya sehingga pahanya terbuka lebar sampai ke pangkalnya
” cleguksss… ” Thomas terbelalak menatap selangkangan Dita, karena Dita tidak lagi memakai celana dalam sehingga dia bisa melihat langsung vagina Dita yg montok berbulu jarang dan lembut terhimpit sepasang paha mulus
” hihiihiiii.. ” Dita tersenyum genit lalu bersandar ke kursi di belakangnya, tatapan matanya begitu menggoda
” huuuftt..huuufttt ” nafas Thomas terengah melihat posisi duduk Dita
Dita merenggangkan pahanya semakin lebar lalu memberi isyarat kepada Thomas agar Thomas mengelus penisnya sendiri
Sejenak Thomas menoleh ke arah mama Dita yg masih nonton TV, lalu dia bersandar dan memajukan pinggulnya lalu mengelus elus penisnya sendiri yg masih terbungkus celana
Tindakan Thomas membuat darah Dita berdesir, vaginanya berdenyut horny mengeluarkan lendir kewanitaan. Sepasang pahanya bergerak pelan merenggang merapat menggoda Thomas
Dita melemparkan bantal yg ada di kursi di belakangnya ke arah Thomas dan memberi isyarat agar menaruhnya diatas pangkuan Thomas utk melindungi aksi tangannya yg mengelus penis
Meski Thomas memangku bantal namun bagian penis Thomas yg masih terbungkus celana dan dielus elus tetap terlihat oleh Dita karena posisi duduknya lebih rendah
” euuh.. ” Thomas melenguh memasukkan tangannya ke dalam celana dan menggenggam kuat penisnya yg terasa panas dan mendesak keluar
” hmm.. ” Dita tersenyum nakal melihat Thomas terlanda birahi membuat dia juga semakin nafsu
” Diitt.. makan dulu giih ” suara mama Dita mengagetkan mereka yg sedang berpandangan penuh nafsu
” Bentar maa.. masih kenyang ” sahut Dita yg secara reflek membetulkan duduknya
” fiuuhh.. sayang aku nggak kuat ” bisik Thomas dgn tatapan sayu sambil melanjutkan lagi mengelus penis dibalik celananya
” hihihiii ” Dita hanya tersenyum kemudian mengubah posisi duduk dgn kedua kakinya menekuk ke depan dan masih tetap bersandar di kursi sehingga vaginanya benar2 terbuka tidak terlindung rok Dita, vagina tsb nampak menonjol montok diantara pahanya yg putih mulus
” ouuuchh..” desah Thomas berat dan memasukkan kembali tangannya ke dalam celana semakin kuat menggenggam penis di dalam celana tsb
Dita merapatkan pahanya lalu direnggangkan lagi begitu berulang ulang sambil menatap penuh nafsu pada Thomas yg sedang mengocok penisnya sendiri di dalam celana
” Buka ” kata Dita tanpa suara hanya bibirnya yg bergerak memberi isyarat kepada Thomas utk membuka resleutingnya
” haa.. ” Thomas melongo bingung dan menoleh ke arah mama Dita
” tertutup bantal ” bisik Dita lagi nyaris tanpa suara memberi isyarat
Lalu Thomas menurut, di bawah bantal tangannya menurunkan resleutingnya lalu mengeluarkan separuh penisnya melalui resleuting
” uhhh… ” Dita melenguh penuh nafsu melihat permintaannya di kabulkan Thomas
” Remas … ” kata Thomas pelan memberi isyarat pada Dita agar meremas sendiri payudaranya
Setelah memastikan mamanya asyik dgn TV, dgn tatapan sayu Dita meremas pelan kedua payudaranya sendiri
” huuuftyt… ” Thomas semakin kuat menggenggam separuh penisnya di bawah bantal, nafsunya semakin membuncah melihat tindakan Dita
Nafsu mereka berdua benar2 sudah menggelora, sensasinya begitu dahsyat karena dilakukan dgn sembunyi2 sementara mamanya tidak jauh dari mereka. Perasaan nafsu dan deg2an bercampur menimbulkan sensasi yg luar biasa
” aahhh…” Dita yg terlanda nafsu semakin menggila, satu tangannya kini mengelus vaginanya sendiri sambil tetap sesekali mengawasi mamanya, lalu kembali memandang penis Thomas dibawah bantal yg sedang di kocok oleh pemiliknya membuat darahnya semakin bergolak
” eeuuhh.. ” Thomas juga semakin tak terkendali, genggamannya semakin erat dan kocokannya semakin cepat
“ups.. eh.. papa .. echh… ” Seperti disambar petir kagetnya mereka berdua ketika terdengar suara pintu gerbang dibuka dan mobil masuk, Dita tau itu papanya dan Leo sudah pulang
Mereka semakin gugup karena mama Dita juga beranjak utk membukakan pintu, untung dia tidak menoleh ke arah mereka berdua
” huuuftt.. hoossfftttt.. “ sambil merapikan pakaian mereka mencoba sekuat tenaga menahan nafas agar tdk terengah engah. Dita langsung beranjak masuk ke kamarnya agar tidak ketahuan
” siangg omm ” sapa Thomas sambil menahan nafas agar tdk terengah engah
” eh.. ada Thomas, lha Dita mana ” tanya papa Dita sambil melepas sepatu, sedangkan Leo langsung masuk ke kamarnya
” lagi ngambil buku di kamar om ” jawab Thomas sekenanya
” ooohh.. ya udah lanjutkan, om mau istirahat dulu ya ” kata papa Dita sambil beranjak masuk
” iya om… fiuuuuhh ” jawab Thomas lega
Beberapa saat kemudian Dita keluar sambil senyum2
” untuuungg… huuuftt ” bisik Thomas menghempaskan nafas
” hihiiiii… nyaris saja ” kata Dita tertawa lalu duduk disamping Thomas
” trus gimana sayaang, nanggung nih ” kata Dita manja
” sama.. mau gimana lagi, terpaksa deh….. ” Thomas tersenyum tdk melanjutkan kata2nya
” terpaksa paan ..? ” tanya Dita bingung
” terpaksa kita onani sendiri2 hihihii ” bisik Thomas pelan di telinga Dita di sambut tawa juga oleh Dita
” aku mau itu sambil mbayangin sayang yah ..” bisik Dita makin manja penuh nafsu
” he`em.. aku juga mbayangin sayang ” bisik Thomas
Lalu Thomas segera pamitan pada mama dan papa Dita utk pulang
Setelah mengantar Thomas sampai depan, Dita langsung masuk kamar dan menguncinya..
Dgn buru2 dia langsung meloncat ke tempat tidur dan memeluk guling dgn erat
” euuuhhh…” Desah Dita mengelus vaginanya yg terhimpit guling setelah mengangkat rok seragamnya sampai ke pinggang
” eehhh..aaaaaaahhh.. ” Dita semakin erat memeluk guling menekankan payudaranya dan menggesek gesekkannya sambil tangannya semakin cepat mengelusi vaginanya yg sudah basah licin dan menggembung menahan birahi
” aaaaaaaaaacchhh…… ahhh ” Paha mulus Dita semakin erat menghimpit guling dan menggesekkan vaginanya dgn kuat pada guling tsb sementara tangannya memeluk erat guling tsb agar payudaranya terhimpit
” akkhh..akhhh….aakkhhh ” Desahan Dita panjang namun tersendat, tubuhnya mengejang sementara gerakan pinggulnya semakin cepat menggesekkan vaginanya yg berdenyut denyut pada bantal yg lembut tepat pada kelentitnya
Gelora orgasme yg melanda dgn hebat membuat gerakan Dita semakin liar sampai guling yg tadi dihimpit miring kini di tindih dan di peluknya dgn sangat erat
” aaaaaaaaacchhhh… ” desahan penuh kepuasan Dita mengiringi denyutan vagina Dita melepas orgasme berkali kali sampai tubuhnya melemas tak bertenaga
” huuufftt.. huuufttt ” nafas Dita terengah engah terbenam dalam bantal
Tubuh lemasnya sesekali masih menggelinjang melepas sisa2 orgasmenya, sampai akhirnya dia terlelap memeluk guling..
Minggu pagi om Robert papa Dita sedang asyik menonton televisi sambil menikmati kopi. Acara berita pagi yg menyajikan berita2 terhangat kemarin dan hari ini.
” Papa liat sisir Dita gak?? ” tiba2 Dita yg habis mandi dan hanya melilitkan handuk ditubuhnya datang mencari sisir
” Nah lo.. di taruh dimana sayang ” kata Papa menatap tubuh Dita yg montok putih mulus dalam balutan handuk putih.
Meski dia sering melihat kemolekan tubuh anak tirinya tsb, namun tetap saja pemandangan tsb membuat jantungnya berdegub. Sedangkan Dita cuek saja karena dia sudah terbiasa
“Nggak tauu ” cemberut Dita sambil membungkuk mencari sisir di tumpukan samping televisi
” cleguks…” Om Robert menelan ludah melihat pantat Dita yg terbungkus handuk terlihat begitu montok, dan handuknya yg belakang terangkat agak tinggi memperlihatkan pahanya yg putih mulus berbulu halus
Selama ini om Robert memang sering memperhatikan kemontokan dan kemulusan tubuh Dita, namun hanya sebatas memandang saja karena walaubagaimanapun juga Dita adalah anaknya. Seringkali nafsunya langsung naik kalo melihat Dita duduk dgn semabrangan menampakkan celana dalamnya. Kalo sudah begitu maka yg jadi pelampiasan adalah mama Dita, tante Melly (istrinya )
” Sayaaaang.. pake baju dulu gih bikin papa deg2an ajah ” kata om Robert bercanda
” yeeee.. papa geniit, aku bilangin mama ” sahut Dita sambil terus mencari cari sisirnya di meja yg lain di samping papanya
” hahahahha… orang papa kan nggak ngapa ngapain kok dibilang genit, ntar papa sendiri aja yg bilang ” Tawa om Robert
” gak genit gimana?? tuh kan papa ngliat ini terus hihihii ” kata Dita tersenyum sambil membusungkan dadanya yg terbalut handuk lalu ngeloyor ke kamarnya
“ Huuuft.. dasar ABG sekarang” batin om Robert geleng2 kepala lalu melanjutkan menonton berita
Tante Melly tahu kalo suaminya selalu bernafsu kalo melihat paha maupun celana dalam Dita karena Om Robert bercerita secara terus terang. Komunikasi diantara anggota keluarga mereka terjalin sangat baik dan terbuka. Meski kadang tante Melly menasehati, namun Dita cuek saja
Dan sesuai janji om Robert dia hanya melihat saja dan tidak akan pernah memegang apalagi menodai Dita. Hal itu yg membuat tante Melly tdk khawatir tapi justru menikmati saat om Robert sedang horny karena permainannya akan semakin ganas
” hehehhe.. ternyata dikamar Pa ” Dita kembali keruang TV sambil menyisir rambut di depan cermin kecil yg ada diruang tsb dan masih menggunakan handuk
” Makanya di cari yg teliti dulu sayaaang ” kata om Robert sambil melirik ke arah paha mulus Dita
” tadi udah dicari, tapi gak ada ” kata Dita sambil membalikkan badan
” cleguks… ” om Robert gelagapan karena ketahuan sedang memandang paha Dita
” iiihhh.. nah kan papa geniiit ” kata Dita sambil menghampiri papanya
” aooww..ampuun hahhaha ampuun sayaaaaaang ” teriak om Robert menghindari cubitan Dita pada lengannya
” Dasar papa genit.. iiih nakal ” Dita mencubiti lengan papanya sambil tertawa
” Ampuunn.. eit.. handuknya mau lepas tuh sayaang ” kata Om Robert melihat handuk yg dipakai Dita mau lepas di bagian dadanya
” eitt.. ihhh tutup rapat ntar papa pengen ” Dita tersenyum nakal mendekap dadanya
” hahahhaa.. nggak tuh.. ntar papa minta mama dong huu ” kata om Robert memanyunkan bibirnya
” masa` siih papa nggak pengen “ Tersenyum Dita menggoda papanya dgn menurunkan sedikit lipatan handuknya memperlihatkan pangkal payudaranya yg montok
” clegukss… ” om robert menelan ludah melihat kenakalan anak tirinya
” turun lagi hhihiiihii ” Dita menurunkan lagi lipatan handuk pada dadanya sampai warna merah yg mengelilingi putingnya terlihat begitu kontras dgn kulit payudaranya yg putih
” Mamaaa… Dita nakaaal hahahahhahaa ” om Robert tertawa menghilangkan salah tingkahnya
” hahahhaa.. tuh mama datang ” kata Dita menunjuk keluar, lalu dia pergi ke kamar sambil tertawa
Guyonan seperti itu memang sering terjadi diantara mereka dan mereka menganggap hal biasa meski om Robert harus setengah mati menahan gejolak utk tetap tidak menubruk Dita
” Hayooo.. pada ngapain tertawa tawa ” Mama Dita baru saja selesai merapikan bunga di teras rumah dan masih mengenakan daster tanpa memakai BH
” Dita tuh lho mamaaa..” Om Robert langsung memeluk erat istrinya yg baru saja duduk disampingnya
” enggak Maaa… Papa tuh yg genit liatin paha Dita terus hahahaha.. ” sahut Dita dari kamar sambil tertawa
” Ooouuu.. papa genit harus di jewerrrr ” kata tante Melly menjewer pelan telinga suaminya
” hahaha.. Dita boong ” teriak Om Robert semakin erat memeluk istrinya dan menciumi tengkuk istrinya
” euuhh.. iihh papaaa geliiiii” lenguh tante melly menggeliat kegelian dalam dekapan erat suaminya yg begitu bernafsu.
” Hayooooooooooo… , kan papa yg genit Ma ” Dita kembali ke ruang TV mendapati papanya sedang memeluk dan menciumi Mamanya
Hal tersebut sudah biasa bagi Dita karena dia sudah sering melihatnya, dan om Robert serta tante Melly juga membatasi hanya sekedar peluk dan cium pipi kalo sedang ada anak2nya.
Namun semenjak Dita berpacaran dgn Thomas dan tahu apa artinya peluk dan cium membuat Dita kadang salah tingkah dan mencuri curi kesempatan saat Papa dan Mamanya sedang berpelukan
Dita dgn manja duduk di sebelah mamanya yg sedang di peluk papa. Dia sudah berganti memakai kaos dan celana yg sangat pendek
” Ma.. Papa tuh dari tadi pagi ngliatin paha Dita terusss ” Canda Dita mengadu sambil tersenyum dan ikut memeluk Mamanya
” Pantesaaannn.. iihh papa genit jewer lagi hijiihiihih ” Tante melly kembali menjewer lembut telinga suaminya
” aahhh.. ampuun hahahhahaaa.. ” Om Robert tertawa
” hahahaa.. jewer yg keras Maaa.. giniii ” teriak Dita ikut meraih telinga om Robert dan menariknya
” aooww.. hahaha.. ampuuunn sayaaang ” Om Robert pura2 kesakitan dan merapatkan kepalanya ke dada Mama melindungi telinganya
Mama Dita hanya tersenyum melihat kelakuan suaminya yg pura2 kesakitan agar kepalanya bisa menekan payudaranya yg tanpa BH, dgn sengaja Mama membusungkan dadanya menyambut kepala Papa
” eh.. katanya tadi Papa juga mau minta susu sama Mama hayoo hahahha ” Dita tertawa memeluk mamanya
” nih udah dapet.. ” kata Papa semakin menempelkan kepalanya ke payudara Mama
” eiiitt.. gak boleeeh.. ini kan punya Dita waktu kecil hihii” Tangan Dita menggenggam payudara mamanya agar tdk menempel dgn pipi Papanya
” hahahha… kan Dita udah punya sendiri sekarang , ini buat papa ” Kata Papa memegang payudara Mama yg satunya
Mereka tertawa bersama sama rebutan payudara Mama Dita
Guyonan tersebut tanpa sadar membuat Mama Dita kegelian dan nafsunya terpancing naik karena kedua payudaranya yg tanpa BH di buat rebutan oleh suami dan anaknya, membuat dia menggeliat kegelian
” udaah.. udah.. Papa yg ini, Dita yg ini biar adil hihihi ” Mama Dita meletakkan tangan Papa pada payudara sebelah kanan dan tangan Dita pada payudara sebelah kiri
” Aaaaahhh… iihh kalian nakal ” Mama melenguh kegelian karena secara bersamaan tangan Papa dan Dita meremas lembut kedua payudaranya disambut tawa mereka bersama
Sama seperti Mama, nafsu papa pun semakin menjadi dgn guyonan tersebut. Panisnya ereksi maksimal dibalik celana pendeknya
” Mamaaaaa… ” Papa mencium pipi Mama Dita sambil tangannya tetap meremas remas payudara istrinya
” MMmmmm… ” Mama Dita hanya tersenyum, sedang Dita masaih gemas meremas payudara mamanya yg semakin kenyal
” kalo sama punya Dita gedean mana Ma ” Dita membusungkan dadanya ke arah payudara mamanya
” hiihihiiii.. gede punya mama dong sayaaang ” Mama Dita juga membusungkan dadanya membandingkan dgn punya anaknya
Om Robert hanya menelan ludah sambil tetap mengendusi telinga istrinya
” Punya mama segini… punya Dita segini,sama kok ma hihihii” kata Dita menangkupi payudara Mamanya lalu menangkupi payudaranya sendiri
” kan sayang memakai BH, mama kan tidak ” kata Mama
” coba sama2 gak pakai hahahah ” canda papa
” iihh… papa makin geniit hihiiii ” Mama Dita mencubit paha suaminya
” iya.. coba ah hihihiihih ayo papa merem gak boleh liat ” kata Dita
” iyaaa papa merem nih ” kata papa Dita memicingkan matanya
” enggak enggak… papa masih ngintip ” teriak Dita protes
” nih biar mama tutupin ” kata mama lalu meletakkan telapak tangan kirinya di muka suaminya sekenanya
Dita lalu membusungkan dadanya lalu mengangkat kaosnya beserta BHnya yg dari kain tipis. Payudara Dita yg putih montok tampak begitu indah menggelayut di dadanya
Mama Dita dgn satu tangan menurunkan tali dasternya yg sebelah kiri lalu dia merogoh payudaranya sendiri utk dikeluarkan dari dasternya.
Meski ditutupi menggunakan telapak tangan istrinya namun papa Dita tetap masih bisa melihat pemandangan di depannya karena mama sengaja menutupi mata papa dgn renggang agar suaminya nanti semakin liar , sebab nafsu mama juga sudah naik ke ubun2 tapi dia pandai menguasai diri.
Nafas papa terasa begitu panas di telapak tangan mama, menandakan nafsu om Robert sudah sangat menggebu
” Nah coba ukur sayang ” kata Mama membusungkan dadanya mendekatkan pada payudara anaknya
Dita menangkupi payudara mamanya lalu membandingkan dgn menangkupi payudaranya sendiri
” hihiiii.. iya gede punya mama, putingnya juga ” kata Dita tersenyum sambil mencubit puting mamanya
“auuww.. ihh.. nakal ” Mama terkejut dan juga kegelian karena putingnya semakin sensitiv
” hahahahahaa.. ” Dita terbahak sambil membetulkan kembali BH dan kaosnya
” Naah kalo sekarang papa boleh liat ” kata Mama mengalihkan tangannya dari muka suaminya
” hiihiii… Dita nenen ah.. ” kata Dita manja langsung memburu puting mamanya yg masih terbuka keluar dari dasternya
” auuww aahh ” Mama Dita mendesah lirih krn putingnya yg sensitiv begitu hangat di dalam bibir anaknya
Nafas Om Robert semakin tersengal sengal melihat adegan yg belum pernah dia lihat sebelumnya. Tangannya erat memeluk istrinya sambil menciumi penuh nafsu
” papa juga mauuuu ” bisik Om Robert lirih ditelinga istrinya yg basah dia kulum
“eehh… ” Mama Dita hanya melenguh sambil tangannya meraih kepala suaminya dan dgn pelan ditekan ke bawah ke arah payudaranya
” aoww.. ih papa ikut ikuuuuuuuutt hahaha ” teriak Dita kaget ketika tiba2 kepala papanya memburu kearah payudara Mama yg satunya yg masih didalam daster
” hahahhaaa… yg itu punya Dita yg ini punya papa ” Papa langsung mengulum puting istrinya yg masih terlindung daster
” aaahhhh.. ” Mama menggeliat membusungkan dadanya sambil tangannya mengeluarkan payudaranya yg satu dari dalam daster yg langsung di caplok dan disedot oleh suaminya
” uumm… papa rakuuuuss huhuhuuuu ” kata2 Dita tdk begitu jelas karena bibirnya terus menyedot puting mamanya
” aaaaaccchhh…” kepala mama Dita terdongak keatas menikmati sensasi yg luar biasa di kedua payudaranya
Tangan kananya menekan kepala suaminya sedangkan tangan kirinya mengelus rambut anaknya
” aaaaaacchhhh…akhh ” mama Dita semakin menggeliat karena permainan lidah suaminya semakin liar sedangkan Dita menyedot puting mamanya dgn gemas
” gruuuuung… gruuunggg.. ” Tiba2 terdengar suara menderu dari motor sport Leo dan teman2nya memasuki halaman rumah dari jalan2 pagi di alun2 kota
Dgn bergegas mereka menghentikan kegiatan mereka. Mama Dita segera membetulkan kembali dasternya
“hahahahahhaa…. ” mereka bertiga tertawa lalu saling memeluk mama dari kanan dan kiri dan mama bergantian mencium kening suami dan anaknya…

kisah ngentot ananda —

Kisah ini terjadi, ketika aku masih di bangku kuliah beberapa tahun yang lalu dan pada akhirnya kuliahku juga berhenti di tengah jalan karena kesibukanku dengan grup band yang aku bentuk.

Pagi itu seperti kebiasaan aku sebelum masuk ruang kuliah, selalu menyempatkan diri untuk menikmati makanan di cafetaria kampus yang suasananya cukup asri dengan keberadaan taman di samping cafetaria kampus itu sendiri. Diantara beberapa mahasiswa yang sedang menikmati makanan, aku sempat terpaku oleh sosok yang sebelumnya belum pernah aku lihat di kampus.

Penampilannya cukup membuatku terpesona, dengan tank top warna merah di padu dengan blue jeans skirt setinggi lutut menjadikan dia juga patut untuk menjadi pusat perhatian semua cowok yang ada di cafetaria. Setelah memesan makanan dan minuman, aku melangkahkan kakiku menuju meja yang ada di luar ruangan cafetaria yang posisinya menghadap langsung ke arah taman kampus.

Pagi itu kebetulan aku seorang diri, nggak seperti hari-hari biasa yang selalu datang bersama teman-teman dekatku yang sekaligus juga teman di grup bandku. Dengan santai aku duduk sambil menikmati segelas coklat hangat dan sepotong pancake nanas kesukaanku.

Di tengah asyiknya aku menikmati makanan, tiba-tiba telah berdiri temanku yang bernama Dina dan seorang yang telah membuatku terpaku sebelumnya.

“Maaf Diet.. Boleh nggak kita gabung duduknya?” tanya Dina sambil tersenyum.
“Oh.. Kamu Din..!” ujarku spontan.
“Boleh-boleh… Lagian aku sendirian kok” sahuntuku meyakinkan.
“Tumben nih cafetari rame, sampai nggak ada satupun meja kosong” Kata Dina menambahkan.
“Kamu juga tumben Diet makan sendirian, biasanya khan sama grup band kamu?” kata Dina lagi.
“Iya nih Din.. Kebetulan ada kelas pagi jadinya aku berangkat lebih awal deh” jelasku sesaat setelah Dina dan temannya duduk.
“Oh iya Diet, kenalin ini anak baru di kampus kita” Dengan ramah Dina memperkenalkan temannya.
“Ananda… Ini Adietya teman kita juga, yang kebetulan juga dia vokalis di grup band di kampus kita ini” Dina memperkenalkan aku kepada Ananda secara panjang lebar.
“Dan dia ini Diet, mahasiswa pindahan dari Jakarta yang mengikuti orangtuanya karena pindah tugas” Jelas Dina kepadaku.
“Namanya Ananda aprilia putri, yang mempunyai hobby dengerin musik juga” sahut Dina lagi.

Yang di perkenalkan cuman tersenyum manis aja. Dengan ramah aku tersenyum kepada Ananda, sambil menyodorkan tanganku.

“Adietya!” kataku pendek.
“Ananda!” dengan senyum manis dia menerima uluran tanganku.

Tangannya halus banget saat aku menggenggamnya lembut, apalagi di lengannya di tumbuhi bulu-bulu halus yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang mulus.

Dari jarak yang lumayan dekat aku bisa menikmati pesona kecantikan Ananda yang begitu menawan, Ananda mempunyai rambut yang cukup tebal dan hitam yang panjangnya di bawah bahunya sedikit. Bibirnya sensual dan selalu basah alami tanpa olesan lipstik. Pandanganku sesaat turun ke arah lehernya yang jenjang dan berakhir di kedua tonjolan di dadanya yang aku taksir ukurannya 36B.

Sampai di sini aku sempat menelan ludah sesaat, betapa ranumnya buah dada Ananda yang menuruntuku begitu menggairahkan kalau di remas nan lembut dan putingnya di jilatin dengan gerakan erotis. Khayalanku buyar bersama teguran dari Dina mengingatkan kalau aku masih menggenggam tangan Ananda.

“Sudah dong Diet.. Lepasin tangan Ananda” tegurnya mengingatkan.
“Maaf.. Yah Ananda” kataku polos.
“Tangan kamu halus banget sih” kataku menambahkan.
“Tangan atau, kamu yang terpesona oleh kecantikannya” sindir Dina.

Aku hanya tersenyum mendengar Dina mengatakan itu. Sejujurnya aku memang mengagumi pesona Ananda yang kayaknya bakal jadi bunga kampus nantinya.

Seminggu setelah pertemuanku dengan Ananda di cafetaria. Aku bertemu kembali dengannya tapi bukan di kampus seperti saat itu. Ananda datang bersama kedua orang tuanya untuk menikmati makam malam di salah satu cafe yang cukup terkenal di kota itu. Dan kebetulan aku bersama teman-temanku bermain musik akustik di cafe itu setiap 3 kali seminggu.

Malam itu Ananda mengenakan gaun warna hitam yang membuat penampilannya sangat berbeda dengan saat dia ada di kampus. Gaun malam yang panjang dan modelnya sedikit sexy dibagian dadanya membuat Ananda tampil begitu anggun malam itu. Saat itu Ananda belum menyadari kalau yang ada di atas panggung adalah diriku.

“Selamat datang dan selamat menikmati suguhan musik akustik dari kami, semoga makan malam anda cukup berkesan bersama orang-orang yang anda cintai” Sambutanku kepada semua pengunjung cafe.

Setelah aku menyanyikan beberapa lagu dan mendapat sambutan yang cukup meriah dari pengunjung malam itu. Dengan mantap, kembali aku menyampaikan pesan khusus.

“Lagu ini akan saya persembahkan buat pengunjung yang ada di meja nomer 5, yaitu Ananda bersama kedua orang tuanya dan semoga makan malamnya berkesan dengan hadirnya lagu ini” sahuntuku spontan.

Seketika pandangan Ananda bersama kedua orang tuanya tertuju ke panggung. Dengan sopan aku menganggukan kepala kepada mereka, sambil tersenyum ramah. Ananda sempat terpaku, ketika melihat diriku tersenyum dari atas panggung.

Setelah melewati moment sesaat yang merupakan kejutan dariku. Perlahan aku mulai menyanyikan lagu lembut yang pernah dibawakan oleh Rod stewart” Have I told you lately”. Pandanganku beradu dengan pandangan Ananda yang sedang serius menatapku dari mejanya, ketika di awal lagu sambil tersenyum aku memandangnya lembut.

“Have I told you lately that I love you..” bunyi lirik di awal lagu itu.

Dengan penghayatan aku menyanyikan lagu itu yang secara tidak sengaja terinspirasi oleh kedatangan Ananda di cafe malam itu. Setelah selesai aku menyanyikan lagu itu, bersamaan juga saat aku bersama grupku mendapat kesempatan untuk break di session pertama. Di saat break aku pergunakan waktu yang ada untuk menemui Ananda bersama ke dua orang tuanya.

“Selamat malam Om, Tante dan juga Ananda” tegurku sopan.
“Perkenalkan nama saya Adietya, teman Ananda satu kampus” dengan ramah dan sopan aku memperkenalkan diri di hadapan kedua orang tua Ananda.

Yang juga disambut dengan ramah oleh kedua orang tua Ananda.

“Pa, Ma, Ini teman Ananda yang pernah Ananda ceritakan sebelumnya” terang Ananda kemudian.

Dalam hati sempat aku bertanya, apakah yang telah di ceritakan Ananda kepada kedua orang tuanya tentang diriku. Setelah berkenalan dengan kedua orang tuanya dan terlibat obrolan yang panjang, akhirnya aku tahu kalau Ananda adalah anak semata wayang di keluarganya.

Tak mengherankan jika, kalau Ananda mendapatkan kasih sayang secara penuh baik dari papanya dan juga Mamanya. Itu terlihat dari kesehariannya yang riang dan lincah saat dia berada di kampus. Setelah tiba waktu buat aku dan teman-teman untuk main di session kedua, dengan sopan aku berpamitan kepada kedua orangtuanya dan juga Ananda.

Suasana cafe malam itu sangat special buat diriku, karena kedatangan orang yang sering aku khayalkan setiap saat di tempat yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Menjelang setengah sebelas, aku menyudahi penampilan malam itu lewat lagu”Cinta Sejati” Milik ari lasso.

Ketika selesai acara, aku pamit kepada teman-teman band, kalau aku ingin menemui Ananda dan kedua orang tuanya. Sesampainya di meja Ananda, dan ngobrol sesaat, kedua orang tuanya berpamitan ingin pulang karena sudah mulai di hinggapi rasa kantuk.

“Pa, Ma, Ananda boleh pulangnya belakangan?” tanya Ananda kepada kedua orang tuanya.
“Ananda masih pingin ngobrol dengan Adiet nih bolehkan?” rajuknya manja.
“Baiklah, asal nanti pulangnya Adietya yang nganterin!” tegas papanya.
“Baik Om.. Terima kasih atas kepercayaan yang Om berikan”jawabku kemudian.
“Makasih pa, Ma..” teriaknya sambil mencium pipi Papa dan Mamanya.

Setelah kepergian Papa dan Mamanya, kembali kita melanjuntukan obrolan yang tertunda sesaat. Ketika waktu menunjukan pukul 23.30 aku mengatakan kepada Ananda.

“Ananda sebaiknya kita pulang yah” kataku pelan.
“Sudah malam nih, ntar Papa dan Mama kamu gelisah menunggumu” terangku lagi.
“Baiklah kalau menurut kamu begitu” jawab Ananda kemudian.

Yang tak lama aku bergegas menyetop taxi yang sedang lewat di depan kita. Di dalam taxi aku terdiam sambil melamunkan kejadian yang barusan aku alami. Betapa beruntung aku bisa duduk berduaan di dalam taxi dengan seorang gadis cantik yang begitu banyak di dambakan oleh setiap cowok yang ada di kampus.

“Diet kenapa diam?” tanya Ananda membuyarkan lamunanku.
“Oh.. Eh”jawabku gugup.
“Aku nggak pernah membayangkan kalau aku bisa sedekat ini dengan dirimu” jelasku setelah bisa menguasai keadaan.
“Maksud kamu?”tanya Ananda lagi.
“Kamu tahu khan, kalau di kampus banyak cowok yang menaksir kamu” terangku kemudian.
“Diet, kalaupun banyak cowok yang mengejar-ngejar aku, aku punya hak juga khan buat menolak?” tanyanya lagi.

Aku hanya terdiam mendengar penjelasannya, sambil tersenyum lembut menatapnya.

“Aku sudah banyak menceritakan tentang dirimu kepada Papa dan Mama, makanya mereka percaya kalau aku pulangnya bersama kamu” terang Ananda meyakinkan aku.

Di kepala masih teringat saat aku memperkenalkan diri di hadapan Papa dan Mamanya, ketika break time tadi yang Ananda bilang pernah menceritakan aku sebelumnya.

“Diet, sejak awal perkenalan di cafetaria, hatiku sempat berdetak entah kenapa” terangnya kemudian.
“Aku juga selalu berhayal tentang dirimu” jelasnya lagi.
“Banyak cerita di kampus yang mengatakan, kalau kamu orangnya cukup lembut setiap menghadapi cewek” tambahnya lagi.
“Semua itu benar adanya, apalagi dengan kamu memberikan sebuah lagu romantis buat diriku saat malam tadi” dengan lembut Ananda mengatakan itu.
“Papa dan Mama sempat memuji, kalau kamu orangnya bisa menghargai seorang wanita” terangnya lagi.

Terharu aku mendengar semua penjelasan dari Ananda yang ternyata selama ini dia bersimpati terhadap diriku. Taxi yang kita tumpangi melintasi sebuah jalan yang lampu penerang jalannya agak redup. Dengan keberanian di tengah keremangan, aku memeluk Ananda mendekat dan mengecup bibirnya yang ranum.

“Sudah lama aku mendambakan kamu Ananda” bisikku mesra di telinganya.

Ananda hanya tersenyum manis mendengar bisikanku, sambil meremas mesra tanganku. Tak lama berselang taxi telah sampai di depan sebuah rumah besar yang di halamannya ada sebuah taman dan balai-balai kecil di pojok rumah.